Chapter Twelve

Hari ketika Ibu Menyebut Rumah

POV: Erga

Aku datang ke acara kelima dengan satu rencana: jaga jarak.

Bukan dari keluarga Prakoso. Itu sudah terlambat. Tapi dari Nadine, dari perasaan yang makin sulit kuberi nama sejak celemek hijau itu kugantung di gudang. Rencananya, aku akan fokus ke bika ambon percobaan keempat bersama Ratih, makan secukupnya, pulang tepat waktu, dan tidak memandangi Nadine lebih lama daripada yang dibutuhkan seorang pacar pura-pura.

Rencana itu bertahan sampai aku melangkah masuk ke ruang makan.

Di meja, di tempat yang sudah tiga kali kududuki, di sebelah kursi Nadine, cangkir blirik hijau itu sudah menunggu. Bukan di dapur, bukan di lemari. Di meja, dengan tatakan, berisi kopi robusta yang masih mengepul. Seolah ada yang menghitung waktu kedatanganku dan menyeduhnya tepat lima menit sebelumnya.

Hendra duduk di kursinya, membaca koran, dengan cangkir gompal di tangan. Ia tidak menjelaskan apa-apa. Ia hanya menurunkan koran lima senti ketika aku duduk, mengangguk sekali, lalu menaikkannya lagi.

Aku memegang cangkir itu dengan dua tangan. Rencanaku mulai retak.


Bika percobaan keempat adalah yang terbaik sejauh ini. Sarangnya naik sampai separuh tinggi kue, rapat dan memanjang seperti akar pohon yang tumbuh ke atas. Bagian atasnya masih sedikit bantat, tapi Ratih memotongnya dengan tangan gemetar dan memotretnya dari tujuh sudut.

“Separuh,” katanya. “Nak Erga, separuh.”

“Minggu depan tiga perempat, Bu.”

“Minggu depan penuh,” katanya, dengan keyakinan orang yang sudah menunggu dua puluh tahun dan tidak mau menunggu lebih lama lagi.

Makan malamnya sederhana, tapi seperti biasa berlebihan. Sayur lodeh, ikan asin yang dibeli Hendra di pasar bersamaku, sambal, tahu goreng, dan kerupuk yang cukup untuk dua RT. Livia bercerita tentang panggilan wawancara pertamanya minggu depan, dengan suara yang pura-pura santai tapi terlalu cepat.

“Mas,” katanya, menunjukku dengan sendok. “Sabtu depan latih aku, ya. Jadi HRD paling galak sedunia.”

“Kakak bisa latih kamu,” kata Nadine.

“Kakak nanti bikin jadwal latihan tiga sesi pakai slide,” jawab Livia. “Aku butuh yang galak, bukan yang presentasi.”

Semua tertawa, termasuk Nadine. Tapi aku duduk di sebelahnya dan melihat senyumnya berhenti setengah jalan, seperti pintu yang tertahan engsel. Ia menunduk ke piringnya dan menggeser toples kerupuk mendekat ke arahku, tanpa bicara, tanpa menoleh. Aku tidak tahu apakah itu untukku atau hanya supaya tangannya punya pekerjaan.

“Boleh,” kataku kepada Livia. “Tapi aku galaknya profesional. Nggak ada diskon buat adik pacar.”

“Siapa juga yang minta diskon.” Hendra bertanya satu hal tentang oven kami, dan ketika aku menjawab panjang, ia mendengarkan sampai habis tanpa menyela.

Di tengah makan, ponselku bergetar. Ibu. Ibuku sendiri, dari Sumedang.

Aku minta izin keluar ke teras.

“Ga? Udah makan belum?”

Selalu itu pertanyaan pertamanya. Dan selama bertahun-tahun jawabanku selalu udah, Bu, bahkan ketika aku sedang berdiri di depan oven jam sebelas malam dengan perut kosong, karena aku tidak ingin ia khawatir.

“Lagi makan, Bu,” kataku. “Sayur lodeh. Banyak.”

“Di mana? Kok rame?”

Aku menoleh ke dalam, lewat jendela. Ratih sedang menyendokkan sayur ke piring Livia yang sudah penuh. Hendra melipat koran. Nadine tertawa pada sesuatu yang dikatakan adiknya, dan kepalanya menoleh sebentar ke arah pintu teras, seperti memeriksa apakah aku masih ada.

“Di rumah temen, Bu,” kataku.

Ibuku lega. Ia bercerita tentang adik bungsuku yang lulus ujian, tentang Bapak yang sakit pinggang tapi masih mengangkat karung, lalu menutup telepon dengan pesan yang sama seperti biasa: Jangan kerja terus. Makan yang bener.

Aku berdiri di teras beberapa detik setelah telepon ditutup. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, jawabanku kepada ibuku bukan kebohongan kecil. Aku memang sedang makan. Banyak. Di meja yang sudah menyediakan cangkir untukku sebelum aku datang.


Jam sembilan malam, piring sudah dicuci, walaupun Ratih melarangku dan Hendra memandangku dengan tatapan itu masalahmu, bukan masalah piring. Livia sudah naik ke kamarnya. Aku mengambil jaket dan bersiap pamit.

Ratih keluar dari dapur membawa tiga wadah plastik bertutup yang ditumpuk tinggi: sisa lodeh, ikan asin, dan separuh loyang bika percobaan keempat.

“Ini bawa,” katanya, menyodorkannya ke dadaku. “Kalau pulang, bungkus sisanya buat kamu. Mulai sekarang begitu, ya. Nggak usah nunggu ditawarin.”

Ia mengatakannya dengan ringan, sambil berbalik untuk mematikan kompor. Ia tidak memikirkan kata itu. Aku tahu ia tidak memikirkannya.

Kalau pulang.

Bukan kalau kamu pergi. Bukan kalau sudah mau balik. Pulang. Seolah rumah kontrakanku di belakang toko adalah tempat singgah, dan dari sini aku hanya pulang ke sana untuk tidur.

Aku berdiri di tengah ruang tengah dengan tiga wadah plastik di tangan dan tidak bisa bergerak.

Aku selalu punya jawaban. Itu keahlianku. Untuk Tante Wulan, untuk Livia, untuk Kak Sari, untuk Mas Dimas, untuk ibuku di telepon. Selalu ada lelucon di saku, siap dipakai ketika suasana terlalu berat. Aku merabanya sekarang, dan sakuku kosong.

“Iya, Bu,” kataku akhirnya. Suaraku tidak terdengar seperti suaraku.

Di dekat rak piring, buku tamu bersampul batik itu terbuka. Ratih pasti mengisinya sebelum aku datang, seperti biasa, supaya tahu masak berapa porsi. Aku membacanya tanpa sengaja. Atau dengan sengaja. Aku sudah tidak yakin.

Makan malam — Bapak, Ibu, Nadine, Livia, Erga.

Tinta hitam. Semuanya tinta hitam, ditulis sekaligus, dalam satu tarikan. Tidak ada Nak. Tidak ada tanda kurung. Tidak ada dua tanda seru.

Namaku bukan lagi tambahan di bawah garis. Namaku ada di dalam daftar, di antara nama-nama yang tidak perlu dijelaskan.

Ada sesuatu yang naik ke tenggorokanku dan tidak bisa kutelan.

Aku merasakan tatapan dari arah meja makan. Nadine masih duduk di sana, memegang gelas teh yang sudah dingin, dan ia sedang memperhatikanku. Ia melihat wajahku saat ibunya bilang pulang. Ia melihatku membaca buku itu. Ia melihat untuk sekali ini aku tidak punya jawaban lucu.

Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan gelasnya dan berdiri.


Beranda rumah itu punya dua kursi rotan dan lampu kuning yang dikerubungi laron. Nadine mengantarku sampai sana, lalu duduk di salah satu kursi, dan aku duduk di kursi lainnya dengan tiga wadah plastik di pangkuan.

Kami tidak bicara lama.

Lalu Nadine yang memecah hening lebih dulu. Suaranya pelan, dan ia tidak menatapku.

“Ibu nggak pernah bilang gitu ke siapa pun,” katanya. “Soal bungkus sisa tanpa nunggu ditawarin. Ke tamu, ke sepupu, ke Tante Wulan juga nggak.” Ia menarik lututnya ke dada. “Termasuk yang dulu.”

Aku menatapnya. Ia masih menatap halaman gelap.

“Kenapa kamu kasih tahu aku?”

“Nggak tahu,” katanya. “Biar kamu tahu aja.”

Aku ingin bertanya apakah itu kabar baik atau peringatan. Aku ingin bertanya apakah ia takut, dan kalau iya, takut untuk siapa: untuk ibunya, untukku, atau untuk dirinya sendiri. Tapi ia sedang memeluk lututnya sendiri seperti anak kecil yang menunggu ayahnya pulang dari pasar, dan aku tidak tega menjadikannya giliran menjawab.

Aku tahu apa yang terjadi di dalam diriku. Aku menginginkan rumah ini. Bukan hanya Nadine. Rumah ini. Cangkir hijau yang sudah menunggu. Bika yang naik separuh. Buku tamu dengan namaku bertinta hitam. Seorang ibu yang menyuruhku membungkus sisa makanan karena aku akan pulang.

Dan semua itu punya tanggal. Nomor delapan. Lima minggu lagi.

“Nadine.”

“Hm?”

Aku menatap laron yang terus menabrak lampu. Terus-menerus, tanpa belajar.

“Setelah delapan acara,” kataku, “kita masih boleh ketemu?”