Chapter Eight
Hal yang Tidak Masuk Kontrak
POV: Nadine
Grup keluarga kami bernama Prakoso Family (Resmi), dan selama empat tahun isinya hanya tiga hal: stiker bunga dari ibuku setiap pagi, tautan berita kesehatan yang meragukan dari Tante Wulan, dan kabar duka dari kerabat jauh yang tidak pernah kuingat wajahnya.
Senin sore, ibuku mengirim foto.
Loyang bika ambon, dipotong melintang. Di bagian bawahnya ada sarang yang lebih banyak dari minggu lalu. Di pojok foto terlihat sepotong lengan dengan bekas luka bakar kecil berbentuk koma.
Ibu:
Percobaan ke-2!!! Lubangnya 11!!! 🎉🎉 Makasih Nak Erga 🙏
Remah Pagi tutup setiap Senin. Aku tahu itu. Aku tidak tahu Erga menghabiskan hari liburnya di dapur ibuku.
Kamis pagi, ayahku, yang dalam empat tahun baru mengirim dua pesan ke grup itu, satu Ok dan satu lagi foto buram jempolnya sendiri, mengirim foto ketiga.
Dua cangkir blirik hijau di atas bangku kayu. Latar belakangnya warung kopi di pasar. Tanpa keterangan.
Aku menatap foto itu di meja kantorku selama waktu yang tidak masuk akal.
“Mbak,” kata Dita, desainer junior yang mejanya di sebelahku. Ia mencondongkan badan untuk mengintip layar dengan kurang ajar. “Itu mas kue? Kok ada di grup keluarga Mbak?”
“Bukan urusanmu.”
“Soalnya dua minggu ini Mbak senyum ke printer.” Ia mundur ke kursinya. “Printer, Mbak. Printer yang macet terus itu.”
Aku tidak menjawab. Aku sibuk menghitung.
Delapan acara dalam sepuluh minggu. Kami sudah menjalani tiga. Tapi di luar tiga itu, Erga sudah dua kali ke pasar bersama ayahku, dua kali ke dapur ibuku, satu kali ke tokonya aku datang sendiri, dan setiap malam, jam sembilan lewat, ada satu pesan pendek di ponselku.
Erga (Kue):
Udah pulang?
Hanya itu. Setiap malam. Dan setiap malam aku menjawab dalam waktu kurang dari satu menit, lalu menyesal karena terlalu cepat.
Selasa kemarin, pesan itu tidak datang. Aku membuka ponsel empat belas kali sebelum tidur. Aku menghitungnya karena aku tidak percaya pada diriku sendiri. Empat belas. Pesan itu baru datang jam sebelas lewat, dengan permintaan maaf: pesanan nasi kotak katering, oven labil, lembur. Aku membalas Oke dengan sangat santai, setelah menatap layar lima menit supaya tidak terlihat menunggu.
Aku manajer proyek. Aku tahu tanda-tanda proyek keluar jalur.
Kamis malam, aku datang ke Remah Pagi membawa laptop.
Kursi di pojok masih menghadap jendela. Aku duduk di sana dan membuka dokumen Protokol Hubungan (Sementara).
“Rapat evaluasi,” kataku ketika Erga datang membawa dua gelas teh.
“Aku dipecat?”
“Revisi protokol.” Aku memutar layar. “Pasal tujuh.”
Ia membaca dengan bibir bergerak pelan, seperti biasa.
7. Kunjungan ke rumah keluarga N di luar delapan acara resmi harus dikoordinasikan dengan N terlebih dulu.
Ia bersandar. “Jadi kalau ibumu ngajak aku bikin bika, aku harus lapor ke kamu dulu?”
“Iya.”
“Kamu HRD keluargamu sekarang?”
“Aku manajer proyek hubungan ini.”
“Hubungan yang pura-pura.”
“Justru karena pura-pura,” kataku, lebih keras daripada yang kuinginkan. “Kamu nggak dibayar buat datang hari Senin.”
“Makanya aku datang.”
Aku menatapnya. “Maksudnya?”
Erga memutar gelas teh di tangannya. Uap naik ke wajahnya, dan untuk sesaat ia tampak seperti mencari kalimat yang tidak bisa dibungkus lelucon.
“Yang dibayar itu delapan,” katanya. “Yang hari Senin itu aku. Aku datang karena mau, Nadine. Bukan karena ditugasin.”
Toko sudah sepi. Uci sudah pulang. Nino entah di mana, mungkin sengaja menghilang. Hanya ada dengung oven yang didinginkan dan lampu jalan yang jatuh di meja kami.
Aku seharusnya mengetik pasal tujuh dengan huruf tebal. Aku seharusnya bilang, Justru itu masalahnya. Aku seharusnya menjelaskan bahwa ibuku sudah memasak sambal terasi untuk orang yang tidak kembali, bahwa ayahku sudah mengeluarkan cangkir yang jarang keluar, bahwa Livia sudah menyimpan nomornya seperti jimat, dan semua itu punya tanggal kedaluwarsa yang kutulis sendiri di jadwal nomor delapan.
Tapi kalau aku melarangnya, ibuku akan bertanya kenapa Erga tidak datang lagi hari Senin. Dan aku harus menjawabnya dengan kalimat yang sedikit berbeda setiap minggu.
Dan aku, entah sejak kapan, tidak ingin pesan jam sembilan itu berhenti.
“Ibuku gampang sayang sama orang,” kataku akhirnya. Hanya itu yang berhasil keluar.
“Aku tahu,” katanya. Ia berhenti sebentar. “Aku juga.”
Aku tidak bertanya apakah maksudnya ia juga tahu, atau ia juga gampang sayang. Aku tidak berani.
Lalu, seolah menyadari kalimat itu menggantung terlalu lama di udara, ia berdiri, meletakkan satu tangan di dada dan satu tangan terangkat ke langit-langit, dan berlutut dengan satu kaki di lantai toko.
“Wahai Manajer Proyek yang terhormat,” katanya dengan suara penyiar radio tahun sembilan puluhan, “izinkanlah hamba yang hina ini ngulek sambal di hari Senin, tanpa mengisi formulir koordinasi rangkap tiga—”
“Kamu kebanyakan akting.”
Ia langsung berdiri, seperti sudah menunggu. “Oke. Satu permintaan.”
“Aku tahu aku bakal nyesel.”
“Besok kamu yang telepon aku duluan.”
Aku mengerjap. “Itu doang?”
“Itu doang.” Ia duduk lagi. Senyumnya masih ada, tapi matanya tidak ikut bercanda. “Selama tiga minggu, aku yang selalu kirim pesan duluan. Aku yang nanya udah pulang. Aku yang nelepon. Kamu belum pernah sekali pun. Aku pengin tahu rasanya ditelepon kamu duluan. Sekali aja.”
Aku membuka mulut untuk membantah. Lalu aku menutupnya lagi, karena aku mencoba mengingat satu saja pesan yang kumulai sendiri. Selain jadwal. Selain protokol. Selain urusan.
Tidak ada.
Aku tidak menghapus pasal tujuh malam itu. Tapi aku juga tidak menyimpannya.
Jumat, jam dua belas lewat sepuluh, aku duduk di mobil di parkiran kantor dan menatap nama Erga (Kue) di layar selama empat puluh menit.
Aku sudah menyusun kalimatnya di catatan ponsel. Tiga versi. Versi pertama terlalu resmi. Versi kedua terlalu santai. Versi ketiga ada kata kalau kamu nggak sibuk, yang kuhapus karena terdengar seperti orang yang siap ditolak.
Aku menekan tombol hijau sebelum sempat membuat versi keempat.
Dua dering.
“Remah Pagi, dengan Erga, ada yang bisa—”
“Ini aku.”
Hening. Lalu suaranya berubah. Pelan. Hampir tidak percaya. “Oh. Beneran.”
“Kamu yang minta.”
“Iya. Aku cuma nggak nyangka kamu bakal secepat ini.”
“Ini udah empat puluh menit.”
“Apa?”
“Nggak.” Aku menutup mata. Membaca versi ketiga dalam kepala, tanpa kalau kamu nggak sibuk. “Sabtu malam. Makan. Berdua. Bukan acara.”
Hening lagi. Lebih lama.
“Kamu ngajak aku kencan?”
“Aku ngajak kamu makan.”
“Berdua. Malam Minggu. Bukan acara.”
“...Iya.”
Aku mendengarnya mengembuskan napas di ujung sana, seperti orang yang baru saja meletakkan sesuatu yang berat.
“Oke,” katanya. “Aku yang pilih tempat.”
Ia menutup telepon lebih dulu. Aku duduk di mobil dengan ponsel di pangkuan dan jantung yang berdetak seperti baru naik tangga sepuluh lantai.
Sabtu jam lima sore, ada tujuh baju di atas tempat tidurku.
Livia duduk di kursi meja belajarku, makan keripik, dan menonton seperti menonton pertandingan final.
“Yang biru,” katanya.
“Terlalu serius.”
“Yang hitam.”
“Terlalu kayak mau ke pemakaman.”
“Yang krem.”
“Terlalu kayak berharap.”
Livia berhenti mengunyah. “Kak. Katanya ini bukan kencan.”
“Memang bukan.”
“Terus kenapa Kakak pakai lipstik yang cuma dipakai ke kondangan?”
Aku menatap cermin. Aku bahkan tidak ingat kapan aku memakainya.
Livia tersenyum lebar, menggigit keripik terakhir, dan berkata dengan nada paling menyebalkan yang bisa dikeluarkan seorang adik, “Yang krem, Kak. Pakai yang berharap aja.”
- 1 Pacar yang Datang Bersama Kotak Kue
- 2 Aturan Pertama: Jangan Jatuh Cinta
- 3 Kursi di Sebelah Nadine
- 4 Di Luar Jadwal
- 5 Kue Ulang Tahun yang Terlalu Jujur
- 6 Potongan yang Bentuknya Jelek
- 7 Resep yang Selalu Gagal
- 8 Hal yang Tidak Masuk Kontrak reading
- 9 Kencan yang Tidak Dihitung
- 10 Pertanyaan Sepupu yang Salah Alamat
- 11 Celemek Cadangan
- 12 Hari ketika Ibu Menyebut Rumah
- 13 Jawaban yang Ditunda
- 14 Delapan Pertanyaan untuk Livia
- 15 Jangan Janji untuk Semua Orang
- 16 Foto yang Harus Kita Simpan
- 17 Aku Suka Kamu Tanpa Jadwal
- 18 Bonus yang Tidak Bisa Kuterima
- 19 Resep yang Akhirnya Berhasil
- 20 Kebenaran di Meja yang Sama
- 21 Undangan yang Tidak Kukirim
- 22 Kue untuk Pesta yang Tidak Kuhadiri
- 23 Aku Pergi Dulu
- 24 Satu Cangkir Terlalu Banyak
- 25 Kue yang Jadi Saat Orangnya Tidak Ada
- 26 Celemek Tanpa Nama
- 27 Yang Dia Ingat Tentang Kita
- 28 Aku yang Membawanya Masuk
- 29 Kabar Pertama yang Tidak Bisa Kukirim
- 30 Hari Tanpa Peran
- 31 Nama yang Muncul Lagi
- 32 Kalau Kamu Mau Dengar
- 33 Kencan Pertama yang Kedua
- 34 Aku Tidak Perlu Membayar Tempatku
- 35 Tamu yang Boleh Menolak
- 36 Namaku Ada di Sini