Chapter Seventeen
Aku Suka Kamu Tanpa Jadwal
POV: Erga
Aku mengajaknya ke toko.
Bukan ke beranda rumah orang tuanya, dengan laron dan Livia di jendela atas. Bukan ke taman, dengan pelari sore dan penjual cilok. Bukan ke restoran di Dago dengan pelayan yang mengisi gelas setiap tiga detik.
Ke Remah Pagi. Tutup, gelap, bau tepung dan vanili sisa hari Sabtu. Tempat yang tidak ada hubungannya dengan keluarga Prakoso, dengan kontrak, dengan delapan acara. Tempat yang punya kursi pojok menghadap jendela karena ia pernah memutarnya, dan celemek hijau lumut di gudang karena aku pernah menggantungnya.
Aku menyalakan satu lampu saja, lampu di atas meja kasir. Nadine duduk di kursi pojok. Aku menarik kursi lain dan duduk di depannya.
Lalu aku melakukan sesuatu yang sulit sekali bagiku: aku tidak menawarinya apa-apa.
Tidak ada kopi. Tidak ada teh. Tidak ada potongan brownies yang bentuknya jelek. Tanganku sudah setengah berdiri menuju mesin kopi karena kebiasaan, dan aku memaksanya duduk lagi.
Nadine memperhatikannya. Ia selalu memperhatikan.
“Kamu nggak bikinin aku apa-apa,” katanya.
“Sengaja.”
“Kenapa?”
“Karena aku mau ngomong sesuatu,” kataku, “dan aku nggak mau itu kedengeran kayak aku lagi ngasih kamu sesuatu terus nunggu dibayar.”
Ia terdiam. Tangannya meremas ujung blusnya. Aku tidak berusaha membuatnya tertawa.
Aku sudah menyusun kalimat ini selama satu minggu. Di motor, di depan oven, di bangku kayu pasar, di bawah kumis kertas. Aku menyusunnya dalam versi panjang dan versi pendek, versi lucu dan versi serius. Ketika saatnya tiba, semua versi itu hilang.
Yang tersisa hanya yang benar.
“Aku sayang kamu,” kataku.
Nadine tidak bergerak.
“Bukan karena kamu bayar aku. Bukan karena kamu butuh pacar buat delapan acara. Bukan juga karena kamu cantik, walaupun kamu cantik, dan itu bikin Uci merapikan poni tiap kamu masuk.” Aku menarik napas. “Aku sayang kamu karena kamu melipat kotak kue kayak lagi perang. Karena kamu bikin protokol jam dua pagi. Karena kamu nanya siapa yang aku andalkan kalau aku capek, padahal belum pernah ada yang nanya itu. Aku sayang kamu tanpa jadwal, Nadine. Di hari Senin. Di hari yang nggak masuk hitungan.”
Matanya berkaca-kaca. Ia tidak menyekanya.
“Dan aku sayang keluargamu,” lanjutku. Ini bagian yang paling sulit, dan aku harus mengatakannya dengan benar. “Aku sayang ibumu, bapakmu, Livia. Eyangmu juga, walaupun dia nyuruh-nyuruh. Tapi aku mau kamu tahu satu hal.”
Aku mencondongkan badan sedikit.
“Semua yang kulakukan buat mereka, aku lakukan karena aku mau. Bika. Pasar. Kumis kertas. Itu bukan investasi. Itu bukan cara biar kamu merasa berutang. Kamu nggak berutang apa-apa ke aku. Nggak satu pun.”
Nadine menutup mulut dengan tangan.
“Aku cuma minta satu hal,” kataku. “Satu aja. Bukan jawaban. Bukan status. Aku cuma minta kita berhenti sembunyi di balik peran. Aku nggak mau lagi pura-pura ini akting. Aku capek bilang ke diri sendiri kalau aku ke pasar tiap Kamis karena kontrak. Aku nggak mau kamu juga pura-pura.”
Ia menurunkan tangannya pelan-pelan.
“Aku juga,” katanya. Suaranya hampir tidak terdengar. Ia berdeham, mencoba lagi. “Aku juga suka kamu, Erga. Aku...”
Ia berhenti. Aku menunggu.
“Aku suka kamu dari bangku bubur,” katanya, dan tawa kecilnya pecah jadi isak. “Dari kamu ngetik boleh bilang nggak pakai dua jari. Aku suka kamu waktu kamu kasih aku brownies yang jelek. Waktu kamu gantung celemek itu. Waktu kamu bilang ke Kak Sari itu keputusanku.” Ia menyeka mata dengan punggung tangan, kasar, seperti marah pada air matanya sendiri. “Aku nggak pura-pura. Udah lama aku nggak pura-pura.”
Sesuatu di dadaku yang sudah mengepal selama tujuh minggu terlepas.
Lalu ia melanjutkan, dan sesuatu itu mengepal lagi.
“Tapi aku belum bisa bilang kita pasangan.”
Hening. Lampu kulkas etalase berdengung.
“Belum,” ulangnya, lebih pelan, seperti meminta maaf pada kata itu. “Tadi siang aku lihat album foto di rumah Eyang. Album dua tahun lalu. Rian masih ada di sana. Nggak ada yang nyopot. Eyang nggak pernah buang foto.” Suaranya bergetar. “Dan hari ini Bapak manggil kamu dari ujung barisan. Ibu daftarin kamu arisan dua belas bulan. Kalau aku bilang kita pasangan, terus suatu hari ternyata aku salah, terus kamu pergi—”
“Aku nggak—”
“Aku tahu kamu nggak berniat pergi.” Ia memotong, lembut. “Rian juga nggak berniat. Nggak ada yang pernah berniat.”
Aku tidak bisa membantahnya. Itu yang paling menyakitkan. Ia tidak sedang mencari alasan. Ia sedang jujur tentang sesuatu yang benar-benar menakutkan baginya, dan aku tidak punya bukti yang bisa membuatnya berhenti takut, karena satu-satunya bukti adalah waktu.
“Aku butuh sedikit lagi,” katanya. “Sedikit lagi aja. Buat yakin.”
Kami duduk di sana lama. Di luar, sebuah angkot lewat dengan musik dangdut keras, lalu menghilang.
Aku seharusnya marah. Atau sedih. Atau pulang. Aku merasakan ketiganya sekaligus, dan di bawah ketiganya, sesuatu yang lebih kuat dari semuanya: aku ingin menciumnya.
Bukan untuk meyakinkannya. Bukan untuk menjawab apa pun. Hanya karena ia duduk di kursi pojok menghadap jendela, dengan mata merah dan pipi basah, mengatakan ia menyukaiku sejak bangku bubur. Dan aku sudah menyukainya sejak ia berkata salaman, boleh? dan menjabat tanganku seperti menandatangani kontrak.
“Nadine,” kataku. “Boleh aku cium kamu?”
Ia menatapku.
“Bukan buat jawaban,” tambahku cepat. “Aku tahu itu bukan jawaban. Aku cuma...”
“Pengin,” katanya. Kata yang sama yang ia pakai di beranda.
“Iya.”
Ia tidak menjawab dengan boleh. Ia berdiri dari kursi pojok. Aku ikut berdiri, karena tidak tahu harus melakukan apa. Ia melangkah mendekat, satu langkah, sampai jarak di antara kami hanya selebar telapak tangan.
“Aku yang mau,” katanya. “Bukan cuma boleh. Aku yang mau.”
Aku menciumnya.
Kali ini tidak singkat. Kali ini tidak ada dua kursi rotan yang terlalu jauh. Tanganku di pipinya, ibu jariku menghapus sisa air mata di bawah matanya, dan tangannya meremas bagian depan kausku seperti takut aku akan ditarik pergi. Bibirnya asin karena menangis. Ia menciumku balik dengan sungguh-sungguh, dengan kesadaran penuh, tidak buru-buru, seolah kami punya waktu. Seolah tidak ada tanggal di kalender. Seolah nomor delapan tidak pernah ditulis.
Aku merasakan napasnya tertahan. Aku merasakan tangannya naik ke tengkukku, jari-jarinya masuk ke rambutku, menarikku lebih dekat. Aku merasakan detak jantungnya lewat blusnya, atau mungkin itu detak jantungku sendiri, aku sudah tidak bisa membedakan.
Tidak ada yang menonton. Tidak ada tante. Tidak ada foto. Tidak ada honor dua belas juta. Hanya kami, satu lampu di atas meja kasir, dan dengung kulkas etalase.
Ketika kami akhirnya berhenti, ia tidak melepaskan kausku. Ia menempelkan dahinya di dadaku dan bernapas pelan-pelan, seperti orang yang baru selesai berlari.
Aku memeluknya. Aku menempelkan dagu di puncak kepalanya dan mencium bau sampo stroberi dan sedikit asap sate sisa arisan.
Aku berpikir: ini, justru ini, yang membuatku harus mengatakan kalimat berikutnya.
“Nad.”
“Hm.” Suaranya teredam di kausku.
“Aku mau bilang satu hal lagi. Dan aku mau kamu dengar sampai habis sebelum kamu mikir aku marah. Aku nggak marah.”
Ia mengangkat wajah. Aku melihat ketakutan kembali ke matanya, cepat sekali.
“Aku bakal nunggu,” kataku. “Aku serius. Aku bakal kasih kamu waktu yang kamu minta. Tapi aku juga harus jujur soal satu hal, karena kalau nggak, aku bakal pura-pura lagi.”
Aku menarik napas.
“Setelah acara nomor delapan, aku nggak akan pura-pura lagi.”
Ia mengerjap.
“Maksudku,” kataku, pelan-pelan, “setelah pesta orang tuamu, kontrak kita selesai. Aku nggak bisa datang ke rumahmu lagi sebagai pacar sewaan. Aku nggak bisa berdiri di sebelah bapakmu di foto berikutnya, tahu kalau aku ada di sana karena kontrak yang udah habis, sementara kamu belum bisa bilang aku ini apa.” Suaraku bergetar sedikit, dan aku membiarkannya. “Aku nggak kuat, Nad. Aku udah coba ngitung. Aku nggak kuat.”
“Kamu ngasih aku tenggat,” bisiknya.
“Bukan.” Aku menggeleng. “Aku ngasih diriku sendiri batas. Itu beda. Kamu boleh butuh waktu lebih lama dari itu. Kamu boleh nggak pernah yakin. Itu hakmu. Aku nggak akan maksa.” Aku menyentuh pipinya lagi, pelan. “Tapi setelah pesta, kalau jawabannya belum ada, aku nggak bisa tetap di sini sambil pura-pura. Itu aja.”
Nadine menatapku lama. Aku melihatnya mencerna kalimat itu dengan seluruh dirinya: bukan dengan otak manajer proyek, tapi dengan bagian lain yang jarang ia tunjukkan.
“Oke,” katanya akhirnya. Suaranya pecah di tengah. “Oke. Itu... adil.”
“Nggak ada akting malam ini,” kataku, mencoba tersenyum. “Jadi kamu nggak bisa bilang kalimat itu.”
Ia tertawa, sedikit, basah. “Kalimat apa?”
“Kamu tahu.”
Ia tahu. Ia tidak mengucapkannya.
Aku mengantarnya ke mobil. Ia memelukku sekali lagi di samping pintu, lama, tanpa bertanya boleh atau tidak, dan aku tidak keberatan.
Lalu ia masuk, menyalakan mesin, dan tidak langsung pergi. Aku melihatnya dari trotoar lewat kaca depan. Ia menatap dasbor. Lalu, pelan-pelan, aku melihat bibirnya bergerak, dan jarinya terangkat satu per satu di atas setir, seperti anak kecil yang sedang berhitung.
Satu. Dua. Tiga.
Ia menatap tiga jarinya itu lama sekali.
Acara nomor enam sudah lewat hari ini. Nomor tujuh, persiapan pesta. Nomor delapan, pesta ulang tahun pernikahan orang tuanya.
Tiga minggu.
Aku melihat wajahnya ketika ia menyadarinya: bahwa waktu yang ia minta, yang ia kira masih panjang dan kabur seperti nanti, ternyata punya ujung. Dan ujungnya sudah terlihat.
Mobilnya akhirnya bergerak. Lampu belakangnya menghilang di ujung jalan.
Aku berdiri di trotoar depan toko yang gelap, dengan bibir yang masih terasa asin, dan tidak tahu apakah aku baru saja melakukan hal paling berani dalam hidupku atau hal paling bodoh.
Mungkin keduanya. Biasanya memang keduanya.
- 1 Pacar yang Datang Bersama Kotak Kue
- 2 Aturan Pertama: Jangan Jatuh Cinta
- 3 Kursi di Sebelah Nadine
- 4 Di Luar Jadwal
- 5 Kue Ulang Tahun yang Terlalu Jujur
- 6 Potongan yang Bentuknya Jelek
- 7 Resep yang Selalu Gagal
- 8 Hal yang Tidak Masuk Kontrak
- 9 Kencan yang Tidak Dihitung
- 10 Pertanyaan Sepupu yang Salah Alamat
- 11 Celemek Cadangan
- 12 Hari ketika Ibu Menyebut Rumah
- 13 Jawaban yang Ditunda
- 14 Delapan Pertanyaan untuk Livia
- 15 Jangan Janji untuk Semua Orang
- 16 Foto yang Harus Kita Simpan
- 17 Aku Suka Kamu Tanpa Jadwal reading
- 18 Bonus yang Tidak Bisa Kuterima
- 19 Resep yang Akhirnya Berhasil
- 20 Kebenaran di Meja yang Sama
- 21 Undangan yang Tidak Kukirim
- 22 Kue untuk Pesta yang Tidak Kuhadiri
- 23 Aku Pergi Dulu
- 24 Satu Cangkir Terlalu Banyak
- 25 Kue yang Jadi Saat Orangnya Tidak Ada
- 26 Celemek Tanpa Nama
- 27 Yang Dia Ingat Tentang Kita
- 28 Aku yang Membawanya Masuk
- 29 Kabar Pertama yang Tidak Bisa Kukirim
- 30 Hari Tanpa Peran
- 31 Nama yang Muncul Lagi
- 32 Kalau Kamu Mau Dengar
- 33 Kencan Pertama yang Kedua
- 34 Aku Tidak Perlu Membayar Tempatku
- 35 Tamu yang Boleh Menolak
- 36 Namaku Ada di Sini