← Siapa yang Jadi Kakak?

Chapter Nineteen

Empat Wadah Kecil

POV: Valerie


Aku sudah tiga bulan tidak makan pedas dan aku mulai tidak mengenali diriku sendiri.

Ini terdengar berlebihan. Aku tahu itu terdengar berlebihan. Tapi ada hal-hal kecil yang menopang seseorang tanpa dia sadari, dan waktu hal itu dicabut, dia tidak langsung roboh — dia cuma jadi versi dirinya yang lebih tipis.

Aku jadi versiku yang lebih tipis.

Dan yang paling memalukan: aku tidak bisa berhenti karena aku terlalu pengecut untuk mengaku.

Tiga bulan. Anak itu sudah menyusun ulang seluruh dapurnya di sekitar satu kalimat yang aku ucapkan sambil menginjak kaki ibuku. Ayahnya kehilangan sambal di meja makannya sendiri. Setiap kotak makan, setiap Sabtu, setiap masakan — semuanya dibangun di atas kebohongan yang aku buat karena aku ingin melihat anak itu gagal.

Bagaimana kamu mengaku pada seseorang bahwa dia sudah tiga bulan menyesuaikan hidupnya untuk melindungimu dari sesuatu yang tidak pernah ada?


Aku memutuskannya hari Minggu, di depan kulkas rumahku sendiri.

Rak paling bawah. Empat wadah kecil, tutupnya masih segel, disusun berjajar.

Yang pertama dari bulan September. Aku tidak membuangnya waktu itu dan aku tidak tahu kenapa, dan setiap kali ada yang baru datang aku menaruhnya di sebelah yang lama, dan sekarang ada empat, dan itu satu-satunya hal di dalam kulkas itu yang tidak pernah aku sentuh.

Aku mengambil keempatnya, memasukkannya ke tas, dan naik angkot.


“Kamu bawa apa?”

Dia sedang mengulek sesuatu di ambang dapur. Rumahnya sepi; Om Bara ke rumah Pak Hadi seperti setiap Minggu.

Aku tidak menjawab. Aku berjalan ke ruang makan, meletakkan tas, dan mengeluarkan empat wadah kecil itu satu per satu, dan menyusunnya di atas meja dalam satu baris.

Ulekannya berhenti.

“Val.”

“Duduk.”

Dia duduk.

Aku menarik wadah pertama ke tengah meja, membuka tutupnya, dan bau itu naik — bau yang sudah tiga bulan tidak aku cium dari jarak sedekat ini, terasi dan cabai dan jeruk limau — dan seluruh mulutku bereaksi seperti anjing yang mendengar pintu dibuka.

Aku mengambil sendok.

“Val, itu udah—“

“Yang ini emang udah lama.” Aku menutupnya lagi dan mendorongnya ke samping. “Yang ini juga. Yang ini juga.”

Aku sampai ke wadah keempat. Yang paling baru. Sabtu kemarin.

Aku membukanya.

Dan aku memakan satu sendok penuh.


Ada tiga detik di mana tidak terjadi apa-apa.

Lalu terjadi.

Aku sudah lupa. Itu bagian yang bodoh — aku benar-benar lupa seperti apa rasanya. Tiga bulan cukup untuk membuat lidah lupa, dan sekarang seluruh mulutku terbakar dari dalam dan mataku langsung penuh air dan hidungku berair dan aku menangis, di ruang makan orang, sambil memegang sendok.

Dan aku tertawa.

Tertawa dan menangis bersamaan, dengan cara yang benar-benar memalukan, sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan mulut seperti orang bodoh.

El sudah berdiri. Sudah membawa gelas. Sudah menaruhnya di depanku.

“Val—“

“Aku bohong,” kataku.

Dia berhenti.

“Aku bohong soal pedes.” Aku menyeka mata dengan punggung tangan dan itu tidak membantu sama sekali. “Aku bisa pedes. Aku suka banget pedes. Aku makan keripik level lima di angkot. Aku pernah nangis di warung mi dan tetep aku habisin.”

Aku menarik napas, dan napas itu terbakar juga.

“Aku bohong bulan September, di meja makan rumahku, di depan Mama, sambil nginjek kakinya di bawah meja.”

Dia tidak bergerak.

“Dan aku bohong karena aku pengin kamu gagal,” kataku.

Suaraku hancur di kata terakhir.

“Aku pengin ada satu piring yang nggak bisa kamu bikin bener. Satu aja. Biar aku bisa lihat kamu kesel, biar aku punya bahan, biar aku bisa bilang ke Mama ‘tuh kan, anaknya juga nggak sebaik itu’.”

Aku meletakkan sendok.

“Tiga bulan, El. Bapak kamu kehilangan sambel di meja makannya sendiri gara-gara aku.”


Dia duduk kembali.

Dia mengambil wadah kecil yang sudah terbuka, menutupnya, dan meratakan letaknya di meja dengan ibu jari, karena tentu saja.

Lalu dia bilang:

“Aku tahu.”

Aku mengangkat wajah.

“Apa?”

“Aku tahu kamu bohong.”

Ruangan itu miring sedikit.

“Sejak kapan?”

“Sejak kamu bilangnya.”

“El.”

“Val, aku lihat kamu nangis kepedesan di warung mi kelas sepuluh.” Dia mengangkat bahu sedikit. “Terus kamu pesen lagi.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

“Kamu tahu dari malam itu.”

“Iya.”

“Dan kamu tetep—“ Suaraku tidak keluar. Aku mencoba lagi. “Kamu tetep ngilangin cabe dari semuanya. Tiga bulan.”

“Iya.”

“KENAPA?”

Dan dia menatapku, dan dia menjawab dengan nada orang yang menjelaskan hal paling jelas di dunia:

“Karena kamu punya alasan buat bohong.”

Aku tidak bisa bicara.

“Aku nggak tahu alasannya apa,” katanya. “Waktu itu aku pikir kamu benci aku, dan itu wajar, kamu nggak kenal aku. Kalau kamu butuh bohong buat ngerasa aman di meja makan itu, ya udah.” Dia meratakan wadah itu sekali lagi. “Aku tinggal masak dua kali.”

“Dua kali?”

Dia diam.

“El. Dua kali maksudnya apa.”

“Yang buat kalian, sama yang buat Papa,” katanya. “Papa nggak bisa nggak pedes.”

Aku menatap anak itu.

Tiga bulan. Setiap Sabtu, dan setiap kotak makan, dan setiap malam.

Dua kali.

“Kamu masak dua kali tiap hari,” kataku, “selama tiga bulan, biar aku bisa bohong dengan nyaman.”

“Nggak gitu.”

“Persis gitu, El.”

“Aku cuma—“

“Kamu cuma apa?” Aku sudah berdiri. Aku tidak ingat berdiri. “Kamu cuma ngasih. Terus nggak nengok ke belakang. Ya?”

Dia berhenti.

Dan aku melihat sesuatu melintas di wajahnya — kaget, kecil, cepat — karena aku baru saja mengucapkan kalimat ibunya, dan dia tidak tahu bahwa aku tahu, dan aku tidak akan pernah menjelaskan dari mana aku mendengarnya.


Aku menangis dengan sangat jelek malam itu.

Sebagian karena cabai. Aku ingin itu dicatat. Secara medis, sebagian besar air mata itu adalah capsaicin.

Tapi tidak semuanya.

“Aku minta maaf,” kataku.

“Nggak usah.”

“Aku minta maaf, El, aku—“

“Val.”

Dia sudah berdiri di sebelahku. Dia memegang bahuku dan memutar badanku dan lalu tidak melakukan apa-apa lagi, karena dia tidak pernah tahu harus melakukan apa dengan tangannya kalau tidak ada yang perlu dibereskan.

Jadi aku yang menyelesaikannya. Aku menempelkan dahiku ke tulang selangkanya dan berdiri di sana dengan mulut yang masih terbakar.

“Kamu nyebelin,” kataku ke kausnya.

“Iya.”

“Kamu nyebelin banget. Kamu tuh—“

Aku berhenti.

Karena kalimat yang ada di ujung lidahku bukan kalimat yang boleh keluar. Aku sudah menyimpannya sejak bulan lalu. Aku sudah memutuskan akan menyimpannya sampai jauh, sampai aman, sampai ada tempat yang layak untuknya.

Dan aku sedang berdiri di ruang makan orang dengan hidung berair dan mata bengkak dan mulut yang rasanya seperti dibakar, yang jelas-jelas bukan tempat yang layak untuk apa pun.

“El.”

“Hm.”

“Sayang,” kataku.

Dia berhenti bernapas.

Aku menutup mataku dan menekan dahiku lebih keras ke dadanya supaya tidak perlu melihat wajahnya.

“Kamu boleh nggak jawab,” kataku, cepat. “Aku cuma—aku harus ngomong. Sekali aja. Terus udah.”

Tidak ada suara selama beberapa detik.

Lalu tangannya naik ke belakang kepalaku.

Dan dia tidak bilang apa-apa — tidak satu kata pun, tiga bulan lagi baru dia bilang, dan waktu dia akhirnya bilang, dunia sudah runtuh — tapi dia menahan kepalaku di sana, dengan satu tangan, selama sangat lama.

Untuk El, itu adalah pidato.


Kami makan malam berdua jam tujuh.

Dia masak ulang. Aku bilang tidak usah, dia bilang tidak apa-apa, dan setengah jam kemudian ada dua piring di meja itu dan salah satunya merah.

Aku memandanginya.

“El.”

“Hm.”

“Ini pedes.”

“Iya.”

“Kamu masak pedes buat aku.”

“Iya.”

Aku mengambil suapan pertama dan mataku langsung berair lagi dan aku tertawa lagi dan dia sudah menyiapkan air lagi sebelum aku sempat batuk.

Dan di seberang meja itu, sambil makan dari piring yang sama pedasnya, anak laki-laki yang paling irit bicara di sekolah kami berkata — pelan, tanpa mengangkat wajah dari piringnya:

“Enak, ya.”

“Hm?”

“Masak yang bener.” Dia menyuap. “Tiga bulan aku masak buat orang yang nggak bisa aku kasih rasa yang aku mau.”

Aku meletakkan sendokku.

“El.”

“Hm.”

“Kamu tuh ngomong satu kalimat kayak gitu terus kamu kira aku bisa lanjut makan biasa aja?”

Dan dia mengangkat wajahnya, dan sudut mulutnya naik — naik betulan, satu senti, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya —

dan dia bilang, “Habisin.”


Aku pulang jam sembilan dengan bibir bengkak karena cabai dan wadah kecil yang tinggal tiga.

Yang keempat, yang sudah aku buka, aku bawa pulang dan aku habiskan sendirian jam sebelas malam sambil duduk di lantai dapur.

Seperti dulu.

Kecuali sekarang aku tidak menangis karena marah.