Chapter Thirteen
Jawaban yang Ditunda
POV: Nadine
Setelah delapan acara, kita masih boleh ketemu?
Pertanyaan itu jatuh di beranda seperti laron yang akhirnya berhenti menabrak lampu. Pelan. Tanpa bunyi. Tapi aku bisa merasakan beratnya di pangkuanku, di sebelah lututku yang masih kupeluk.
Aku manajer proyek. Aku tahu cara menjawab pertanyaan sulit: minta waktu untuk koordinasi, susun opsi, kirim jawaban tertulis besok pagi. Aku sudah melakukannya kepada klien yang marah, kepada kontraktor yang kabur, kepada vendor katering yang tahun lalu menanyakan apakah uang muka pernikahanku bisa dialihkan menjadi pesanan syukuran.
Tapi Erga tidak bertanya seperti klien. Ia bertanya sambil memangku tiga wadah plastik berisi sisa lodeh, ikan asin, dan separuh bika ambon, dengan wajah orang yang baru saja membaca namanya sendiri ditulis dengan tinta hitam.
Pintu depan terbuka. Ayahku keluar membawa kantong sampah, melihat kami berdua di kursi rotan, berhenti, dan berkata, “Hm.”
Lalu ia berjalan ke tong sampah di depan pagar, membuang kantong itu dengan gerakan yang jauh lebih lambat daripada yang diperlukan, berjalan kembali, dan masuk tanpa menoleh.
Pintu tertutup. Dari jendela lantai atas, terdengar suara Livia berbisik terlalu keras. “Pak! Mereka lagi ngapain?”
“Buang sampah,” jawab ayahku.
“Bapak yang buang sampah! Mereka lagi ngapain?”
Jendela ditutup dengan bunyi keras. Erga menunduk dan tertawa tanpa suara, bahunya bergetar, dan aku ikut tertawa, dan untuk beberapa detik pertanyaannya menjadi sedikit lebih ringan untuk dipikul.
Lalu tawa itu habis. Pertanyaannya masih di sana.
“Aku belum pernah cerita soal Livia,” kataku.
Erga menoleh.
“Waktu aku sama Rian, Livia masih kuliah semester tiga. Rian yang ngajarin dia nyetir. Tiap Sabtu, tiga bulan, di lapangan parkir stadion. Livia nabrak kerucut lalu lintas empat puluh kali. Rian nggak pernah marah sekali pun.” Aku menatap halaman yang gelap. “Livia manggil dia Mas Rian. Kayak kakak sendiri.”
Aku berhenti. Laron-laron di lampu terus berputar.
“Waktu batal, aku yang ngasih tahu Livia. Aku kira dia bakal marah ke Rian. Ternyata nggak. Dia cuma nanya, Terus Mas Rian nggak bakal ke sini lagi? Terus dia nangis di kamarnya dua hari. Lebih lama dari aku. Dia hapus kontak Rian dari ponselnya, terus nyimpen lagi, terus hapus lagi. Aku yang nemenin dia. Aku yang bilang, Nggak apa-apa, Liv, orang datang dan pergi. Aku bilang itu ke adikku sendiri kayak aku ngerti artinya.”
Tanganku menggenggam ujung rokku. Aku tidak berusaha menghentikannya.
“Aku nggak takut ditinggal lagi, Erga. Maksudku, aku takut. Tapi bukan itu yang paling bikin aku nggak bisa tidur.” Suaraku mulai goyah, dan aku benci itu. “Aku takut ngebawa orang masuk lagi ke rumah ini. Ke ibu. Ke bapak. Ke Livia. Terus suatu hari orang itu pergi, dan aku harus berdiri di tengah ruang tengah dan ngejelasin lagi. Satu per satu. Pakai kalimat yang beda-beda. Sampai mereka berhenti nanya.”
Aku menatapnya.
“Dan kamu udah masuk,” kataku. “Kamu udah masuk jauh banget. Ke dapur ibuku. Ke pasar bapakku. Ke ponsel adikku. Aku nggak tahu gimana cara ngeluarin kamu tanpa ada yang luka.”
Erga tidak langsung menjawab. Ia tidak berkata aku nggak akan pergi. Ia tidak berkata kamu terlalu takut. Ia tidak menyangkal apa pun.
Ia meletakkan tiga wadah plastik itu di lantai beranda, pelan-pelan, satu per satu, seperti meletakkan sesuatu yang tidak boleh tumpah.
“Aku ngerti kenapa kamu takut,” katanya. “Kalau aku di posisimu, aku juga takut.”
Aku menunggu kalimat berikutnya. Kalimat yang akan membuat semuanya baik-baik saja.
Kalimat itu tidak datang. Yang datang lebih jujur, dan karena itu lebih berat.
“Tapi aku nggak bisa terus pura-pura ini cuma kerjaan, Nadine.” Ia menatap tangannya sendiri. “Aku udah nyoba. Aku datang ke acara lima ini dengan rencana jaga jarak. Rencananya bertahan sampai aku lihat cangkir di meja.”
Hening. Seekor laron jatuh ke lantai di dekat kakiku.
“Aku nggak minta kamu jawab sekarang,” lanjutnya. “Aku cuma nggak mau bohong soal itu. Ke kamu.”
Aku tahu aku harus menjawab. Pertanyaannya sederhana: masih boleh ketemu atau tidak. Ya atau tidak. Dua pilihan. Aku sudah memilih di antara pilihan yang lebih sulit setiap hari di kantor.
Tapi setiap kali aku membuka mulut untuk berkata ya, yang terbayang adalah Livia di kamarnya, menghapus dan menyimpan dan menghapus lagi sebuah nomor telepon.
“Kasih aku waktu,” kataku.
Suaraku kecil sekali. Aku bahkan tidak yakin ia mendengarnya.
“Oke,” katanya. Ia mendengarnya.
Ia tidak kecewa. Atau kalau ia kecewa, ia menyimpannya di tempat yang tidak bisa kulihat. Ia hanya mengangguk, membungkuk untuk mengambil wadah-wadah plastiknya lagi, dan bersiap berdiri.
Dan aku tidak ingin ia berdiri.
Bukan karena aku sudah punya jawaban. Karena aku belum punya, dan aku tidak ingin ia pulang malam ini hanya membawa lodeh dan kalimat kasih aku waktu.
“Erga.”
Ia berhenti setengah jalan, masih membungkuk.
“Boleh?” tanyaku.
Ia menatapku. Aku melihat pertanyaan di matanya, lalu aku melihat pertanyaan itu terjawab sendiri, karena aku sudah mencondongkan badan ke arahnya dari kursi rotan.
“Boleh,” katanya, hampir berbisik.
Aku menciumnya.
Singkat. Sangat singkat. Bibirnya hangat dan sedikit berasa kopi robusta. Satu detik. Mungkin dua. Tidak ada tangan di pinggang, tidak ada kepala yang dimiringkan dengan sempurna seperti di film. Hanya dua orang di dua kursi rotan yang terlalu jauh untuk berciuman dengan nyaman, di bawah lampu yang dikerubungi laron.
Aku menarik diri lebih dulu.
Erga tidak bergerak. Ia masih setengah membungkuk, satu tangan memegang wadah bika ambon, wajahnya seperti orang yang baru saja menemukan sarang di bagian bawah kue yang dua puluh tahun tidak pernah naik.
“Itu bukan jawaban,” kataku cepat, sebelum ia salah paham. Sebelum aku sendiri salah paham. “Aku cuma... pengin.”
“Oke,” katanya. Suaranya serak. Ia berdeham. “Oke. Itu... oke.”
Ia berdiri. Menjatuhkan tutup wadah lodeh. Mengambilnya. Menjatuhkannya lagi.
Di lantai atas, jendela terbuka sedikit. Aku tidak menoleh. Aku tahu itu Livia, dan aku tahu besok pagi aku harus membayar sesuatu yang sangat mahal kepadanya.
“Aku pulang,” katanya.
“Iya.”
“Maksudku, ke rumahku. Bukan pulang yang kata ibumu.”
“Aku tahu.”
Ia berjalan ke motornya dengan tiga wadah plastik dan satu tutup yang tidak terpasang. Aku melihatnya pergi sampai lampu belakangnya hilang di ujung gang.
Aku tidak tidur malam itu.
Aku berbaring di kamar lamaku, di rumah orang tuaku, karena sudah terlalu larut untuk menyetir pulang ke apartemen. Langit-langit kamar ini masih punya tempelan bintang yang menyala dalam gelap, sisa masa SMP, sebagian sudah tidak menyala lagi. Di pintu kamar ada bekas selotip dari poster yang sudah lama kucopot.
Kamar yang sama tempat aku tidur tiga malam setelah Rian pergi.
Aku menyentuh bibirku sendiri. Konyol. Seperti remaja. Aku tetap melakukannya.
Aku memutar ulang semuanya. Kasih aku waktu. Boleh? Itu bukan jawaban.
Aku yang menciumnya. Aku yang bertanya lebih dulu. Aku yang mencondongkan badan. Semua itu pilihan. Pilihanku sendiri, dengan sadar, tanpa jadwal, tanpa penonton kecuali Livia di jendela.
Dan tetap saja, ketika ia bertanya apakah ia masih boleh menemuiku setelah semua ini selesai, aku tidak menjawab.
Jam sembilan lewat sepuluh, ponselku bergetar.
Erga (Kue):
Udah pulang?
Pesan yang sama. Setiap malam. Seolah tidak ada yang berubah.
Aku menatap layar itu lama. Aku mengetik Udah, lalu menghapusnya. Mengetik Aku di rumah ibu, lalu menghapusnya. Mengetik Tadi itu, lalu menatap dua kata itu sampai layar meredup.
Aku akhirnya membalas Udah. Kamu? Dan ia membalas Udah. Lodehnya enak. Dan aku membalas stiker kucing. Dan percakapan itu selesai.
Aku menaruh ponsel di dada dan menatap bintang-bintang plastik yang tinggal separuh menyala.
Aku baru saja mencium laki-laki yang mencintaiku. Aku tahu ia mencintaiku. Ia tidak mengatakannya, tapi aku tahu, seperti aku tahu sarang bika ambon harus naik dari bawah.
Dan aku baru mengerti, di kamar ini, di jam ini, bahwa sebuah ciuman tidak otomatis menjadi jawaban.
Ciuman itu hanya membuat pertanyaannya lebih sulit untuk tidak dijawab.
- 1 Pacar yang Datang Bersama Kotak Kue
- 2 Aturan Pertama: Jangan Jatuh Cinta
- 3 Kursi di Sebelah Nadine
- 4 Di Luar Jadwal
- 5 Kue Ulang Tahun yang Terlalu Jujur
- 6 Potongan yang Bentuknya Jelek
- 7 Resep yang Selalu Gagal
- 8 Hal yang Tidak Masuk Kontrak
- 9 Kencan yang Tidak Dihitung
- 10 Pertanyaan Sepupu yang Salah Alamat
- 11 Celemek Cadangan
- 12 Hari ketika Ibu Menyebut Rumah
- 13 Jawaban yang Ditunda reading
- 14 Delapan Pertanyaan untuk Livia
- 15 Jangan Janji untuk Semua Orang
- 16 Foto yang Harus Kita Simpan
- 17 Aku Suka Kamu Tanpa Jadwal
- 18 Bonus yang Tidak Bisa Kuterima
- 19 Resep yang Akhirnya Berhasil
- 20 Kebenaran di Meja yang Sama
- 21 Undangan yang Tidak Kukirim
- 22 Kue untuk Pesta yang Tidak Kuhadiri
- 23 Aku Pergi Dulu
- 24 Satu Cangkir Terlalu Banyak
- 25 Kue yang Jadi Saat Orangnya Tidak Ada
- 26 Celemek Tanpa Nama
- 27 Yang Dia Ingat Tentang Kita
- 28 Aku yang Membawanya Masuk
- 29 Kabar Pertama yang Tidak Bisa Kukirim
- 30 Hari Tanpa Peran
- 31 Nama yang Muncul Lagi
- 32 Kalau Kamu Mau Dengar
- 33 Kencan Pertama yang Kedua
- 34 Aku Tidak Perlu Membayar Tempatku
- 35 Tamu yang Boleh Menolak
- 36 Namaku Ada di Sini