← Siapa yang Jadi Kakak?

Chapter Five

Cabai

POV: Valerie


Aku menyukai pedas dengan cara yang tidak sehat.

Bukan pedas sopan yang dipakai orang untuk bilang mereka suka pedas. Aku makan keripik level lima di angkot. Aku menambah sambal ke makanan yang sudah pedas. Waktu umur lima belas aku pernah menangis di warung mi karena kepedasan dan tetap menghabiskannya sambil menangis, dan Nadhira sampai sekarang menyimpan videonya sebagai bahan pemerasan.

Ada alasannya, dan alasannya membuatku terlihat menyedihkan kalau dijelaskan, jadi biasanya aku tidak menjelaskan. Tapi begini: pedas adalah satu-satunya rasa sakit yang aku pilih sendiri. Semua rasa sakit lain di hidupku datang tanpa mengetuk. Yang ini aku yang undang, aku yang tentukan levelnya, dan aku yang tahu kapan berhentinya.

Itu terapi termurah yang bisa aku dapat.

Jadi Sabtu malam berikutnya, waktu El menaruh mangkuk sambal di tengah meja dan Mama bertanya apakah kami mau nasi tambah, aku menaruh sendokku dan berkata dengan suara sedih yang sudah aku latih di kamar mandi:

“Aku nggak bisa pedas.”

Meja itu berhenti.

Mama menoleh ke arahku dengan ekspresi seseorang yang baru saja mendengar anaknya bilang bumi itu datar.

“Val—“

“Perutku suka sakit,” kataku cepat, sambil menekan kaki Mama di bawah meja dengan kakiku. “Udah dari kecil, kan, Ma?”

Mama membuka mulut.

Aku menekan lebih keras.

Mama menutup mulut, dan aku melihat sesuatu yang tidak enak melintas di wajahnya — bukan marah, tapi capek. Capek yang artinya lagi, ya, Val. Dan aku menelan rasa bersalah itu bulat-bulat karena ini perang dan perang ada korbannya.

Karena begini logikanya, dan aku bangga sekali waktu menyusunnya:

Anak itu masak dengan sempurna. Sempurna adalah tamengnya. Kalau aku bisa membuat satu hal keluar dari dapurnya yang tidak sempurna — satu piring yang tidak bisa dia buat pas — maka akan ada retak. Dan orang selalu paling jujur di dekat retaknya.

Aku ingin melihat dia kesal. Sekali saja. Aku ingin melihat wajah datar itu berubah jadi wajah anak SMA yang normal dan menyebalkan, supaya aku punya bahan untuk dibawa ke Mama.

El tidak menjawab apa-apa malam itu. Dia cuma menarik mangkuk sambal itu ke sisi mejanya sendiri, dan makan malam berjalan seperti biasa, dan aku pulang ke kamar dengan perasaan bahwa aku baru saja melempar batu ke dalam sumur dan tidak mendengar bunyinya.


Batu itu jatuh Senin siang.

Kotak makan itu ada lagi di tasku. Kali ini aku tidak berpura-pura tidak tahu dari mana.

“Val.” Nadhira mencondongkan badan ke atas kotak itu, mengendus. “Ini apa? Ini enak banget baunya.”

Aku membukanya.

Ayam. Sayur. Telur yang dilipat dengan cara yang tidak seharusnya bisa dilakukan manusia. Dan sambal, di wadah kecil terpisah, dengan tutup sendiri.

Terpisah.

Aku menatap wadah kecil itu selama beberapa detik.

Dia tidak menghilangkan sambalnya. Dia memisahkannya, supaya aku bisa memilih.

Itu — dan aku ingin ini dicatat — jauh lebih menyebalkan daripada kalau dia menghilangkannya. Karena menghilangkan berarti percaya. Memisahkan berarti memberi ruang. Memisahkan berarti dia mengizinkan aku berbohong dan tetap menyiapkan pintu keluarnya kalau-kalau aku mau berubah pikiran, tanpa harus mengaku pada siapa pun.

Aku memakan lauknya. Aku tidak menyentuh wadah kecil itu.

Aku membawanya pulang, menaruhnya di kulkas, dan memakannya sendirian jam sebelas malam dengan sendok, langsung dari wadahnya, sambil duduk di lantai dapur.


Sabtu berikutnya, cabainya hilang.

Bukan cuma dari sambal. Dari semuanya.

Sup yang biasanya ada satu-dua potong cabai rawit mengambang: bening. Tumis yang biasanya ada merah-merahnya: tidak ada. Ayam yang minggu lalu ada sengatan tipis di belakang lidah: tidak ada apa-apa. Dan tetap enak — itu bagian yang membuatku ingin membanting sesuatu — tetap enak dengan cara yang berbeda, seperti orang yang menulis ulang seluruh lagu di nada dasar yang lain hanya karena satu orang di ruangan itu tidak nyaman dengan yang lama.

Om Bara mengambil suapan kedua dan mengangkat alis.

“El. Ini kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Papa nggak bisa makan nggak pedes.”

“Ada di kulkas, Pa. Yang punya Papa saya pisah.”

Om Bara menoleh ke arahku dengan cepat, mengerti, lalu tidak berkata apa-apa dan makan dengan sangat sopan, dan aku ingin tenggelam ke dalam kursi.

Karena laki-laki empat puluh enam tahun itu baru saja kehilangan makan malamnya demi kebohongan seorang anak SMA yang sedang berusaha menghancurkan hidupnya.


Yang membuat tiga minggu berikutnya jadi neraka bukan rasa bersalah. Aku bisa mengelola rasa bersalah; aku sudah lama berlatih.

Yang membuatnya neraka adalah aku harus konsisten.

Aku tidak bisa makan keripik pedas di sekolah lagi, karena El satu sekolah denganku dan aku tidak tahu jam berapa dia lewat mana. Aku tidak bisa pesan seblak. Aku tidak bisa ke warung mi. Nadhira mengunyah mi level empat di depanku selama tiga hari berturut-turut sambil menatap mataku, dan pada hari keempat dia bilang:

“Val, kamu tuh lagi ngapain, sih.”

“Nggak ngapa-ngapain.”

“Kamu udah dua minggu makan kayak orang sakit tipes.”

“Aku lagi jaga lambung.”

“Kamu nggak punya lambung. Kamu punya tungku.”

Aku menusuk-nusuk nasinya dan tidak menjawab.

Karena aku tidak bisa menjelaskan bahwa aku sedang berperang dan bahwa strategiku sedang bekerja terbalik: aku merancang jebakan untuk membuat lawanku gagal, dan yang terjadi adalah lawanku menyusun ulang seluruh dapurnya di sekitar satu kalimat bohong yang aku ucapkan sambil menginjak kaki ibuku.

Dan tidak sekali pun dia menyebutnya. Tidak sekali pun dia bertanya. Tidak sekali pun ada nada di suaranya yang bilang aku tahu kamu bohong.

Kalau dia menyindir, aku menang. Kalau dia mengeluh, aku menang.

Dia tidak melakukan apa-apa, dan itu artinya aku kalah setiap hari selama tiga minggu tanpa pernah ada pertandingannya.


Puncaknya hari Kamis, di koridor lantai dua.

Aku sedang berjalan bersama Nadhira dan aku melihatnya dari jauh — El, di ujung koridor, sedang membantu Bu Rina memindahkan tumpukan kertas ujian. Dan Bu Rina, yang aku tahu persis tidak pernah tersenyum ke siapa pun sejak tahun ajaran dimulai, sedang tertawa.

El menjawab sesuatu. Kalimat panjang. Aku bisa melihat mulutnya bergerak lebih dari tiga kali.

Aku berhenti berjalan.

“Val?”

“Dia ngomong,” kataku.

“Ya emang bisa ngomong.”

“Nggak ke aku.”

Nadhira menoleh, memicingkan mata ke arahku, dan tersenyum dengan cara yang membuatku ingin mendorongnya ke tembok.

“Ooooh,” katanya.

“Jangan.”

“Aku belum ngomong apa-apa.”

“Kamu ngomong ‘ooooh’. Itu ngomong.”

Tapi ada yang menempel di dadaku dan tidak mau turun, dan bentuknya jelek, dan aku menolak menamainya sampai berbab-bab kemudian.

El bicara ke ibu kantin. Ke Bu Rina. Ke ibu-ibu kompleks. Ke Mamaku, dengan suara yang lembut dan sabar dan penuh, sampai Mama tertawa tanpa jeda setengah detik seperti dulu.

Ke aku: dua suku kata. Buang muka. Telinga merah.

Aku satu-satunya orang di dunia ini yang tidak dapat versi hangatnya.

Dan aku, malam itu, berbaring di kasur dan berkata pada langit-langit dengan suara paling meyakinkan yang aku punya:

“Karena dia takut sama aku. Karena dia tahu aku bisa lihat busuknya.”

Langit-langit tidak menjawab.

Di kulkas, di rak paling bawah, wadah kecil berisi sambal yang tidak pernah aku sentuh sudah bertambah jadi empat.

Aku tidak membuangnya.

Aku juga tidak tahu kenapa.