Chapter Eleven
Tiga Puluh Sembilan
POV: Valerie
Aku tidak masuk sekolah Senin dan Selasa.
Tiga puluh sembilan koma dua hari Minggu malam. Tiga puluh delapan koma delapan Senin pagi. Radang tenggorokan, kata dokter, ditambah kurang tidur, ditambah — dan aku mengutip beliau — “kayaknya adik ini kecapekan mikir.”
Mama izin kerja setengah hari Senin. Selasa dia tidak bisa; ada audit di kantornya, hal yang sudah dijadwalkan sebulan sebelumnya, dan aku bisa melihat perang di wajahnya sepanjang sarapan.
“Ma, aku tujuh belas tahun.”
“Mama tahu.”
“Aku bisa minum obat sendiri.”
“Mama tahu, Val.”
Dia tetap menoleh tiga kali di depan pintu.
Dan begitu suara pagar berbunyi, aku menarik selimut sampai leher dan menikmati satu-satunya hal yang enak dari sakit: rumah yang sepi, dan izin resmi untuk tidak menjadi siapa pun selama beberapa jam.
Bel berbunyi jam sepuluh.
Aku turun dengan rambut yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, kaus kebesaran bergambar beruang yang aku punya sejak kelas dua SMP, dan wajah yang, aku yakin, terlihat seperti gambar anak-anak yang kena hujan.
Aku membuka pintu.
El berdiri di sana. Seragam sekolah. Jam sepuluh pagi hari Selasa.
Membawa panci.
Kami saling menatap selama tiga detik penuh.
“Kamu bolos,” kataku.
“Jam kosong.”
“Dua jam?”
“Empat.”
“El.”
“Bu Rina rapat.” Dia melihat ke arah dalam rumah. “Boleh masuk? Ini panas.”
Dan aku, Valerie Mauren, yang seumur hidup tidak pernah membiarkan siapa pun melihat versi ini dari dirinya, berdiri di ambang pintu dengan kaus beruang dan rambut singa dan berkata:
“Tunggu bentar.”
“Kenapa?”
“Aku mau ganti baju.”
“Nggak usah.”
“El—“
“Kamu demam,” katanya, sudah masuk, sudah menuju dapur, “dan aku udah pernah lihat kamu nangis kepedesan di warung mi.”
Dia berhenti di tengah langkah.
Setengah detik. Lalu lanjut.
Aku membeku di lorong.
“Kamu di warung mi kelas sepuluh?”
Dia tidak menjawab.
Panci itu diletakkan di kompor. Api dinyalakan. Dan percakapan itu, entah bagaimana, menguap sebelum aku sempat menangkapnya.
Yang dia bawa adalah bubur.
Bukan bubur rumah sakit. Bubur yang teksturnya seperti sesuatu yang dikerjakan oleh orang yang benar-benar memikirkan tekstur — halus tapi tidak encer, dengan minyak bawang yang ditaruh terpisah di wadah kecil karena, katanya, “kalau kena panas kelamaan wanginya ilang.”
Aku makan dua mangkuk.
Aku sedang tidak dalam posisi menjaga citra.
“Kenapa nggak pedes,” kataku di mangkuk kedua, dan aku bersumpah itu keluar sebelum otakku sempat memeriksanya.
Sendoknya berhenti setengah jalan.
“Kamu nggak bisa pedes.”
“Iya.” Aku menunduk ke mangkuk. “Iya. Bener.”
Dia tidak berkata apa-apa.
Tapi hari itu, kalau kamu bertanya kapan tepatnya semuanya mulai runtuh, jawabannya adalah detik itu — waktu aku sadar bahwa aku ingin sekali membatalkan kebohongan itu, dan satu-satunya alasan aku tidak membatalkannya adalah karena aku belum tahu bagaimana caranya tanpa harus mengaku bahwa aku pernah ingin menghancurkan hidupnya.
Dia tidak pulang setelah aku makan.
Dia mencuci panci. Lalu dia mencuci gelas-gelas yang menumpuk sejak Minggu. Lalu — dan aku menyaksikan ini dari sofa dengan selimut sampai dagu, terlalu lemah untuk protes — dia melihat tumpukan baju kering yang belum dilipat di kursi ruang tengah, berdiri di depannya sekitar tiga detik, dan mulai melipat.
“El.”
“Hm.”
“Berhenti.”
“Bentar lagi.”
“Itu baju Mamaku.”
“Iya.”
“Kamu lagi ngelipetin baju ibuku.”
“Iya.”
Aku menutup wajahku dengan bantal dan mengeluarkan suara yang bukan suara manusia.
“Kenapa,” kataku dari balik bantal. “Kenapa kamu kayak gini.”
Ada jeda.
“Kalau tangan diem,” katanya, “kepala jalan.”
Aku menurunkan bantal.
Dia sedang melipat handuk, tidak melihat ke arahku, dan dia mengatakannya seperti orang menyebutkan resep. Bukan curhat. Bukan minta dikasihani. Sekadar penjelasan teknis tentang cara kerja mesin.
Dan aku, dengan demam tiga puluh delapan koma sekian dan pertahanan yang sudah tidak ada, tiba-tiba melihat seluruhnya sekaligus: rumah yang sudutnya tidak berdebu, sandal yang menghadap keluar, bantal sofa yang resletingnya semua ke bawah, satu ruangan yang dikunci supaya tidak dimasuki.
Anak itu tidak rajin.
Anak itu sedang tidak berhenti bergerak selama tiga tahun karena kalau dia berhenti, dia harus merasakannya.
“El.”
“Hm.”
“Sini.”
Dia menoleh.
“Duduk,” kataku, dan aku menepuk sofa di sebelahku.
Dia tidak bergerak.
“Aku demam, bukan menular.” Aku menaikkan alis. “Atau kamu takut?”
Itu jebakan lama. Itu jebakan paling murah yang aku punya, dan dia tahu, dan dia tetap berjalan ke sana dan duduk — di ujung sofa, sejauh yang secara fisik masih bisa disebut sofa yang sama.
Aku menggeser diriku sedikit.
Dia tidak bergerak.
Aku menggeser lagi.
“Val.”
“Hm?”
“Kamu geser.”
“Sofanya miring.”
“Sofanya nggak miring.”
“Rumahnya yang miring, El. Fondasinya. Serius. Ini bahaya banget.”
Dan dia mengeluarkan suara.
Bukan tawa. Bukan sepenuhnya. Semacam embusan napas pendek dari hidung, sekali, yang membuat bahunya turun satu sentimeter.
Aku menoleh secepat kilat.
“Kamu ketawa.”
“Nggak.”
“Kamu ketawa. Aku denger. Ada saksinya.”
“Nggak ada siapa-siapa di sini.”
“Aku saksinya!”
Dan begitu dekatnya aku sekarang — entah bagaimana, aku bersumpah aku tidak berencana, sofanya memang miring — sampai aku bisa melihat bahwa bulu matanya panjang dengan cara yang tidak masuk akal untuk anak laki-laki sediam itu, dan bahwa ada bekas luka pisau tipis di buku jari telunjuk kanannya, dan bahwa lehernya sudah mulai merah dari bawah, naik, pelan-pelan, seperti air pasang.
Dia menatap lurus ke depan. Ke televisi yang mati.
“Val.”
“Hm.”
“Jangan deket-deket.”
“Kenapa?”
“Kamu demam.”
“Bukan itu alasannya.”
Rahangnya bergerak.
Dan aku — karena demam, karena dua malam tanpa tidur, karena bubur, karena tumpukan baju yang dilipat, karena tiga kata wajar kamu curiga yang masih berdenging di kepalaku sejak Minggu — melakukan hal paling ceroboh yang pernah aku lakukan seumur hidup.
Aku menyandarkan dagu ke bahunya.
Dan berbisik, dengan suara paling ringan dan paling bercanda yang bisa aku produksi:
“El, kayaknya aku suka sama kamu, deh.”
Dia tidak bergerak.
Tidak menoleh. Tidak menjauh. Tidak menjawab.
Dia duduk di sana dengan dagu seorang anak perempuan sakit di bahunya, memandangi televisi yang mati, dan tidak melakukan apa pun selama mungkin sepuluh detik penuh.
Sepuluh detik itu cukup untuk seluruh isi perutku jatuh.
Karena begini cara kerjanya. Kalau aku bilang begitu ke siapa pun di sekolah itu, akan ada reaksi: gelagapan, tertawa, membalas, menjauh. Reaksi apa pun berarti aku memegang kendali. Reaksi berarti bercanda.
Diam berarti dia menganggapnya serius.
Dan kalau dia menganggapnya serius, maka aku juga harus tahu apakah aku serius.
“Bercanda,” kataku cepat.
“Iya,” katanya.
Dan dia berdiri, dan membawa mangkuk ke dapur, dan aku mendengar air mengalir lebih lama daripada yang dibutuhkan satu mangkuk.
Dia pulang jam satu, setelah memastikan aku minum obat, setelah menulis jam minum berikutnya di kertas kecil dan menempelkannya di kulkas.
Aku tidak bangun untuk mengantarnya ke pintu.
Aku berbaring di sofa dengan selimut sampai dagu, mendengar pagar ditutup, dan berbicara pada langit-langit ruang tengah rumahku sendiri.
“Bercanda,” kataku sekali lagi, ke tidak siapa-siapa.
Langit-langit tidak menjawab. Langit-langit tidak pernah menjawab, dan itu selalu jadi hal yang aku sukai darinya, dan hari itu untuk pertama kalinya aku ingin sekali dia membantah.
- 1 Meja Makan Pertama
- 2 Riset Lapangan
- 3 Dua Tahun
- 4 Rumah yang Terlalu Bersih
- 5 Cabai
- 6 Aku Nggak Suka Ngutang
- 7 Kencan yang Bukan Kencan
- 8 Celemek
- 9 Yang Pertama Mukul
- 10 Sekutu
- 11 Tiga Puluh Sembilan reading
- 12 Rak Sepatu Dekat Pos Satpam
- 13 Payung
- 14 Ada yang Ngitungin Aku, Nggak?
- 15 Kak El
- 16 Sebelas Peraturan
- 17 Kursi Kosong
- 18 Murid Terburuk
- 19 Empat Wadah Kecil
- 20 Deret Ketiga Dekat Jendela
- 21 Foto Keluarga
- 22 Tester
- 23 Jangan Pindah Dulu
- 24 Hari yang Tidak Ada Namanya
- 25 Lima Ratus Lembar
- 26 Uji Coba
- 27 Penilaian Properti
- 28 Dua Detik
- 29 H-2
- 30 Mama Pilih Kamu
- 31 Empat Belas Februari
- 32 Senjata yang Tumpul
- 33 Halaman Seratus Dua
- 34 Tanpa Senjata
- 35 Bukan Kami yang Nyangga
- 36 Bukan