← Siapa yang Jadi Kakak?

Chapter Two

Riset Lapangan

POV: Valerie


Ada satu hal yang orang salah paham tentang aku.

Mereka pikir aku berisik karena aku senang. Padahal aku berisik karena berisik itu murah dan efektif. Kalau kamu cukup keras, cukup ramah, dan cukup enak dilihat, orang akan memberimu apa saja tanpa kamu perlu memaksa. Informasi termasuk.

Jadi Senin pagi aku tidak menyusup, tidak mengintip, tidak menyewa detektif.

Aku cuma duduk di kantin dan bertanya.

“Kaelan Baskara,” kataku. “IPA 3.”

Nadhira mengangkat alis dari mangkuk baksonya. “Kenapa?”

“Aku lagi ngumpulin fakta.”

“Val, terakhir kali kamu ngumpulin fakta, ada anak IPS 2 yang pindah sekolah.”

“Dia yang salah.”

“Dia emang salah. Tapi tetep aja seram.”

Aku menyorongkan es teh ke arahnya. Suap. Nadhira menghela napas dan meminumnya, yang artinya dia menyerah.

“El itu... “ Nadhira mengerutkan kening seperti orang yang diminta mendeskripsikan tembok. “Diem. Nggak pernah ngapa-ngapain. Nggak pernah ikut apa-apa. Kayaknya sepuluh besar paralel, tapi nggak pernah ada di depan waktu pembagian rapor karena dia nggak dateng.”

“Bermasalah?”

“Nol.”

“Cewek?”

“Nol juga.” Nadhira menyedot es tehnya. “Ada yang nembak dia kelas sebelas, dua orang. Ditolak dua-duanya, dan yang aneh — dua-duanya nggak sakit hati. Katanya nolaknya baik banget sampai mereka malah pengin nraktir dia.”

Aku mencatat itu di kepala dengan tinta merah. Bisa menolak tanpa membuat orang membencinya. Itu bukan sifat baik. Itu keahlian.


Sisa pagi itu aku berkeliling seperti sensus.

Ibu kantin, waktu aku tanya soal El, langsung menepuk dadanya. “Anak yang tinggi itu? Ya ampun, dia yang benerin kompor Ibu bulan lalu. Nggak mau dibayar. Ibu kasih makan siang seminggu juga nggak mau, katanya udah bawa.”

Pak Satpam: “El? Sering bantuin Bu Rina angkat galon.”

Anak OSIS: “Dia nggak pernah gabung apa-apa, tapi tiap ada acara, meja katering selalu udah rapi duluan. Nggak ada yang tahu siapa yang ngerapiin. Terus suatu hari kita ketahuan, ternyata dia.”

Jam sepuluh, aku punya sembilan sumber dan nol keburukan.

Dan justru itu yang bikin tengkukku dingin.

Karena begini. Aku pernah hidup satu rumah dengan laki-laki yang semua tetangga bilang baik. Yang bawa martabak buat satpam kompleks. Yang selalu jadi orang pertama yang datang kalau ada yang meninggal. Waktu pemakamannya, ada dua puluh orang yang bilang ke aku, “Papa kamu orang paling baik yang Om kenal.”

Dan aku, umur empat belas, berdiri di sebelah map cokelat berisi utang seratus delapan puluh juta, mengangguk sopan ke dua puluh orang itu.

Orang baik tidak meninggalkan jejak sebersih ini. Orang baik meninggalkan jejak yang berantakan, karena orang baik itu ceroboh. Yang meninggalkan jejak sebersih ini adalah orang yang menyapu.


Jam istirahat kedua, aku ke IPA 3.

Aku tidak mengetuk. Aku tidak berhenti di pintu. Aku masuk seperti orang yang sudah bayar sewa ruangan itu.

Efeknya sesuai jadwal: obrolan turun setengah oktaf, tiga orang lupa kalimatnya, satu anak menjatuhkan penggaris. Anak laki-laki di dekat pintu berdiri tanpa alasan, lalu duduk lagi tanpa alasan.

El ada di deret ketiga dekat jendela. Sedang membaca. Tidak menoleh.

Aku berjalan ke mejanya, dan dengan gerakan yang sudah aku latih di kepala sepanjang jam pelajaran, aku duduk di atas mejanya.

Ruangan itu berhenti bernapas.

“Kak El,” kataku.

Bukunya berhenti di halaman itu. Tidak ditutup. Cuma berhenti.

“Aku bukan kakak kamu,” katanya.

“Belum,” kataku manis. “Sementara ini kamu masih pilihan.”

Anak di sebelahnya — kurus, rambut belah tengah, papan nama Gilang — mengeluarkan bunyi yang aku bersumpah bukan bunyi manusia.

“Bro,” bisik Gilang. “Bro. Bro. Kalian saling kenal—“

“Nggak,” kata El.

“Kenal banget,” kataku.

Aku memiringkan badan sedikit ke arahnya. Cukup dekat sampai aku bisa mencium sisa bawang putih dan sabun cuci piring di lengan seragamnya — bau yang seharusnya menjijikkan dan entah kenapa tidak.

“Semalem enak, El,” kataku, mengecilkan suara sampai cuma dia yang dengar, tapi tidak cukup kecil untuk tidak terdengar deret dua dan empat. “Aku sampai nggak bisa tidur.”

Ada suara kursi terseret di belakangku. Seseorang tersedak.

Dan El—

El menutup bukunya. Pelan. Menandai halaman dengan jari.

Lalu menoleh ke arahku untuk pertama kalinya.

Dua detik.

Dan buang muka.

Telinganya merah lagi. Merah yang bergerak turun ke leher seperti air tumpah.

Aku turun dari meja dengan perasaan menang yang, aku akui sekarang, terlalu besar untuk ukuran kemenangannya.


Yang mengganjal baru muncul di koridor, dalam perjalanan balik ke kelasku.

Gilang menyusul, terengah-engah.

“Eh. Eh, Valerie, ya? Bener Valerie?”

“Kenapa?”

“Nggak, cuma—“ Dia melihat ke belakang, memastikan El tidak ikut. “Kalian tuh apa, sih? El nggak pernah cerita apa-apa.”

Aku berhenti.

“Cerita apa maksudnya?”

“Ya... apa aja.” Gilang mengangkat bahu. “Gue temen sebangku dia dari kelas sepuluh, ya. Setahun setengah. Gue nggak tau bokapnya kerja apa. Gue nggak tau rumahnya di mana persis. Gue nggak tau dia punya sodara apa nggak.” Dia menggaruk tengkuknya. “Gue baru tau nyokapnya udah nggak ada gara-gara gue nggak sengaja liat surat izin dia.”

Aku tidak menjawab.

“Terus tiba-tiba lo dateng, duduk di mejanya, ngomong kayak gitu.” Gilang menatapku dengan campuran horor dan hormat. “Sumpah, itu pertama kalinya gue liat muka dia berubah.”


Aku memikirkan itu sepanjang jam kelima.

Semalam, di meja makan rumahku, ada empat orang yang tahu bahwa Mama dan Om Bara sedang menuju sesuatu. Empat. Dan salah satunya duduk di IPA 3 dan tidak mengatakan sepatah kata pun pada teman sebangkunya sendiri.

Kalau aku, aku sudah cerita ke Nadhira sebelum piring diangkat.

Kalau anak normal, dia akan mengeluh. Bokap gue mau nikah lagi, anjir. Itu yang dilakukan anak normal.

El tidak mengeluh. El tidak cerita. El menyimpannya rapat seperti dia menyimpan semua hal lain: nilai rapornya, kompor ibu kantin, meja katering yang dirapikan diam-diam.

Dan aku, karena aku Valerie Mauren dan karena tiga tahun lalu aku belajar bahwa orang yang paling rapi menyimpan sesuatu adalah orang yang paling perlu dicurigai, sampai pada kesimpulan yang salah dengan sangat, sangat percaya diri.

Dia menyembunyikan ini, pikirku, sambil melingkari nama El di halaman belakang bukuku sampai kertasnya sobek. Berarti ada yang mau dijaga.

Aku benar. Ada yang dijaga.

Aku cuma butuh tiga puluh empat bab untuk tahu bahwa yang dia jaga itu aku.


Pulang sekolah, aku mampir ke minimarket dan membeli dua bungkus keripik pedas level lima, karena aku sedang kesal dan karena pedas adalah satu-satunya hal yang bisa membuatku merasa hidup ketika aku sedang tidak bisa mengendalikan apa pun.

Aku memakan keduanya di angkot.

Di rumah, kotak plastik di kulkas itu masih ada. Ayam yang tidak aku sentuh semalam.

Mama sudah pulang, sedang menyetrika di ruang tengah, dan menghadap televisi yang tidak dia tonton.

“Val,” katanya tanpa menoleh. “Sabtu Om Bara ke sini lagi. Sama El.”

Aku menutup kulkas.

“Oke,” kataku.

Mama menoleh, kaget. “Oke?”

“Oke,” ulangku, dan aku tersenyum dengan senyum yang aku simpan untuk penagih utang. “Aku bikin makan malamnya seru, deh.”

Mama kelihatan senang.

Itu bagian yang paling aku sesali sampai sekarang. Dia kelihatan senang sekali.