Chapter Thirty Three
Kencan Pertama yang Kedua
POV: Nadine
Warung burjo itu ternyata lebih parah dari ulasannya.
Lampu neonnya tidak hanya berkedip. Salah satu tabungnya berdengung dengan frekuensi yang membuat gigiku ngilu. Televisi di pojok memutar sinetron azab berjudul Tukang Parkir Durhaka Dikubur Bersama Motornya, dengan volume yang cukup untuk didengar dari ujung gang. Dan kucing oren yang tidur di kursi pelanggan ternyata bukan tidur di kursi. Ia tidur di meja.
Di meja yang kupilih.
“Namanya Pak RT,” kata penjaga warung, mahasiswa berkaus band yang tidak berhenti menatap ponselnya. “Jangan dipindah, Mbak. Dia yang punya warung. Kami cuma karyawan.”
Aku berdiri di depan meja itu, menatap Pak RT. Pak RT membuka satu mata, menatapku, lalu menutupnya lagi dengan wajah bosan yang sangat mirip dengan wajah ayahku di balik koran.
Aku datang jam tujuh kurang dua puluh. Aku sudah menunggu dua puluh menit. Dan sekarang aku harus memilih meja lain, karena meja rencanaku sudah diambil kucing.
Pintu warung berbunyi. Erga masuk.
Ia memakai kaus hitam biasa dan sandal jepit. Rambutnya masih basah, seperti baru mandi. Ia melihatku berdiri di depan meja Pak RT, lalu melihat Pak RT, lalu melihat televisi yang sedang menayangkan adegan tukang parkir menangis di atas motor.
“Wah,” katanya. “Kamu beneran riset.”
“Bintang tiga koma dua,” kataku. “Aku nggak bohong.”
Kami duduk di meja sebelah Pak RT. Mejanya lengket. Kursinya plastik biru, seperti bangku bubur. Aku tidak berkomentar tentang itu, dan ia juga tidak, tapi aku melihatnya menyentuh pinggir kursi itu sebentar dengan jarinya, seperti memastikan sesuatu.
Penjaga warung datang dengan buku menu yang sampulnya sudah lepas.
Aku memesan indomie rebus telur dan es teh manis. Lalu aku menoleh kepada Erga, dan aku sadar aku tidak tahu harus memesan apa untuknya.
Enam bulan lalu, aku akan tahu. Atau aku akan pura-pura tahu, dan memesan sesuatu yang kuanggap ia suka, dan ia akan memakannya karena ia selalu memakan apa pun yang dimasak orang yang menunggunya. Tapi aku tidak tahu apa yang ia makan di Yogyakarta. Aku tidak tahu apa yang ia suka sekarang.
Jadi aku bertanya. “Kamu mau apa?”
“Magelangan,” katanya kepada penjaga warung. “Pedas. Sama es teh tawar.”
Aku menatapnya. “Tawar?”
“Tawar.”
“Kamu dulu minum teh manis.”
“Dulu aku nggak tahu aku suka yang tawar.” Ia tersenyum sedikit. “Mbak Tari yang ngenalin. Katanya orang yang tiap hari nyium gula harus punya satu hal yang nggak manis.”
“Siapa Mbak Tari?”
Dan ia mulai bercerita.
Aku tidak tahu ada begitu banyak orang dalam hidupnya sekarang.
Mbak Tari, pembuat pastri dengan lidah setajam pisau roti, yang mengisi piring dua kali tanpa bertanya. Gilang, dua puluh satu tahun, yang memanggil semua orang Suhu dan bermimpi punya toko roti di Klaten. Pak Harno, yang bisa membaca ragi tape dari baunya dan tidak pernah bosan ditanya. Bu Sekar, yang menilai roti dengan mata tertutup dan pernah memberi nilai lima kepada roti Erga dengan komentar ini roti atau batu bata?
Ia menceritakan roti ragi tape yang gagal empat belas kali. Tentang garis-garis kapur di dinding dapur. Tentang Mbak Tari yang bilang adonan ragi tape seperti orang Jogja, tidak suka ditunggui. Tentang Pasar Roti Lawas, seminggu lalu, di mana tiga ratus potong roti ragi tape habis dalam dua jam, dan seorang ibu-ibu dari Solo menangis karena rasanya mengingatkannya pada roti yang dibuat neneknya.
Aku mendengarkan.
Itu lebih sulit dari yang kubayangkan. Setiap beberapa kalimat, ada sesuatu di kepalaku yang ingin menyambungkan ceritanya dengan kami. Ketika ia bercerita tentang Mbak Tari yang mengisi piringnya dua kali, aku ingin berkata Ibu juga begitu. Ketika ia bercerita tentang Pak Harno yang tidak pernah bosan ditanya, aku ingin berkata Bapak cerita soal masinis. Ketika ia bercerita tentang ibu-ibu dari Solo yang menangis, aku ingin berkata Ibu juga nangis waktu bikanya naik sendiri.
Aku tidak mengatakan satu pun dari itu.
Ini bukan cerita tentang kami. Ini cerita tentang dia. Tentang enam bulan yang ia jalani tanpa aku, tanpa rumah di ujung gang, tanpa cangkir hijau. Enam bulan yang bukan sekadar menunggu. Dan kalau aku terus menarik ceritanya kembali ke Bandung, aku sedang berkata kepadanya bahwa hidupnya di sini hanya penting sejauh terhubung denganku.
Jadi aku bertanya hal lain.
“Ragi tape itu gimana cara kerjanya?”
Ia berhenti. Menatapku. Seperti tidak yakin aku benar-benar ingin tahu.
“Serius?”
“Serius. Aku nggak ngerti kenapa singkong bisa bikin roti naik.”
Dan ia menjelaskannya. Lama. Dengan tangan bergerak-gerak di udara, menggambar gelembung dan fermentasi dan gula yang dimakan ragi. Aku tidak mengerti separuhnya. Tapi aku melihat wajahnya ketika ia menjelaskan, dan aku belum pernah melihat wajah itu di Bandung.
Di Bandung, wajahnya selalu setengah menghadap ke orang lain. Memeriksa apakah ibuku senang, apakah ayahku nyaman, apakah Livia tertawa, apakah aku sedang meremas serbet. Wajah orang yang selalu memastikan semua orang baik-baik saja sebelum ia boleh merasa baik-baik saja.
Di warung burjo ini, di bawah lampu neon yang berdengung, wajahnya menghadap ke roti ragi tape. Ke sesuatu yang ia cintai untuk dirinya sendiri.
Ia terlihat seperti orang yang tidak sedang berusaha menyenangkan siapa pun.
Aku jatuh cinta kepadanya lagi. Di situ. Di antara sinetron azab dan kucing bernama Pak RT. Bukan kepada Erga yang menulis resep ibuku di kartu kecil, atau yang minum kopi dingin ayahku, atau yang memakai kumis kertas untuk adikku. Kepada Erga yang menggambar gelembung ragi di udara dengan wajah berbinar, yang minum es teh tawar, yang punya teman bernama Gilang yang ingin punya toko roti di Klaten.
Kepada Erga yang tidak perlu melakukan apa pun untukku agar aku tetap ingin mendengarnya.
Makanannya datang. Magelangan-nya pedas sampai ia berkeringat. Indomie-ku terlalu lembek. Pak RT terbangun, turun dari meja, dan memutuskan tidur di pangkuan Erga tanpa meminta izin.
“Pak RT nggak tanya dulu,” kata Erga, menatap kucing di pangkuannya.
“Pak RT nggak baca protokol.”
Di televisi, tukang parkir durhaka itu akhirnya dikubur bersama motornya. Kuburannya tidak muat. Warga kampung menggali lebih lebar. Kuburannya tetap tidak muat. Seorang ustaz menangis. Musik dramatis mengalun dengan volume penuh.
Erga meletakkan sendoknya. Ia menegakkan badan, meletakkan satu tangan di dada, dan dengan suara berat yang bergetar, menirukan narator sinetron.
“Dan begitulah, pemirsa,” katanya, menatap lurus ke mataku, “nasib seorang pembuat roti yang terlalu banyak bertanya kepada Pak Harno. Kuburannya tidak muat. Karena penuh ragi. Dan singkong. Dan empat belas garis kapur—”
“Kamu kebanyakan akting,” kataku.
Ia berhenti.
Kata-kata itu keluar dari mulutku sebelum aku memikirkannya. Enam bulan tidak terucap. Sejak malam di toko, sejak ia bilang nggak ada akting malam ini, jadi kamu nggak bisa bilang kalimat itu. Aku sudah lupa rasanya di lidahku.
Ia menatapku. Pak RT menguap di pangkuannya.
Aku tahu apa yang seharusnya terjadi selanjutnya. Pasal enam. Setiap N bilang “kamu kebanyakan akting”, E boleh minta satu hal. Dan aku tahu apa yang terjadi terakhir kali aku mengatakannya, di kantorku yang berantakan jam sembilan malam, dengan tiga gelas kopi sachet kosong: ia tidak meminta apa pun. Karena satu-satunya yang ingin ia minta adalah jawaban, dan ia tidak bisa memintanya tanpa menjadikannya tagihan.
Jadi aku mengatakan sesuatu yang sudah kupikirkan sejak kereta Lodaya melewati Kroya.
“Pasal enam masih berlaku,” kataku. “Kamu boleh minta satu hal.”
Ia menatapku lama.
“Dan kali ini,” lanjutku, pelan, “kamu boleh minta apa aja. Aku nggak akan jawab pakai angka. Aku nggak akan bilang nanti. Kalau aku belum bisa, aku bilang belum bisa, dengan alasan yang jelas. Kalau aku bisa, aku bilang iya.”
Warung burjo itu tidak menjadi sunyi. Televisinya masih berteriak. Lampu neonnya masih berdengung. Penjaga warung masih menatap ponselnya. Tapi di meja kami, di antara magelangan yang tinggal separuh dan indomie yang terlalu lembek, sesuatu diam.
Erga mengelus kepala Pak RT pelan. Ia tidak menjawab langsung. Ia berpikir.
Dan aku menunggu. Tanpa mengisi hening itu dengan apa pun.
Kami berjalan dari warung burjo ke penginapanku di Prawirotaman. Dua puluh menit jalan kaki. Jalanan Yogyakarta di malam hari lebih hangat dari Bandung, dan lebih ramai, dan lebih berisik dengan bunyi motor dan penjual wedang ronde dan musik dari kafe-kafe.
Kami berjalan bersebelahan. Tangan kami berayun di antara kami, beberapa senti terpisah. Aku bisa merasakan jarak itu, seperti di mobil di jalan Soekarno-Hatta setelah kumpul sepupu.
Di lampu penyeberangan, aku bertanya.
“Boleh?”
Ia menatap tanganku yang terulur setengah. Lalu menatapku.
“Belum,” katanya.
Aku menarik tanganku kembali. Aku tidak merasa ditolak. Anehnya tidak. Karena ia mengatakannya dengan lembut, dan karena ia melanjutkan.
“Belum, Nad. Tapi tanya lagi nanti.”
Aku mengangguk. “Oke.”
“Kamu nggak marah?”
“Pasal tiga,” kataku. “Boleh bilang nggak. Kamu yang ngetik pakai dua jari.”
Ia tertawa. Lampu penyeberangan berubah hijau. Kami menyeberang, bersebelahan, tanpa bergandengan, dan itu terasa lebih jujur dari semua pegangan tangan kami di depan tujuh puluh orang di arisan.
Di depan pagar penginapan, kami berhenti.
Keretaku berangkat besok siang. Aku sudah memberitahunya. Aku tidak memintanya mengantar ke stasiun. Aku tidak memintanya apa pun.
“Aku udah tahu mau minta apa,” katanya tiba-tiba.
Aku menunggu.
“Dua minggu lagi,” katanya. “Aku libur hari Minggu. Toko tutup buat perawatan oven. Oven di sini juga suka ngambek, ternyata. Semua oven di dunia suka ngambek.” Ia menggaruk tengkuknya. “Kamu mau ke sini lagi? Nggak harus. Kalau kamu sibuk, nggak apa-apa.”
“Itu permintaanmu?”
“Itu permintaanku.” Ia menatapku. “Dan kali ini aku yang ngajak. Tempatnya aku yang riset. Kamu nggak boleh tahu dulu.”
Ia yang mengajak. Ia yang mengusulkan. Ia yang ingin bertemu lagi, bukan karena aku datang dan memohon, bukan karena keluargaku merindukannya, bukan karena ia merasa bertanggung jawab atas perasaan siapa pun. Karena ia mau.
“Iya,” kataku.
Satu kata. Tanpa nanti. Tanpa kita lihat. Tanpa kalau aku nggak sibuk.
“Iya,” ulangku, karena aku ingin mendengarnya sendiri. “Aku datang.”
Ia tersenyum. Lalu ia melangkah mundur, satu langkah, dua langkah, seperti tidak ingin berbalik terlalu cepat.
“Tempatnya jelek,” katanya. “Aku kasih tahu dari sekarang. Lebih jelek dari burjo.”
“Bintang berapa?”
“Dua koma delapan.”
Aku tertawa. Ia tertawa. Lalu ia berbalik dan berjalan pergi di bawah lampu jalan Prawirotaman yang kuning, dengan sandal jepit dan kaus hitam, dan aku berdiri di depan pagar penginapan sampai ia berbelok di ujung gang.
Ia tidak menoleh ke belakang.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak butuh ia menoleh untuk tahu ia akan kembali.
- 1 Pacar yang Datang Bersama Kotak Kue
- 2 Aturan Pertama: Jangan Jatuh Cinta
- 3 Kursi di Sebelah Nadine
- 4 Di Luar Jadwal
- 5 Kue Ulang Tahun yang Terlalu Jujur
- 6 Potongan yang Bentuknya Jelek
- 7 Resep yang Selalu Gagal
- 8 Hal yang Tidak Masuk Kontrak
- 9 Kencan yang Tidak Dihitung
- 10 Pertanyaan Sepupu yang Salah Alamat
- 11 Celemek Cadangan
- 12 Hari ketika Ibu Menyebut Rumah
- 13 Jawaban yang Ditunda
- 14 Delapan Pertanyaan untuk Livia
- 15 Jangan Janji untuk Semua Orang
- 16 Foto yang Harus Kita Simpan
- 17 Aku Suka Kamu Tanpa Jadwal
- 18 Bonus yang Tidak Bisa Kuterima
- 19 Resep yang Akhirnya Berhasil
- 20 Kebenaran di Meja yang Sama
- 21 Undangan yang Tidak Kukirim
- 22 Kue untuk Pesta yang Tidak Kuhadiri
- 23 Aku Pergi Dulu
- 24 Satu Cangkir Terlalu Banyak
- 25 Kue yang Jadi Saat Orangnya Tidak Ada
- 26 Celemek Tanpa Nama
- 27 Yang Dia Ingat Tentang Kita
- 28 Aku yang Membawanya Masuk
- 29 Kabar Pertama yang Tidak Bisa Kukirim
- 30 Hari Tanpa Peran
- 31 Nama yang Muncul Lagi
- 32 Kalau Kamu Mau Dengar
- 33 Kencan Pertama yang Kedua reading
- 34 Aku Tidak Perlu Membayar Tempatku
- 35 Tamu yang Boleh Menolak
- 36 Namaku Ada di Sini