Chapter Three

Kursi di Sebelah Nadine

POV: Erga

Rumah keluarga Prakoso ada di ujung gang yang cukup lebar untuk satu mobil dan terlalu sempit untuk dua orang yang sama-sama gugup.

“Ingat,” kata Nadine saat mematikan mesin. “Ayahku nggak suka basa-basi. Ibuku suka orang yang habisin makanan. Livia—”

“Udah nge-stalk semua akunku semalam. Aku tahu. Dia nge-like foto tahun 2017.”

“Yang mana?”

“Yang aku pakai kacamata hitam di Pangandaran sambil pegang kelapa.”

Nadine menutup wajah dengan kedua tangan. “Ya Tuhan.”

“Aku kelihatan keren di foto itu.”

“Kamu kelihatan kayak iklan asuransi perjalanan.”

Pintu depan terbuka sebelum kami sempat turun. Seorang perempuan berdaster batik, rambutnya disanggul asal dengan jepit bunga, melambaikan sutil seperti bendera.

“Nak Erga, ya? Masuk, masuk! Kok kurus? Nadine nggak ngasih makan?”

Itu Ratih Prakoso. Dalam lima menit pertama, ia sudah menanyakan umurku, asal keluargaku, apakah aku bisa ngulek, dan kenapa tokoku tutup hari Senin. Dalam sepuluh menit, aku sudah memakai celemek bergambar ayam dan berdiri di depan cobek berisi cabai.

“Ngulek itu pakai pergelangan, bukan pakai dendam,” katanya.

“Siap, Tante.”

“Ibu aja. Tante itu buat Wulan.” Ia menepuk bahuku. “Nadine, pacarmu ngulek lebih bagus dari kamu.”

Nadine, yang duduk di kursi makan dan pura-pura sibuk dengan ponsel, menjawab tanpa mendongak. “Semua orang ngulek lebih bagus dari aku, Bu.”

Dapur itu hangat dan berantakan dengan cara yang dirawat. Ada toples kerupuk di atas kulkas, kalender dari toko emas, dan di pintu lemari, selembar kertas resep yang sudah menguning dan bernoda minyak, ditempel dengan selotip yang jelas sudah diganti berkali-kali.

Bika Ambon — Ibu Sumi.

“Resep ibu saya,” kata Ratih ketika melihatku membacanya. “Dua puluh tahun Ibu coba, nggak pernah bersarang. Bantat terus. Kayak kuenya dendam sama Ibu.”

“Mungkin ragi atau suhunya, Bu,” kataku, lalu cepat-cepat menambahkan, “atau mungkin kuenya memang pemalu.”

Ratih tertawa sampai sutilnya bergetar. Di kursi makan, Nadine mendongak dan menatapku sebentar. Aku tidak tahu arti tatapan itu, tapi aku mencatatnya.

Di meja dekat rak piring ada buku tulis bersampul batik yang pinggirnya sudah lecek. Ratih membukanya, menghitung sesuatu dengan ujung pulpen, lalu menulis.

“Itu apa, Bu?”

“Daftar tamu.” Ia menunjukkannya tanpa malu. “Kebiasaan dari ibu saya. Tiap ada acara, Ibu tulis siapa yang datang, biar tahu masak berapa porsi. Nanti kalau ada yang kurang, kelihatan.”

Di halaman hari itu tertulis dengan tinta hitam: Makan Minggu — Bapak, Ibu, Nadine, Livia. Di bawahnya, dengan tinta biru yang lebih baru dan huruf yang sedikit miring karena ditulis terburu-buru: Nak Erga (pacar Nadine!!)

Dua tanda seru.

Aku tidak tahu kenapa dadaku terasa diremas pelan. Mungkin karena aku tahu nama itu ditulis untuk seseorang yang cuma pura-pura.


Hendra Prakoso pulang jam sepuluh lewat. Ia tinggi, beruban rapi, dan menatapku seperti sedang menimbang karung beras.

“Erga, Om.”

“Hm.” Ia menjabat tanganku, sekali, kuat. Lalu ia duduk, membuka koran, dan tidak berkata apa-apa lagi selama empat menit yang terasa seperti satu musim hujan.

Ratih meletakkan secangkir kopi hitam di depannya lalu bertanya kepadaku, “Nak Erga teh manis?”

“Kopi aja, Bu. Kayak Om. Tanpa gula.”

Koran itu turun lima senti. Mata Hendra muncul di atasnya.

“Tukang kue nggak suka manis?”

“Seharian nyium gula, Om. Pas pulang, pengin yang jujur.”

Koran itu turun lagi, kali ini sepuluh senti. Ia menatapku lama. “Kue yang paling susah dibikin apa?”

Aku bisa menjawab croissant, macaron, atau bika ambon. Tapi ia tidak sedang bertanya soal teknik. Aku bisa melihatnya.

“Kue buat orang yang lagi sedih, Om,” kataku. “Soalnya kita nggak tahu dia butuh manis atau butuh ditemenin diem.”

Hendra tidak menjawab. Ia menaikkan korannya lagi. Tapi sebelum kertas itu menutup wajahnya, aku melihat sudut bibirnya bergerak sedikit.

Nadine, di sebelahku, mengembuskan napas yang ternyata ia tahan sejak tadi.


Livia Prakoso datang jam sebelas kurang lima, dengan rambut sebahu, kaus kampus, dan tatapan jaksa penuntut.

“Mas Erga.” Ia menarik kursi di seberangku. “Kacamatanya bagus. Yang di Pangandaran.”

“Makasih. Kelapanya juga bagus.”

“Aku mau nanya satu hal.” Ia meletakkan ponsel di meja dan menggeser layarnya. “Kak Nadine bilang kalian ketemu tiga bulan lalu gara-gara kue kantor. Tapi Instagram tokomu posting pengumuman tutup renovasi dua minggu, persis tiga bulan lalu.”

Sunyi. Bahkan Ratih berhenti mengaduk sayur asem.

Aku menatap layar itu. Aku lupa kami pernah renovasi. Aku lupa, aku lupa, aku lupa.

“Aku lupa detailnya,” kataku jujur, karena berbohong di bawah tatapan Livia sama saja dengan menggali lubang pakai sendok teh. “Yang aku ingat cuma payungnya kuning.”

Livia menyipitkan mata. Di situ, Nadine mengambil alih.

“Kuenya dipesan sebelum toko tutup,” katanya santai sambil mencomot kerupuk. “Diambilnya pas hari pertama buka. Makanya salah nama. Dia masih linglung habis dua minggu nggak lihat pelanggan. Iya kan, Yang?”

Yang. Aku hampir tersedak ludah sendiri.

“Iya,” kataku. “Linglung. Waktu itu aku nulis ‘Nadia’ sambil mikirin cat tembok.”

Livia menatap kami bergantian, lalu menyerah dengan dengusan. “Oke. Masuk akal. Nyebelin, tapi masuk akal.”

Di bawah meja, lutut Nadine menyentuh lututku sekali. Singkat. Seperti tanda bagus. Seperti kami satu tim.

Aku belum pernah jadi satu tim dengan orang yang baru kukenal dua hari. Rasanya menyenangkan, dengan cara yang agak menakutkan.


“Nak Erga duduk sini,” kata Ratih ketika makanan sudah terhidang: ayam kampung goreng, sayur asem, sambal terasi, tempe mendoan, dan kerupuk dalam jumlah yang bisa memberi makan satu RT. Ia menunjuk kursi di sebelah Nadine.

Nadine berhenti sepersekian detik sebelum duduk. Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya melihat jarinya menyentuh sandaran kursi itu, lalu ia duduk seolah tidak terjadi apa-apa.

Makan siang berjalan lancar sampai Livia, dengan mulut penuh mendoan, bertanya, “Terus Mas Erga kapan ngenalin Kak Nadine ke orang tuanya?”

“Liv,” tegur Ratih, lembut. “Pelan-pelan aja. Jangan kayak dulu. Ibu udah telanjur—”

Ia berhenti.

Tidak ada yang melanjutkan kalimat itu. Hendra menunduk ke piringnya. Livia menggigit bibir. Dan Nadine, di sebelahku, meletakkan sendoknya dengan sangat pelan, seolah bunyi sendok itu bisa memecahkan sesuatu. Di bawah meja, tangannya meremas serbet sampai buku jarinya pucat.

Aku tidak tahu apa yang sudah telanjur. Aku tidak perlu tahu. Aku melihat wajah Nadine, dan yang kulihat bukan patah hati. Lebih seperti orang yang sedang menahan pintu supaya angin tidak masuk.

Aku berdiri.

“Bu, saya bawa kue,” kataku, terlalu keras. “Tapi saya harus minta maaf duluan. Kuenya miring.”

Aku membuka kotak bolu pandan. Memang miring. Sisi kanannya dua senti lebih tinggi.

“Ini bukan salah saya,” lanjutku dengan serius. “Oven saya lagi berduka. Dua belas tahun dia setia, terus Selasa kemarin dia memutuskan pensiun tanpa pamit. Nggak ada surat. Nggak ada pesangon. Sekarang saya pakai oven pinjaman yang cuma punya dua suhu: mentah sama marah. Kue ini dibuat di suhu marah.”

Livia tertawa duluan, sampai sedikit nasi menyembur. Ratih memukul lenganku sambil tertawa. Dan Hendra, yang sejak tadi hanya berkata “Hm”, mendengus pelan lewat hidung. Belakangan Nadine bilang itu cara ayahnya tertawa terbahak-bahak.

Nadine tidak tertawa. Ia menatapku. Lalu ia mengambil potongan kue yang paling miring dan memakannya pelan-pelan.


Di gerbang, Hendra mengantarku sampai pagar. Ia berdiri dengan tangan di saku, menatap jalan, bukan menatapku.

“Minggu depan saya ke Pasar Kosambi. Jam lima,” katanya. “Kalau kamu bisa bangun.”

“Itu bukan acara keluarga, Om.”

“Memang bukan.” Ia berbalik masuk. “Makanya saya bilang kalau bisa.”

Nadine mengantarku pulang jam tiga. Di mobil ia diam lama, sampai lampu merah di Jalan Riau.

“Makasih,” katanya. “Yang tadi.”

“Yang mana? Aku melakukan banyak hal hebat hari ini. Ngulek, misalnya.”

“Yang soal oven.” Ia menatap lurus ke depan. “Itu bukan akting, kan?”

“Ovenku beneran mati.”

“Kamu tahu maksudku.”

Lampu berubah hijau. Aku tidak menjawab, dan ia tidak memaksa. Kurasa itu sudah cukup jadi jawaban.

Malamnya, di halaman belakang buku catatan pesananku, di bawah nama Nadine, aku menambahkan tiga nama.

Om Hendra — kopi hitam tanpa gula. Ketawanya lewat hidung.

Ibu Ratih — bahagia kalau piring kosong. Bika ambon Ibu Sumi, 20 tahun nggak bersarang.

Livia — teliti. Suka mendoan. Lebih takut sama masa depan daripada yang dia tunjukin.

Lalu, di bawah nama Nadine, aku menambahkan satu baris.

Kalau takut, dia megang serbet. Jangan ditanya. Bikin ketawa aja.

Aku menutup buku itu dan teringat tinta biru di buku daftar tamu Ratih. Dua tanda seru.

Aku berharap nama itu tidak pernah perlu dicoret.