Chapter Thirty Two
Kalau Kamu Mau Dengar
POV: Erga
Aku datang ke Kopi Mbah Karto jam empat kurang sepuluh.
Kebiasaan dari pasar Kosambi. Kalau janji jam lima, datang jam lima kurang sepuluh. Aku sudah memakainya enam bulan di Yogyakarta untuk semua hal: rapat dengan Bu Sekar, belanja singkong di Beringharjo, bahkan makan malam di rumah Mbak Tari, yang membuat Mbak Tari berkomentar bahwa aku satu-satunya orang di Jawa Tengah yang datang lebih awal ke acara makan.
Kopi Mbah Karto adalah warung kecil di ujung gang Prawirotaman, dengan enam meja kayu, kipas angin yang berputar malas di langit-langit, dan pemilik berumur tujuh puluhan yang masih menyangrai kopinya sendiri di belakang. Aku memilihnya karena tidak ada yang istimewa darinya. Tidak ada lilin. Tidak ada pelayan yang mengisi gelas setiap tiga detik. Tidak ada kenangan apa pun.
Aku membuka pintu kayunya.
Nadine sudah di sana.
Di meja paling pojok, dekat jendela yang menghadap gang. Duduk menghadap pintu. Rambutnya digelung biasa, bukan dengan penggaris. Kemeja putih biasa, celana panjang biasa. Baju kantor di hari yang bukan hari kantor.
Ia melihatku. Ia tidak berdiri. Ia hanya menatapku, dan aku melihat tangannya di atas meja mengepal sebentar, lalu terbuka.
Aku berjalan ke mejanya. Kakiku terasa seperti kaki orang lain.
“Telat,” katanya.
Suaranya tidak stabil. Tapi ia mengatakannya. Kata pertama di bangku bubur, enam bulan dan satu hidup yang lalu.
“Jam empat kurang sepuluh,” kataku.
“Bapak bilang, kalau janji jam empat, datang jam empat kurang dua puluh.” Ia menunduk sedikit. “Aku ke pasar sama Bapak. Beberapa kali.”
Aku berdiri di samping meja itu dan tidak bisa bergerak untuk beberapa detik.
Ia ke pasar bersama Hendra. Jam lima pagi. Ke warung Mang Ujang. Aku tidak tahu itu. Nino tidak pernah menceritakannya.
Aku menarik kursi dan duduk.
Tangannya kosong.
Itu hal pertama yang benar-benar kuperhatikan setelah wajahnya. Di atas meja tidak ada apa-apa kecuali segelas air putih yang sudah setengah habis. Tidak ada tas di kursi sebelahnya, hanya tas kecil di pangkuan. Tidak ada kotak. Tidak ada bungkusan. Tidak ada wadah plastik berisi bika ambon.
Ia melihatku melihat tangannya.
“Aku nggak bawa apa-apa,” katanya pelan. “Ibu mau nitip bika. Aku bilang jangan.”
Aku mengerti. Aku mengerti persis apa yang sedang ia katakan, dan dari mana ia mendapatkan kalimat itu. Dari bangku plastik di pinggir Jalan Dipatiukur, dengan martabak dan bandrek dan jaket kebesaran. Pengin sekali-kali datang ke suatu tempat tanpa bawa apa-apa. Terus tetap disuruh duduk.
Ia datang tanpa membawa apa-apa. Dan ia menunggu, apakah aku akan menyuruhnya duduk.
Ia sudah duduk. Tapi aku tahu itu bukan yang ia maksud.
Mbah Karto datang ke meja kami dengan langkah pelan. “Pesan apa, Mas?”
Dan di situ, tubuhku bergerak sebelum pikiranku. Mulutku sudah terbuka untuk berkata teh manis hangat buat dia, sama kopi tubruk. Tanganku sudah setengah terangkat, siap menunjuk. Aku tahu ia suka teh manis kalau gugup. Aku tahu tangannya dingin sekarang karena ia memegang gelas air itu dengan dua tangan. Aku tahu ia belum makan siang, karena ia selalu lupa makan siang kalau cemas. Aku tahu semua itu. Aku sudah tahu semua itu sejak minggu ketiga.
Aku menutup mulut. Aku menurunkan tangan.
“Kopi tubruk robusta, Mbah,” kataku. Untukku saja.
Nadine menatapku. Lalu ia menatap Mbah Karto.
“Teh manis hangat, Mbah,” katanya. “Terima kasih.”
Mbah Karto pergi. Kami duduk di sana dengan hening yang tidak nyaman dan tidak juga tidak nyaman. Hening yang baru. Hening dua orang yang sedang belajar bentuk baru dari diri masing-masing.
Aku melihat tangannya melepaskan gelas air, lalu mencari sesuatu di meja. Serbet. Ada serbet kertas di dalam wadah di tengah meja. Jarinya menyentuh pinggirnya.
Lalu berhenti. Dan menarik tangannya kembali ke pangkuan.
Ia tidak meremas serbet itu. Ia memilih untuk tidak meremasnya.
“Aku mau ngomong,” katanya. “Kamu boleh potong kapan aja. Kamu boleh pergi kapan aja. Aku nggak akan nahan kamu.”
“Aku dengar,” kataku.
Ia menarik napas. Aku melihatnya menarik napas seperti orang yang akan menyelam. Lalu ia bicara, dan suaranya tidak seperti suara manajer proyek. Tidak ada poin. Tidak ada urutan yang rapi. Hanya kalimat-kalimat yang keluar satu per satu, seperti orang yang meletakkan barang di atas meja untuk diperiksa.
“Waktu kamu bilang kamu sayang aku, di toko, aku nerima. Aku ambil semuanya. Pasar sama Bapak. Bika sama Ibu. Kumis kertas buat Liv. Tanganmu. Ciumanmu.” Suaranya bergetar di kata terakhir. Ia melanjutkan. “Terus aku bilang nanti. Aku biarin kamu nunggu. Karena buat aku, nunggu itu nggak ada harganya. Aku nggak ngeluarin apa-apa buat bikin kamu nunggu. Yang bayar kamu. Tiap Senin. Tiap Kamis. Tiap malam jam sembilan.”
Aku tidak berkata apa-apa. Aku tidak menyela untuk bilang nggak apa-apa. Kalimat itu sudah berdiri di tenggorokanku, siap keluar, seperti refleks. Aku menelannya.
“Terus tiga hari setelah kamu bilang sayang, aku transfer delapan juta. Pakai tulisan bonus.” Ia menatap meja. “Aku bikin cintamu kayak kerjaan lembur. Kamu udah jelasin ke aku waktu itu. Aku ngerti waktu itu. Tapi aku baru bener-bener ngerti setelah kamu pergi. Aku ngubah perasaan jadi angka, karena angka bisa aku kontrol. Perasaan nggak.”
Mbah Karto datang membawa kopi dan teh. Ia meletakkannya tanpa suara dan pergi, seperti orang yang sudah menyaksikan percakapan semacam ini di warungnya selama lima puluh tahun.
Nadine tidak menyentuh tehnya.
“Terus pesta.” Suaranya pecah di sini. Ia berhenti, menarik napas lagi, dan melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. “Aku nggak ngundang kamu. Aku bilang ke diriku sendiri itu buat ngelindungin kamu. Biar kamu nggak harus pura-pura lagi. Itu bohong, Erga. Aku nggak ngundang kamu karena kalau kamu di sana, di meja satu, di sebelahku, di depan seratus empat puluh orang, aku harus milih. Aku harus bilang kamu siapa. Dan aku nggak berani. Jadi aku hapus namamu dari daftar, dan aku kasih nama kebaikan ke ketakutanku sendiri.”
Air matanya jatuh. Satu. Lalu yang kedua.
Tanganku bergerak ke wadah serbet di tengah meja. Otomatis. Sudah bergerak sebelum aku memutuskannya. Aku akan mengambil serbet itu, mengulurkannya kepadanya, dan berkata udah, Nad, dan semuanya akan kembali ke bentuk lama, di mana aku yang merawat dan ia yang dirawat, dan tidak ada yang berubah.
Nadine melihat tanganku. Ia menggeleng pelan.
Lalu ia membuka tas kecil di pangkuannya dan mengeluarkan sebungkus tisu. Tisunya sendiri. Ia menyeka matanya dengan itu.
“Aku bawa tisu sendiri,” katanya, setengah tertawa, setengah terisak. “Dulu, waktu Rian, aku yang pegang tisu buat dia. Sekarang aku nggak mau kamu yang pegang tisu buat aku. Ini bukan buat kamu urus.”
Aku menarik tanganku kembali. Aku meletakkannya di atas meja, di sebelah cangkir kopi. Aku membiarkannya di sana, kosong.
Rasanya seperti menahan napas di bawah air. Seperti membiarkan adonan ragi tape tanpa menoleh ke belakang.
“Aku nggak minta kamu nganggap semuanya selesai,” lanjut Nadine, setelah air matanya berhenti. “Aku nggak minta kamu maafin aku hari ini. Aku nggak minta kamu pulang. Aku janji itu di pesan, dan aku nepatin.” Ia menatapku langsung untuk pertama kalinya sejak mulai bicara. “Aku cuma nggak mau kamu hidup dengan mikir kamu nggak cukup. Kamu pergi karena kamu capek nunggu. Aku tahu. Tapi aku takut kamu juga pergi dengan mikir kalau kamu udah ngasih semua dan itu tetap nggak cukup buat bikin aku milih kamu.”
Suaranya pelan sekali di kalimat berikutnya.
“Kamu cukup, Erga. Dari bangku bubur. Yang nggak cukup itu keberanianku.”
Aku tidak langsung menjawab.
Kipas angin di langit-langit berputar. Di luar jendela, seorang anak kecil mengayuh sepeda melewati gang dengan bel yang dibunyikan terus-menerus tanpa alasan. Kopi di cangkirku sudah tidak mengepul.
Aku sudah membayangkan percakapan ini ratusan kali dalam enam bulan. Di jalan pagi ke toko. Di depan adonan yang tidak naik. Di kamar kos dengan jendela menghadap tembok biru. Dalam semua versi itu, Nadine datang dengan penjelasan. Dengan pembelaan. Dengan tapi. Dan dalam semua versi itu, aku akhirnya yang menghiburnya.
Tidak ada tapi dari mulutnya hari ini. Tidak satu pun.
“Aku juga salah,” kataku.
Ia menatapku, terkejut.
“Aku bohong ke ibumu delapan minggu. Di dapurnya. Waktu dia cerita soal Ibu Sumi. Waktu dia nulis namaku pakai tinta hitam.” Aku menatap kopiku. “Aku bisa bilang kapan aja. Aku nggak bilang, karena aku suka jadi orang yang dibutuhin di rumah itu. Aku pakai kebaikan buat sembunyi. Kalau aku cukup berguna, nggak ada yang bakal nanya aku ini sebenarnya siapa di sana.”
Aku mengangkat wajah.
“Ibumu bener kalau dia marah sama aku juga. Bilang ke dia, dia bener.”
Nadine menutup mulut dengan tangan. “Dia udah bilang,” katanya dari balik jarinya. “Di meja makan. Dia bilang kamu bukan anak kecil yang harus aku belain.”
Aku tertawa. Tidak bisa ditahan. Tawa kecil, basah, keluar lewat hidung. Ratih Prakoso, dengan daster batik dan jepit bunga, menolak membiarkan siapa pun menanggung kesalahan sendirian.
Lalu tawaku habis, dan aku harus mengatakan bagian yang paling sulit.
“Aku masih sayang kamu,” kataku.
Ia berhenti bernapas. Aku melihatnya.
“Itu nggak hilang. Enam bulan, dan nggak hilang. Aku pikir bakal berkurang kalau aku sibuk. Kalau aku jauh. Kalau aku belajar bikin roti ragi tape empat belas kali.” Aku menggeleng. “Nggak berkurang. Cuma berubah bentuk. Lebih tenang. Nggak nunggu lagi. Tapi masih ada.”
Air mata Nadine jatuh lagi. Ia tidak menyekanya.
“Tapi aku nggak bisa pulang sekarang,” lanjutku, pelan, karena ia harus mendengar ini dengan jelas. “Bukan karena aku marah. Bukan karena aku mau ngehukum kamu. Karena kalau aku pulang sekarang, hari ini, setelah kamu bilang semua ini, rasanya kayak aku ngehapus semua yang baru aku pelajari di sini.”
Aku memutar cangkir kopi di tanganku.
“Aku baru belajar duduk di rumah orang tanpa nyuci piring, Nad. Aku baru belajar ninggalin adonan tanpa ditungguin. Aku baru belajar nulis satu baris soal diriku sendiri. Kalau aku langsung pulang karena kamu datang dan minta maaf dengan sangat bagus, aku balik jadi orang yang sama. Orang yang dateng karena dibutuhin. Aku nggak mau dateng karena dibutuhin lagi. Aku mau dateng karena aku mau.”
Ia mengangguk. Pelan. Berkali-kali. Seperti orang yang mendengar sesuatu yang sudah ia duga, dan tetap harus menerimanya dengan seluruh dirinya.
“Oke,” bisiknya. Kata yang selalu ia pakai ketika sesuatu terlalu besar.
“Tapi,” kataku.
Ia mengangkat wajah.
“Tapi aku nggak mau ini jadi terakhir kalinya kita ngobrol.”
Hening. Kipas angin berputar. Anak bersepeda itu lewat lagi, membunyikan bel tanpa alasan.
“Kita ngobrol lagi,” kataku. “Pelan-pelan. Bukan balikan. Bukan janji. Kita mulai dari yang paling kecil. Satu kencan. Kencan beneran. Yang nggak ada kontraknya, nggak ada jadwal keluarga, nggak ada yang bayar siapa-siapa. Kalau abis itu kita masih mau ketemu lagi, ya ketemu lagi. Kalau nggak, ya nggak.”
Nadine menatapku lama. Aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya. Sesuatu yang enam bulan lalu akan ia ubah menjadi rencana: tanggal, tempat, durasi, indikator keberhasilan. Aku melihatnya menahan diri. Aku melihatnya tidak membuka ponsel untuk mencatat.
“Oke,” katanya lagi. Tapi kali ini suaranya berbeda. Tidak kecil. Hampir yakin.
Lalu ia menyeka matanya dengan tisu sendiri untuk terakhir kalinya, melipat tisu itu rapi, dan memasukkannya kembali ke tas.
“Boleh aku yang ngajak?” tanyanya.
Aku mengerjap. “Apa?”
“Kencannya. Boleh aku yang ngajak?” Ia menarik napas. “Dulu kamu yang selalu ngajak. Kamu yang milih restoran di Dago. Kamu yang minta aku nelepon duluan. Sekarang aku yang ngajak. Kalau kamu mau.”
“Boleh,” kataku.
“Besok malam. Jam tujuh.”
“Di mana?”
Ia menatapku dengan wajah yang sangat serius, wajah manajer proyek yang sedang mempresentasikan hasil riset penting.
“Aku udah riset,” katanya. “Tempat yang sama sekali nggak romantis. Warung burjo di dekat kampus. Buka dua puluh empat jam. Lampunya neon putih yang berkedip-kedip. TV-nya nyala sinetron azab dengan volume penuh. Menunya indomie telur sama es teh. Ada kucing oren yang tidur di kursi pelanggan dan nggak boleh dipindah, katanya itu kucing pemilik.” Ia berhenti. “Aku lihat ulasannya. Bintang tiga koma dua. Ada yang nulis, tempat terbaik buat patah hati jam tiga pagi.”
Aku menatapnya.
Lalu aku tertawa.
Bukan tawa kecil lewat hidung. Bukan tawa sopan. Tawa yang keluar dari perut, keras, jelek, sampai Mbah Karto menoleh dari balik penyangrai kopi dan seorang pelanggan di meja sebelah ikut tersenyum tanpa tahu kenapa. Aku tertawa sampai harus berpegangan pada pinggir meja, sampai mataku berair lagi, kali ini untuk alasan yang berbeda.
Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku tertawa seperti itu di depannya. Mungkin di pinggir Jalan Dipatiukur. Mungkin di bangku bubur. Mungkin tidak pernah seperti ini, karena dulu setiap tawaku di depannya selalu punya tugas: mencairkan suasana, menutupi sesuatu, membuat orang lain merasa lebih baik.
Tawa ini tidak punya tugas apa pun.
Nadine menatapku tertawa. Dan pelan-pelan, untuk pertama kalinya sejak aku membuka pintu kayu warung itu, ia tersenyum. Senyum yang tidak rapi. Senyum yang tidak ditahan-tahan.
“Kamu ketawa,” katanya.
“Sinetron azab,” kataku, masih terengah. “Kucing oren. Tempat terbaik buat patah hati jam tiga pagi.“
“Aku bilang aku udah riset.”
“Kamu kebanyakan—”
Aku berhenti. Kata itu sudah setengah keluar dari mulutku. Kata yang bukan milikku untuk diucapkan. Kata yang selalu ia ucapkan, dan aku yang meminta sesuatu setelahnya.
Nadine menatapku. Ia tahu kata apa yang hampir kuucapkan. Aku melihatnya di matanya.
Ia tidak melanjutkannya untukku. Ia hanya tersenyum lebih lebar, dan meraih gelas tehnya untuk pertama kalinya sore itu.
Tehnya sudah dingin. Ia tetap meminumnya sampai habis.
- 1 Pacar yang Datang Bersama Kotak Kue
- 2 Aturan Pertama: Jangan Jatuh Cinta
- 3 Kursi di Sebelah Nadine
- 4 Di Luar Jadwal
- 5 Kue Ulang Tahun yang Terlalu Jujur
- 6 Potongan yang Bentuknya Jelek
- 7 Resep yang Selalu Gagal
- 8 Hal yang Tidak Masuk Kontrak
- 9 Kencan yang Tidak Dihitung
- 10 Pertanyaan Sepupu yang Salah Alamat
- 11 Celemek Cadangan
- 12 Hari ketika Ibu Menyebut Rumah
- 13 Jawaban yang Ditunda
- 14 Delapan Pertanyaan untuk Livia
- 15 Jangan Janji untuk Semua Orang
- 16 Foto yang Harus Kita Simpan
- 17 Aku Suka Kamu Tanpa Jadwal
- 18 Bonus yang Tidak Bisa Kuterima
- 19 Resep yang Akhirnya Berhasil
- 20 Kebenaran di Meja yang Sama
- 21 Undangan yang Tidak Kukirim
- 22 Kue untuk Pesta yang Tidak Kuhadiri
- 23 Aku Pergi Dulu
- 24 Satu Cangkir Terlalu Banyak
- 25 Kue yang Jadi Saat Orangnya Tidak Ada
- 26 Celemek Tanpa Nama
- 27 Yang Dia Ingat Tentang Kita
- 28 Aku yang Membawanya Masuk
- 29 Kabar Pertama yang Tidak Bisa Kukirim
- 30 Hari Tanpa Peran
- 31 Nama yang Muncul Lagi
- 32 Kalau Kamu Mau Dengar reading
- 33 Kencan Pertama yang Kedua
- 34 Aku Tidak Perlu Membayar Tempatku
- 35 Tamu yang Boleh Menolak
- 36 Namaku Ada di Sini