Chapter Twenty

Kebenaran di Meja yang Sama

POV: Nadine

“Kasih Kakak waktu sampai Rabu malam,” kataku kepada Livia hari Sabtu itu. “Kakak yang bilang sendiri. Ke semua orang. Jangan tanya siapa-siapa dulu. Tolong.”

Livia menatapku lama dengan kuitansi di tangannya. Aku menunggunya berteriak. Ia tidak berteriak. Itu lebih buruk.

“Rabu,” katanya. “Kalau Kakak nggak bilang, aku yang bilang.”

Ia menaruh kuitansi itu kembali ke map, menutupnya, lalu naik ke kamarnya tanpa membawa kartu meja yang belum selesai.

Tiga hari berikutnya adalah tiga hari terpanjang dalam hidupku.


Aku menelepon Erga Sabtu malam. Ia mengangkat pada dering pertama. Aku menceritakan semuanya dengan suara manajer proyek, karena hanya suara itu yang masih berfungsi.

Ia diam lama di ujung sana.

“Aku ikut,” katanya akhirnya.

“Kamu nggak harus.”

“Aku tahu.” Suaranya tenang. “Aku ikut bukan buat jelasin. Itu bagianmu. Aku ikut karena aku nggak mau kamu duduk di meja itu sendirian. Dan karena aku juga bohong ke mereka. Aku harus ada di sana waktu mereka tahu.”

Aku menutup mata. “Oke.”

“Nad.”

“Hm?”

“Kamu yang ngomong. Aku nggak akan ambil alih. Kalau kamu butuh aku ngomong, kamu bilang. Kalau nggak, aku diem.”

Aku ingin menangis. Aku tidak menangis. Aku mengatakan oke sekali lagi dan menutup telepon.


Rabu malam. Makan malam biasa. Aku yang meminta ibuku memasak, dengan alasan ingin makan bersama sebelum kesibukan pesta. Ibuku senang. Ia memasak ayam bakar, sayur bening, dan sambal. Ia bertanya apakah Erga ikut. Aku bilang ikut. Ia lebih senang lagi.

Erga datang jam tujuh. Ia tidak membawa kue. Untuk pertama kalinya sejak acara pertama, ia datang dengan tangan kosong.

Ibuku menyadarinya. “Lho, Nak, nggak bawa apa-apa?”

“Nggak, Bu,” katanya. “Hari ini nggak.”

Cangkir hijau sudah di meja. Kopinya mengepul. Ayahku di kursinya dengan koran.

Livia turun dari kamarnya terakhir. Ia duduk di seberang Erga dan tidak menatapnya.

Kami makan. Atau lebih tepatnya, ibuku dan ayahku makan, sementara aku memindahkan nasi dari satu sisi piring ke sisi lain. Ibuku bercerita tentang tukang tenda yang minta tambahan biaya. Ayahku berkata hm. Livia tidak berkata apa-apa.

Jam tujuh empat puluh, aku meletakkan sendok.

“Bu. Pak. Aku mau ngomong sesuatu.”

Ibuku berhenti mengunyah. Ayahku menurunkan koran. Tidak lima senti. Sepenuhnya. Ia melipatnya dan meletakkannya di meja, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan saat makan.

Aku sudah menyiapkan kalimatnya. Tiga versi. Aku lupa semuanya.

“Erga sama aku,” kataku, “awalnya bukan pacaran.”

Ibuku mengerjap.

“Waktu Tante Wulan mau jodohin aku sama Raka, di toko Erga, Erga ngaku jadi pacarku. Buat nolong. Terus aku...” Suaraku mulai bergetar. Aku menekannya. “Terus aku bayar dia. Buat pura-pura jadi pacarku di delapan acara keluarga. Sampai pesta Bapak Ibu. Dua belas juta. Ada kuitansinya.”

Hening.

Hening yang tidak pernah kudengar di meja ini. Bahkan ketika aku memberi tahu mereka soal Rian, ada suara. Ibuku menangis. Ayahku berdeham. Livia bertanya. Kali ini tidak ada apa-apa. Hanya dengung kulkas dan bunyi sendok yang tidak sengaja disenggol Livia.

“Semua itu?” kata ibuku akhirnya. Suaranya kecil. “Makan Minggu? Ulang tahun Livia? Arisan?”

“Delapan acara resmi, Bu. Itu yang dibayar.”

Ibuku menatap Erga. Erga tidak menunduk. Ia menatap ibuku balik, dengan wajah yang tidak membela diri.

“Bika?” tanya ibuku. “Bika juga?”

Aku menoleh kepada Erga. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Itu bukan milikku.

“Bukan, Bu,” kata Erga pelan. “Bika nggak ada yang bayar. Pasar juga. Hari Senin juga. Itu saya sendiri.”

Ibuku menutup mulut dengan tangan. Matanya basah.

“Ibu udah daftarin kamu arisan,” katanya. Bukan kepada Erga. Kepada meja. Kepada dirinya sendiri. “Dua belas bulan. Ibu udah bilang ke Wulan, ke Eyang, ke semua orang. Ibu udah...” Ia berhenti. Air matanya jatuh. “Ibu udah bilang ke semua orang kue pestanya kamu yang bikin.”

Tidak ada yang bisa kukatakan. Aku merasakan jariku mencari serbet. Ada serbet di pangkuanku. Aku meremasnya.

“Kalian berdua bohong sama Ibu,” kata ibuku. Suaranya tidak marah. Suaranya hancur. “Kalian berdua. Kamu, Din, sama kamu, Nak. Delapan minggu. Kalian lihat Ibu seneng, dan kalian diem aja.”

“Iya, Bu,” kata Erga. “Saya minta maaf.”

Ia tidak berkata tapi. Ia tidak menjelaskan. Ia hanya meminta maaf dan membiarkan kalimat itu tetap berdiri tanpa penyangga.

Ayahku berdiri.

Semua orang menoleh. Ia berdiri di sana dengan tangan di meja, menatap cangkir hijau di depan Erga, kopi yang sudah tidak mengepul.

“Saya butuh waktu,” katanya.

Hanya itu. Ia berjalan ke pintu belakang, membukanya, dan keluar ke halaman yang gelap. Pintu tertutup pelan di belakangnya.

Cangkir gompalnya tertinggal di meja. Masih setengah penuh.


Livia yang meledak.

“Latihan wawancara itu dibayar juga?”

Ia bertanya kepada Erga, bukan kepadaku. Suaranya tinggi dan pecah.

“Nggak, Liv—”

“Kue ulang tahunku? Surat penerimaan itu? Itu masuk honor? Itu acara nomor dua, kan? Aku lihat jadwalnya di map Kakak!” Ia berdiri. Kursinya berderit keras di lantai. “Aku cerita soal slogan kopi Bapak ke Mas. Aku cerita soal akun parodi. Aku nggak pernah cerita itu ke siapa-siapa. Aku kira Mas...” Suaranya pecah sepenuhnya. “Aku kira Mas beneran peduli. Terus ternyata aku cuma bagian dari kerjaan.”

“Livia,” kataku.

“Kakak diem!” Ia menoleh kepadaku, dan matanya penuh sesuatu yang lebih buruk dari marah. “Kakak tahu nggak rasanya? Kakak tahu nggak rasanya dua kali? Mas Rian ngajarin aku nyetir, terus pergi. Sekarang Mas Erga ngajarin aku wawancara, terus ternyata dibayar. Aku nggak tahu lagi mana yang beneran!”

Erga membuka mulut. Menutupnya lagi. Aku melihat tangannya di atas meja, mengepal, lalu terbuka, lalu mengepal lagi. Ia berjanji tidak akan mengambil alih. Ia menepatinya, bahkan sekarang, bahkan ketika setiap sel di tubuhnya jelas ingin membela diri.

Aku yang harus menjawab. Itu bagianku.

“Kue itu nggak ada di kontrak, Liv,” kataku. “Kontraknya cuma bilang Erga datang ke acara dan jadi pacarku. Nggak ada pasal soal kue. Nggak ada pasal soal slogan kopi. Nggak ada pasal soal nyimpen nomormu. Dia bikin semua itu sendiri. Yang bohong itu Kakak, bukan dia yang peduli sama kamu.”

Livia menatapku dengan dada naik turun.

“Terus sekarang?” tanyanya. Suaranya lebih pelan. Lebih berbahaya. “Sekarang kalian apa? Masih pura-pura?”

Ibuku mengangkat wajah. Air matanya masih mengalir. Ia menatapku, lalu menatap Erga, lalu menatapku lagi.

“Iya, Din,” kata ibuku. “Sekarang kalian apa? Pasangan beneran?”

Aku merasakan semua mata di meja itu. Ibuku. Livia. Dan Erga, di sebelahku. Erga yang tidak menatapku, yang menatap cangkir hijau di depannya seolah seluruh jawabannya ada di dasar cangkir itu.

Ini saatnya. Aku tahu ini saatnya. Satu kata. Iya. Satu kata dan semua ini akan berbeda. Ibuku akan menangis dengan cara lain. Livia akan duduk lagi. Erga akan menoleh.

Aku membuka mulut.

Dan yang terbayang adalah album foto di rak kayu jati Eyang. Rian di barisan belakang. Semua orang yang harus menjelaskan. Ibuku, dua tahun dari sekarang, membuka album berisi foto Erga di sebelah ayahku, dan menangis dengan cara yang sama seperti malam ini.

Kalau aku bilang iya sekarang, di depan ibuku yang sedang hancur, aku berjanji kepada mereka semua. Dan aku tidak tahu apakah aku bisa menepatinya.

“Aku belum bisa bilang begitu,” kataku.


Aku merasakannya sebelum melihatnya.

Di sebelahku, Erga tidak bergerak. Tidak ada tarikan napas. Tidak ada kepalan tangan. Tidak ada apa pun. Ia hanya duduk sangat diam, lebih diam dari yang pernah kulihat, seperti oven yang baru dimatikan dan masih menyimpan panas di dalam, tanpa suara.

Lalu ia mengangguk. Sekali. Pelan. Seperti orang yang mendengar kabar yang sudah ia tahu akan datang.

Livia menatapku. Ibuku menatapku. Tidak ada yang berkata apa-apa.

Livia naik ke kamarnya. Pintunya tidak dibanting. Ia menutupnya pelan, dan bunyi pelan itu lebih menyakitkan dari bantingan apa pun.

Ibuku mulai membereskan piring. Tangannya gemetar. Erga berdiri untuk membantunya, lalu berhenti, seolah tidak yakin ia masih punya hak untuk mencuci piring di dapur ini.

“Biar Ibu aja, Nak,” kata ibuku pelan. Bukan dengan marah. Dengan lelah.

Erga meletakkan piring yang sudah ia pegang. Mengambil jaketnya. Menatap pintu belakang, tempat ayahku menghilang.

“Saya pamit, Bu,” katanya.

Aku mengantarnya ke beranda. Laron-laron masih berputar di lampu. Dua kursi rotan masih di tempatnya.

Ia berhenti di tangga. Tidak berbalik.

“Kamu hebat tadi,” katanya. “Beneran. Kamu ngomong semua sendiri. Kamu belain aku ke Livia.” Suaranya tenang. Terlalu tenang. “Itu nggak gampang.”

“Erga—”

“Aku ngerti, Nad.” Ia masih tidak berbalik. “Aku denger jawabanmu. Aku ngerti.”

Ia berjalan ke motornya. Aku berdiri di beranda dan melihatnya pergi, sampai lampu belakang motornya hilang di ujung gang.

Aku masuk ke dalam. Ibuku sudah di kamar. Dapur gelap. Di meja makan, dua cangkir masih berdiri berdampingan: yang gompal, setengah penuh, milik ayahku yang masih di halaman belakang. Dan yang hijau utuh, penuh, dingin, tidak disentuh sama sekali.

Di kalender dinding ibuku, di kotak hari Sabtu, ada lingkaran merah dengan tulisan tangannya: PESTA 30 TH!! 🎉

Empat hari lagi.