Chapter Two

Aturan Pertama: Jangan Jatuh Cinta

POV: Nadine

Aku menyusun dokumen berjudul Protokol Hubungan (Sementara) jam dua pagi. Kuhapus kata “Hubungan” karena kelihatan terlalu berharap, lalu kutulis lagi karena tanpa kata itu judulnya terdengar seperti prosedur evakuasi gedung.

Jam enam empat puluh, aku mengirim pesan ke nomor yang semalam kusimpan sebagai Erga (Kue).

Aku:

Rapat persiapan. Bubur ayam depan tokomu. 07.00.

Erga (Kue):

Semalam kamu nyuruh aku tidur.

Ternyata yang nggak tidur kamu.

Aku tidak membalas. Bukan karena tidak punya jawaban. Karena dia benar, dan aku tidak suka memulai hari dengan kalah.

Gerobak bubur di depan Remah Pagi punya tiga bangku plastik dan satu penjual yang mengaduk panci seperti sedang memimpin orkestra. Aku datang jam tujuh kurang lima. Erga datang jam tujuh lewat dua, rambutnya masih basah, ada tepung di ujung telinga kirinya, dan ia membawa dua kotak kecil.

“Telat dua menit,” kataku.

“Aku bawa sogokan.” Ia membuka kotak pertama: bolu pandan, persis seperti kemarin tapi lebih kecil. Kotak kedua: kue cokelat yang bagian atasnya retak. “Buat ibumu. Kamu pilih. Yang cokelat retak karena oven pinjaman kami cuma punya dua suhu: mentah sama marah.”

Aku menunjuk bolu pandan. Ia menutup kotak cokelat dan menggesernya ke arahku. “Yang ini buat kamu. Sarapan.”

“Aku udah pesan bubur.”

“Kue itu bukan sarapan. Kue itu dukungan moral.”

Penjual bubur tertawa. Aku membuka laptop sebelum ikut tertawa.

“Oke. Protokol.” Aku memutar layar ke arahnya. “Baca, kasih masukan, kita sepakati, selesai sebelum jam delapan.”

Ia membaca dengan serius, dan anehnya itu membuatku gugup. Orang biasanya menggulir dokumenku sambil lalu. Erga membacanya seperti membaca resep: pelan, bibirnya bergerak sedikit di beberapa bagian.

1. Versi resmi pertemuan: salah tulis nama di kue ulang tahun kantor (Nadia). Payung kuning.

2. Sudah jadian tiga bulan.

3. Kontak fisik seperlunya.

4. Tidak membahas masa lalu masing-masing.

5. Jangan jatuh cinta.

Ia berhenti di nomor lima. Aku lupa menghapusnya. Jam dua pagi, kalimat itu terasa lucu.

“Nomor lima,” katanya.

“Itu catatan kaki.”

“Pakai angka. Posisinya di badan dokumen. Itu pasal.”

“Itu buat kamu.”

“Oh.” Ia menyandarkan punggung ke bangku plastik yang langsung berderit. “Kamu sendiri nggak butuh?”

“Aku udah kebal,” kataku, lalu menyendok bubur supaya punya alasan untuk tidak menatapnya.

Ia tidak menggoda lebih jauh. Ia mengetuk layar di nomor tiga. “Seperlunya itu yang nentuin siapa?”

“Situasi.”

“Situasi nggak bisa ditanya. Orang bisa.” Ia menarik laptop sedikit. “Boleh kuubah?”

Aku mengangguk. Ia menghapus kata seperlunya dan mengetik dengan dua jari telunjuk, lambat sekali, sampai aku ingin merebut laptopku kembali.

3. Kontak fisik: tanya dulu. Selalu. Boleh bilang nggak.

“Itu syarat pertamaku kemarin,” katanya. “Biar tertulis.”

Aku menatap kalimat itu lebih lama daripada yang perlu. Dengan Rian dulu, semuanya selalu mengalir begitu saja. Tangan di pinggang saat foto keluarga, rangkulan di depan tante-tante, dan aku tidak pernah memikirkannya karena kami memang bertunangan. Tapi di sini, di bangku bubur, seorang laki-laki yang baru kukenal satu hari mengetik boleh bilang nggak dengan dua jari, dan dadaku terasa aneh. Bukan berdebar. Lebih seperti ada jendela yang dibuka di ruangan pengap.

“Nomor empat,” lanjutnya. “Tantemu bahas ‘yang kemarin’ di depan kasirku. Kalau ada yang nanya, aku jawab apa?”

Aku bisa saja menjawab itu bukan urusanmu. Tapi empat jam lagi ia akan duduk di meja makan keluargaku, dan aku manajer proyek. Aku tahu apa jadinya kalau tim tidak dibekali informasi.

“Namanya Rian. Kami tunangan. Batal setahun lalu, tiga bulan sebelum tanggal nikah.” Aku mengatakannya seperti membaca laporan. “Baik-baik. Dia sadar dia nggak mau lanjut, dan dia jujur. Nggak ada yang selingkuh. Nggak ada yang jahat.”

“Terus kenapa kamu harus pura-pura punya pacar?”

“Karena semua orang mikir aku masih patah hati, dan mereka berusaha nyembuhin aku pakai dokter gigi.”

“Itu alasan buat Tante Wulan,” katanya pelan. “Bukan buat kamu.”

Buburku sudah dingin. Aku terus mengaduknya.

Alasannya sebenarnya sederhana, dan justru karena sederhana aku tidak pernah bisa mengucapkannya. Setelah Rian pergi, ibuku masih memasak sambal terasi kesukaannya setiap Minggu selama sebulan. Buat jaga-jaga, katanya. Setiap Minggu ia bertanya, Rian nggak ikut, Din?, dan setiap Minggu aku menjawab dengan kalimat yang sedikit berbeda, sampai suatu hari ia tidak bertanya lagi dan diam-diam berhenti membuat sambal itu. Aku tidak pernah melihat ibuku menangis karenanya. Aku hanya melihat cobek itu dicuci, lalu disimpan di rak paling atas.

Aku tidak ingin ada cobek lain.

“Nggak usah dijawab sekarang,” kata Erga.

Aku mendongak. Ia sedang membuka plastik kerupuk, tidak menatapku, seolah memberiku ruang untuk tidak ditonton.

“Kok?”

“Muka kamu lagi ngitung,” katanya. “Kalau dijawab sekarang, jawabannya pasti versi rapat.”

Aku tertawa. Tidak sengaja, dan agak terlalu keras. Penjual bubur melirik kami dengan senyum orang yang sudah melihat terlalu banyak pasangan pagi-pagi.

“Oke,” kataku cepat, sebelum wajahku melakukan hal lain. “Nomor satu. Kalau ditanya siapa yang ngajak jalan duluan?”

“Kamu.”

“Kamu. Kamu yang balik ambil payung.”

“Kamu yang nyimpen payungnya di bawah mejamu sampai aku datang. Itu namanya jebakan.”

“Itu namanya nggak tahu harus ditaruh di mana!”

“Neng,” sela penjual bubur tanpa menoleh dari pancinya, “biasanya yang ngajak duluan itu yang bayarin.”

Kami berdua diam. Lalu, bersamaan, kami saling menunjuk.

“Oke,” kata Erga. “Versi resmi: kita lupa. Kalau ditanya, saling tunjuk. Kelihatan kayak pasangan yang udah capek berantem soal itu.”

Itu ide yang bagus. Aku tidak mengatakannya.

Ia lalu duduk tegak, meraih mangkuk buburku yang dingin, dan dengan suara yang tiba-tiba berat dan penuh perasaan seperti pemeran sinetron jam tujuh malam, berkata, “Sayang. Buburmu diaduk atau nggak? Aku harus tahu. Aku harus tahu semua tentang kamu.”

“Kamu kebanyakan akting,” kataku.

“Oke. Itu satu.”

“Satu apa?”

“Tiap kamu bilang aku kebanyakan akting, aku boleh minta satu hal.” Ia mengembalikan mangkukku. “Tambahin di protokol. Nomor enam.”

“Nggak ada pasal kayak gitu.”

“Makanya ditambahin.”

Aku tidak tahu kenapa aku mengetiknya. Mungkin karena sudah hampir jam delapan dan aku lelah berdebat. Mungkin karena ia membuatku tertawa dua kali sebelum jam delapan, dan itu rekor dalam setahun terakhir.

6. Setiap N bilang “kamu kebanyakan akting”, E boleh minta satu hal (yang wajar).

“Terus sekarang kamu minta apa?”

“Kusimpan dulu.” Ia tersenyum, dan senyum itu entah kenapa tidak terlihat seperti orang menang. “Nanti aja, pas aku beneran butuh.”

Aku menutup laptop. Masih ada satu hal yang harus kami latih, dan aku sudah menundanya sejak jam dua pagi.

“Nanti di rumah, mungkin ada saat kita harus pegangan tangan. Biar natural.” Aku berdeham. “Latihan sekali.”

Ia tidak langsung meraih tanganku. Ia bertanya dulu. “Boleh?”

“Boleh.”

Lalu ia meletakkan tangannya di meja lipat itu, telapak menghadap ke atas, di antara mangkuk bubur dan kotak kue retak. Dan ia menunggu.

Ia menyerahkan keputusan itu kepadaku. Sepenuhnya.

Aku menaruh tanganku di atasnya. Telapaknya hangat dan kasar di beberapa tempat. Ada bekas luka bakar kecil di pergelangan kirinya, bentuknya seperti tanda koma. Jarinya menutup perlahan, tidak mencengkeram, seolah memberiku waktu kalau aku ingin menarik diri.

Aku tidak menarik diri. Justru itu yang membuatku takut.

“Natural?” tanyanya.

“Kaku,” kataku. “Kayak pegang gagang pintu.”

“Nanti kita latih lagi.”

Ponselku bergetar di meja. Ibu. Kali ini aku mengangkatnya.

“Din! Suruh pacarmu datang jam sembilan, ya. Jangan jam sebelas. Ibu mau kenalan dulu sebelum Bapak pulang dari rumah Om Hari. Terus tanyain, dia suka makan apa? Ibu udah beli ayam kampung dua ekor—”

“Bu, dia nggak usah—”

“Tanyain!”

Aku menjauhkan ponsel dan menatap Erga. Tangannya masih di bawah tanganku. Aku lupa melepaskannya.

“Ibuku nanya,” kataku pelan, “kamu suka makan apa.”

Ia berpikir sebentar, dan aku melihat sesuatu lewat di matanya, sesuatu yang tidak kukenal, cepat sekali.

“Apa aja,” katanya, “yang dimasak orang yang nungguin aku datang.”

Aku menyampaikan itu kepada ibuku dengan kata-kata yang lebih sederhana. Ibuku tertawa senang di ujung telepon, dan dari suaranya saja aku tahu dua ekor ayam kampung itu akan dimasak dengan seluruh hatinya.

Itulah masalahnya. Ibuku selalu menunggu.