Chapter Five
Kue Ulang Tahun yang Terlalu Jujur
POV: Nadine
Livia punya sebelas email penolakan, dan ia menghitungnya.
Aku tahu karena ia menempelkan angka itu di cermin kamarnya dengan spidol merah, seperti skor pertandingan yang terus ia kalahkan. Sebelas. Setiap kali satu email masuk, ia menghapus angka lama dan menulis yang baru. Dua minggu terakhir ia jarang keluar kamar kecuali untuk makan, dan kalau keluar, ia tersenyum dengan cara yang terlalu rapi.
Maka ulang tahunnya yang kedua puluh dua harus sempurna. Aku sudah membuat daftar periksa: balon warna pastel (Livia benci merah muda), teman-teman kampusnya (delapan orang, dua vegetarian), playlist tanpa lagu galau, dan satu aturan untuk semua kerabat: jangan tanya soal kerja.
Yang tidak ada di daftarku adalah kue. Karena Erga bilang ia yang urus.
“Kamu tahu dia suka apa?” tanyaku Kamis malam di telepon.
“Tahu,” katanya.
“Dari mana? Kamu baru ketemu dia sekali.”
“Dua kali. Kamu lupa dia nemenin aku cuci piring habis makan siang.”
Aku memang lupa. Waktu itu aku sibuk menghindari tatapan ibuku di ruang tengah.
“Dia cerita apa aja?”
“Rahasia dapur,” katanya. “Nanti kamu lihat sendiri.”
Aku ingin memaksanya bercerita. Aku tidak suka kejutan; kejutan adalah hal yang tidak ada di daftar periksa. Tapi ada sesuatu dalam suaranya, semacam kesabaran orang yang sedang menunggu adonan mengembang, yang membuatku diam.
Setelah telepon ditutup, aku berdiri lama di depan pintu kamar Livia. Dari dalam terdengar suara video wawancara kerja, pewawancara palsu bertanya tentang kelemahan terbesar. Aku mengangkat tangan untuk mengetuk. Lalu aku menurunkannya lagi, karena aku tidak tahu harus bilang apa selain semangat, dan aku sudah mengatakannya sebelas kali.
Pesta dimulai jam empat sore di halaman belakang. Erga datang jam tiga lewat empat puluh, membawa kotak kue besar dari kaleng bercap Remah Pagi, jenis kotak yang biasa dipakai toko untuk pesanan istimewa.
“Tanya dulu,” katanya saat aku menyambutnya di gerbang. “Boleh aku rangkul kamu di depan tamu? Satu kali. Pas foto.”
“Boleh.”
“Oke. Kuingat.”
Salah satu teman Livia, yang kebetulan sedang lewat membawa kursi lipat, berhenti dan menatap kami. “Kok nanya dulu? Ya ampun, sweet banget,” bisiknya kepada temannya, cukup keras untuk kudengar. Aku pura-pura sibuk dengan balon.
Kue itu dibuka di meja tengah menjelang tiup lilin. Semua orang mencondongkan badan.
Bukan kue fondant. Itu yang pertama kulihat. Livia pernah bilang fondant rasanya seperti makan penghapus, dan entah kapan Erga mendengarnya. Kue itu tiga lapis, berwarna cokelat keemasan, dan harumnya langsung menyebar: kopi susu gula aren.
“Kopi susu?” tanya Ratih.
“Livia bilang itu minuman wajib sebelum wawancara, Bu,” jawab Erga. “Katanya biar berani. Walaupun habis itu dia deg-degan dua kali lipat.”
Livia, yang berdiri di depan kue, membeku.
Di atas kue, tidak ada tulisan Selamat Ulang Tahun. Yang ada adalah selembar kertas dari gula, dicetak rapi dengan pewarna makanan, seperti surat resmi:
SURAT PENERIMAAN. Dengan hormat, Livia Prakoso dinyatakan DITERIMA sebagai Umur 22. Mulai bekerja: hari ini. Gaji: satu tahun penuh. Hormat kami, HRD Semesta.
Di pinggir kue ada taburan remah renyah berwarna keemasan.
“Itu apa?” tanya salah satu teman Livia.
“Kerupuk mendoan,” kata Erga. “Dihancurin, dikaramelisasi. Livia bilang dia suka nyelupin mendoan ke kopi susu. Saya nggak setuju secara moral, tapi saya menghormati pilihan hidupnya.”
Aku menatap adikku. Mendoan dicelup kopi susu. Aku tidak tahu itu. Aku kakaknya selama dua puluh dua tahun, dan aku tidak tahu itu.
Livia mengangkat wajah. Matanya sudah basah, tapi mulutnya berusaha keras mempertahankan harga diri.
“Mas,” katanya, suaranya goyah, “ini kue atau surat lamaran?”
“Surat penerimaan,” kata Erga. “Soalnya HRD yang lain lambat.”
Dan Livia tertawa.
Bukan senyum rapi. Bukan tawa sopan untuk tamu. Tawa yang keluar dari perut, keras, jelek, sampai ia harus berpegangan pada meja dan teman-temannya ikut tertawa karena melihatnya tertawa. Ia menutup wajah dengan kedua tangan dan tertawa sambil menangis, dan ibuku menutup mulutnya sendiri, dan ayahku, di belakang semua orang, menunduk dan mendengus pelan lewat hidung.
Aku berdiri di sana, memegang korek api untuk lilin, dan menyadari aku sudah lupa suara tawa adikku.
Berapa lama? Dua minggu? Sebulan? Sejak angka di cermin itu mulai bertambah? Aku terlalu sibuk menyusun daftar periksa untuk membuatnya bahagia sampai aku tidak pernah bertanya apa yang membuatnya bahagia.
“Kak,” kata Livia sambil menyeka mata, “Kak Nadine nyalain lilinnya dong. Keburu Mas Erga pidato.”
“Aku memang mau pidato,” kata Erga. Ia berdeham, meletakkan tangan di dada, dan dengan suara berat ala pembawa acara pernikahan berkata, “Hadirin sekalian. Sebagai calon—”
“Mas!” teriak Livia.
“—sebagai calon pembuat kue ulang tahun kedua puluh tiga, izinkan saya—”
“Kamu kebanyakan akting,” kataku.
Ia berhenti. Lalu menoleh kepadaku, dan senyumnya berubah. Aku tahu senyum itu. Senyum orang yang baru ingat punya kupon.
“Oke,” katanya. “Jatah yang kusimpan kemarin, kupakai sekarang.”
“Sekarang? Di sini?”
“Nanti aja. Tapi aku udah tahu mau minta apa.”
Livia meniup lilin. Semua bertepuk tangan. Ratih memotret dari empat sudut. Dan saat foto keluarga, Erga berdiri di sampingku, menoleh sebentar seolah memastikan, lalu merangkul bahuku. Sekali. Seperti yang ia janjikan. Tangannya hangat dan tidak menekan.
Aku tidak tahu kenapa aku bersandar sedikit.
Setelah foto, Livia menarik lengan Erga dan menyodorkan ponselnya.
“Mas, simpan nomorku.”
“Buat apa? Kamu udah nge-like foto kelapaku.”
“Serius.” Ia menatap Erga dengan mata yang masih merah. “Kalau nanti aku dapat panggilan wawancara, Mas yang kukasih tahu pertama. Soalnya kalau Kak Nadine, dia bakal langsung bikin jadwal latihan.”
“Aku dengar,” kataku.
“Memang biar dengar.”
Erga mengetik nomornya dengan dua jari telunjuk, lambat, lalu mengembalikan ponsel itu. Aku sempat melihat nama yang Livia tulis sebelum layarnya terkunci: Mas Erga (HRD Semesta).
Livia menyimpan ponsel itu di dada, seperti menyimpan jimat.
Jam tujuh malam, tamu sudah pulang. Livia membawa sisa kue ke kamarnya seperti membawa trofi, dan aku mendengarnya menelepon teman sambil tertawa lagi. Ibuku tidur di sofa dengan remote di tangan. Aku menemukan Erga di dapur, mencuci loyang kaleng miliknya sendiri di wastafel ibuku.
“Kamu tamu,” kataku. “Bukan tukang cuci.”
“Kamu kedengaran kayak ayahmu.”
“Ayahku bilang begitu?”
“Minggu lalu. Di pasar.” Ia menggosok pinggiran kaleng. “Ternyata aku jelek banget jadi tamu.”
Aku bersandar di kulkas. Di pintunya masih ada bekas lem dari jadwal yang kucopot setahun lalu. Aku tidak pernah membersihkannya.
“Jadi,” kataku. “Mau minta apa?”
Ia mematikan keran, mengeringkan tangan dengan celemek, dan menatapku. “Satu pujian. Sungguhan. Buat kuenya.”
Aku sudah menyiapkan jawaban lucu sejak jam empat sore. Kuemu lumayan. Mendoannya kontroversial. Sesuatu seperti itu.
Tapi yang keluar bukan itu.
“Kuemu bikin adikku ketawa,” kataku. “Aku udah lupa bunyinya.”
Dapur menjadi sangat sunyi. Hanya dengung kulkas di punggungku.
Erga tidak menjawab dengan lelucon. Itu yang membuatku sadar aku sudah mengatakan sesuatu yang terlalu jujur. Ia memegang celemeknya dengan dua tangan, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ia tampak tidak tahu harus melakukan apa dengan wajahnya.
“Itu bukan pujian buat kuenya,” katanya akhirnya, pelan.
“Iya,” kataku. “Itu buat yang bikin.”
Aku pergi dari dapur sebelum ia bisa melihat wajahku. Aku mendengarnya mengeluarkan napas panjang di belakangku, seperti orang yang baru saja ditabrak sesuatu yang lembut.
Kotak kaleng itu tertinggal di rumah. Aku yang menemukannya Senin pagi, bersih dan kering, di rak piring ibuku.
Kotak itu bisa dikirim pakai ojek. Aku tahu. Harga kirimnya lebih murah daripada bensin ke tokonya.
Selasa sore, sepulang kerja, aku memasukkan kotak itu ke jok depan dan menyetir sendiri ke Remah Pagi.
- 1 Pacar yang Datang Bersama Kotak Kue
- 2 Aturan Pertama: Jangan Jatuh Cinta
- 3 Kursi di Sebelah Nadine
- 4 Di Luar Jadwal
- 5 Kue Ulang Tahun yang Terlalu Jujur reading
- 6 Potongan yang Bentuknya Jelek
- 7 Resep yang Selalu Gagal
- 8 Hal yang Tidak Masuk Kontrak
- 9 Kencan yang Tidak Dihitung
- 10 Pertanyaan Sepupu yang Salah Alamat
- 11 Celemek Cadangan
- 12 Hari ketika Ibu Menyebut Rumah
- 13 Jawaban yang Ditunda
- 14 Delapan Pertanyaan untuk Livia
- 15 Jangan Janji untuk Semua Orang
- 16 Foto yang Harus Kita Simpan
- 17 Aku Suka Kamu Tanpa Jadwal
- 18 Bonus yang Tidak Bisa Kuterima
- 19 Resep yang Akhirnya Berhasil
- 20 Kebenaran di Meja yang Sama
- 21 Undangan yang Tidak Kukirim
- 22 Kue untuk Pesta yang Tidak Kuhadiri
- 23 Aku Pergi Dulu
- 24 Satu Cangkir Terlalu Banyak
- 25 Kue yang Jadi Saat Orangnya Tidak Ada
- 26 Celemek Tanpa Nama
- 27 Yang Dia Ingat Tentang Kita
- 28 Aku yang Membawanya Masuk
- 29 Kabar Pertama yang Tidak Bisa Kukirim
- 30 Hari Tanpa Peran
- 31 Nama yang Muncul Lagi
- 32 Kalau Kamu Mau Dengar
- 33 Kencan Pertama yang Kedua
- 34 Aku Tidak Perlu Membayar Tempatku
- 35 Tamu yang Boleh Menolak
- 36 Namaku Ada di Sini