Chapter Fifteen

Jangan Janji untuk Semua Orang

POV: Erga

“Boleh,” kataku. “Kapan aja.”

Aku menjawabnya dengan ringan, karena pertanyaannya ringan. Livia menanyakannya sambil tertawa, sambil memeluk kertas jawaban wawancaranya, dengan wajah yang tidak memikirkan apa pun selain hari Senin.

“Janji?”

“Janji.”

Livia bersorak kecil, lalu berlari lagi ke atas. Dan aku berbalik, dan melihat Nadine.

Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatapku dari ujung meja dengan laptop tertutup di depannya, dan di wajahnya ada sesuatu yang sangat mirip dengan malam di beranda, saat ia bercerita tentang adiknya yang menghapus dan menyimpan dan menghapus lagi sebuah nomor telepon.

Kalau kalian putus.

Livia tidak mengatakan kalau. Ia mengatakan kalau seperti orang mengatakan kalau hujan. Sesuatu yang mungkin terjadi, yang sudah pernah terjadi, yang tidak perlu dikhawatirkan karena ada payung.

Aku adalah payung itu. Dan aku baru saja berjanji kepadanya dengan satu kata, tanpa berpikir, persis seperti aku berjanji kepada semua orang.


“Kamu janji apa ke adiknya?”

Nino bertanya malam itu, Rabu, ketika kami sedang menimbang tepung untuk pesanan akhir pekan. Aku bercerita kepadanya karena aku tidak bisa berhenti memikirkannya, dan karena Nino adalah satu-satunya orang di dunia yang tahu seluruh cerita.

“Boleh chat kapan aja.”

“Walaupun kalian putus.”

“Walaupun.”

Nino meletakkan sendok takar. Ia punya wajah yang biasanya jahil, bahkan ketika ia tidur. Tapi malam ini wajahnya tidak jahil.

“Ga. Duduk dulu.”

“Aku lagi nimbang.”

“Tepungnya nggak akan kabur.”

Aku duduk di karung terigu. Nino duduk di karung gula di seberangku.

“Aku hitung, ya,” katanya, lalu mengangkat jari. “Ke bapaknya, kamu janji bakal bilang kalau kamu pergi. Kamu cerita sendiri, di pasar, minggu kedua.” Jari kedua. “Ke ibunya, kamu janji tiap minggu bikin bika sampai naik penuh. Udah empat minggu. Belum penuh.” Jari ketiga. “Ke adiknya, kamu janji dia boleh chat kamu kapan aja, walaupun kamu udah bukan pacar kakaknya.”

Ia menurunkan tangannya.

“Terus ke Nadine?”

Aku tidak menjawab.

“Maksudku,” kata Nino, “Nadine janji apa ke kamu?”

Tepung di jari-jariku terasa tiba-tiba sangat kering.

“Dia minta waktu,” kataku.

“Dan kamu kasih.”

“Iya.”

“Sambil tetap datang tiap Senin. Tetap ke pasar tiap Kamis. Tetap latih adiknya wawancara pakai kumis kertas.” Nino mengusap wajahnya. “Ga. Aku kenal kamu dari umur sembilan belas. Kamu selalu begini. Kamu jadi orang yang dibutuhin semua orang. Semua. Tukang sayur, tetangga kos, bapakmu, adik-adikmu, pelanggan yang telat bayar, aku.” Ia menatapku. “Dan sekarang kamu jadi orang yang dibutuhin satu keluarga penuh. Sambil nunggu satu orang di keluarga itu mutusin apa dia butuh kamu sebagai pacar, atau cuma sebagai... apa? Tukang bika?”

“Itu nggak adil.”

“Nggak adil buat siapa?”

Aku membuka mulut. Menutupnya.

“Aku nggak bilang Nadine jahat,” kata Nino, lebih pelan. “Dia kelihatan beneran sayang. Aku lihat caranya ngelipat kotak kayak lagi perang. Nggak ada orang yang ngelipat kotak kayak gitu buat pacar sewaan.” Ia berdiri dan mengambil sendok takarnya lagi. “Tapi kamu udah janji ke semua orang di rumah itu, Ga. Sementara orang yang paling kamu pengin dengar janjinya belum bilang apa-apa.”

Ia kembali menimbang tepung. Aku duduk di karung terigu lama sekali.

Ia benar. Aku benci ia benar. Tapi di bawah rasa benci itu, ada sesuatu yang lebih dingin: aku tidak tahu harus berbuat apa dengan kebenaran itu, selain terus datang setiap Senin.


Kamis malam, aku memutuskan bicara.

Bukan pengakuan. Belum. Hanya percakapan jujur. Aku butuh tahu kita ini apa. Aku butuh tahu aku ini apa, buat kamu. Aku menyusun kalimatnya di motor sepanjang jalan ke kantornya, seperti Nadine menyusun kalimat di catatan ponselnya.

Kantor Studio Laras Ruang ada di lantai tiga sebuah ruko di Jalan Progo. Jam sembilan malam, hanya satu ruangan yang lampunya masih menyala. Aku naik tangga membawa dua bungkus nasi goreng, karena aku tidak bisa datang dengan tangan kosong. Aku tahu itu masalahku, bukan masalah nasi goreng.

Nadine duduk di balik tumpukan gambar kerja, dengan pensil di belakang telinga dan pensil lain di tangan. Rambutnya digelung dengan penggaris. Aku tidak tahu itu bisa dilakukan.

“Kamu ngapain di sini?” tanyanya, tanpa mengangkat wajah.

“Nganter nasi goreng.”

“Aku nggak pesan.”

“Aku tahu.”

Ia mengangkat wajah. Matanya merah. Di mejanya ada tiga gelas kopi sachet kosong dan satu kalkulator dengan tombol nol yang sudah pudar.

“Serah terima klinik gigi besok jam delapan,” katanya. “Kontraktornya salah pesan ukuran kursi dokter. Tiga-tiganya. RAB-nya berantakan. Aku harus ngitung ulang semuanya malam ini.”

“Kursi dokter gigi,” kataku. “Raka pasti senang.”

Ia menatapku dua detik, lalu tertawa. Tawa capek yang keluar lewat hidung, persis seperti ayahnya.

Aku duduk di kursi tamu di depan mejanya dan membuka bungkus nasi goreng. Ia makan sambil menghitung. Aku menunggu.

Kalimat yang kususun di motor menunggu di tenggorokanku.

“Nad,” kataku akhirnya. “Aku mau ngomong soal kita.”

Pensilnya berhenti.

“Sekarang?”

“Nggak harus sekarang. Tapi—”

“Aku lagi ngitung ulang harga tiga kursi dokter gigi yang masing-masing tiga puluh dua juta, Erga.” Ia tidak mengatakannya dengan marah. Ia mengatakannya dengan wajah orang yang sedang berusaha keras tidak tenggelam. “Kalau kita ngomong sekarang, aku bakal jawab pakai angka. Kamu tahu aku begitu.”

Ia benar. Ia memang akan menjawab pakai angka. Jawaban versi rapat, seperti di bangku bubur.

“Oke,” kataku.

Lalu, karena hening itu terlalu tajam, dan karena aku selalu punya lelucon di saku, aku mengambil pensil dari belakang telinganya. Pelan, setelah bertanya dengan mata dan ia mengangguk. Aku meletakkannya di atas bibir atasku seperti kumis.

“Pak Bambang bisa bantu ngitung,” kataku dengan suara berat. “Pak Bambang pernah menolak tiga ratus kursi dokter gigi.”

“Kamu kebanyakan akting,” katanya, tertawa, lega. Lega sekali.

Aku menunggu diriku sendiri meminta sesuatu. Itu aturannya. Pasal enam. Setiap kali ia mengatakan kalimat itu, aku boleh meminta satu hal. Dan malam ini aku punya satu hal yang sangat ingin kuminta.

Jawab aku.

Tapi aku melihat matanya yang merah, tiga gelas kopi kosong, kalkulator dengan tombol nol yang pudar, dan aku tahu aku tidak bisa meminta itu sekarang tanpa menjadikannya tagihan.

“Nggak,” kataku, meletakkan pensilnya kembali di meja. “Kali ini aku nggak minta apa-apa.”

Nadine berhenti tertawa. Ia menatapku, dan untuk sesaat aku melihat ia mengerti. Ia tahu apa yang tidak kuminta.

Lalu ia menunduk ke kalkulatornya lagi.

“Nanti, ya,” katanya. “Habis serah terima.”

“Iya.”


Aku menuruni tangga ruko dengan bungkus nasi goreng kosong di tangan. Di bawah, lampu jalan Progo berkedip-kedip, rusak sebelah.

Kami tertawa malam itu. Kami selalu tertawa. Itu bagian terbaik dari kami, sejak bangku bubur, sejak payung kuning yang tidak pernah ada.

Tapi aku duduk di motor dan tidak langsung menyalakan mesin, karena untuk pertama kalinya tawa kami terdengar seperti pintu yang ditutup dengan sopan. Pelan-pelan, supaya tidak ada yang terbangun. Supaya percakapan yang sebenarnya bisa terus tidur di baliknya.

Nanti, ya.

Aku tahu bentuk kata itu. Aku sudah mengucapkannya ribuan kali kepada diriku sendiri. Nanti aku bilang ke Bapak aku capek. Nanti aku minta tolong ke Nino. Nanti aku berhenti jadi orang yang bisa diandalkan.

Nanti tidak pernah datang sendiri. Harus ada yang menjemputnya.

Aku mengeluarkan ponsel dan membuka jadwal yang Nadine kirim di malam pertama. Nomor enam: Arisan keluarga besar (70+ orang). Sabtu depan.

Aku menyalakan mesin motor.

Setelah acara itu, pikirku. Setelah acara nomor enam, aku akan mengatakannya. Semuanya. Tanpa kumis kertas. Tanpa lelucon di saku.

Dan kali ini aku tidak akan menunggu nanti datang sendiri.