Chapter One
Pacar yang Datang Bersama Kotak Kue
POV: Erga
Oven kami mati hari Selasa, dan sampai Sabtu pagi aku masih memperlakukannya seperti pasien yang cuma perlu istirahat.
“Dia cuma ngambek,” kataku kepada Nino sambil menepuk pintu besinya. “Umurnya udah dua belas tahun. Wajar kalau kadang pengin didengar.”
Nino tidak menoleh dari laptop. “Teknisinya bilang elemennya harus ganti semua. Sembilan juta. Itu bukan ngambek, Ga. Itu surat wasiat.”
Remah Pagi cuma punya dua meja, satu etalase yang kacanya retak di pojok kiri, dan satu oven deck tua yang kami beli bekas dari toko roti bangkrut di Cimahi. Sejak Selasa kami memanggang pakai oven kecil pinjaman ibu kos Nino, empat loyang sekali jalan, dan pesanan akhir pekan menumpuk di papan tulis seperti daftar dosa.
Salah satunya: Bolu pandan keju, 22 cm, a.n. Nadine. Ambil Sabtu jam 9. Tulisan: “Selamat ulang tahun, Tante Wulan.”
Jam sembilan lewat tiga menit, lonceng pintu berbunyi.
Perempuan yang masuk berjalan seperti orang yang punya tiga rapat sebelum makan siang. Rambutnya diikat asal, blazer abu-abunya rapi, dan ponsel di tangannya terus bergetar. Uci, pegawai kami yang baru dua bulan, mendadak berdiri lebih tegak dan merapikan poni. Nino, yang biasanya tidak mengangkat kepala untuk siapa pun kecuali kurir gas, mengangkat kepala.
“Pesanan atas nama Nadine,” katanya. “Bolu pandan. Maaf, saya agak buru-buru.”
“Sudah siap.” Aku mengambil kotaknya dari rak belakang. “Tulisannya mau dicek dulu? Kami pernah salah tulis ‘Selamat menempuh hidup baru’ di kue pensiun.”
Sudut bibirnya naik sedikit. Cuma sedikit, seperti orang yang tidak mengizinkan dirinya tertawa sebelum urusan selesai. “Dicek.”
Kubuka tutup kotak. Ia membungkuk, membaca, lalu mengangguk. Ponselnya bergetar lagi. Nama di layar: Ibu. Ia menolak panggilan itu tanpa melihat, seperti sudah hafal.
Lalu lonceng pintu berbunyi lagi.
“Lho! Nadine?”
Ada jenis suara tante-tante yang bisa membuat seisi ruangan ikut merasa sedang ditanya kapan menikah. Suara itu datang dari perempuan bergamis ungu dengan tas besar dan senyum yang sudah siap menagih.
Punggung Nadine menegang. Aku melihatnya karena aku berdiri tepat di depannya: bahunya naik setengah senti, jarinya mencengkeram tepi meja kasir.
“Tante Wulan.” Suaranya berubah dua nada lebih cerah. “Kok di sini?”
“Tante mau beli roti sobek buat pengajian. Ini buat Tante, ya?” Tante Wulan melirik kotak, lalu tanpa jeda: “Eh, kebetulan banget. Kamu inget Raka? Anaknya Bu Heni, yang dokter gigi? Dia nanyain kamu terus. Tante udah bilang kamu kosong Sabtu depan—”
“Tante, aku—”
“—dia orangnya baik, Din. Mapan. Udah waktunya kamu buka hati lagi. Masa mau sendiri terus gara-gara yang kemarin—”
Aku tidak tahu siapa “yang kemarin”. Tapi aku tahu bentuk wajah orang yang sedang dipermalukan dengan niat baik. Aku sering melihatnya di acara keluargaku sendiri, biasanya di wajah sepupu-sepupuku, kadang di cermin.
Aku juga tahu aku seharusnya diam. Aku tukang kue. Tugasku menutup kotak dan menyebut total.
“Sabtu depan dia sama saya, Tante,” kataku.
Dua kepala menoleh. Juga Nino. Juga Uci, yang langsung pura-pura mengelap etalase yang sudah bersih.
Tante Wulan menatapku dari celemek sampai sandal. “Maaf, Mas siapa?”
Kalimat itu sudah keluar dan tidak bisa kumasukkan lagi ke oven. “Erga, Tante. Pacarnya.”
Hening yang panjangnya kira-kira tiga detik, tapi rasanya seperti menunggu adonan mengembang.
Lalu Nadine, yang kukira akan menyangkal, malah menyelipkan rambut ke belakang telinga dan tersenyum. “Aku belum cerita, Tante. Baru tiga bulan. Kami ketemu gara-gara dia salah nulis nama di kue ulang tahun kantorku. Nadia. Pakai A.”
Ia mengarang lebih cepat daripada aku menguleni.
“Oh ya?” Tante Wulan menoleh kepadaku. “Terus gimana ceritanya bisa jadian?”
“Saya ganti kuenya,” kataku.
“Dan dia maksa nganter sendiri,” sambung Nadine. “Terus payungnya ketinggalan di kantorku. Sengaja.”
“Nggak sengaja.”
“Sengaja,” katanya, menatapku seperti sedang menilai presentasi, “soalnya payungnya dia ambil lagi besoknya. Pas jam makan siang.”
Aku nyaris tertawa. Aku juga nyaris bertanya payung apa. Tante Wulan menatap kami bergantian, dan aku merasakan sesuatu yang aneh: Nadine sedang mengoper bola kepadaku, dan kalau aku menjatuhkannya, dia ikut jatuh.
“Payungnya kuning,” kataku. “Biar dia inget.”
Nadine mengerjap sekali. Kurasa aku lulus.
Tante Wulan akhirnya tertawa, keras dan lega, lalu memukul lengan Nadine. “Ya ampun, kok diem-diem aja! Ibumu tahu?”
“Belum, Tante. Aku mau bilang sendiri—”
“Bawa dia besok! Makan Minggu di rumah! Tante telepon Ratih sekarang.”
“Tante, jangan—”
Tapi Tante Wulan sudah keluar tanpa roti sobek yang katanya mau ia beli, ponsel menempel di telinga, suaranya terdengar sampai parkiran: “Tih! Anakmu punya pacar! Tukang kue!”
Lonceng pintu berhenti bergoyang.
Nadine menatap pintu. Aku menatap Nadine. Nino menatapku seperti aku baru saja menjual oven kami ke tukang loak.
“Oke,” kata Nadine akhirnya, pelan. “Kamu sebenarnya siapa?”
“Tukang kue. Kan udah diumumin sampai parkiran.”
“Kenapa kamu bilang begitu?”
Aku memikirkan jawabannya. Yang jujur terdengar terlalu sok baik, jadi aku mengambil yang setengah jujur. “Muka kamu kayak orang yang pengin lari tapi pakai sepatu hak.”
Ia melirik sepatunya. Hak lima senti. Ia tidak membantah.
“Kamu tahu kan,” katanya, “sekarang ibuku nungguin kamu besok.”
“Bilang aja kita putus malam ini. Aku sibuk. Oven mati. Alasan yang sangat meyakinkan.”
“Kamu nggak kenal ibuku.” Ia tertawa kecil, tapi bunyinya capek. “Kalau aku bilang putus sehari setelah pacaran ketahuan, minggu depan aku dijodohin sama tiga dokter gigi sekaligus.”
Ia membuka ponsel, mengetik sesuatu, lalu memandangku lama. Bukan tatapan menggoda. Lebih seperti orang menilai lampu gantung: kuat nggak, cocok nggak sama ruangannya.
“Ovenmu rusak?”
Nino, dari balik laptop: “Sembilan juta.”
“Nino.”
“Apa? Dia nanya.”
Nadine mengetuk-ngetuk ponselnya. “Keluargaku punya delapan acara dalam sepuluh minggu ke depan. Puncaknya pesta ulang tahun pernikahan orang tuaku yang ketiga puluh. Selama itu semua orang bakal sibuk nyariin aku pasangan. Kalau ada kamu, mereka berhenti.” Ia menghela napas. “Dua belas juta. Delapan acara. Transport dan baju ditanggung. Selesai setelah pesta. Habis itu kita putus baik-baik, kamu sibuk kerja, aku sedih seperlunya.”
Aku menunggu dia tertawa. Dia tidak.
“Kamu serius.”
“Aku manajer proyek. Aku nggak pernah nawarin sesuatu yang nggak ada anggarannya.”
Di belakangku, oven tua itu diam. Di papan tulis, pesanan Minggu dan Senin menunggu. Aku memikirkan Nino yang sudah tiga malam tidur di toko. Uci yang gajinya belum naik. Ibuku di Sumedang yang setiap telepon bertanya, Tokonya lancar, Ga?, dan aku selalu menjawab lancar.
“Dua syarat,” kataku.
Alisnya naik. “Silakan.”
“Pertama, semua sentuhan ditanya dulu. Pegang tangan, rangkul, apa pun. Kalau salah satu nggak mau, nggak jadi, dan yang satunya nggak boleh ngambek.”
Ia terdiam sebentar. Sesuatu di wajahnya melunak, lalu cepat-cepat ia rapikan lagi. “Kedua?”
“Kita boleh berhenti kapan aja. Kamu atau aku. Tanpa denda, tanpa drama.”
“Tanpa drama itu susah dijamin kalau ada ibuku.”
“Tanpa drama dari kita berdua.”
Ia mengulurkan tangan. Aku menatapnya.
“Salaman,” katanya. “Boleh?”
Aku tertawa, benar-benar tertawa, lalu menyambutnya. Tangannya dingin, jarinya ramping, dan ia menjabat seperti orang menandatangani kontrak.
“Nadine Valencia Prakoso.”
“Erga Pratama. Pacar sejak tiga bulan lalu, katanya.”
“Payung kuning,” katanya. “Jangan lupa.”
Ia mengambil kotak bolu, membayar lunas, lalu berhenti di pintu. “Makasih,” katanya, lebih pelan daripada semua kalimatnya tadi. Kemudian ia pergi sebelum aku sempat menjawab.
Nino menutup laptop. “Kamu sadar barusan jual diri seharga elemen oven.”
“Sewa,” kataku. “Bukan jual.”
“Oh, bagus. Kontrak jangka pendek. Tahu nggak biasanya kontrak jangka pendek berakhir gimana?”
“Gimana?”
“Diperpanjang pakai perasaan.”
Aku melemparnya dengan lap. Meleset.
Malamnya, saat aku menutup kasir, ponselku berbunyi. Nomor tak dikenal. Pesan panjang.
Nadine:
Jadwal. Mohon dipelajari.
1. Makan Minggu (besok, 11.00)
2. Ultah Livia, adikku
3. Makan siang sama Tante Wulan (iya, yang tadi)
4. Kumpul sepupu
5. Makan malam di rumah
6. Arisan keluarga besar (70+ orang)
7. Persiapan pesta
8. Pesta ultah pernikahan ortuCatatan: ayahku nggak suka basa-basi. Ibuku suka orang yang habisin makanan. Livia bakal nge-stalk semua akunmu malam ini.
Aku membacanya dua kali. Tujuh puluh orang.
Aku:
Tujuh puluh itu termasuk kucing?
Tiga titik muncul, hilang, muncul lagi.
Nadine:
Kucingnya tambahan. Tidur, Erga. Besok jam 10.30 kujemput.
Aku menaruh ponsel di meja dan menatap oven yang gelap. Di buku catatan kecil tempat aku biasa menulis pesanan, di halaman paling belakang, aku menulis tanpa berpikir:
Nadine — bolu pandan keju. Nggak suka ditanya soal “yang kemarin”.
Kebiasaan lama. Aku mencatat apa yang disukai orang supaya aku selalu tahu cara membuat mereka senang.
Waktu itu aku belum tahu halaman itu akan penuh.
- 1 Pacar yang Datang Bersama Kotak Kue reading
- 2 Aturan Pertama: Jangan Jatuh Cinta
- 3 Kursi di Sebelah Nadine
- 4 Di Luar Jadwal
- 5 Kue Ulang Tahun yang Terlalu Jujur
- 6 Potongan yang Bentuknya Jelek
- 7 Resep yang Selalu Gagal
- 8 Hal yang Tidak Masuk Kontrak
- 9 Kencan yang Tidak Dihitung
- 10 Pertanyaan Sepupu yang Salah Alamat
- 11 Celemek Cadangan
- 12 Hari ketika Ibu Menyebut Rumah
- 13 Jawaban yang Ditunda
- 14 Delapan Pertanyaan untuk Livia
- 15 Jangan Janji untuk Semua Orang
- 16 Foto yang Harus Kita Simpan
- 17 Aku Suka Kamu Tanpa Jadwal
- 18 Bonus yang Tidak Bisa Kuterima
- 19 Resep yang Akhirnya Berhasil
- 20 Kebenaran di Meja yang Sama
- 21 Undangan yang Tidak Kukirim
- 22 Kue untuk Pesta yang Tidak Kuhadiri
- 23 Aku Pergi Dulu
- 24 Satu Cangkir Terlalu Banyak
- 25 Kue yang Jadi Saat Orangnya Tidak Ada
- 26 Celemek Tanpa Nama
- 27 Yang Dia Ingat Tentang Kita
- 28 Aku yang Membawanya Masuk
- 29 Kabar Pertama yang Tidak Bisa Kukirim
- 30 Hari Tanpa Peran
- 31 Nama yang Muncul Lagi
- 32 Kalau Kamu Mau Dengar
- 33 Kencan Pertama yang Kedua
- 34 Aku Tidak Perlu Membayar Tempatku
- 35 Tamu yang Boleh Menolak
- 36 Namaku Ada di Sini