Chapter Fourteen
Ada yang Ngitungin Aku, Nggak?
POV: Valerie
Aku tidak tidur Sabtu malam, dan Minggu pagi jam setengah tujuh aku sudah berdiri di depan pagar rumah Baskara memegang payung hitam yang bukan milikku.
El membuka pintu dengan celemek. Tentu saja dengan celemek.
“Val—“
“Payungnya,” kataku, dan menyodorkannya.
Dia mengambilnya.
Aku masuk lewat bawah lengannya.
“Val.”
“Om Bara ada?”
“Ke pasar.”
“Bagus.” Aku duduk di kursi ruang makan, yang kursinya sama dengan yang aku duduki waktu membongkar kardus mi instan itu, dan meletakkan tanganku di atas meja seperti orang yang datang untuk rapat. “Duduk.”
“Aku lagi masak.”
“Matiin apinya.”
“Val—“
“KAELAN.”
Dia mematikan api.
Dua hari.
Aku ingin mencatatnya dengan jujur, karena kalau tidak, orang akan mengira aku melakukan sesuatu yang anggun.
Minggu pagi aku berargumen. Aku bawa kertas. Aku benar-benar membawa kertas — dua lembar, ditulis jam tiga pagi, dengan poin-poin bernomor. Aku bilang tidak ada hubungan darah. Aku bilang kami sudah tujuh belas. Aku bilang orang tua kami menikah, bukan kami. Aku bilang kalau nanti ketahuan, ketahuannya bisa diatur, bisa ditunda, bisa dikelola.
El mendengarkan sampai selesai. Semuanya. Dua lembar.
Lalu dia bilang, “Poin empat kamu bagus.”
“Terus?”
“Terus tetep nggak bisa.”
Minggu siang aku berhenti berargumen dan mulai menyerang. Aku duduk di lengan kursinya. Aku bicara dua senti dari telinganya. Aku memegang pergelangan tangannya dan menghitung denyut nadinya keras-keras sampai angkanya melewati seratus dan aku bilang, “Seratus lima, El, kamu bohong sama siapa?”
Telinganya merah. Lehernya merah. Tangannya bergetar.
Dia tidak bergerak satu sentimeter pun.
Minggu sore aku menangis. Bukan strategi; itu bagian yang memalukan. Aku benar-benar menangis, di dapur orang, sambil mengatakan hal-hal yang tidak akan aku ulangi di sini.
Dia berdiri di seberang meja dan tidak mendekat, dan aku bisa melihat dari cara dia memegang pinggiran wastafel — buku jarinya putih, sama seperti malam di meja makan itu — bahwa tidak mendekat adalah pekerjaan tersulit yang sedang dia lakukan.
Dia tetap tidak mendekat.
Senin aku tidak bicara padanya sama sekali dan menghabiskan seluruh jam istirahat di kelasnya, duduk di bangku kosong deret belakang, menatap punggungnya, sampai Gilang pindah tempat duduk karena tidak tahan.
Senin sore, di parkiran sepeda, aku mencoba yang terakhir.
“El.”
Dia sedang membuka kunci sepeda. Dia berhenti.
“Aku mau nanya satu hal.”
“Val, aku—“
“Satu.”
Dia menegakkan badan. Menghadapku. Aku menghargai itu; dia selalu menghadap, dia tidak pernah menjawab sambil membelakangi, bahkan waktu dia sedang menghancurkanku.
“Mama aku ngecek pintu delapan sampai sepuluh kali per makan malam,” kataku. “Sekarang dua kali. Kamu yang ngitung.”
“Iya.”
“Kamu ngitungin dia enam minggu.”
“Iya.”
Aku mengangguk pelan.
“Ada yang ngitungin aku, nggak?”
Wajahnya berubah.
Aku sudah lama menunggu wajah itu berubah, dan waktu akhirnya terjadi, aku tidak merasa menang sama sekali.
“Val.”
“Aku serius nanya, El.” Suaraku tidak naik. Aku ingat itu; aku ingat betapa tenangnya suaraku, dan betapa itu justru lebih buruk. “Tiga tahun. Aku yang megang rekening. Aku yang ngangkat telepon jam tujuh pagi. Aku yang mutusin bulan ini kita nggak jadi beli galon baru. Aku yang mastiin Mama nggak pernah lihat map cokelat itu sekali pun.”
“Aku tahu.”
“Kamu nggak tahu.” Aku menggeleng. “Kamu tahu angkanya. Kamu nggak tahu rasanya.”
Dia diam.
“Semua orang di hidup aku,” kataku, “punya cara yang sama. Mereka mikirin apa yang paling baik buat aku, terus mereka mutusin, terus mereka nggak nanya. Papa mikir dia lagi ngelindungin kita waktu dia nyimpen semuanya sendiri. Mama mikir dia lagi ngelindungin aku waktu dia nggak cerita soal lima belas juta itu. Tante-tanteku mikir mereka lagi ngelindungin aku waktu mereka bilang aku belum dewasa.”
Aku melangkah maju satu langkah.
“Dan sekarang kamu.”
“Ini beda.”
“Ini persis sama.”
“Val—“
“Kamu ngukur berapa yang bisa Mama tanggung. Kamu ngitungin dia sampai ke setengah detik.” Suaraku akhirnya pecah dan aku membiarkannya. “Terus buat aku, kamu nggak ngukur apa-apa. Kamu langsung mutusin. Kamu mutusin aku bakal baik-baik aja.”
Dia membuka mulut.
“Kenapa?” kataku. “Karena aku berisik? Karena aku ketawa keras? Karena aku bisa duduk di meja orang dan bikin satu kelas diem?”
Aku menekan telapak tanganku ke dadaku sendiri, keras, karena aku butuh sesuatu untuk dipegang.
“El, itu yang aku pakai buat ke luar rumah tiap pagi. Itu bukan aku.”
Hujan lagi. Tentu saja hujan lagi. Sekolah kami punya masalah drainase dan cuaca punya masalah selera.
Kami berdiri di bawah atap parkiran sepeda dengan lima meter jarak dan air yang jatuh dari talang di antara kami.
“Kamu inget nggak apa yang kamu bilang ke aku di teras rumahku?” kataku.
“Val.”
“‘Kalau ternyata dia jahat, aku yang pertama mukul.’”
Dia tidak menjawab.
“Kamu tahu kenapa kalimat itu nempel di aku?” Aku menyeka wajahku dengan lengan seragam dan tidak peduli bagaimana kelihatannya. “Karena kamu nggak bilang ‘dia nggak jahat, kok.’ Kamu bilang kamu bakal berdiri di sebelah aku, bahkan kalau yang salah keluargamu sendiri.”
Aku melangkah lagi. Tiga meter sekarang.
“Jadi aku balikin ke kamu.”
“Val—“
“Kalau ternyata kamu jahat sama aku, aku yang pertama mukul.”
Dia berhenti bernapas. Aku melihatnya. Aku sudah hafal bunyinya sekarang.
“Bukan Mama aku,” kataku. “Bukan Om Bara. Bukan kamu. Aku.“
Air talang itu jatuh dan jatuh dan jatuh.
“Aku yang nentuin aku lagi dijahatin apa nggak. Itu satu-satunya hal yang masih punya aku, El. Jangan diambil juga.”
Aku memberinya waktu.
Aku berdiri di sana dan menghitung sampai tiga puluh, lalu enam puluh, lalu berhenti menghitung.
Dan Kaelan Baskara — yang tangannya bergetar, yang lehernya merah, yang sudah dua hari tidak bisa menatapku lebih dari dua detik tanpa memalingkan wajah — mengangkat kepalanya dan berkata:
“Kamu bener.”
Dadaku naik.
“Semuanya,” katanya. “Kamu bener semuanya.”
“Jadi—“
“Aku tetep nggak bisa.”
Aku pulang jalan kaki.
Angkot lewat tiga kali dan aku membiarkan ketiganya.
Aku basah sampai ke dalam tas dan buku Fisikaku rusak dan aku tidak menangis lagi karena aku sudah kehabisan, dan sepanjang jalan pulang aku memikirkan satu hal berulang-ulang seperti orang yang menekan memar untuk memastikan masih sakit.
Kamu bener semuanya. Aku tetep nggak bisa.
Dia tidak membantahku. Itu masalahnya. Kalau dia membantah, aku bisa terus menyerang; aku bagus sekali dalam menyerang orang yang membantah. Dia mengaku kalah dan tetap tidak bergerak, dan aku tidak punya alat untuk itu.
Karena begini yang baru saja aku pelajari, dan aku butuh dua hari dan satu buku Fisika yang rusak untuk mempelajarinya:
Kamu tidak bisa menabrak orang yang sudah memutuskan untuk berdiri diam.
Truk butuh sesuatu untuk ditabrak.
Malam itu aku duduk di lantai kamar dengan seragam basah sampai jam sebelas.
Aku membuka laci. Kertas buat besok. Struk supermarket. Dua-duanya masih di sana, di bawah kotak pensil, di tempat yang sama.
Aku memandanginya lama sekali.
Dan pelan-pelan, dengan cara yang membuatku ingin muntah, aku mulai mengerti sesuatu tentang anak laki-laki itu.
El tidak bertahan karena dia kuat.
El bertahan karena dia sudah pernah melakukan ini.
Setahun, umur empat belas, menyiapkan makan malam untuk ayah yang tidak pulang. Menutupnya dengan piring supaya tetap hangat. Menaruhnya di meja. Tidur. Bangun. Melihat piring itu kosong atau tidak kosong, dan tidak pernah bertanya, dan mengulanginya besok.
Anak itu sudah lulus mata kuliah mencintai seseorang tanpa mendapatkan apa-apa.
Dia bisa melakukannya seratus dua puluh satu hari. Dia bisa melakukannya seumur hidup. Dia sudah punya sistemnya, dia sudah punya jadwalnya, dan sistem itu berjalan sempurna selama ada satu hal yang tetap:
Selama aku tetap mendorong.
Selama aku berisik, selama aku menyerang, selama aku ada di sana setiap hari — dia punya sesuatu untuk ditahan. Dan orang yang sedang menahan sesuatu tidak pernah punya waktu untuk merasakan apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya.
Aku menutup laci.
“Oke,” kataku ke kamar yang kosong.
Aku bangun. Aku ganti baju. Aku menyetrika seragamku untuk besok, hal yang tidak pernah aku lakukan seumur hidup.
Dan aku merencanakan sesuatu yang, sampai sekarang, adalah hal paling kejam yang pernah aku lakukan pada seseorang yang aku sayangi.
Aku memutuskan untuk berhenti.
- 1 Meja Makan Pertama
- 2 Riset Lapangan
- 3 Dua Tahun
- 4 Rumah yang Terlalu Bersih
- 5 Cabai
- 6 Aku Nggak Suka Ngutang
- 7 Kencan yang Bukan Kencan
- 8 Celemek
- 9 Yang Pertama Mukul
- 10 Sekutu
- 11 Tiga Puluh Sembilan
- 12 Rak Sepatu Dekat Pos Satpam
- 13 Payung
- 14 Ada yang Ngitungin Aku, Nggak? reading
- 15 Kak El
- 16 Sebelas Peraturan
- 17 Kursi Kosong
- 18 Murid Terburuk
- 19 Empat Wadah Kecil
- 20 Deret Ketiga Dekat Jendela
- 21 Foto Keluarga
- 22 Tester
- 23 Jangan Pindah Dulu
- 24 Hari yang Tidak Ada Namanya
- 25 Lima Ratus Lembar
- 26 Uji Coba
- 27 Penilaian Properti
- 28 Dua Detik
- 29 H-2
- 30 Mama Pilih Kamu
- 31 Empat Belas Februari
- 32 Senjata yang Tumpul
- 33 Halaman Seratus Dua
- 34 Tanpa Senjata
- 35 Bukan Kami yang Nyangga
- 36 Bukan