Chapter Twenty Seven
Yang Dia Ingat Tentang Kita
POV: Nadine
Aku tidak membaca seluruh halaman itu malam itu. Aku hanya sanggup sampai baris ketiga, lalu melipatnya lagi dan menyimpannya di bawah bantal seperti anak SMP menyimpan surat.
Aku membacanya utuh tiga hari kemudian, di bulan kedua, pada Selasa malam yang tidak istimewa, setelah aku yakin tidak akan ada yang mengetuk pintu kamarku.
Halaman itu penuh. Dari atas sampai bawah, tulisan tangan yang sama dengan tinta yang berbeda-beda: hitam, biru, pensil, sekali merah, seperti ditulis selama berminggu-minggu dengan pulpen apa pun yang kebetulan ada di saku celemek.
Nadine — bolu pandan keju. Nggak suka ditanya soal “yang kemarin”.
Om Hendra — kopi hitam tanpa gula. Ketawanya lewat hidung.
Ibu Ratih — bahagia kalau piring kosong. Bika ambon Ibu Sumi, 20 tahun nggak bersarang.
Livia — teliti. Suka mendoan. Lebih takut sama masa depan daripada yang dia tunjukin.
Itu empat baris pertama. Tinta hitam. Aku mengenali minggu pertama dari cara hurufnya: sedikit terburu-buru, seperti orang yang mencatat sebelum lupa.
Lalu baris-baris berikutnya, yang ditambahkan belakangan, di sela-sela, di pinggir, dengan panah kecil yang menunjuk ke nama pemiliknya.
Om Hendra — nggak suka dibantu bawa belanjaan. Tapi seneng kalau ditemenin diem. Kalau cerita soal Nadine kecil, suaranya turun.
Om Hendra — dulu pengin jadi masinis. Nggak jadi karena kakinya pernah patah. Jangan tanya soal kereta kalau dia lagi capek. Tanya kalau dia lagi seneng.
Ibu Ratih — nyanyi dangdut di kamar mandi, liriknya ngarang. Jangan dikoreksi.
Ibu Ratih — pernah masak sambal terasi tiap Minggu buat orang yang nggak balik. Jangan minta sambal terasi.
Aku berhenti di baris itu lama sekali.
Aku yang menceritakannya kepadanya. Di bangku bubur, di pagi pertama. Aku tidak ingat pernah menyebut sambal terasi. Aku hanya ingat menyebut cobek di rak paling atas. Ia menyimpannya. Ia menuliskannya bukan sebagai informasi, tapi sebagai peringatan untuk dirinya sendiri: jangan minta. Supaya ibuku tidak perlu memasaknya lagi untuk seseorang.
Selama dua bulan ia makan di meja kami, aku tidak pernah sekali pun melihatnya menyentuh sambal terasi. Aku kira ia tidak suka pedas.
Livia — mendoan dicelup kopi susu. Takut dianggap cuma adik. Bebek (kakinya ngayuh). Jangan panggil dia adiknya Nadine. Panggil Livia.
Eyang Putri — lapis legit yang pinggir. Galak ke semua orang kecuali cucu yang paling bandel.
Lalu bagian bawah, di bawah nama-nama lain, bagian yang kembali ke namaku. Tinta biru, lalu pensil, lalu hitam lagi.
Nadine — kalau takut, dia megang serbet. Jangan ditanya. Bikin ketawa aja.
Suka bagian tengah brownies. Tapi makan pinggirnya sampai habis kalau aku yang kasih. Bagian akhir kalimat itu dicoret tipis, seperti orang yang malu pada harapannya sendiri. Lalu ditulis ulang di bawahnya dengan tangan yang lebih tegas, persis sama, kata demi kata.
Nggak pernah kirim pesan duluan. Bukan karena nggak mau. Karena takut kelihatan nunggu.
Kalau capek, gelung rambut pakai penggaris.
Dan satu baris terakhir di bawah namaku. Tinta merah. Satu-satunya tinta merah di seluruh halaman. Seperti ditulis dengan pulpen pinjaman, di tempat yang bukan tokonya.
Nadine — kalau dia belum bisa, bukan berarti dia nggak mau.
Aku menutup mulut dengan tangan.
Aku tidak tahu kapan ia menulisnya. Mungkin setelah beranda. Mungkin setelah toko. Mungkin setelah meja makan Rabu malam, di mana aku berkata aku belum bisa bilang begitu dan ia mengangguk sekali. Ia menulis kalimat itu untuk membela aku. Dari dirinya sendiri.
Di bawah semua itu, di baris paling bawah halaman, ada satu nama lagi.
Erga —
Hanya itu. Nama, tanda pisah, lalu kosong. Tidak ada apa pun setelahnya. Seolah ia pernah berniat menulis sesuatu tentang dirinya sendiri, apa yang ia suka, apa yang membuatnya bahagia, lalu tidak tahu harus menulis apa.
Atau tidak pernah terpikir bahwa itu perlu.
Aku bisa saja menjadikan halaman itu barang bukti.
Aku tahu diriku. Aku bisa membawanya ke meja makan, meletakkannya di depan keluargaku, dan berkata, lihat, dia sayang kita semua, dia harus pulang. Aku bisa memotretnya dan mengirimkannya ke Nino dengan pesan tolong kasih ini ke dia. Aku bisa menjadikannya proyek: Operasi Membawa Erga Pulang, dengan halaman ini sebagai dokumen pendukung.
Aku tidak melakukannya.
Halaman ini bukan tentang apa yang Erga harus lakukan. Halaman ini tentang apa yang sudah ia lakukan. Tentang empat orang dan satu eyang yang ia perhatikan satu per satu, dengan cara yang berbeda-beda, ketika tidak ada yang memintanya.
Dan aku menyadari, dengan malu yang tidak bisa kusebut, bahwa aku tidak tahu separuh dari isi halaman ini.
Jadi aku melakukan sesuatu yang lain.
Kamis pagi, jam lima kurang sepuluh, aku berdiri di depan kios bumbu di Pasar Kosambi dengan jaket parasut pinjaman dari lemari ayahku.
Ayahku datang jam lima kurang lima. Ia melihatku dan berhenti.
“Telat,” kataku.
Ia menatapku lama. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku kecil, ayahku tertawa lewat hidung di depanku. Bukan di depan Erga. Di depanku.
Kami berbelanja. Aku mengambil kantong dari tangannya. Ia mengambil satu kembali. “Bawa satu. Kamu anak, bukan kuli.”
Di warung Mang Ujang, ayahku memesan dua robusta. Satu untukku. Mang Ujang menatapku, lalu menatap ayahku, lalu menuang tanpa berkata apa-apa.
“Pak,” kataku, sambil memegang gelas yang terlalu panas. “Bapak dulu pengin jadi masinis?”
Ayahku berhenti dengan gelas setengah jalan ke mulut.
“Siapa yang bilang?”
“Nggak ada. Aku nanya.”
Ia meletakkan gelasnya. Ia menatap truk sayur yang sedang menurunkan muatan. Lalu, pelan-pelan, ia mulai bercerita. Tentang stasiun Kiaracondong waktu ia kecil. Tentang kereta uap terakhir yang pernah ia lihat. Tentang kaki kirinya yang patah waktu SMA karena jatuh dari pohon jambu, dan tes kesehatan yang tidak lolos. Tentang seragam PDAM yang ia pakai tiga puluh tahun, dan bagaimana setiap kali lewat rel, ia masih berhenti sebentar.
Ia bicara lebih banyak dalam dua puluh menit itu daripada yang pernah ia bicarakan kepadaku dalam dua puluh tujuh tahun.
“Dia yang nanya duluan,” kata ayahku di akhir. “Minggu ketiga. Di bangku ini. Nggak ada yang pernah nanya.” Ia menatap gelasnya. “Dia nggak nanya saya sebagai bapakmu. Dia nanya saya sebagai saya.”
Sabtu sore, aku membantu ibuku memasak. Aku tidak menjadi juri. Aku memegang ulekan.
“Bu,” kataku. “Erga manggil Ibu apa?”
“Ibu,” jawab ibuku, heran. “Kenapa?”
“Dia manggil Om ke Bapak. Tapi ke Ibu, Ibu. Bukan Tante.”
Ibuku berhenti mengaduk. “Ibu yang minta. Hari pertama. Ibu bilang, Tante itu buat Wulan.” Ia tersenyum kecil. “Dia nurut. Dari hari pertama sampai terakhir. Nggak sekali pun salah.”
Ia kembali mengaduk.
“Kamu tahu apa yang paling Ibu inget dari dia?” katanya. “Bukan bika. Bukan pasar. Dia nggak pernah bikin Ibu ngerasa cerewet. Ibu cerita soal Ibu Sumi berkali-kali, cerita yang sama, dia dengerin kayak baru pertama kali.” Ia menyeka matanya dengan ujung celemek. “Bapakmu udah bosen. Kalian udah bosen. Ibu tahu. Dia nggak.”
Aku menunduk ke cobek. Aku mengulek pakai pergelangan, bukan pakai dendam. Ibuku melihatnya dan tidak berkomentar, tapi aku tahu ia melihatnya.
Minggu malam, aku mengetuk pintu kamar Livia.
Ia membukanya dengan wajah yang masih belum memaafkanku. Aku tidak memintanya memaafkanku. Aku hanya bertanya apakah aku boleh melihat portofolionya.
Ia menatapku curiga. Lalu ia membuka laptop.
Caption-caption Instagram Remah Pagi. Akun parodi dari masa SMA-nya, yang ternyata masih ada dan punya empat ribu pengikut. Slogan-slogan kecil yang ia tulis untuk warung-warung di dekat kampusnya, gratis, hanya karena ia ingin. Satu di antaranya membuatku tertawa sampai harus bersandar ke dinding.
“Mas Erga nggak pernah nanya aku soal Kakak,” kata Livia tiba-tiba. Ia tidak menatapku. Ia menatap layar. “Nggak sekali pun. Semua orang yang ketemu aku, pasti nanya soal Kakak. Dosen. HRD. Tante-tante. Dia nggak. Dia nanya soal aku.”
Aku tidak berkata apa-apa. Tidak ada yang bisa kukatakan.
“Aku masih marah sama Kakak,” katanya.
“Aku tahu.”
“Tapi makasih udah nanya soal portofolioku.”
Malam itu, aku duduk di kamarku dengan halaman daftar rasa di pangkuan.
Erga tidak mencintai keluargaku sebagai satu paket. Sebagai keluarga pacarnya. Sebagai bonus dari kontrak. Ia mencintai mereka satu per satu. Ayahku sebagai laki-laki yang pernah ingin jadi masinis. Ibuku sebagai perempuan yang bernyanyi sumbang dan menceritakan ibunya berulang-ulang. Livia sebagai bebek yang kakinya mengayuh, bukan sebagai adik Nadine.
Ia melihat mereka lebih jelas dalam sepuluh minggu daripada aku dalam dua puluh tujuh tahun.
Dan selama ini aku mengira aku melindungi mereka. Dari kehilangan. Dari pertanyaan. Dari orang yang mungkin pergi.
Aku tidak sedang melindungi mereka. Aku bahkan tidak cukup mengenal mereka untuk tahu apa yang perlu dilindungi.
Penyesalanku berubah bentuk malam itu. Sebelumnya, penyesalan itu seperti lubang, sesuatu yang kurasakan dan tidak bisa kulakukan apa-apa dengannya. Sekarang penyesalan itu terasa seperti pekerjaan. Bukan proyek untuk membawa Erga pulang. Pekerjaan untuk jujur. Kepada keluargaku, yang masih menunggu penjelasan yang sebenarnya. Bukan penjelasan versi rapat. Bukan kalimat yang sedikit berbeda setiap minggu.
Aku membuka grup keluarga. Prakoso Family (Resmi). Pesan terakhir di sana adalah foto bika ambon ibuku yang naik penuh, dikirim Livia, dengan satu kata: Penuh.
Aku mengetik.
Aku:
Minggu depan, Minggu malam, makan di rumah ya. Aku mau minta maaf dengan benar. Soal awalnya. Soal semuanya.
Kali ini aku nggak bikin jadwal.
- 1 Pacar yang Datang Bersama Kotak Kue
- 2 Aturan Pertama: Jangan Jatuh Cinta
- 3 Kursi di Sebelah Nadine
- 4 Di Luar Jadwal
- 5 Kue Ulang Tahun yang Terlalu Jujur
- 6 Potongan yang Bentuknya Jelek
- 7 Resep yang Selalu Gagal
- 8 Hal yang Tidak Masuk Kontrak
- 9 Kencan yang Tidak Dihitung
- 10 Pertanyaan Sepupu yang Salah Alamat
- 11 Celemek Cadangan
- 12 Hari ketika Ibu Menyebut Rumah
- 13 Jawaban yang Ditunda
- 14 Delapan Pertanyaan untuk Livia
- 15 Jangan Janji untuk Semua Orang
- 16 Foto yang Harus Kita Simpan
- 17 Aku Suka Kamu Tanpa Jadwal
- 18 Bonus yang Tidak Bisa Kuterima
- 19 Resep yang Akhirnya Berhasil
- 20 Kebenaran di Meja yang Sama
- 21 Undangan yang Tidak Kukirim
- 22 Kue untuk Pesta yang Tidak Kuhadiri
- 23 Aku Pergi Dulu
- 24 Satu Cangkir Terlalu Banyak
- 25 Kue yang Jadi Saat Orangnya Tidak Ada
- 26 Celemek Tanpa Nama
- 27 Yang Dia Ingat Tentang Kita reading
- 28 Aku yang Membawanya Masuk
- 29 Kabar Pertama yang Tidak Bisa Kukirim
- 30 Hari Tanpa Peran
- 31 Nama yang Muncul Lagi
- 32 Kalau Kamu Mau Dengar
- 33 Kencan Pertama yang Kedua
- 34 Aku Tidak Perlu Membayar Tempatku
- 35 Tamu yang Boleh Menolak
- 36 Namaku Ada di Sini