Chapter Nineteen

Resep yang Akhirnya Berhasil

POV: Nadine

Aku membuat satu aturan untuk hari Sabtu itu, dan aku tidak menuliskannya di mana pun: hari ini, tidak ada yang membicarakan akhir.

Tidak ada nomor delapan. Tidak ada kontrak. Tidak ada transfer yang dikembalikan atau kalimat setelah acara nomor delapan. Hanya persiapan pesta ulang tahun pernikahan ketiga puluh orang tuaku, acara nomor tujuh, dan satu loyang bika ambon yang ibuku bersumpah akan naik penuh.

Aku datang jam tujuh pagi dan rumah sudah seperti gudang pesta. Kardus berisi taplak kuning gading. Seratus dua puluh suvenir tempat lilin kecil yang harus diikat pita satu per satu. Livia di ruang tengah dengan gunting dan kertas karton, menulis nama-nama tamu untuk kartu meja. Ayahku di halaman belakang mengukur tempat tenda dengan meteran kain milik ibuku, karena meteran besinya hilang sejak tahun lalu.

Dan Erga di dapur, sudah memakai celemek ayam, sedang memeras santan bersama ibuku.

Ia menoleh ketika aku masuk. Tersenyum. Senyum biasa, senyum Sabtu pagi, seolah Kamis malam tidak pernah terjadi. Aku membalasnya dengan senyum yang sama. Kami berdua pandai dalam hal ini. Terlalu pandai.

“Juri datang,” kata ibuku. “Duduk, Din. Hari ini kamu nggak boleh pegang apa-apa. Kamu cuma boleh komentar.”

“Itu kan memang keahlianku.”

“Makanya.”


Mereka bekerja seperti dua orang yang sudah melakukannya bertahun-tahun.

Ibuku menakar, Erga mengaduk. Ibuku mencicipi, Erga menambahkan. Tidak banyak bicara, hanya potongan-potongan kalimat. Santannya kurang kental, Bu. Gulanya segini, Nak? Sedikit lagi. Ibuku mengikat simpul dari dua lembar daun pandan dan memasukkannya ke panci santan, sesuatu yang tidak ada di kertas resep Ibu Sumi, dan Erga menatapnya.

“Itu apa, Bu?”

“Pandan diikat. Ibu saya dulu begitu. Saya baru ingat minggu lalu.” Ibuku tersenyum kecil. “Tiba-tiba ingat. Dia ikat pandan sambil nyanyi.”

“Nyanyi apa?”

“Lupa. Tapi dia nyanyi.”

Erga tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk, lalu mengambil pulpen dari saku celemek dan menulis sesuatu di selembar kartu kecil. Aku memperhatikannya. Aku tidak bisa membaca tulisannya dari tempatku duduk, tapi aku melihatnya menulis pelan-pelan, rapi, seperti orang yang menyalin sesuatu yang penting.

Adonan didiamkan tiga jam. Ibuku tidak mengintipnya sekali pun. Aku tahu karena aku mengawasinya, dan setiap kali tangannya bergerak ke arah serbet penutup, Erga berdeham pelan dan tangannya kembali ke pangkuan.

Sambil menunggu, aku menjadi juri paling cerewet dalam sejarah bika ambon.

“Cara kamu ngaduk kayak lagi ngayuh perahu.”

“Itu teknik.”

“Itu drama.”

“Ibu, anak Ibu ngeganggu.”

“Nadine,” tegur ibuku, tapi ia tertawa. “Juri nggak boleh ngeganggu tim.”

“Juri boleh ngeganggu kalau timnya lelet.”

Erga menjentikkan tepung ke hidungku. Aku menjentikkan gula ke rambutnya. Ibuku berteriak soal lantai. Ayahku muncul di pintu dapur dengan meteran kain di leher, melihat kami bertiga penuh tepung dan gula, dan berkata, “Hm,” dengan cara yang terdengar hampir seperti tawa.

Aku tidak membicarakan akhir. Tidak sekali pun. Aku terlalu sibuk.


Bika itu masuk oven jam dua belas. Api kecil, dari bawah saja. Pintu oven tidak dibuka sama sekali.

Kami duduk di meja makan menunggunya. Ibuku memegang tangan Erga di satu sisi dan tanganku di sisi lain, seperti keluarga di ruang tunggu rumah sakit. Livia datang dari ruang tengah dan duduk di sebelah Erga. Ayahku berdiri di ambang pintu, pura-pura masih memegang meteran.

Jam satu lewat empat puluh, Erga berdiri. “Sekarang, Bu.”

Ibuku berdiri dengan kaki gemetar. Ia membuka pintu oven. Mengeluarkan loyang dengan sarung tangan bergambar bunga matahari. Meletakkannya di atas meja.

Permukaannya cokelat keemasan. Rata. Harum pandan dan santan memenuhi dapur.

Ibuku mengambil pisau. Tangannya bergetar begitu keras sampai Erga harus memegangi pergelangannya, pelan, untuk menstabilkannya. Mereka memotong bersama. Satu irisan. Pisau ditarik.

Ibuku mengangkat irisan pertama dan membaliknya.

Sarang.

Dari dasar sampai ke puncak. Rapat, memanjang, berongga, kuning seperti madu yang membeku. Penuh. Tidak ada bagian bantat. Tidak ada setengah. Tidak ada tiga perempat.

Penuh.

Tidak ada yang bicara selama tiga detik.

Lalu ibuku menjerit. Jeritan yang belum pernah kudengar sejak aku kecil, jeritan orang yang memenangkan sesuatu yang ia kira mustahil. Ia memeluk Erga. Ia memelukku. Ia memeluk Livia. Ia memeluk ayahku, yang tertangkap basah di ambang pintu dan tidak sempat kabur, dan ayahku, Hendra Prakoso yang tidak pernah berekspresi, bertepuk tangan. Dua kali. Keras.

Livia melompat-lompat dan berteriak seperti di stadion. Aku berteriak juga. Aku tidak tahu kapan terakhir kali aku berteriak karena bahagia.

“Dua puluh tahun,” kata ibuku, menangis dan tertawa sekaligus, memegangi irisan bika itu seperti memegangi sesuatu yang hidup. “Dua puluh tahun, Ibu. Dua puluh tahun.” Ia menatap langit-langit dapur. “Ibu lihat? Aku udah lihat. Aku udah lihat caranya.”

Erga berdiri di sebelahnya. Ia tidak berteriak. Ia tidak memeluk siapa pun. Ia hanya berdiri dengan tangan di saku celemek dan menatap ibuku, dan matanya basah, dan ia tersenyum dengan cara yang membuat dadaku sakit.

Itu senyum orang yang sedang melihat sesuatu yang indah dan sudah tahu ia harus melepaskannya.

Aku tidak tahu kenapa aku berpikir begitu. Aku menepisnya.


Kami makan bika itu bersama-sama di meja makan, dengan tangan, tanpa piring, seperti anak-anak. Ayahku mengambil potongan ketiga. Livia memotret setiap irisan dari tujuh sudut untuk grup keluarga.

“Tahun depan kita bikin buat ulang tahun Eyang,” kata ibuku. “Delapan puluh dua. Pakai dua loyang.”

“Terus buat wisuda S2-ku,” kata Livia.

“Kamu nggak S2.”

“Belum. Makanya tahun depan-depan.” Livia menyenggol Erga. “Terus nanti Mas Erga bikin kue kawinan—”

Ia berhenti. Menutup mulutnya. Menatapku.

Tidak ada yang melanjutkan kalimat itu.

Tapi aku sudah melihatnya. Selama tiga detik yang dibiarkan menggantung, aku melihatnya dengan sangat jelas: Minggu pagi, bertahun-tahun dari sekarang. Dapur ini. Ibuku yang rambutnya sudah putih semua, masih menakar santan. Erga di sebelahnya dengan celemek ayam. Ayahku membaca koran dengan cangkir gompal dan cangkir hijau yang utuh di sebelahnya. Livia datang dengan berita kerja. Eyang menagih lapis pinggir. Dan aku di meja ini, masih menjadi juri paling cerewet.

Aku menginginkannya. Aku menginginkannya dengan cara yang membuat tanganku gemetar.

Dan justru karena aku menginginkannya, karena masa depan itu tiba-tiba terasa mungkin, karena aku bisa melihat warnanya, ketakutanku naik ke tenggorokan seperti air pasang.

Karena sesuatu yang mungkin juga bisa hilang. Dan semakin jelas aku bisa melihatnya, semakin jelas aku bisa membayangkan kehilangannya.

Aku menunduk ke bika di tanganku. Sarangnya penuh. Aku tidak bisa menelannya.


Jam empat sore, Erga pamit lebih dulu karena ada pesanan di toko. Ibuku membungkuskan separuh loyang untuknya tanpa bertanya. Kalau pulang, bungkus sisanya.

Setelah ia pergi, aku menemukan kartu kecil di meja dekat rak piring, terselip di bawah buku tamu ibuku. Tulisan tangan Erga. Aku tidak membacanya. Aku hanya melihat judulnya, Bika Ibu Ratih, dan meletakkannya kembali di tempat yang sama. Aku kira ia lupa membawanya.

Aku kembali ke ruang tengah untuk membantu Livia dengan kartu meja.

Livia sedang mengaduk-aduk map plastik biru di pangkuannya. Mapku. Map yang kuberi label PROYEK: Pesta 30 Tahun, berisi daftar vendor, anggaran, jadwal, denah meja. Aku menyerahkannya kepadanya tadi pagi supaya ia bisa mencari kontak tukang tenda.

“Kak,” katanya.

Suaranya aneh. Datar. Tidak seperti Livia.

Ia mengangkat selembar kertas dari dalam map. Kertas kuitansi, dengan meterai di pojoknya. Aku mengenalinya sebelum ia membacakannya. Aku yang mencetaknya. Aku yang memasukkannya ke map itu, karena aku manajer proyek, dan manajer proyek menyimpan semua dokumen dalam satu map.

Telah terima dari Nadine Valencia Prakoso,“ baca Livia pelan, “uang sebesar enam juta rupiah. Untuk pembayaran: honor pendampingan acara keluarga, termin satu dari dua.

Ia mengangkat wajah. Di pojok kanan bawah kuitansi itu, di atas meterai, ada tanda tangan yang kukenal. Tanda tangan yang sama dengan yang ada di kartu resep bika ambon di dapur.

“Kak,” kata Livia. “Ini apa?”