← Siapa yang Jadi Kakak?

Chapter Fifteen

Kak El

POV: Valerie → El


Aturannya aku tulis di halaman belakang buku Fisika yang sudah rusak, dan cuma ada empat.

Satu: sopan. Selalu sopan.
Dua: panggil “Kak El”. Di mana pun. Di depan siapa pun.
Tiga: bilang terima kasih untuk semuanya. Kotak makan, es jeruk, piring yang dicuci. Semuanya. Setiap kali.
Empat: jangan pernah, dalam keadaan apa pun, berdiri lebih dekat dari satu meter.

Di bawahnya aku tulis satu baris lagi, lebih kecil:

Ini yang dia mau. Kasih aja.


Selasa pagi aku berpapasan dengannya di koridor lantai dua.

Aku tersenyum. Aku mengangguk sedikit. Aku bilang, “Pagi, Kak El.”

Dan aku lewat.

Aku bisa merasakan dia berhenti berjalan di belakangku. Aku tidak menoleh.

Selasa siang kotak makan ada di tasku seperti biasa. Aku menemukannya, dan aku mengetik pesan — pesan pertama yang aku kirim ke nomornya sejak Sabtu:

Makasih ya Kak, enak banget. Maaf ngerepotin terus.

Dia tidak membalas.

Rabu aku mengembalikan kotaknya sendiri ke tangannya, di parkiran sepeda, dengan dua tangan seperti orang menyerahkan berkas. “Makasih, Kak El. Udah aku cuci.”

“Val.”

“Ya?”

Dia berdiri di sana dengan kotak makan kosong di tangannya dan tidak bisa mengeluarkan apa-apa.

“Aku duluan, ya,” kataku. “Nadhira nungguin.”


Kamis, Mama menelepon Om Bara di dapur dan aku lewat dan mendengar potongannya.

“...iya, akur banget sekarang. Mama sampai heran. Val manggilnya ‘Kak El’, lho, sopan banget. Kayaknya udah nggak apa-apa.”

Aku naik ke kamar dan duduk di lantai dan menekan bantal ke wajahku sampai paru-paruku sakit.

Karena inilah harganya, dan aku sudah tahu harganya sejak awal: ini bukan strategi yang bisa dipakai setengah-setengah. Kalau aku menyerah di hari ketiga, semuanya sia-sia. Kalau aku goyah sekali saja, dia akan tahu bahwa aku masih mendorong, dan dia akan kembali punya sesuatu untuk ditahan.

Jadi aku tidak goyah.

Jumat aku duduk di kantin membelakangi pintu masuk supaya aku tidak perlu melihat siapa yang lewat. Sabtu di makan malam aku memuji masakannya di depan orang tua kami — “Enak banget, Kak El” — dan Om Bara terlihat begitu senang sampai aku hampir tidak sanggup menghabiskan piringku.

El tidak makan malam itu.

Dia bilang sudah makan di rumah.

Dia tidak pernah bilang sudah makan di rumah seumur hidupnya.


Senin, hari kedelapan, Gilang menghadang aku di depan perpustakaan.

“Lo ngapain sih sama El.”

“Hah?”

“Anak itu rusak.”

Aku menutup buku.

“Rusak gimana?”

“Ya rusak.” Gilang mengacak rambutnya, frustrasi dengan cara yang tidak biasa untuknya. “Val, gue temen sebangku dia setahun setengah. Dia tuh mesin. Dia nggak pernah lupa apa-apa. Dia nggak pernah salah. Kemarin dia ninggalin tasnya di kelas dan pulang. Tasnya. Terus balik lagi lima belas menit kemudian.”

Aku tidak menjawab.

“Terus tadi pagi—“ Gilang menatapku. “Tadi pagi dia nanya ke gue, ‘Val udah makan belum, ya?’ Terus dia langsung diem. Terus dia bilang ‘lupain’. Gue nggak pernah denger dia nyebut nama orang duluan seumur hidup.”

Aku memegang buku itu sangat erat.

“Makasih infonya,” kataku.

Dan aku pergi, dan aku masuk ke kamar mandi, dan aku menangis selama enam menit dengan keran menyala, dan lalu aku cuci muka dan aku keluar dan aku tidak goyah.


POV: El


Hari kesembilan aku salah takar garam.

Aku ingin kamu mengerti apa artinya itu, jadi biar aku jelaskan.

Aku tidak menakar dengan sendok. Aku tidak pernah menakar dengan sendok sejak umur lima belas. Tanganku tahu. Itu satu-satunya bagian dari diriku yang tidak pernah gagal — bukan kepalaku, bukan dadaku, tangan.

Hari kesembilan aku menuang garam ke dalam sup dan tanganku terus bergerak setelah seharusnya berhenti, dan aku baru sadar dua detik kemudian.

Aku berdiri di depan kompor dan menatap panci itu.

Lalu aku mematikan api, dan duduk di lantai dapur, di antara kompor dan kulkas, dan tidak bangun selama dua puluh menit.


Ini yang tidak aku perhitungkan.

Aku menghitung semuanya. Seratus dua puluh satu hari. Meja makan yang sama sampai kami lulus. Kuliah, mungkin kota yang berbeda, mungkin dia menikah dengan orang lain suatu hari dan aku akan memasak untuk resepsinya karena tentu saja aku akan memasak untuk resepsinya.

Aku sudah menghitung semuanya sampai ke ujung, dan aku sanggup, karena aku sudah pernah.

Aku sudah pernah menyiapkan makan malam setiap hari selama satu tahun untuk laki-laki yang tidak pulang. Aku sudah pernah membuat kotak kedua setiap pagi selama dua tahun untuk perempuan yang tidak tahu aku ada. Aku bagus dalam hal ini. Ini satu-satunya hal yang aku bagus.

Yang tidak aku perhitungkan adalah bahwa selama dua tahun itu, ada satu hal yang selalu ada, dan aku tidak pernah menghitungnya karena aku tidak pernah membayangkan hal itu bisa hilang.

Dia berisik.

Di mana pun dia berada, dia berisik. Aku tidak perlu melihatnya. Aku bisa berdiri di ujung koridor dan tahu dia ada di ujung yang lain karena ada tawa yang terlalu keras untuk jam sembilan pagi. Aku bisa duduk di perpustakaan dan tahu dia lewat karena ada tiga orang yang berhenti bicara bersamaan.

Dua tahun, aku menghitung hari dan menghitung takaran dan menghitung sisa saldo dan menghitung setengah detik seorang perempuan menoleh ke pintu.

Dan sepanjang dua tahun itu, tanpa aku sadari, aku sedang mendengarkan.

Sekarang tidak ada apa-apa.

Sekarang dia menyapaku di koridor dengan senyum yang benar dan suara yang benar dan kalimat yang benar, dan tidak ada satu pun dari itu yang dia.

Aku memilih ini.

Aku memilih ini dan aku tidak tahu bahwa yang aku pilih bukan kehilangan dia. Yang aku pilih adalah melihatnya setiap hari sebagai versi dirinya yang aku sendiri yang matikan.


Hari kesebelas aku menemukannya di lapangan belakang, sendirian, duduk di tangga tribun.

Aku tidak berencana. Aku bersumpah aku tidak berencana; aku sedang membawa kursi ke gudang dan aku melihatnya dan tanganku menaruh kursi itu di rumput.

“Val.”

Dia menoleh. Dan tersenyum. Senyum yang benar.

“Eh, Kak El.”

“Jangan.”

“Hm?”

“Jangan panggil gitu.”

“Kenapa?” Dia memiringkan kepala, sopan, ramah. “Kan bentar lagi emang gitu.”

Aku berdiri di rumput itu dan merasakan sesuatu di dadaku pecah dengan bunyi yang sangat pelan.

“Val.”

“Ya?”

“Berhenti.”

“Berhenti apa?”

“Berhenti sopan sama aku.”

Dan wajahnya berubah.

Cuma sedikit. Sudut mulutnya turun seperempat milimeter, dan aku melihatnya karena aku sudah dua tahun mempelajari wajah itu, dan seluruh isi dadaku jatuh ke perut.

“Kamu yang minta,” katanya pelan.

“Aku nggak minta ini.”

“Kamu bilang nggak bisa.” Dia berdiri. Dia tetap di atas tangga, dua anak tangga di atasku, jadi kami hampir setinggi. “Aku ngasih kamu apa yang kamu mau, El. Aku berhenti. Aku nggak ganggu. Aku sopan. Kamu bisa jadi kakakku dan aku bisa jadi adikmu dan Mama sama Om Bara bisa nikah dan nggak ada yang ngecek pintu lagi.”

“Val—“

“Kamu mau apa lagi dari aku?”

Suaranya pecah di kata terakhir dan dia langsung menutupnya dengan tawa, tawa yang salah, dan itu — bukan air matanya, bukan teriakannya, tawa yang salah itu — yang akhirnya menghabisi aku.


Aku sudah menyiapkan pidato selama sebelas hari.

Semuanya masuk akal. Semuanya benar. Aku bisa mengulangnya sekarang kalau kamu mau.

Yang keluar dari mulutku adalah:

“Aku nggak bisa.”

“Aku tahu—“

“Bukan itu.” Aku menggeleng. Tanganku bergetar dan aku tidak mencoba menyembunyikannya lagi. “Aku nggak bisa yang ini. Aku bisa nggak punya kamu, Val. Aku udah dua tahun nggak punya kamu, aku bisa. Tapi aku nggak bisa—“

Aku berhenti karena suaraku tidak mau bekerja.

“Aku nggak bisa denger kamu manggil aku ‘Kak’.”

Dia turun satu anak tangga.

“Aku nggak bisa lihat kamu sopan sama aku.” Aku menelan. “Kamu ketawa di koridor. Tiap pagi. Dua tahun. Aku nggak pernah lihat, aku cuma denger, dan itu aja udah—“

“El.”

“Sebelas hari, Val. Sebelas hari nggak ada suaranya.”

Dia turun satu anak tangga lagi.

Dan aku berdiri di lapangan belakang sekolah, memegang kursi plastik yang entah kenapa aku ambil lagi, dan berkata pada perempuan yang aku cintai sejak hari pertama masuk SMA:

“Aku salah takar garam hari Kamis.”

Dia mengerjap. “Apa?”

“Sup. Aku salah takar garam.” Aku menatapnya. “Aku nggak pernah salah takar, Val. Nggak pernah. Sejak umur lima belas.”

Dan Valerie Mauren — yang sudah sebelas hari sopan, sebelas hari berjarak satu meter, sebelas hari memanggilku Kak — turun anak tangga terakhir, mengambil kursi plastik itu dari tanganku, membuangnya ke rumput, dan berdiri di jarak yang secara sosial tidak sopan.

“Bilang lagi,” katanya.

“Val.”

“Yang di hujan itu. Bilang lagi.”

Aku menutup mataku.

“Aku suka kamu.”

Dan dia menabrakku.

Bukan kiasan. Dia benar-benar menabrak — dua tangan di kerah seragamku, seluruh badannya, dengan tenaga yang tidak masuk akal untuk orang seukuran itu — dan aku mundur satu langkah dan menahan kami berdua dengan satu tangan di pinggangnya karena kalau tidak kami akan jatuh ke rumput.

“Aku juga,” katanya di leherku. “Aku suka kamu. Aku suka kamu, El. Aku suka kamu.”

Tidak ada tawa. Tidak ada nada bercanda. Tidak ada satu pun lapisan yang biasanya dia pakai.

Cuma suara yang belum pernah aku dengar, dari perempuan yang selama dua tahun aku dengar tanpa pernah melihat.

Aku memeluknya di lapangan belakang sekolah, jam empat sore, dan aku sadar dua hal sekaligus.

Yang pertama: aku baru saja kalah dari satu-satunya orang yang tidak pernah aku niatkan untuk kalahkan.

Yang kedua: seratus dua puluh satu hari lagi, dan aku belum menyelesaikan satu pun masalah yang aku sebutkan di bawah hujan itu.

Aku menekan wajahku ke rambutnya dan memutuskan untuk memikirkan itu besok.

Aku tidak memikirkannya besok.

Aku tidak memikirkannya selama empat belas bab.