Chapter Fourteen
Delapan Pertanyaan untuk Livia
POV: Erga
“Selamat pagi. Silakan duduk. Nama saya Pak Bambang, Kepala Divisi Sumber Daya Manusia, dan saya sudah menolak tiga ratus pelamar tahun ini.”
Livia menatapku dari seberang meja makan keluarga Prakoso. Aku memakai kemeja Hendra yang kebesaran, kacamata baca Ratih yang minusnya membuat dunia berputar, dan kumis palsu dari potongan kertas cokelat yang kutempel dengan selotip.
“Mas,” kata Livia. “Kumisnya miring.”
“Pak Bambang tidak punya kumis miring. Pak Bambang punya kumis yang mengikuti kemiringan zaman.”
Nadine, yang duduk di ujung meja dengan laptop terbuka dan pura-pura mengerjakan revisi desain klinik gigi, mengeluarkan bunyi seperti orang tersedak. Aku tidak menoleh. Pak Bambang tidak menoleh untuk orang yang tidak ia wawancarai.
Wawancara Livia hari Senin. Posisi copywriter junior di sebuah agensi periklanan di Jalan Riau, agensi yang sudah dua kali menolaknya tahun lalu untuk posisi magang. Ia sudah menghafal jawaban dari tujuh video YouTube dan satu e-book gratis berjudul Rahasia Lolos Wawancara dalam 7 Hari.
Masalahnya, ia terdengar persis seperti tujuh video YouTube itu.
“Pertanyaan pertama,” kataku dengan suara Pak Bambang yang berat dan bosan. “Ceritakan tentang diri Anda.”
Livia menegakkan punggung. “Nama saya Livia Prakoso. Saya lulusan Ilmu Komunikasi dengan IPK tiga koma lima dua. Saya orang yang pekerja keras, teliti, dan mampu bekerja dalam tim maupun individu.”
“Membosankan,” kata Pak Bambang. “Pertanyaan kedua. Apa kelemahan terbesar Anda?”
“Saya terlalu perfeksionis.”
“Semua orang bilang itu. Itu bukan kelemahan. Itu kebohongan dengan dasi.”
Nadine menutup laptopnya sedikit. Livia menyipitkan mata.
“Pertanyaan ketiga. Kenapa kami harus memilih Anda?”
“Karena saya... punya semangat belajar yang tinggi dan...”
“Pertanyaan keempat,” potongku. “Di mana Anda lima tahun lagi?”
“Mas, aku belum selesai jawab yang ketiga!”
“Pak Bambang tidak sabar. Pertanyaan kelima. Kalau Anda adalah seekor binatang, binatang apa dan mengapa?”
“Itu pertanyaan beneran?”
“Di agensi periklanan, iya. Mereka suka pertanyaan aneh buat lihat kamu panik atau nggak.”
Livia terdiam. Lalu, untuk pertama kalinya pagi itu, ia menjawab tanpa berpikir dulu. “Bebek.”
“Kenapa bebek?”
“Soalnya kelihatannya santai di atas air, tapi kakinya di bawah ngayuh kayak orang gila.”
Aku berhenti. Pak Bambang berhenti. Aku melepas kacamata Ratih karena dunia sudah terlalu berputar.
“Itu,” kataku dengan suaraku sendiri, “jawaban pertama yang kedengaran kayak kamu.”
Aku tidak berniat menjadikan latihan itu lebih dari sekadar lelucon. Tapi di pertanyaan keenam, sesuatu retak.
“Pertanyaan keenam,” kataku, kembali menjadi Pak Bambang. “Saya lihat nama belakang Anda Prakoso. Ada hubungan dengan Nadine Prakoso dari Studio Laras Ruang? Kami pernah kerja sama dengan beliau untuk interior kantor kami.”
Aku mengarangnya. Aku tidak tahu apakah agensi itu memang pernah bekerja sama dengan kantor Nadine. Aku hanya ingin menguji pertanyaan yang tidak ada di tujuh video YouTube.
Tapi wajah Livia berubah. Bukan panik. Lebih buruk dari panik. Wajahnya menjadi kecil.
“Iya, Pak,” katanya pelan. “Kakak saya.”
“Dan menurut Anda, apakah itu—”
“Saya tahu,” potong Livia. Suaranya naik, lalu pecah di tengah. “Saya tahu, oke? Saya tahu kalau saya diterima, orang bakal mikir karena kakak saya. Saya tahu tiap wawancara, pas mereka baca nama belakang saya, mereka mikir, oh, adiknya Nadine. Kakak saya lulus cum laude. Kakak saya langsung kerja sebelum wisuda. Kakak saya jadi manajer proyek umur dua puluh lima. Saya udah ditolak sebelas kali. Dua belas, kalau yang minggu lalu dihitung.”
Hening. Nadine membeku di ujung meja, tangannya masih di atas laptop yang setengah tertutup.
Livia menunduk. “Maaf, Mas. Maksudku, maaf, Pak Bambang.”
Aku mencopot kumis kertasku. Selotipnya menarik sedikit kulit, dan aku meringis.
“Pertanyaan ketujuh bukan dari Pak Bambang,” kataku. “Dari aku.”
Livia mengangkat wajah.
“Waktu kamu umur sepuluh tahun,” kataku, “kamu bikin slogan buat kopi bapakmu. Kamu tulis di karton, kamu tempel di dapur. Kamu ingat bunyinya?”
Livia mengerjap. “Mas tahu dari mana?”
“Kamu cerita. Waktu nemenin aku cuci piring habis makan siang pertama. Kamu bilang itu pertama kalinya kamu sadar kata-kata bisa bikin orang ketawa.” Aku menunggu. “Bunyinya apa?”
Ia diam lama. Lalu pipinya memerah. “Kopi Bapak: Pahitnya Jujur, Hangatnya Nggak Pakai Syarat.“
Nadine, di ujung meja, menoleh ke arah adiknya dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Aku melihat bibirnya bergerak sedikit, mengulang slogan itu tanpa suara, seperti orang yang mendengar lagu yang seharusnya ia hafal tapi tidak.
“Itu masih ada,” kata Livia. “Ditempel di balik pintu lemari. Bapak nggak pernah copot.”
“Aku tahu. Aku lihat pas bikin bika.”
Livia menutup mulut dengan tangan. Matanya berkaca-kaca, tapi kali ini ia tidak terlihat kecil.
“Pertanyaan kedelapan,” kataku. “Yang terakhir. Dan jawabnya nggak boleh pakai yang dari YouTube.”
Aku mencondongkan badan ke depan.
“Kamu siapa, kalau bukan adiknya Nadine?”
Livia menatapku. Lama sekali. Lalu, pelan-pelan, ia mulai bicara.
Tentang slogan kopi. Tentang akun parodi yang ia buat waktu SMA untuk merangkum drama keluarga dalam kalimat iklan. Tentang caption yang ia tulis untuk Instagram Remah Pagi diam-diam minggu lalu, yang membuat postingan kue kopi susu kami disukai empat kali lipat dari biasanya. Tentang bebek yang kakinya mengayuh seperti orang gila.
Ia bicara hampir sepuluh menit. Ia tidak menyebut nama kakaknya sekali pun.
Aku tidak menyela. Aku hanya mengangguk dan sesekali mencatat di kertas bekas, supaya ia tahu jawabannya layak dicatat.
Ketika latihan selesai, Livia berlari ke kamarnya untuk menulis ulang semua jawabannya. Aku mengembalikan kacamata Ratih ke laci dan kemeja Hendra ke gantungan.
Nadine masih duduk di ujung meja. Laptopnya sudah tertutup sepenuhnya.
“Aku nggak tahu soal slogan itu,” katanya.
“Kamu mungkin lagi kuliah waktu dia bikin.”
“Aku nggak tahu soal akun parodi. Aku nggak tahu dia yang nulis caption tokomu.” Ia menatap pintu lemari dapur dari tempatnya duduk. Dari sana, slogan itu tidak terlihat. “Aku nggak tahu dia mikir namaku jadi beban buat dia.”
“Dia sayang sama kamu.”
“Aku tahu. Justru itu.” Ia menekan ujung jarinya ke pelipis. “Aku bikin daftar periksa buat ulang tahunnya. Aku bikin aturan jangan nanya soal kerjaan. Aku kira itu cara jagain dia. Ternyata aku cuma jagain dia dari hal yang aku takutin, bukan dari hal yang dia takutin.”
Aku tidak tahu harus berkata apa. Jadi aku duduk di kursi di sebelahnya dan tidak berkata apa-apa.
Ia menatapku. Ada sesuatu di wajahnya yang berbeda dari minggu lalu. Lebih lembut. Dan di bawah kelembutan itu, sesuatu yang lain, sesuatu yang mirip rasa bersalah, yang belum ia beri nama.
“Kamu merhatiin semua orang,” katanya. “Semua orang di rumah ini.”
“Itu kebiasaan jelek.”
“Bukan.” Suaranya pelan. “Itu bukan kebiasaan jelek.”
Pintu kamar Livia terbuka. Ia turun tangga dua-dua, membawa kertas penuh coretan, lalu berhenti di depan kami.
“Mas Erga,” katanya, dengan wajah paling cerah yang kulihat sejak kue ulang tahunnya. “Kalau nanti aku keterima, aku kasih tahu Mas duluan, kan? Kayak janji kita?”
“Iya.”
“Terus—” Ia berhenti, tertawa, dan melontarkan pertanyaan berikutnya dengan santai, tanpa berpikir, seperti anak kecil yang menanyakan kenapa langit biru. “Terus kalau kalian putus, aku masih boleh chat Mas, kan?”
- 1 Pacar yang Datang Bersama Kotak Kue
- 2 Aturan Pertama: Jangan Jatuh Cinta
- 3 Kursi di Sebelah Nadine
- 4 Di Luar Jadwal
- 5 Kue Ulang Tahun yang Terlalu Jujur
- 6 Potongan yang Bentuknya Jelek
- 7 Resep yang Selalu Gagal
- 8 Hal yang Tidak Masuk Kontrak
- 9 Kencan yang Tidak Dihitung
- 10 Pertanyaan Sepupu yang Salah Alamat
- 11 Celemek Cadangan
- 12 Hari ketika Ibu Menyebut Rumah
- 13 Jawaban yang Ditunda
- 14 Delapan Pertanyaan untuk Livia reading
- 15 Jangan Janji untuk Semua Orang
- 16 Foto yang Harus Kita Simpan
- 17 Aku Suka Kamu Tanpa Jadwal
- 18 Bonus yang Tidak Bisa Kuterima
- 19 Resep yang Akhirnya Berhasil
- 20 Kebenaran di Meja yang Sama
- 21 Undangan yang Tidak Kukirim
- 22 Kue untuk Pesta yang Tidak Kuhadiri
- 23 Aku Pergi Dulu
- 24 Satu Cangkir Terlalu Banyak
- 25 Kue yang Jadi Saat Orangnya Tidak Ada
- 26 Celemek Tanpa Nama
- 27 Yang Dia Ingat Tentang Kita
- 28 Aku yang Membawanya Masuk
- 29 Kabar Pertama yang Tidak Bisa Kukirim
- 30 Hari Tanpa Peran
- 31 Nama yang Muncul Lagi
- 32 Kalau Kamu Mau Dengar
- 33 Kencan Pertama yang Kedua
- 34 Aku Tidak Perlu Membayar Tempatku
- 35 Tamu yang Boleh Menolak
- 36 Namaku Ada di Sini