Chapter Twenty Six
Celemek Tanpa Nama
POV: Nadine
Aku tidak datang minggu itu.
Aku juga tidak datang minggu berikutnya.
Aku bilang kepada diriku sendiri itu karena proyek kantor sedang padat. Kantor pengacara di Jalan Riau, tiga lantai, klien yang mengganti warna dinding lobi empat kali. Dita sampai membuat grafik perubahan warna dan menempelnya di dinding pantri dengan judul Evolusi Keraguan Manusia.
Itu tidak benar. Proyek itu memang padat, tapi aku pernah menyelesaikan tiga proyek sepadat itu sambil mengurus pembatalan pernikahan.
Aku tidak datang karena aku takut. Takut barang itu sesuatu yang akan membuatku tidak bisa bernapas lagi. Takut barang itu justru sesuatu yang biasa saja, dan aku akan kecewa.
Dan karena, di minggu-minggu itu, aku sedang melakukan hal yang tidak ingin kuakui kepada siapa pun.
Aku mencarinya.
Aku tidak mencarinya secara terang-terangan. Aku lebih licik dari itu. Aku manajer proyek.
Aku mengirim pesan kepada Uci, yang nomornya kudapat dari grup pesanan kotak kue minggu kelima. Ci, Mbak cuma mau tahu, Mas Erga di kota mana? Uci membalas dua jam kemudian: Maaf Mbak 🙏 Mas Erga minta nggak dikasih tahu. Tapi Mas Erga sehat kok Mbak. Kemarin video call sama Mas Nino, pipinya udah gendutan.
Aku menatap pipinya udah gendutan selama lima menit dan tidak tahu harus merasa apa.
Aku membuka Instagram Remah Pagi dan menggulir daftar pengikutnya satu per satu, mencari nama belakang Pratama. Aku menemukan dua. Salah satunya perempuan berkerudung dengan foto profil toko bahan kue di pasar Sumedang. Adiknya. Pasti adiknya.
Aku mengetik pesan langsung kepadanya. Halo, maaf mengganggu, saya teman Mas Erga dari Bandung... Aku menulisnya panjang, sopan, penuh alasan yang terdengar masuk akal. Aku tidak mengirimnya. Aku menyimpannya sebagai draf.
Aku membuka jadwal kereta dari Bandung ke kota-kota yang punya toko roti besar. Surabaya. Semarang. Malang. Yogyakarta. Solo. Aku menghitung jarak. Aku menghitung waktu tempuh. Aku membuat tabel di laptop, dengan kolom kemungkinan yang kuisi berdasarkan firasat, dan aku tahu itu konyol, dan aku tetap membuatnya.
Pada minggu keempat, sebulan setelah Erga pergi, aku menatap tabel itu di jam dua pagi dan menyadari aku sedang menyusun rencana proyek untuk menemukan seseorang yang secara spesifik memintaku untuk tidak mencarinya.
Aku menutup laptop. Aku tidak menghapus tabel itu. Tapi aku menutupnya.
Sabtu sore, aku menyetir ke Remah Pagi.
Toko itu tidak berubah. Itu hal pertama yang membuatku ingin menangis.
Etalase dengan kaca retak di pojok kiri. Papan tulis dengan daftar pesanan. Lampu kuning yang dulu kubilang salah, karena membuat kue terlihat seperti kemarin. Dan kursi di pojok, masih menghadap jendela.
Uci melihatku masuk dan langsung merapikan poni, lalu langsung berhenti merapikan poni, seperti baru ingat bahwa orang yang biasa membuatnya merapikan poni tidak ada di sini untuk melihatnya.
Nino di balik meja kasir. Ia tidak berkata pesanan atas nama siapa. Ia hanya mengangguk, masuk ke gudang, dan keluar membawa kantong plastik.
Ia meletakkannya di meja kasir di depanku.
Aku tahu isinya sebelum membukanya. Kanvas hijau lumut, terlipat rapi seperti kotak kue yang sempurna. Noda cokelat di bagian dada yang masih terlihat dari balik plastik.
“Dia gantung ini di sebelah punyanya,” kata Nino. “Dari malam kalian lembur lima ratus kotak. Nggak pernah dipindah. Nggak pernah dicuci. Uci pernah mau nyuci, dia marah.”
“Aku nggak marah,” kata Uci dari etalase. “Tapi aku sempat takut.”
“Malam pesta,” lanjut Nino, “dia lepas dari gantungannya. Dia lipat. Dia bilang, kalau Nadine datang, kasih ini. Kalau nggak, simpan di rak atas. Jangan dicuci.“
Jangan dicuci. Aku memegangi kantong plastik itu dengan dua tangan.
Lalu aku melakukan hal yang sudah kurencanakan sepanjang jalan. Hal yang kubenci diriku sendiri karena merencanakannya.
“Nino.” Aku mengangkat wajah. “Aku cuma mau nanya sekali. Sekali aja, terus aku nggak akan nanya lagi. Dia di mana?”
Nino menatapku lama.
Ia tidak marah. Ia tidak dingin. Ia tidak mengusirku. Ia hanya menarik kursi dari balik meja kasir, mendudukkannya di depan kursi pojok, dan berkata, “Duduk dulu, Mbak.”
Aku duduk di kursi pojok. Menghadap jendela. Dengan celemek di pangkuan.
Nino duduk di depanku. Ia mengeluarkan selembar kertas dari laci meja kasir, kertas yang sudah lecek karena sering dibuka, dan meletakkannya di meja di antara kami.
Serah terima Remah Pagi. Empat puluh dua poin. Tulisan tangan Erga.
“Aku nggak akan bilang dia di mana,” kata Nino. “Aku janji ke dia. Dan jujur, Mbak, kalau aku bilang, Mbak bakal ke sana. Aku tahu Mbak bakal ke sana.”
Aku tidak membantah. Ia benar.
“Tapi aku mau Mbak baca ini,” katanya. “Biar Mbak tahu dia pergi kayak gimana.”
Aku membacanya.
Jadwal pemasok telur. Kata sandi rekening, yang sudah ditutupi Nino dengan jempolnya. Pelanggan yang suka bayar telat. Bu Endah — roti sobek tanpa kismis, anaknya alergi. Kantor notaris — kue kering tiap tanggal 25, jangan lupa, mereka pelanggan pertama kita. Cara menenangkan panel kontrol oven dengan menepuk sisi kirinya dua kali.
Poin tujuh. Uci naik gaji bulan depan, sudah kuhitung, uangnya cukup.
Aku menoleh ke Uci. Uci mengangguk dari balik etalase, dengan mata yang tiba-tiba basah. “Udah naik, Mbak. Bulan ini.”
Poin empat puluh dua. Kalau capek, tutup satu hari. Tokonya nggak akan kabur.
Aku menurunkan kertas itu.
“Dia nggak kabur,” kata Nino pelan. “Aku sempat bilang dia kabur. Dia jawab, orang kabur nggak ninggalin daftar empat puluh dua poin.” Ia mengetuk kertas itu. “Dia beresin semuanya dulu. Pelanggannya. Pemasoknya. Gaji Uci. Aku. Semua orang dia pikirin sebelum dia pergi. Kayak biasa.”
Aku menatap tulisan tangan itu. Rapi. Pelan-pelan. Sama seperti kartu resep di pintu lemari ibuku.
Dan aku menyadari sesuatu yang membuatku malu sampai ke tulang.
Selama sebulan, aku mencari lokasinya. Aku menyusun tabel. Aku mengirim pesan kepada Uci. Aku menulis draf kepada adiknya. Aku bilang kepada diriku sendiri bahwa aku hanya ingin tahu ia aman.
Tapi aku sudah tahu ia aman. Nino sudah bilang. Uci sudah bilang. Pipinya gendutan. Ia makan.
Yang sebenarnya aku inginkan bukan tahu ia aman. Aku ingin tahu di mana ia, supaya aku bisa datang dan memintanya pulang. Supaya aku bisa memberinya jawaban yang tidak ia minta, di waktu yang tidak ia pilih, dengan kepanikan yang sudah ia tolak di telepon malam itu. Jawaban yang keluar karena aku pergi bukan jawaban yang aku tunggu.
Aku sedang melakukan hal yang sama lagi. Mengubah perasaan menjadi proyek. Mencari cara memperbaiki sesuatu dengan kendali, karena aku tidak tahu cara lain.
Ia menata semua orang sebelum pergi, supaya tidak ada yang kesulitan. Dan satu-satunya hal yang ia minta dariku adalah ruang. Dan aku bahkan tidak bisa memberinya itu.
“Mbak?” tanya Nino.
Aku mengeluarkan ponsel. Aku membuka Instagram. Aku membuka draf pesan untuk adik Erga, yang panjang, sopan, dan penuh alasan yang terdengar masuk akal.
Aku menghapusnya. Di depan Nino.
Lalu aku membuka laptop dari tasku, membuka tabel dengan kolom kemungkinan, dan menghapusnya juga. Satu klik. Anda yakin ingin menghapus file ini? Ya.
Nino memperhatikanku tanpa berkata apa-apa.
“Aku nggak akan nanya lagi,” kataku. “Ke kamu. Ke Uci. Ke siapa pun.” Aku menarik napas. “Aku cuma mau dia baik-baik aja. Beneran cuma itu. Bukan biar dia pulang.”
Aku tidak tahu apakah itu benar sepenuhnya. Tapi aku ingin itu benar. Dan untuk pertama kalinya, aku ingin sesuatu tentang Erga tanpa menjadikannya rencana.
Nino mengangguk. Lalu ia berdiri, pergi ke etalase, dan kembali dengan piring kecil berisi sepotong brownies.
Dari bagian tengah loyang. Yang paling lembut.
“Dari rumah,” katanya. “Maksudku, dari toko. Gratis.”
Aku menatap potongan itu. Lalu aku menatap etalase. Di loyang yang sudah dipotong-potong, ada satu bagian pinggir yang bentuknya jelek, sudutnya sedikit gosong.
“Aku mau yang pinggir,” kataku.
Nino menatapku. Lalu ia tersenyum, senyum pertamanya kepadaku sejak hari aku membawa map biru ke toko ini, dan mengganti potongannya tanpa bertanya kenapa.
Aku memakannya sampai habis. Bahkan remahnya.
Aku membuka celemek itu di rumah, di kamar lamaku, dengan bintang-bintang plastik di langit-langit yang tinggal separuh menyala.
Kanvas hijau lumut. Noda cokelat di dada. Tepung yang masih menempel di lutut, sudah mengeras. Aku mengangkatnya ke wajahku. Baunya masih bau toko: vanili, mentega, dan sesuatu yang lain, yang kukenal dari jaket kebesaran di pinggir Jalan Dipatiukur.
Tidak ada nama di mana pun. Aku mencari. Di dada, di tali, di pinggir kain. Tidak ada bordir. Tidak ada label. Uci pernah menawarkan diri. Erga menolak. Aku masih ingat caranya menjawab, terlalu cepat: Nggak usah.
Aku baru mengerti kenapa sekarang.
Aku melipatnya kembali. Tanganku menyentuh saku depan. Ada sesuatu di dalamnya. Kaku. Tipis.
Selembar kertas, dilipat dua kali.
Aku mengeluarkannya. Kertas bergaris, sobekan dari buku catatan kecil. Pinggirnya bergerigi. Ada bekas selotip di dua sudut atasnya, seperti pernah ditempel di dinding.
Aku membukanya.
Tulisan tangan Erga. Bukan resep. Bukan pesanan. Daftar nama.
Baris pertama:
Nadine — bolu pandan keju. Nggak suka ditanya soal “yang kemarin”.
- 1 Pacar yang Datang Bersama Kotak Kue
- 2 Aturan Pertama: Jangan Jatuh Cinta
- 3 Kursi di Sebelah Nadine
- 4 Di Luar Jadwal
- 5 Kue Ulang Tahun yang Terlalu Jujur
- 6 Potongan yang Bentuknya Jelek
- 7 Resep yang Selalu Gagal
- 8 Hal yang Tidak Masuk Kontrak
- 9 Kencan yang Tidak Dihitung
- 10 Pertanyaan Sepupu yang Salah Alamat
- 11 Celemek Cadangan
- 12 Hari ketika Ibu Menyebut Rumah
- 13 Jawaban yang Ditunda
- 14 Delapan Pertanyaan untuk Livia
- 15 Jangan Janji untuk Semua Orang
- 16 Foto yang Harus Kita Simpan
- 17 Aku Suka Kamu Tanpa Jadwal
- 18 Bonus yang Tidak Bisa Kuterima
- 19 Resep yang Akhirnya Berhasil
- 20 Kebenaran di Meja yang Sama
- 21 Undangan yang Tidak Kukirim
- 22 Kue untuk Pesta yang Tidak Kuhadiri
- 23 Aku Pergi Dulu
- 24 Satu Cangkir Terlalu Banyak
- 25 Kue yang Jadi Saat Orangnya Tidak Ada
- 26 Celemek Tanpa Nama reading
- 27 Yang Dia Ingat Tentang Kita
- 28 Aku yang Membawanya Masuk
- 29 Kabar Pertama yang Tidak Bisa Kukirim
- 30 Hari Tanpa Peran
- 31 Nama yang Muncul Lagi
- 32 Kalau Kamu Mau Dengar
- 33 Kencan Pertama yang Kedua
- 34 Aku Tidak Perlu Membayar Tempatku
- 35 Tamu yang Boleh Menolak
- 36 Namaku Ada di Sini