Chapter Eleven
Celemek Cadangan
POV: Erga
Pesanan itu datang hari Senin: lima ratus kotak kue untuk syukuran kantor sebuah bank, diambil Kamis jam tujuh pagi. Setiap kotak berisi tiga jenis kue. Seribu lima ratus potong. Nino membaca angka itu dua kali, lalu duduk di lantai dan menatap langit-langit seperti orang yang baru divonis.
“Kita terima,” kataku.
“Ovennya baru sembuh, Ga.”
“Makanya kita terima. Biar dia tahu dia masih dibutuhkan.”
Nino menatapku lama. “Kamu ngomongin oven atau ngomongin diri sendiri?”
Aku tidak menjawab. Aku sudah sibuk menghitung kebutuhan telur.
Oven kami memang sudah menyala dengan elemen baru, tapi suhunya masih seperti orang yang baru belajar jujur: kadang tepat, kadang tiba-tiba terlalu panas tanpa alasan. Rabu malam, setelah enam belas jam memanggang, kami sudah membuang dua loyang bolu gosong, dan Uci menangis sebentar di gudang karena kakinya kram. Masih ada lima ratus kotak kosong yang harus dilipat, diisi, dan ditempeli stiker.
Jam delapan malam, lonceng pintu berbunyi.
Nadine berdiri di sana dengan blazer kantor, rambut yang sudah separuh lepas dari ikatannya, dan dua kantong plastik berisi nasi bungkus.
“Livia bilang kalian lembur,” katanya. “Dia lihat Instagram tokomu. Kalian posting foto telur tiga ratus butir dengan keterangan tolong.”
“Itu Uci yang posting.”
“Aku yang posting,” kata Uci dari gudang, suaranya masih sengau. “Dan aku nggak menyesal.”
Nadine meletakkan nasi bungkus di meja, melepas blazer, menggulung lengan kemejanya, dan menatap tumpukan kotak karton yang masih pipih.
“Ajarin aku,” katanya.
Nadine Valencia Prakoso, manajer proyek yang bisa menyusun jadwal delapan acara keluarga dalam dua jam, ternyata tidak bisa melipat kotak kue.
Kotak pertama ia lipat terbalik, dengan logo Remah Pagi menghadap ke dalam. Kotak kedua sobek di sudut karena ia menekannya dengan tenaga orang yang sedang marah pada rapat. Kotak ketiga entah bagaimana berubah bentuk menjadi segi lima.
“Ini bukan segi lima,” katanya, menatap hasil karyanya. “Ini desain eksperimental.”
Uci tertawa sampai lupa kakinya kram. Nino, yang sejak siang tidak tersenyum, menaruh loyang dan harus bersandar ke dinding. Bahkan aku, yang sudah enam belas jam tidak berhenti bergerak, merasa bahuku turun untuk pertama kalinya hari itu.
“Oke, oke,” kataku, lalu berdiri di sebelahnya. “Pelan-pelan. Lipatan ini dulu. Terus ini. Yang ini masuk ke celah ini.”
“Boleh aku pegang tanganmu buat ngarahin?” tambahku, karena tanganku sudah terulur setengah jalan sebelum otakku ingat pasal tiga.
“Boleh,” katanya, tanpa berpikir.
Aku menuntun jarinya melipat sisi kotak. Tangannya kecil di bawah tanganku, dan ada lem dari stiker yang menempel di ibu jarinya. Kotak keempat jadi sempurna. Ia mengangkatnya ke udara seperti piala.
“Aku jenius,” katanya.
“Kamu melipat satu kotak.”
“Satu kotak yang sempurna.”
Menjelang jam sepuluh, ia sudah melipat seratus dua puluh kotak. Sebagian besar sempurna. Beberapa masih eksperimental. Uci diam-diam memisahkan yang eksperimental ke tumpukan sendiri untuk dibongkar ulang, dan aku pura-pura tidak melihat.
Masalahnya satu: kemeja kantornya. Putih. Dan di meja kami ada selai stroberi, cokelat leleh, dan tepung dalam jumlah yang sanggup menghancurkan kemeja apa pun.
Aku masuk ke gudang dan mengambil celemek cadangan dari rak paling atas. Celemek kanvas warna hijau lumut, masih terlipat dalam plastik, yang kubeli dua lusin tahun lalu dan tidak pernah kami pakai karena warnanya kurang cocok dengan logo.
Aku membukanya dan memberikannya kepada Nadine. Ia memakainya dan mengikat talinya di belakang dengan simpul yang terlalu rumit untuk celemek.
“Cocok,” kata Uci. “Mbak Nadine mau namanya dibordir? Aku bisa. Adikku punya mesin bordir.”
Aku menjawab lebih cepat daripada seharusnya.
“Nggak usah.”
Uci menatapku. Nadine menatapku. Aku mengambil kotak berikutnya dan pura-pura sibuk dengan lipatan.
Aku tidak tahu kenapa aku menolak. Atau lebih tepatnya, aku tahu, dan aku tidak ingin tahu. Nama yang dibordir tidak bisa dicopot. Kalau suatu hari celemek itu tergantung di gudang tanpa pemiliknya, aku tidak ingin membaca nama itu setiap kali mengambil tepung.
Jam satu dini hari, lima ratus kotak berdiri dalam tumpukan rapi di sepanjang dinding toko. Nino tertidur sambil duduk di kursi. Uci sudah pulang dijemput kakaknya. Nadine duduk di lantai, bersandar ke etalase, dengan celemek hijau yang sekarang bernoda cokelat di bagian dada dan tepung di bagian lutut.
Aku duduk di sebelahnya. Kami makan nasi bungkus yang sudah dingin sejak jam sembilan.
Ia makan dengan pelan, lalu makin pelan. Di suapan kesepuluh, sendoknya berhenti di udara. Di suapan kesebelas, kepalanya turun perlahan dan mendarat di bahuku.
Aku membeku dengan nasi di mulut.
Napasnya teratur. Rambutnya berbau tepung dan sampo stroberi. Satu tangannya masih memegang bungkus nasi, dan aku mengambilnya pelan-pelan supaya tidak tumpah ke celemek. Aku tidak bergerak. Aku bahkan berhenti mengunyah. Di kursi pojok, Nino tertidur dengan mulut terbuka, dan lima ratus kotak kue berdiri di sepanjang dinding seperti saksi yang tidak bisa bicara.
Lima menit. Mungkin tujuh. Aku menghitung detak jantungku sendiri untuk mengukur waktu, dan hitungannya terlalu cepat untuk dipercaya.
Ia terbangun dengan tersentak, menegakkan badan, dan menatapku dengan mata setengah terpejam.
“Aku nggak tidur,” katanya.
“Nggak,” kataku.
“Kamu besok kerja,” kataku.
“Rapat jam sembilan.”
“Kamu harus pulang.”
“Iya.” Ia tidak bergerak. “Sebentar lagi.”
Saat ia akhirnya berdiri, ia melepas celemek dan menyerahkannya kepadaku. Aku membawanya ke gudang. Di sana, di dinding dekat rak tepung, ada deretan gantungan tempat kami menggantung celemek masing-masing. Punyaku. Punya Nino. Punya Uci.
Aku menggantung celemek hijau lumut itu di gantungan keempat.
Lalu aku berdiri di sana dan menatapnya. Celemek tanpa nama, bernoda cokelat, tergantung di sebelah celemekku seolah memang selalu ada di sana.
Aku bisa saja melipatnya dan menaruhnya kembali di rak atas bersama celemek cadangan lain. Itu yang logis. Nadine datang hari ini karena ada pesanan besar. Pesanan besar tidak datang setiap minggu.
Tapi aku tidak melipatnya.
Aku menyadari, sambil berdiri di gudang yang bau tepung jam satu pagi, bahwa menggantung benda sekecil itu artinya aku berharap ia kembali. Bukan untuk acara nomor lima. Bukan untuk kontrak. Untuk kembali ke sini, ke toko kecil dengan etalase retak, tanpa alasan.
Ketika aku keluar dari gudang, Nadine sudah berdiri di pintu dengan blazer di lengan.
“Kamu gantung di mana?” tanyanya.
“Apa?”
“Celemeknya.” Ia menatapku. “Kamu nggak lipat. Aku dengar bunyi gantungan.”
Aku tidak bisa berbohong di jam satu pagi. Terlalu capek.
“Di sebelah punyaku,” kataku.
Ia diam. Lalu ia melakukan sesuatu yang membuatku ingin menggantung seratus celemek lagi: ia tersenyum, kecil dan tidak rapi.
Aku merasa harus mengisi hening itu dengan sesuatu, jadi aku membungkuk dalam-dalam seperti pelayan hotel. “Terima kasih atas kunjungan Anda, Nyonya Manajer Proyek. Kami menunggu kehadiran Anda kembali di—”
“Kamu kebanyakan akting.”
Aku menegakkan badan. Ketiga kalinya. Aku sudah memikirkan permintaan ini sejak bangku bubur, dan baru sekarang punya keberanian mengucapkannya.
“Datang lagi,” kataku. “Hari Kamis depan. Nggak ada pesanan. Nggak ada acara. Nggak bawa kotak buat dibalikin. Datang aja.”
Nadine memegang kunci mobilnya. Lampu jalan jatuh di separuh wajahnya, seperti malam pertama ia memutar kursi pojok itu.
“Itu bukan permintaan,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena aku memang mau datang.” Ia membuka pintu. Lonceng berbunyi. “Bahkan tanpa alasan.”
Ia pergi. Aku berdiri di tengah toko dengan lima ratus kotak dan jantung yang terlalu keras.
Dari kursi di pojok, Nino, yang ternyata tidak tidur, membuka satu mata.
“Ga.”
“Hm.”
“Kapan kamu mau ngaku kalau kesepakatan kalian udah nggak cukup buat kamu?”
Aku tidak menjawab. Aku mengambil sapu dan mulai menyapu tepung yang tidak ada.
- 1 Pacar yang Datang Bersama Kotak Kue
- 2 Aturan Pertama: Jangan Jatuh Cinta
- 3 Kursi di Sebelah Nadine
- 4 Di Luar Jadwal
- 5 Kue Ulang Tahun yang Terlalu Jujur
- 6 Potongan yang Bentuknya Jelek
- 7 Resep yang Selalu Gagal
- 8 Hal yang Tidak Masuk Kontrak
- 9 Kencan yang Tidak Dihitung
- 10 Pertanyaan Sepupu yang Salah Alamat
- 11 Celemek Cadangan reading
- 12 Hari ketika Ibu Menyebut Rumah
- 13 Jawaban yang Ditunda
- 14 Delapan Pertanyaan untuk Livia
- 15 Jangan Janji untuk Semua Orang
- 16 Foto yang Harus Kita Simpan
- 17 Aku Suka Kamu Tanpa Jadwal
- 18 Bonus yang Tidak Bisa Kuterima
- 19 Resep yang Akhirnya Berhasil
- 20 Kebenaran di Meja yang Sama
- 21 Undangan yang Tidak Kukirim
- 22 Kue untuk Pesta yang Tidak Kuhadiri
- 23 Aku Pergi Dulu
- 24 Satu Cangkir Terlalu Banyak
- 25 Kue yang Jadi Saat Orangnya Tidak Ada
- 26 Celemek Tanpa Nama
- 27 Yang Dia Ingat Tentang Kita
- 28 Aku yang Membawanya Masuk
- 29 Kabar Pertama yang Tidak Bisa Kukirim
- 30 Hari Tanpa Peran
- 31 Nama yang Muncul Lagi
- 32 Kalau Kamu Mau Dengar
- 33 Kencan Pertama yang Kedua
- 34 Aku Tidak Perlu Membayar Tempatku
- 35 Tamu yang Boleh Menolak
- 36 Namaku Ada di Sini