Chapter Nine
Kencan yang Tidak Dihitung
POV: Erga
Aku memilih restoran di Dago atas karena kupikir Nadine terbiasa dengan hal-hal yang rapi.
Itu kesalahan pertama.
Restoran itu punya pelayan berompi hitam yang menarik kursi untuk kami, lilin di setiap meja, dan buku menu bersampul kulit tanpa satu pun kata dalam bahasa Indonesia. Setiap kali aku meminum seteguk air, seorang pelayan muncul dari udara kosong dan mengisi gelasku lagi. Aku mulai minum lebih lambat supaya tidak merepotkannya. Lalu aku sadar aku sedang mengatur kecepatan minumku demi kenyamanan pelayan.
Nadine datang dengan gaun krem.
Aku tidak siap. Seharusnya aku siap, karena aku sudah melihatnya dalam blazer kantor, dalam daster ibunya, bahkan dengan tepung di alis. Tapi ketika ia berjalan di antara meja-meja itu, tiga orang pengunjung berhenti bicara, dan pelayan yang tadi menarik kursiku menarik kursinya dengan kecepatan dua kali lipat.
“Hai,” katanya.
“Hai,” kataku, dan tidak bisa memikirkan kata kedua.
Selama tiga puluh menit berikutnya, kami bicara seperti dua orang yang sedang wawancara kerja untuk posisi yang tidak jelas. Cuaca. Kemacetan. Proyek interior kantornya untuk sebuah klinik gigi, yang membuat kami berdua diam sejenak karena teringat Raka. Aku membuka menu dan melihat harga steik: empat ratus delapan puluh ribu. Diam-diam aku menghitungnya dalam satuan elemen oven.
Nadine menatapku dari balik lilin.
“Kamu keringetan,” katanya.
“Ruangannya hangat.”
“AC-nya delapan belas derajat.”
Aku menutup menu. “Aku kira ini kamu banget.”
Ia menatap sekeliling: lilin, rompi hitam, menu kulit, pasangan di meja sebelah yang saling menyuapi dengan garpu kecil. Lalu ia menatapku lagi.
“Ini bukan aku banget,” katanya. “Ini bukan kamu banget juga.”
Kami saling menatap. Lalu, hampir bersamaan, kami tertawa. Tawa yang pelan dulu, lalu makin sulit ditahan, sampai pasangan di meja sebelah menoleh dan pelayan muncul lagi untuk mengisi gelas yang masih penuh.
“Kabur?” bisikku.
“Kabur,” bisiknya.
Kami membayar dua gelas jus jeruk seharga satu karung terigu, lalu keluar sambil menahan tawa seperti dua anak SMA yang bolos upacara.
Di trotoar, sepuluh langkah dari pintu restoran, Nadine berhenti, berpegangan pada tiang lampu, dan melepas sepatunya. Hak tujuh senti, dua senti lebih tinggi daripada yang ia pakai di tokoku.
“Aku beli ini tadi siang,” katanya, mengangkat sepasang sepatu itu seperti barang bukti. “Jam dua. Buat makan malam yang katanya bukan kencan.”
“Kamu beli sepatu baru buat bukan kencan.”
“Diam.”
Ia berjalan dengan kaki telanjang di trotoar yang masih hangat sisa matahari, dan aku menawarkan diri membawa sepatunya. Ia menyerahkannya tanpa protes. Sepanjang jalan turun ke parkiran, aku menenteng sepasang sepatu krem berhak tinggi di satu tangan, dan seorang tukang parkir menatapku dengan simpati mendalam sesama laki-laki.
Aku tidak keberatan. Aku bahkan agak bangga.
Kesalahan kedua sebenarnya bukan kesalahan: martabak.
Di pinggir Jalan Dipatiukur, ada gerobak martabak dengan bangku plastik biru dan penjual bandrek yang mangkal di sebelahnya. Nadine duduk di bangku plastik itu dengan gaun krem, rambut yang tadi ditata rapi mulai tertiup angin, dan memesan martabak telur spesial dengan kepercayaan diri orang yang sudah melakukannya ratusan kali.
Penjual martabak, bapak-bapak berkumis tebal, menatapnya sebentar lalu menambahkan satu telur tanpa diminta.
“Buat Teteh,” katanya. “Bonus.”
“Aku nggak dapat bonus?” tanyaku.
“Aa mah bayar penuh.”
Nadine tertawa sampai harus memegang lututku untuk menyeimbangkan diri di bangku plastik. Lalu ia sadar sedang memegang lututku dan menarik tangannya cepat-cepat. Aku pura-pura tidak melihat.
Kami makan martabak dari kertas minyak dan minum bandrek dari gelas plastik yang terlalu panas untuk dipegang. Angin malam Bandung dingin. Aku memberikan jaketku tanpa bertanya, karena jaket tidak termasuk kontak fisik, lalu bertanya juga karena aku tidak yakin. Ia mengangguk, memakainya, dan jaket itu kebesaran sampai menutupi jari-jarinya.
Mungkin karena jaket itu. Mungkin karena bandrek. Mungkin karena tidak ada ibunya, tidak ada tante, tidak ada yang perlu diyakinkan. Nadine mulai bercerita tanpa kuminta.
“Rian bilangnya di basement mal,” katanya, menatap gelas bandrek. “Di mobil. Parkiran P3. Kami habis beli undangan contoh. Dia diem lama, terus bilang, Aku nggak bisa, Din. Cuma itu. Terus dia nangis.”
Aku tidak menyela.
“Dia yang nangis. Aku yang ambil tisu. Aku yang nenangin dia. Aku yang nyetir nganter dia pulang, soalnya dia gemetar.” Ia tertawa kecil, tanpa bunyi. “Besoknya aku bilang ke keluargaku. Aku udah nyiapin kalimatnya semalaman. Terus aku jelasin ke Tante Wulan. Ke sepupu. Ke tetangga yang udah pesan kebaya. Ke vendor katering. Ke Bu Enok di pasar.”
Ia memutar gelas bandreknya.
“Aku belum pernah nangis soal itu,” katanya. “Nggak sempat. Semua orang butuh dijelasin.”
Ada banyak hal yang bisa kukatakan. Kamu kuat. Kamu nggak sendirian sekarang. Aku nggak akan kayak dia. Tapi kalimat-kalimat itu terdengar seperti janji, dan aku tahu satu hal tentang Nadine: janji besar dari orang yang baru dikenal hanya akan masuk ke daftar hal yang harus ia jaga.
Jadi aku hanya berkata, “Kamu yang ditinggal, tapi kamu yang jagain semua orang.”
Ia menoleh. Matanya berkilat di bawah lampu gerobak.
“Kamu juga begitu,” katanya pelan. “Kamu nyuci loyang di rumah orang.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku menggigit martabak.
“Kamu sendiri pengin apa?” tanyanya. “Dalam hidup. Selain oven yang nggak ngambek.”
Aku memikirkannya lama. Bukan karena tidak punya jawaban, tapi karena jawabannya terdengar terlalu kecil untuk diucapkan.
“Pengin sekali-kali datang ke suatu tempat tanpa bawa apa-apa,” kataku akhirnya. “Nggak bawa kue. Nggak bawa solusi. Nggak bawa lelucon. Terus tetap disuruh duduk.”
Nadine tidak menjawab. Ia hanya menatapku, lama, seolah sedang mencatat sesuatu di kepalanya. Aku kenal tatapan itu. Itu tatapan yang biasa kupakai.
Di kepalaku, dokumen protokol itu terbuka sendiri. Nomor lima. Jangan jatuh cinta. Pasal yang katanya catatan kaki, yang katanya ditulis untukku. Aku ingin memberitahunya bahwa pasal itu sudah kulanggar entah di mana, mungkin di bangku bubur, mungkin di dapur penuh tepung, mungkin barusan, di bawah lampu gerobak, saat ia menatapku seperti sedang menyimpan jawabanku di tempat yang aman.
Aku tidak memberitahunya. Masih ada lima acara lagi, dan aku tidak ingin menjadi orang berikutnya yang harus ia jelaskan ke semua orang.
Jam sepuluh lewat, martabak sudah habis dan bandrek sudah dingin. Penjual mulai membereskan gerobak. Kami masih duduk di bangku plastik.
“Erga,” katanya. “Hari ini masuk hitungan nggak?”
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Nggak ada tante. Nggak ada jadwal. Nggak ada yang bayar.” Aku menatap jalan yang mulai sepi. “Justru itu yang bikin aku suka hari ini.”
Ia diam. Lalu, dari dalam lengan jaketku yang kebesaran, tangannya keluar.
“Boleh?” tanyanya.
Aku menoleh. Ia tidak menatapku. Ia menatap tangannya sendiri, yang terulur di antara kami, telapak menghadap ke atas, di atas meja plastik yang lengket bekas martabak.
Pasal tiga. Tanya dulu. Selalu. Aku yang menulisnya. Aku tidak pernah membayangkan ia yang akan bertanya duluan.
“Boleh,” kataku.
Aku menaruh tanganku di atas tangannya, dan kali ini ia yang menutup jarinya lebih dulu.
Tidak kaku. Tidak seperti gagang pintu. Jarinya dingin, lalu menghangat pelan di dalam genggamanku, dan aku merasakan ibu jarinya bergerak sekali di punggung tanganku, seperti sedang memastikan tangan itu benar-benar ada.
“Natural?” tanyanya.
“Nggak kayak gagang pintu,” kataku.
Kami duduk seperti itu sampai penjual martabak berdeham keras dan mulai menumpuk bangku plastik di sebelah kami.
Ponsel Nadine bergetar di meja. Ia mengangkatnya dengan tangan kiri, karena tangan kanannya masih di tanganku, dan membiarkanku ikut membaca.
Ibu:
Anak-anak!! Minggu depan kumpul sepupu di rumah Dimas ya. Nak Erga WAJIB ikut!! Dimas sama Sari udah penasaran 😆
Kami menatap layar itu. Lalu saling menatap.
Tidak ada yang melepaskan tangan lebih dulu.
- 1 Pacar yang Datang Bersama Kotak Kue
- 2 Aturan Pertama: Jangan Jatuh Cinta
- 3 Kursi di Sebelah Nadine
- 4 Di Luar Jadwal
- 5 Kue Ulang Tahun yang Terlalu Jujur
- 6 Potongan yang Bentuknya Jelek
- 7 Resep yang Selalu Gagal
- 8 Hal yang Tidak Masuk Kontrak
- 9 Kencan yang Tidak Dihitung reading
- 10 Pertanyaan Sepupu yang Salah Alamat
- 11 Celemek Cadangan
- 12 Hari ketika Ibu Menyebut Rumah
- 13 Jawaban yang Ditunda
- 14 Delapan Pertanyaan untuk Livia
- 15 Jangan Janji untuk Semua Orang
- 16 Foto yang Harus Kita Simpan
- 17 Aku Suka Kamu Tanpa Jadwal
- 18 Bonus yang Tidak Bisa Kuterima
- 19 Resep yang Akhirnya Berhasil
- 20 Kebenaran di Meja yang Sama
- 21 Undangan yang Tidak Kukirim
- 22 Kue untuk Pesta yang Tidak Kuhadiri
- 23 Aku Pergi Dulu
- 24 Satu Cangkir Terlalu Banyak
- 25 Kue yang Jadi Saat Orangnya Tidak Ada
- 26 Celemek Tanpa Nama
- 27 Yang Dia Ingat Tentang Kita
- 28 Aku yang Membawanya Masuk
- 29 Kabar Pertama yang Tidak Bisa Kukirim
- 30 Hari Tanpa Peran
- 31 Nama yang Muncul Lagi
- 32 Kalau Kamu Mau Dengar
- 33 Kencan Pertama yang Kedua
- 34 Aku Tidak Perlu Membayar Tempatku
- 35 Tamu yang Boleh Menolak
- 36 Namaku Ada di Sini