Chapter Thirty Six
Namaku Ada di Sini
POV: Erga
Gilang lulus ujian ragi tape pada percobaan pertama.
Aku berdiri di ambang pintu dapur Tungku Selatan, tidak boleh masuk, tidak boleh bicara, tidak boleh memberi isyarat apa pun, dan menonton anak dua puluh satu tahun itu meninggalkan adonannya di baskom tanpa menoleh ke belakang selama tiga jam. Ia duduk di bangku di luar dapur dengan kaki bergetar, menggigiti kuku, dan tidak sekali pun mengintip.
Bu Sekar mencicipi rotinya dengan mata tertutup.
“Delapan,” katanya. Lalu ia membuka mata dan menatapku. “Lebih tinggi dari nilai pertamamu, Mas.”
Gilang memelukku sampai tepung dari celemeknya menempel di seluruh bajuku, dan memanggilku Suhu sebanyak sebelas kali dalam satu kalimat.
Malam itu, Mbak Tari memasak brongkos untuk perpisahanku. Ia mengisi piringku dua kali tanpa bertanya. Aku tidak mencuci satu piring pun. Ketika aku pamit di depan pintu rumahnya, ia menyerahkan sebungkus tempe bacem dalam daun pisang dan berkata, “Jangan bilang udah makan kalau belum.”
“Nino juga bilang begitu.”
“Nino pinter.”
Aku meninggalkan Yogyakarta dengan cara yang berbeda dari cara aku meninggalkan Bandung. Aku pamit ke semua orang. Ke penjual gudeg yang setiap pagi melambai. Ke Pak Harno, yang memberiku sebotol kecil ragi tape miliknya sendiri, dibungkus kain. Ke Mbah Karto, yang menyangrai kopi untukku sekali lagi dan tidak mau dibayar. Ke Pak RT, yang tidur di meja warung burjo dan tidak peduli sama sekali.
Kali ini aku tidak pergi karena harus berhenti menunggu. Aku pergi karena aku mau pulang.
Itu beda.
Nino menjemputku di Stasiun Bandung dengan mobil boks pinjaman dan kantong gorengan.
Kami tidak langsung ke toko. Kami duduk di mobil di parkiran stasiun, makan gorengan, dan membicarakan hal yang sudah kami tunda selama sembilan bulan.
“Aku nggak mau balik jadi orang yang ngerjain semuanya,” kataku.
Nino mengunyah bakwan. “Bagus.”
“Aku mau ngurus produksi. Roti. Ragi alami. Aku mau bikin roti ragi tape versi Bandung, pakai singkong dari pasar Kosambi.” Aku menatap tanganku. “Operasional, keuangan, pemasok, pelanggan, itu kamu. Kamu lebih jago dari aku. Sembilan bulan kamu buktiin.”
Nino berhenti mengunyah.
“Dan kita tutup satu hari seminggu,” lanjutku. “Nggak bisa ditawar. Senin. Bukan buat aku ke dapur orang. Buat istirahat.”
“Poin empat puluh dua,” kata Nino pelan.
“Poin empat puluh dua.”
Ia menatapku lama. Lalu ia merogoh laci dasbor dan mengeluarkan amplop yang sudah lecek di sudut-sudutnya. Amplop dengan namaku di depannya, dalam tulisan tangan Tante Wulan. Amplop arisan keluarga Prakoso, yang masih utuh setelah sembilan bulan.
“Ibu Ratih nggak pernah ngambil,” katanya. “Aku tawarin tiga kali. Dia bilang, itu punya Erga, Nak Nino.”
Aku menatap amplop itu.
Sembilan bulan lalu, aku tidak bisa memakainya. Uang itu diberikan oleh seseorang yang mengira tahun depan aku masih ada, dan aku tidak tahu apakah perkiraan itu benar.
Sekarang aku tahu.
Aku mengambil amplop itu dan memasukkannya ke saku. “Buat oven kedua,” kataku. “Khusus roti. Oven yang panasnya dari bawah.”
Nino tersenyum. Senyum yang pelan-pelan melebar sampai ia harus menutup mulutnya dengan bakwan.
“Akhirnya,” katanya. “Akhirnya kamu terima sesuatu.”
Minggu-minggu pertama di Bandung, aku dan Nadine tidak terburu-buru.
Kami tidak pindah ke mana pun. Kami tidak membuat rencana lima tahun. Nadine tidak membuat protokol. Aku tidak mengantar makanan ke kantornya jam sembilan malam tanpa diminta.
Kami punya rutinitas kecil yang kami bangun satu per satu, seperti menumpuk koin di meja kasir.
Rabu malam, ia datang ke toko setelah kerja dan duduk di kursi pojok yang masih menghadap jendela. Ia makan brownies. Kadang yang tengah, kadang yang pinggir. Ia memilih sendiri. Aku tidak memilihkan.
Jumat malam, kami makan di tempat yang ulasannya paling buruk yang bisa kami temukan di Bandung. Itu menjadi permainan. Rekornya dipegang sebuah warung seblak di Cibiru dengan bintang dua koma satu dan ulasan yang berbunyi pedasnya bikin saya ingat semua dosa masa lalu.
Minggu pagi, kadang aku ke pasar Kosambi bersama Hendra. Kadang Nadine ikut. Kadang tidak ada yang ke pasar karena semua orang ingin tidur, dan tidak ada yang merasa bersalah karenanya.
Suatu Rabu, ada pesanan tiga ratus kotak untuk syukuran sebuah sekolah. Oven kedua belum datang. Aku menatap tumpukan kotak karton pipih di sudut toko, lalu menatap Nadine di kursi pojok.
Aku tidak menunggu ia menawarkan diri. Aku tidak berharap diam-diam ia akan menggulung lengan kemejanya. Aku bertanya.
“Nad. Aku butuh tolong. Bisa bantu lipat kotak?”
Ia menatapku. Aku melihat senyumnya muncul pelan-pelan, seperti adonan yang naik tanpa ditunggui.
“Kamu minta tolong?”
“Aku minta tolong.”
“Bilang lagi.”
“Aku minta tolong, Nadine.”
Ia berdiri, menggulung lengan kemejanya, dan membuka tasnya. Dari dalam tas itu, ia mengeluarkan celemek kanvas hijau lumut. Terlipat rapi. Noda cokelat di dada. Tepung di lutut, yang masih menempel sejak malam lima ratus kotak, sepuluh bulan lalu.
Ia membawanya ke mana-mana. Aku tidak tahu itu.
Ia memakainya. Mengikat talinya di belakang dengan simpul yang terlalu rumit untuk sebuah celemek.
Uci, yang sedang menata etalase, menatap celemek itu. “Mbak Nadine,” katanya hati-hati. “Mau dibordir namanya sekarang? Adikku masih punya mesin bordir.”
Aku membuka mulut. Aku tidak tahu harus berkata apa. Sepuluh bulan lalu aku menjawab nggak usah terlalu cepat, karena aku takut membaca nama itu di gudang tanpa pemiliknya.
Nadine yang menjawab.
“Nggak usah, Ci,” katanya, mengencangkan simpul di belakang pinggangnya. “Nggak perlu nama biar tahu ini punya siapa.”
Ia melipat kotak pertama. Terbalik. Logo Remah Pagi menghadap ke dalam.
“Desain eksperimental,” katanya.
Pada suatu Jumat malam, di warung seblak berbintang dua koma satu, dengan bibir yang terbakar dan mata yang berair, Nadine membicarakan masa depan.
Tidak dengan tabel. Tidak dengan jadwal. Ia mengatakannya sambil meniup sendok seblak yang terlalu panas.
“Kantorku mau buka cabang di Yogya tahun depan,” katanya. “Aku ditawarin pegang. Setahun.”
Aku berhenti mengunyah.
“Aku belum jawab,” lanjutnya. “Aku mau pikirin dulu. Bukan buat kamu. Buat aku. Aku pengin tahu aku mau apa.” Ia menatapku. “Dan aku pengin kamu tahu duluan. Bukan pas aku udah mutusin.”
Aku menatapnya lama.
“Kalau kamu ambil,” kataku, “aku nggak akan minta kamu nggak ambil.”
“Aku tahu.” Ia tersenyum. “Dan kalau aku ambil, aku nggak akan minta kamu ikut. Kamu baru pulang.”
“Tapi aku boleh main ke sana. Pak RT kangen aku.”
“Pak RT nggak kangen siapa-siapa.”
“Itu yang kamu tahu.”
Ia tertawa. Lalu ia berkata sesuatu yang membuatku meletakkan sendok.
“Tahun depan, atau tahun depannya lagi, kalau kita masih mau, kita ngomongin yang lebih besar.” Ia tidak menyebutkan apa yang lebih besar itu. Ia tidak perlu. “Tapi aku nggak butuh bukti sekarang, Erga. Kamu nggak perlu buktiin apa-apa. Aku juga nggak. Kita cuma perlu terus milih. Tiap hari. Tiap Rabu, tiap Jumat. Terus aja.”
Di warung seblak itu, dengan lampu yang berkedip dan kipas angin yang berdecit, aku menyadari bahwa aku tidak sedang menunggu. Untuk pertama kalinya dalam hubungan kami, tidak ada yang sedang menunggu jawaban. Jawabannya sudah ada. Setiap hari. Dalam hal-hal kecil.
“Terus aja,” kataku.
Undangan makan Minggu datang dari Nadine, seperti biasa sekarang. Atas namanya sendiri.
Nadine:
Makan Minggu di rumah. Jam 11. Nggak ada acara apa-apa. Ibu cuma masak.
Kamu boleh nggak datang.
Aku membalas Aku datang dalam tiga detik. Lalu aku menyadari aku membalas terlalu cepat, dan aku tertawa sendiri di depan oven, karena aku ingat Nadine pernah melakukan hal yang sama dengan pesanku setiap malam jam sembilan, sepuluh bulan lalu, dan menyesal karena terlalu cepat.
Aku tidak menyesal.
Hari Minggu, aku datang dengan motor sendiri. Aku tidak dijemput. Aku tidak membawa kue.
Aku memarkir motor di depan pagar rumah di ujung gang yang cukup lebar untuk satu mobil dan terlalu sempit untuk dua orang yang sama-sama gugup. Aku tidak gugup. Aku menyadari itu dengan sedikit terkejut.
Nadine berdiri di beranda. Di antara dua kursi rotan. Ia memegang sesuatu di tangannya.
Buku tamu bersampul batik. Pinggirnya lecek. Terbuka di halaman hari ini.
“Ibu nyuruh aku jadi penerima tamu,” katanya dengan wajah serius. “Katanya aku manajer proyek. Harus cek daftar.”
Aku naik ke teras. Ia memutar buku itu ke arahku.
Makan Minggu — Bapak, Ibu, Nadine, Livia, Erga.
Tinta hitam. Satu tarikan. Ditulis sekaligus, sebelum aku datang. Namaku di akhir daftar, bukan karena tambahan, tapi karena urutannya memang begitu: urutan orang-orang yang duduk di meja itu setiap Minggu.
Aku menatap namaku lama sekali.
Sepuluh bulan lalu, di halaman makan Minggu pertama, namaku ditulis dengan tinta biru yang berbeda warna, di bawah garis, dengan dua tanda seru. Nak Erga (pacar Nadine!!). Ditulis untuk seseorang yang cuma pura-pura. Lalu di halaman acara kelima, tinta hitam, tanpa tanda kurung. Lalu di daftar tamu cetak pesta, namaku tidak ada di mana pun, di antara Enok dan Eka.
Dan sekarang ada di sini. Di hari biasa. Di acara yang bukan acara.
Aku mengangkat wajah. Nadine sedang menatapku. Ia menunggu. Aku tahu ia menunggu, dan untuk pertama kalinya, aku tidak keberatan membuatnya menunggu sedikit lebih lama.
“Aku datang sebagai apa?” tanyaku.
Aku menggodanya. Ia tahu aku menggodanya. Aku melihat bibirnya bergerak, menahan senyum. Aku menanyakannya dengan nada yang sama dengan hari pertama, di depan kasir tokoku, ketika Tante Wulan menatapku dari celemek sampai sandal dan bertanya maaf, Mas siapa? Dengan nada yang sama dengan malam di toko, ketika aku bertanya apakah setelah delapan acara kami masih boleh bertemu.
Nadine menutup buku tamu itu. Ia memeluknya di dada.
“Sebagai orang yang kupilih,” katanya. “Kalau kamu mau datang.”
Pintu rumah itu terbuka di belakangnya. Aku bisa melihat ruang tengah. Toples kerupuk. Kalender dinding. Meja makan.
Tidak ada yang menarikku masuk. Tidak ada yang mendorong. Tidak ada kontrak. Tidak ada honor. Tidak ada tante yang harus diyakinkan.
Aku masuk karena aku ingin.
Di meja makan, di tempatku, cangkir blirik hijau sudah menunggu. Kopinya mengepul.
Di sebelah cangkir itu, di atas piringku, ada sesuatu yang lain. Sebuah kartu kecil dari karton krem, dengan tulisan tangan yang rapi dan sedikit miring ke kanan, dan gambar bebek kecil di pojoknya, dengan kaki bergaris-garis seperti sedang mengayuh.
Mas Erga — Meja 1.
Aku mengambil kartu itu. Tanganku gemetar sedikit.
Livia, yang sedang turun tangga, berhenti di anak tangga terakhir. Ia melihat kartu di tanganku. Mulutnya terbuka.
“Itu kan...” Ia menatap kakaknya. “Kak. Kakak nyimpen itu? Dari pesta?”
“Dari pesta,” kata Nadine. Ia tidak menatap Livia. Ia menatapku. “Aku ambil dari kotak kartu meja. Hari Jumat sebelum pesta. Aku masukin ke tasku. Aku nggak tahu kenapa waktu itu.”
“Sekarang tahu?” tanyaku.
“Sekarang tahu.”
Livia menutup wajah dengan kedua tangan dan tertawa sambil menangis, dan berkata sesuatu tentang kakaknya yang diem-diem romantis tapi nyebelin, dan Ratih keluar dari dapur untuk melihat kenapa anaknya menangis dan ikut menangis juga tanpa tahu kenapa.
Hendra menurunkan koran lima senti.
“Duduk,” katanya. “Kopinya dingin nanti.”
Aku duduk.
Kue itu dikeluarkan setelah makan siang.
Ratih membawanya dari dapur dengan kedua tangan, seperti membawa piala. Livia mengikutinya dengan piring-piring kecil. Hendra mengikutinya dengan pisau, yang ia pegang dengan sangat serius, seperti orang yang diberi tugas penting.
Kue itu diletakkan di depanku.
Bukan kue tiga tingkat. Bukan kue dengan fondant atau angka dari cokelat. Satu loyang bundar sederhana. Di atasnya, dengan krim cokelat yang ditulis tangan oleh seseorang yang jelas bukan ahli dekorasi, ada tulisan yang sedikit miring:
Buat Erga. Nggak ada acaranya.
“Livia yang nulis,” kata Ratih. “Ibu nggak setuju. Harusnya Selamat Datang.”
“Selamat datang dari mana?” protes Livia. “Mas Erga udah di Bandung tiga minggu. Ini kue nggak ada alasannya. Makanya ditulis nggak ada acaranya.”
Aku menatap tulisan itu. Nggak ada acaranya.
“Kami bikin bareng,” kata Ratih. Suaranya mulai bergetar. “Dari daftar di kulkas. Nadine yang nunjukin ke kamu, kan?”
Nadine menggeleng pelan. Ia belum pernah menunjukkannya kepadaku.
Ratih menatap Nadine, lalu menatapku. Lalu ia tertawa kecil. “Oh. Belum. Ya udah.”
Hendra memotong kue itu. Satu irisan. Ia meletakkannya di piringku.
Lapisan dasar: bolu kopi robusta. Pahit. Tanpa gula tambahan di adonannya. Hanya ada krim tipis di antara lapisan.
Lapisan kedua: bika ambon. Sarangnya naik penuh, dengan semburat kopi di dalamnya. Versi baru Ratih. Aku bisa merasakan santannya sudah dikurangi sedikit. Adonannya sudah didiamkan setengah jam lebih lama.
Di sisi piring, Livia meletakkan segelas es teh. Tanpa gula. Ia meletakkannya dengan wajah jijik yang dibuat-buat. “Tawar,” katanya. “Aneh. Tapi oke.”
Aku menatap irisan kue itu. Aku menatap es teh tawar. Aku menatap cangkir hijau.
Aku tidak membuatnya. Aku tidak membantu membuatnya. Aku tidak menakar santan, tidak mengikat pandan, tidak mengingatkan siapa pun untuk tidak membuka pintu oven. Aku tidak menyelamatkan kue ini dari bantat. Aku tidak memperbaiki apa pun. Aku tidak datang membawa apa pun.
Mereka membuatnya untukku. Dari hal-hal yang mereka ingat tentang aku. Hal-hal yang dulu tidak pernah bisa kutulis di baris kosong di bawah namaku sendiri.
“Aku nggak bawa apa-apa,” kataku. Suaraku pecah di tengah kalimat.
Ratih menatapku. Ia meletakkan tangannya di pundakku, sebentar, lalu menariknya lagi.
“Memang nggak usah,” katanya.
Aku menunduk ke piringku. Aku tidak bisa melihat irisan kue itu dengan jelas lagi.
Di sebelahku, Nadine meletakkan tangannya di atas meja. Telapak menghadap ke atas. Di antara cangkir hijau dan piring kue. Tanpa berkata apa-apa.
Aku menaruh tanganku di atasnya.
Aku makan kue itu dengan satu tangan. Pelan. Sampai habis. Bahkan remahnya.
Setelah makan, aku berdiri dengan refleks untuk mengangkat piring. Tanganku sudah menyentuh tumpukan piring kotor sebelum aku menyadarinya.
Hendra menatapku dari balik koran.
“Itu masalah piring,” katanya. “Bukan masalahmu.”
Aku melepaskan piring itu.
Aku duduk kembali.
Dan aku duduk di sana sepanjang sore. Di meja makan keluarga Prakoso, dengan cangkir hijau yang diisi ulang dua kali tanpa diminta. Aku mendengarkan Ratih bercerita tentang Ibu Sumi, cerita yang sama, dan aku mendengarkannya seperti baru pertama kali. Aku mendengarkan Hendra bercerita tentang Stasiun Kiaracondong. Aku mendengarkan Livia bercerita tentang klien yang ingin slogan yang lucu tapi serius tapi nggak kelihatan berusaha. Aku mendengarkan Nadine berdebat dengan adiknya soal apakah mendoan boleh dicelup ke kopi susu, dan kalah.
Aku tidak mencuci loyang. Aku tidak membetulkan apa pun. Aku tidak membuat siapa pun tertawa dengan sengaja. Aku tidak menjadi orang yang bisa diandalkan.
Aku hanya ada di sana.
Dan itu cukup.
Malam itu, di kamar kontrakan di belakang Remah Pagi, dengan retakan di pojok langit-langit yang masih sama sejak aku pindah, aku membuka buku catatan kecil yang kubawa dari Yogyakarta.
Halaman yang kutulis di kamar kos dengan jendela menghadap tembok biru. Mbak Tari. Gilang. Pak Harno. Bu Sekar. Dan di baris paling bawah, baris yang akhirnya pernah kuisi sendiri untuk pertama kalinya:
Erga — suka jalan pagi sebelum toko buka, waktu jalan masih gelap. Suka kopi tubruk robusta, ternyata. Suka ngelihat adonan naik tanpa ditungguin. Suka duduk di rumah orang tanpa bawa apa-apa. Masih sayang dia. Tapi bisa hidup tanpa harus berguna buat dia.
Aku membaca baris itu, lalu mengambil pulpen dan menambahkan satu kalimat di bawahnya.
Aku menulisnya pelan-pelan. Rapi. Seperti orang yang menyalin sesuatu yang penting.
Namaku ada di sini.
Aku menutup buku itu dan mematikan lampu.
Di luar, sebuah angkot lewat dengan musik dangdut yang keras. Lagu yang sama yang biasa Ratih nyanyikan di kamar mandi, dengan lirik yang separuh ia karang sendiri, yang sekarang ia nyanyikan setiap kali mengikat pandan.
Aku membiarkan lagu itu lewat. Kali ini aku ikut bernyanyi.
TAMAT
- 1 Pacar yang Datang Bersama Kotak Kue
- 2 Aturan Pertama: Jangan Jatuh Cinta
- 3 Kursi di Sebelah Nadine
- 4 Di Luar Jadwal
- 5 Kue Ulang Tahun yang Terlalu Jujur
- 6 Potongan yang Bentuknya Jelek
- 7 Resep yang Selalu Gagal
- 8 Hal yang Tidak Masuk Kontrak
- 9 Kencan yang Tidak Dihitung
- 10 Pertanyaan Sepupu yang Salah Alamat
- 11 Celemek Cadangan
- 12 Hari ketika Ibu Menyebut Rumah
- 13 Jawaban yang Ditunda
- 14 Delapan Pertanyaan untuk Livia
- 15 Jangan Janji untuk Semua Orang
- 16 Foto yang Harus Kita Simpan
- 17 Aku Suka Kamu Tanpa Jadwal
- 18 Bonus yang Tidak Bisa Kuterima
- 19 Resep yang Akhirnya Berhasil
- 20 Kebenaran di Meja yang Sama
- 21 Undangan yang Tidak Kukirim
- 22 Kue untuk Pesta yang Tidak Kuhadiri
- 23 Aku Pergi Dulu
- 24 Satu Cangkir Terlalu Banyak
- 25 Kue yang Jadi Saat Orangnya Tidak Ada
- 26 Celemek Tanpa Nama
- 27 Yang Dia Ingat Tentang Kita
- 28 Aku yang Membawanya Masuk
- 29 Kabar Pertama yang Tidak Bisa Kukirim
- 30 Hari Tanpa Peran
- 31 Nama yang Muncul Lagi
- 32 Kalau Kamu Mau Dengar
- 33 Kencan Pertama yang Kedua
- 34 Aku Tidak Perlu Membayar Tempatku
- 35 Tamu yang Boleh Menolak
- 36 Namaku Ada di Sini reading