Chapter Twenty Three

Aku Pergi Dulu

POV: Erga

Aku tidak tidur malam itu. Aku menyusun daftar.

Bukan daftar rasa. Daftar serah terima. Jam lima pagi, ketika Nino datang ke toko dengan mata setengah tertutup dan kantong gorengan di tangan, aku sudah duduk di meja kasir dengan tiga map, satu buku besar, dan satu lembar kertas berisi empat puluh dua poin yang ditulis tangan.

Nino menatap semua itu. Lalu menatapku.

“Kamu mau ngapain?”

“Duduk dulu, No.”

“Tiap kamu bilang duduk dulu, pasti ada yang meninggal.”

“Nggak ada yang meninggal.”

Ia duduk di karung terigu. Aku menceritakan semuanya. Email Bu Sekar. Tungku Selatan. Enam bulan. Berangkat besok pagi.

Nino tidak memotong. Ia mendengarkan dengan gorengan yang tidak dimakan di tangannya, dan ketika aku selesai, ia diam lama sekali.

“Kamu kabur,” katanya akhirnya.

“Aku pergi. Itu beda.”

“Bedanya apa?”

“Orang kabur nggak ninggalin daftar empat puluh dua poin.”

Nino tidak tertawa. Ia mengambil kertas itu dan membacanya dari atas. Jadwal pemasok telur dan tepung. Kata sandi rekening toko. Tanggal gajian Uci. Pelanggan yang suka bayar telat dan cara menagihnya dengan sopan. Pesanan yang sudah masuk untuk tiga minggu ke depan, lengkap dengan catatan khusus: Bu Endah — roti sobek tanpa kismis, anaknya alergi. Kantor notaris — kue kering tiap tanggal 25, jangan lupa, mereka pelanggan pertama kita. Nomor teknisi oven. Cara menenangkan panel kontrol yang berkedip, yang ternyata dengan menepuk sisi kirinya dua kali.

Nino membaca sampai poin empat puluh dua. Poin terakhir hanya berbunyi: Kalau capek, tutup satu hari. Tokonya nggak akan kabur.

Ia menurunkan kertas itu.

“Kamu minta tolong,” katanya pelan. “Ke aku.”

“Iya.”

“Enam bulan. Toko, keuangan, pesanan. Semua.”

“Iya. Aku minta tolong, No.”

Nino meletakkan gorengannya di karung, berdiri, dan memelukku. Keras. Sampai tepung dari bajunya menempel di bajuku. Ia menepuk punggungku tiga kali, keras sekali, seperti menepuk panel kontrol oven.

“Dari dulu,” katanya di dekat telingaku, suaranya serak, “aku nungguin kamu ngandelin aku. Sembilan tahun, Ga. Kamu tahu nggak, sembilan tahun.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa.


Serah terima memakan waktu sampai siang. Kami membuka buku besar bersama, mencocokkan angka, menandatangani surat kuasa sederhana di atas meterai. Uci datang jam sembilan dan menangis selama dua puluh menit, lalu berhenti, lalu menangis lagi ketika melihat poin nomor tujuh: Uci naik gaji bulan depan, sudah kuhitung, uangnya cukup.

Jam dua belas, aku membuka laci meja kasir. Amplop arisan keluarga Prakoso masih di sana, masih tertutup, dengan namaku di depannya dalam tulisan tangan Tante Wulan.

Aku meletakkannya di depan Nino.

“Ini jangan dipakai buat toko. Kalau Ibu Ratih nanya, bilang uangnya masih utuh. Kalau Ibu mau ambil, kasih. Kalau nggak, simpan aja.”

“Kamu nggak mau pakai buat oven?”

“Ovennya udah jalan. Kamu yang benerin pakai uang toko, kan? Aku lihat bukunya.”

Nino tidak membantah.

Lalu aku mengambil kantong plastik dari gudang. Kantong berisi celemek hijau lumut, terlipat rapi, dengan selembar kertas yang terselip di saku depannya.

“Ini juga,” kataku. “Kalau Nadine datang ke sini, kasih ini. Kalau nggak datang, simpan di rak atas. Jangan dicuci.”

Nino menatap kantong itu. “Kenapa nggak kamu bawa?”

“Karena itu bukan punyaku.”


Sore itu aku menelepon ibuku di Sumedang.

“Ga? Udah makan?”

“Belum, Bu.”

Hening di ujung sana. Dalam dua puluh sembilan tahun, aku tidak pernah menjawab belum.

“Kenapa belum?” Suara ibuku berubah. “Kamu kenapa, Ga?”

Aku menceritakan sebagian. Tentang Yogyakarta. Tentang program enam bulan. Aku tidak menceritakan Nadine, tapi ibuku, yang mengenalku lebih lama dari siapa pun, mendengar sesuatu di antara kalimat-kalimatku.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya.

Aku menatap langit-langit kamar kontrakan di belakang toko. Retakan di pojoknya yang sudah ada sejak aku pindah.

“Nggak, Bu,” kataku. “Aku lagi nggak apa-apa. Tapi nanti.”

Ibuku diam lama. Lalu ia berkata, dengan suara yang sangat lembut, “Ya udah. Nggak apa-apa nggak apa-apa. Makan dulu. Nanti Ibu telepon lagi.”

Aku menutup telepon dan menangis untuk pertama kalinya dalam sepuluh minggu. Tidak lama. Tidak keras. Hanya cukup untuk tahu bahwa aku masih bisa.


Jam delapan malam, aku menulis dua pesan.

Yang pertama untuk keluarga Prakoso. Aku mengirimnya ke nomor Ibu Ratih, karena aku tidak ada di grup keluarga mereka dan tidak pernah seharusnya ada. Aku menulisnya enam kali. Versi pertama terlalu panjang, penuh penjelasan yang tidak diminta. Versi kedua terlalu pendek, seperti surat pengunduran diri. Versi ketiga terdengar seperti aku meminta mereka memohon agar aku tinggal. Aku menghapusnya paling cepat.

Yang akhirnya kukirim:

Aku:

Bu Ratih, Pak Hendra, Livia.

Saya mau pamit. Besok pagi saya berangkat kerja di luar kota, enam bulan. Toko tetap buka, dipegang Nino. Saya baik-baik aja, cuma butuh waktu. Saya minta maaf untuk semuanya, terutama untuk delapan minggu yang Ibu dan Bapak jalani tanpa tahu yang sebenarnya.

Bika, pasar, kopi, dan latihan wawancara itu bukan kerjaan. Itu hari-hari paling baik yang saya punya tahun ini. Terima kasih sudah membukakan pintu.

Liv, janji Mas masih berlaku. Tapi Mas minta waktu dulu, ya. Nanti Mas yang kabarin.

Om Hendra, saya bilang. Saya nggak hilang.

Aku menekan kirim. Pesan itu bercentang dua. Lalu biru.

Tidak ada balasan. Aku tidak menunggu balasan.

Pesan kedua untuk Nadine. Aku menulisnya satu kali saja. Aku sudah menyusunnya sejak Jumat sore, sejak jariku berhenti di antara Enok dan Eka.

Aku:

Nad.

Besok pagi aku berangkat kerja ke luar kota. Enam bulan. Aku udah terima tawarannya semalam, waktu pestamu lagi jalan.

Aku mau kamu tahu dulu satu hal: ini bukan hukuman. Bukan juga cara biar kamu ngejar aku. Aku nggak pergi supaya kamu sadar sesuatu. Aku pergi karena aku nggak sanggup terus nunggu jawaban sambil tetap tinggal dekat kamu. Tiap kali aku di dekatmu, aku nunggu. Dan aku capek jadi orang yang nunggu. Itu bukan salahmu. Itu batasku.

Kamu nggak salah karena belum yakin. Kamu boleh nggak pernah yakin. Tapi aku juga boleh nggak tinggal buat nunggu.

Aku minta satu hal: jangan cari aku dulu. Jangan tanya Nino di mana aku. Aku butuh waktu buat belajar hidup tanpa nunggu kamu. Kalau suatu hari aku siap bicara, aku yang kabarin.

Makasih buat bangku bubur. Buat payung kuning yang nggak pernah ada. Buat kursi pojok yang kamu puter. Aku nggak nyesel satu hari pun.

Jaga ibumu. Dia bakal berhasil bikin bikanya sendiri. Dia udah lihat caranya.

Aku membacanya sekali. Aku tidak mengubah apa pun.

Terkirim. Dibaca dalam empat detik.

Aku meletakkan ponsel di kasur dan menatapnya.

Satu menit kemudian, ponsel itu bergetar. Bukan pesan. Telepon. Nadine.

Aku membiarkannya bergetar. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Ia berhenti. Lalu bergetar lagi.

Aku sudah memutuskan. Aku akan mengangkat satu kali. Hanya satu kali. Karena aku berjanji kepada Hendra bahwa aku tidak akan hilang, dan tidak mengangkat telepon sama sekali adalah salah satu bentuk menghilang.

Aku mengangkatnya.

“Erga.” Suaranya pecah di suku kata pertama. “Kamu beneran pergi?”

“Iya.”

“Ke mana?”

“Aku belum bisa bilang.”

“Kenapa? Aku cuma mau tahu kamu aman—”

“Aku aman, Nad. Nino tahu. Kalau ada apa-apa, Nino bakal kabarin.” Aku menutup mata. “Aku nggak bilang tempatnya bukan buat nyakitin kamu. Aku takut kalau kamu tahu, aku bakal nunggu kamu datang. Tiap hari aku bakal lihat pintu. Dan aku harus belajar berhenti lihat pintu.”

Ia menangis. Aku mendengarnya. Tangis yang ditahan, yang keluar lewat napas yang terputus-putus. Aku belum pernah mendengarnya menangis seperti itu. Ia bilang ia belum pernah menangis soal Rian karena tidak sempat. Sekarang ia sempat.

“Aku bisa...” katanya. “Aku bisa ngomong sekarang. Aku bisa jawab sekarang. Aku bisa—”

“Nad.”

Ia berhenti.

Aku ingin mendengarnya. Tuhan tahu aku ingin mendengarnya. Tapi aku tahu apa yang akan terjadi kalau ia menjawab sekarang, malam ini, dengan panik, dengan tiket keretaku di atas meja. Itu bukan jawaban. Itu kepanikan yang mengenakan baju jawaban. Dan kami berdua akan menghabiskan berbulan-bulan bertanya-tanya apakah ia memilihku atau hanya takut kehilanganku.

“Jangan sekarang,” kataku. “Jawaban yang keluar karena aku pergi bukan jawaban yang aku tunggu. Kamu tahu itu. Kamu yang ngajarin aku bedanya bayar sama milih.”

Hening yang panjang. Aku mendengar napasnya pelan-pelan menjadi teratur.

“Aku cuma angkat buat bilang ini beneran,” kataku. “Aku pergi. Biar kamu nggak mikir aku hilang. Aku belum siap ngomong lebih jauh dari ini.”

“Oke,” bisiknya. Seperti di beranda. Seperti di toko. Seperti kata yang selalu ia ucapkan ketika sesuatu terlalu besar untuk dikatakan dengan kata lain.

“Aku tutup, ya.”

Ia tidak menjawab. Aku menunggu tiga detik. Lalu aku menutup telepon.

Aku mematikan notifikasi dari nomornya. Bukan memblokir. Hanya mematikan bunyinya, supaya aku tidak terbangun jam tiga pagi karena sesuatu yang belum sanggup kubaca.


Stasiun Bandung, jam enam pagi. Kereta Lodaya jurusan Yogyakarta.

Aku membawa satu koper, satu ransel, dan satu kotak kaleng Remah Pagi berisi ragi alami yang sudah kurawat selama dua tahun. Nino mengantarku sampai pintu peron. Ia tidak bicara banyak. Ia hanya memberiku kantong gorengan, yang kali ini ia beli dengan sengaja, dan menepuk punggungku tiga kali.

“Makan,” katanya. “Jangan bilang udah kalau belum.”

“Iya.”

“Ga.”

“Hm.”

“Enam bulan lagi, kursi pojok itu masih menghadap jendela. Aku nggak akan balikin.”

Aku naik kereta.

Aku duduk di dekat jendela. Kereta bergerak. Bandung bergeser pelan-pelan ke belakang: rel, atap-atap seng, jemuran, kabel listrik yang kusut. Di suatu tempat di kota ini, di sebuah rumah di ujung gang, ada dua cangkir di lemari dapur. Satu gompal, satu utuh. Ada buku tamu bersampul batik dengan namaku bertinta hitam di halaman makan malam acara kelima. Ada kotak kue pesta yang sudah kosong, dan brownies bagian tengah yang sudah dimakan.

Aku tidak berjanji akan kembali sebagai apa pun. Tidak kepada keluarga Prakoso. Tidak kepada Nadine. Tidak kepada diriku sendiri. Aku hanya berjanji kepada Hendra bahwa aku akan bilang, dan aku sudah bilang.

Kereta masuk terowongan. Gelap. Lalu terang lagi.


Aku tiba di Stasiun Tugu jam tiga sore. Langitnya lebih terang dari Bandung. Udaranya lebih panas. Seorang pegawai Tungku Selatan menjemputku dengan papan bertuliskan namaku, ditulis tangan dengan spidol, dengan huruf E yang besar.

Di dalam mobil, aku menyalakan ponsel.

Ada banyak pesan. Dari Nino, foto kursi pojok dengan keterangan masih di sini. Dari ibuku, udah sampai? udah makan? Dari Uci, stiker menangis sebanyak tujuh kali. Tidak ada dari keluarga Prakoso.

Dan satu dari Nadine. Dikirim jam sebelas malam tadi, dua jam setelah telepon. Satu-satunya pesan yang ia kirim setelah aku menutup telepon. Tidak ada paragraf panjang. Tidak ada permohonan. Tidak ada tolong jangan pergi.

Nadine:

Aku ngerti. Aku tetap minta maaf.

Aku membacanya sambil mobil melaju di Jalan Malioboro yang ramai, di antara becak dan andong dan turis dengan topi lebar.

Aku membacanya lagi.

Aku tidak membalas. Aku menyimpan ponsel di saku, menatap keluar jendela, dan membiarkan kota asing ini lewat di depan mataku, seperti lagu dangdut dari angkot yang kubiarkan lewat sampai habis.