Chapter Ten

Pertanyaan Sepupu yang Salah Alamat

POV: Nadine

Rumah Mas Dimas di Antapani punya halaman belakang seluas lapangan bulu tangkis, pemanggang sate yang ia beli dari lelang daring dengan harga yang tidak pernah ia akui, dan dua anak kembar umur enam tahun yang dalam lima menit pertama sudah menobatkan Erga sebagai Om Kue.

“Om Kue, Om Kue, bisa bikin kue bentuk dinosaurus?”

“Bisa.”

“Dinosaurus yang lagi makan dinosaurus?”

Erga berpikir serius. “Itu butuh dua kue. Dan izin orang tua.”

Kembar itu berlari ke ibunya untuk meminta izin, dan aku menyadari aku sudah tersenyum selama beberapa menit tanpa alasan yang jelas.

Kumpul sepupu adalah acara keempat, dan secara teori yang paling mudah. Tidak ada orang tua. Tidak ada Tante Wulan. Hanya generasi kami: Mas Dimas dan istrinya Kak Sari, sepupu-sepupu dari pihak ayah, Livia, dan belasan anak kecil yang berlarian di antara kaki orang dewasa. Aku sudah menyiapkan daftar topik aman di ponsel: pekerjaan, cuaca, harga cabai, drama Korea yang sedang ramai. Tidak ada topik yang dimulai dengan huruf R.

Masalahnya, acara sepupu juga yang paling berbahaya. Karena generasi kami tidak sungkan bertanya.


Dua jam pertama berjalan lebih baik daripada rencanaku.

Mas Dimas menantang Erga lomba membakar sate, dengan alasan tukang kue pasti tidak paham api terbuka. Erga menerima dengan wajah serius, lalu kalah telak karena satenya gosong sebelah. Mas Dimas merayakan kemenangannya seperti juara dunia, berlari keliling halaman sambil mengacungkan tusuk sate. Erga membungkuk kepadanya dengan hormat, lalu diam-diam memberikan sate Mas Dimas yang ternyata masih mentah di tengah kepada anjing tetangga.

Kak Sari melihatnya, menutup mulut, dan tertawa sampai terbatuk.

Livia sedang duduk bersama sepupu-sepupu seusianya di tikar, sesekali melempar ejekan ke arah Erga. Mas, kalah sama Mas Dimas itu memalukan secara nasional. Ia terdengar seperti dirinya yang dulu. Setiap kali mendengarnya, dadaku terasa lebih ringan satu gram.

Aku mulai lengah. Itu kesalahanku.

Kami duduk melingkar di teras menjelang maghrib, dengan piring sate dan teh manis dalam teko besar. Erga di sebelahku. Kak Sari di seberang, memangku salah satu anak kembar yang sudah mengantuk.

“Jadi, Din,” kata Kak Sari dengan senyum paling tulus di dunia. “Kapan nih? Seriusnya?”

Semua orang menoleh. Tidak dengan niat jahat. Dengan niat paling baik yang bisa dimiliki keluarga, dan justru itu yang membuatnya lebih berat.

“Jangan kelamaan, lho,” lanjut Kak Sari, lembut. “Nanti kayak kemarin. Udah fitting kebaya, udah sebar—”

“Sar,” tegur Mas Dimas pelan.

“Aku cuma bilang. Biar nggak kejadian lagi.”

Teko teh di tengah lingkaran tiba-tiba menjadi benda paling menarik di dunia. Aku menatapnya. Aku tahu semua mata sedang menunggu. Aku tahu jawaban yang benar: tertawa, bilang Doain aja, Kak, lalu mengganti topik ke harga cabai. Aku sudah melakukannya puluhan kali dalam setahun terakhir.

Tapi mulutku tidak bergerak.

Yang terbayang justru ruang tengah rumah ini setahun lalu. Kak Sari memelukku di dapur. Mas Dimas mengembalikan uang sewa tenda yang sudah ia bayarkan untuk kami. Anak kembarnya bertanya, Om Rian mana?, dan aku harus berjongkok untuk menjelaskan kepada dua anak lima tahun sesuatu yang belum bisa kujelaskan kepada diriku sendiri.

Rian dulu selalu menjawab pertanyaan seperti ini dengan mudah. Secepatnya, Kak! Dengan senyum yang membuat semua orang bersorak. Semua orang menyukai jawaban itu. Aku juga.

Jariku mencari sesuatu untuk digenggam. Ujung taplak. Tidak ada taplak. Aku menggenggam kain rokku sendiri.

“Itu keputusan Nadine, Kak.”

Suara Erga. Tenang. Tidak keras, tidak ketus, tidak berusaha lucu.

Kak Sari mengerjap. “Hm?”

“Kapan serius, gimana, sampai mana,” kata Erga, seolah membicarakan resep. “Itu punya Nadine. Kalau dia udah mau cerita, dia yang cerita. Saya mah nunggu aja.” Ia mengambil tusuk sate dari piring dan menunjuk Mas Dimas. “Yang lebih mendesak, Kak, suami Kakak barusan menang lomba sate pakai daging mentah. Itu bukan kemenangan. Itu ancaman kesehatan masyarakat.”

“Itu fitnah!” teriak Mas Dimas.

“Tanya anjing tetangga.”

Lingkaran itu meledak tertawa. Kak Sari memukul lengan suaminya. Anak kembar di pangkuannya terbangun dan ikut tertawa tanpa tahu apa yang lucu. Pertanyaan tadi melayang pergi bersama asap sate, dan tidak ada yang memanggilnya kembali.

Aku masih menggenggam rokku.

Erga tidak menoleh kepadaku. Ia berdiri, mengambil teko teh yang sebenarnya masih setengah penuh, dan berkata keras kepada semua orang, “Tehnya habis. Aku isi ulang.” Lalu, ketika melewati kursiku, ia membungkuk sedikit, cukup dekat supaya hanya aku yang mendengar.

“Mau pulang?” bisiknya. “Aku bisa pura-pura sakit perut. Aku jago banget. Pernah bolos UAS.”

Aku mendongak.

Ia tidak menjanjikan apa-apa kepada Kak Sari. Ia tidak berkata secepatnya. Ia tidak mengarang kebohongan baru yang harus kutanggung nanti, di acara berikutnya, dengan kalimat yang sedikit berbeda. Ia hanya mengembalikan pertanyaan itu kepada pemiliknya, lalu menawariku pintu keluar.

Selama setahun, aku mengira perlindungan berarti seseorang yang bisa menjawab dengan meyakinkan. Ternyata perlindungan bisa berarti seseorang yang menolak menjawab atas namaku.

“Nggak,” kataku. Suaraku serak. Aku berdeham. “Tetap di sini.”

“Oke. Tehnya—”

“Maksudku,” kataku, dan tanganku melepas rok, lalu menyentuh ujung lengan kausnya, “di sini. Di sebelahku.”

Ia menatapku. Teko teh di tangannya sedikit miring.

“Oke,” katanya lagi, lebih pelan.

Ia meletakkan teko itu kembali di meja, yang membuat Livia berteriak Katanya habis!, lalu duduk lagi di kursinya. Kali ini kursinya sedikit lebih dekat. Lengan kami bersentuhan dari siku sampai bahu. Ia tidak bertanya boleh atau tidak, dan aku tidak menyuruhnya menjauh.

Sisa malam itu, aku tidak banyak bicara. Aku mendengarkan Erga berdebat dengan Mas Dimas soal suhu arang. Aku melihatnya membantu Kak Sari menggendong anak kembar yang tertidur ke kamar, satu di tiap lengan, dan cara ia berjalan pelan-pelan supaya mereka tidak terbangun. Aku melihat Livia memperhatikanku memperhatikan Erga, lalu tersenyum sendiri dengan sangat menyebalkan.

Di kepalaku, pasal lima berdiri dengan huruf tebal. Aku pura-pura tidak membacanya.

Saat aku mengambil piring kotor ke dapur, Kak Sari menyusul. Ia berdiri di sebelahku di depan wastafel, memeras spons tanpa mencuci apa pun.

“Din,” katanya pelan. “Maaf, ya. Tadi aku nggak mikir.”

“Nggak apa-apa, Kak.”

“Aku cuma pengin kamu nggak sakit lagi.” Ia menatap ke luar jendela dapur, ke teras tempat Erga sedang dijadikan kuda-kudaan oleh anak kembarnya. “Tapi kayaknya aku salah orang buat ditanya, ya.”

Aku tidak menjawab. Kak Sari menepuk lenganku dua kali, lalu kembali ke teras. Aku berdiri sendirian di depan wastafel dengan tangan basah, dan untuk pertama kalinya setelah setahun, rasa bersalah seseorang kepadaku tidak membuatku ingin menghibur mereka.


Livia pulang menumpang mobil sepupu. Biar Kakak berdua, katanya sambil mengedipkan mata, lalu kabur sebelum aku sempat melemparnya dengan sandal.

Jadi hanya kami berdua di mobil. Hujan turun pelan di jalan Soekarno-Hatta. Wiper bergerak dengan ritme yang terlalu tenang. Radio memutar lagu lama yang tidak kuingat judulnya.

Erga tidak bicara. Aku juga tidak.

Di lampu merah, tanganku di persneling. Tangannya di pahanya sendiri, beberapa senti dari tanganku. Aku bisa merasakan jarak itu seperti merasakan panas dari kompor yang belum dinyalakan.

Mobil kecil ini tidak pernah terasa sesempit ini. Aku bisa mendengar napasnya. Aku bisa mencium bau arang dan teh manis dari kausnya. Setiap kali aku menginjak rem, bahunya bergeser sedikit ke arahku.

Ini latihan, kataku dalam hati. Ini cuma perjalanan pulang dari acara nomor empat.

Lampu berubah hijau. Aku menginjak gas.

Tidak ada satu bagian pun dari perjalanan itu yang terasa seperti latihan.