Chapter Twenty Four
Satu Cangkir Terlalu Banyak
POV: Nadine
Aku membaca pesannya dua puluh tiga kali dalam tiga hari pertama.
Aku menghitungnya karena aku tidak percaya pada diriku sendiri. Dua puluh tiga. Di mobil sebelum masuk kantor. Di toilet kantor, dengan pintu terkunci. Jam dua pagi, di kamar apartemen yang terlalu sunyi. Setiap kali, aku berhenti di kalimat yang sama.
Kamu nggak salah karena belum yakin. Kamu boleh nggak pernah yakin. Tapi aku juga boleh nggak tinggal buat nunggu.
Ia tidak menyalahkanku. Tidak satu kalimat pun. Dan itu yang membuatku tidak bisa bernapas.
Hari Selasa, aku ke Remah Pagi sepulang kerja. Aku tahu aku seharusnya tidak. Ia memintaku tidak menanyakan Nino. Tapi aku manajer proyek, dan manajer proyek tidak bisa tidur kalau tidak tahu status sebuah pekerjaan, dan Erga bukan pekerjaan, dan aku tetap tidak bisa tidur.
Nino sedang di balik oven. Ia melihatku masuk dan tidak berkata pesanan atas nama siapa.
“Dia aman,” katanya sebelum aku bertanya. “Dia udah sampai. Dia kerja. Dia makan. Aku pastiin dia makan.”
“Di mana?”
Nino menatapku. Wajahnya tidak dingin seperti minggu lalu. Wajahnya capek.
“Mbak Nadine,” katanya pelan. “Dia minta aku nggak bilang. Aku nggak akan bohong ke Mbak. Tapi aku juga nggak akan bilang.”
Aku berdiri di depan meja kasir. Kursi pojok masih menghadap jendela.
“Oke,” kataku. Kata yang selalu keluar ketika aku tidak punya kata lain.
Aku pulang tanpa membeli apa pun.
Aku tidur di rumah orang tuaku akhir pekan itu. Aku bilang kepada diriku sendiri itu karena apartemenku sedang direnovasi kamar mandinya. Itu tidak benar. Aku hanya tidak ingin sendirian di tempat yang tidak ada bekas siapa pun.
Rumah kami masih rumah yang sopan. Tapi kesopanannya sudah berubah bentuk.
Ibuku membaca pesan Erga pada Minggu malam, lalu masuk kamar dan tidak keluar sampai pagi. Livia membacanya di kamarnya, dan aku mendengarnya menangis dari balik pintu, pelan, seperti malam-malam setelah Rian pergi. Hanya saja kali ini aku yang menyebabkannya, dan aku tidak punya kalimat orang datang dan pergi untuk ditawarkan kepadanya. Aku tidak berani mengetuk.
Ayahku tidak berkata apa-apa. Ayahku memang tidak pernah berkata apa-apa.
Rabu, Tante Wulan menelepon ibuku. Aku mendengarnya dari ruang tengah karena Tante Wulan tidak pernah tahu cara bicara pelan.
“Tih! Mana si tukang kue? Kok kemarin nggak ada di pesta? Kuenya enak banget, semua orang nanyain! Terus arisan bulan depan dia masih ikut, kan? Setorannya udah kamu bayar?”
Ibuku menjawab dengan kalimat pendek. Aku tidak mendengarnya. Aku hanya melihat ibuku setelah menutup telepon, berdiri di depan kalender dinding, menatap kotak bulan depan tempat ia menulis Arisan — Ibu setor 2 (Ibu + Erga).
Ia tidak mencoretnya.
Sabtu pagi, seminggu setelah pesta, aku turun untuk sarapan jam enam.
Ayahku sudah di dapur. Ia baru pulang dari pasar, sendiri, dengan kantong belanja anyaman berisi sayur dan ikan asin. Ia meletakkan kantong itu di meja, lalu membuka lemari atas dengan gerakan yang sudah ia lakukan setiap Sabtu pagi selama dua bulan terakhir.
Ia mengeluarkan dua cangkir blirik hijau.
Yang gompal dan yang utuh.
Ia meletakkan keduanya di atas meja, berdampingan, lalu mengambil panci kecil berisi air mendidih. Ia menuang kopi ke cangkir gompal. Lalu tangannya bergerak ke cangkir kedua.
Dan berhenti.
Panci itu melayang di udara di atas cangkir hijau yang utuh. Uapnya naik ke wajah ayahku. Ia berdiri seperti itu, tidak bergerak, selama tiga detik. Lima. Tujuh.
Lalu ia meletakkan panci itu kembali di kompor.
Ia mengambil cangkir yang utuh, cangkir yang kosong, dan memegangnya sebentar dengan kedua tangan, seperti memegang sesuatu yang masih hangat padahal belum diisi apa-apa. Lalu ia membuka lemari atas lagi, dan menyimpannya kembali. Di rak paling atas. Di belakang toples gula.
Ia menutup pintu lemari itu pelan sekali. Seolah takut membangunkan seseorang.
Aku berdiri di ambang pintu dapur dengan tangan di mulut.
Aku tahu gerakan itu. Aku sudah melihatnya setahun lalu, dalam bentuk lain. Cobek sambal terasi yang dicuci dan disimpan di rak paling atas. Ibuku yang berhenti bertanya Rian nggak ikut, Din? Ayahku yang mengeluarkan jadwal dari kulkas dan membuangnya tanpa berkata apa-apa.
Semua orang di rumah ini tahu cara menyimpan sesuatu di rak paling atas. Tidak ada yang tahu cara mengeluarkannya lagi.
Ayahku berbalik. Ia melihatku di ambang pintu. Wajahnya tidak berubah. Ia hanya mengambil cangkir gompalnya dan duduk di kursinya.
“Kopi?” tanyanya.
Aku tidak menjawab. Aku berjalan ke meja dan duduk di seberangnya. Di kursi yang selama dua bulan terakhir diduduki Erga.
Di kepalaku, kalimat yang sudah kususun sejak Minggu malam berdiri tegak, siap diucapkan. Kalimat yang sama yang kuucapkan kepada Livia setahun lalu, kepada ibuku, kepada semua orang. Udah, Pak. Nggak usah dipikirin. Nanti juga lupa. Dia bukan siapa-siapa. Dia cuma dibayar. Kalimat yang akan membuat semua orang di rumah ini berhenti bertanya, berhenti mengeluarkan cangkir, berhenti mencatat nama di kalender arisan. Kalimat untuk melindungi mereka.
Aku membuka mulut.
Dan aku tidak bisa mengatakannya.
Karena itu tidak benar. Ia bukan cuma dibayar. Dan kalau aku menyuruh ayahku melupakannya, aku menyuruh ayahku berbohong kepada dirinya sendiri, persis seperti yang sudah kulakukan selama sepuluh minggu kepada semua orang.
“Pak,” kataku. Suaraku serak. “Nggak apa-apa kangen.”
Ayahku menatap cangkirnya.
“Saya nggak kangen,” katanya. “Saya kebiasaan.”
“Pak.”
Ia diam lama. Lalu ia merogoh saku kemejanya, mengeluarkan ponsel tuanya dengan layar yang retak di pojok, membukanya dengan jempol yang lambat, dan menyodorkannya ke seberang meja.
Pesan Erga. Diteruskan ibuku kepadanya, karena Erga tidak punya nomor ayahku. Ayahku sudah memperbesar hurufnya sampai kalimat terakhir memenuhi seluruh layar.
Om Hendra, saya bilang. Saya nggak hilang.
“Waktu di pasar,” kata ayahku, “minggu kedua, saya bilang ke dia. Kalau nggak mau datang lagi, nggak apa-apa. Tapi bilang. Jangan hilang.” Ia mengambil kembali ponselnya dan menatap layar itu. “Dia nepatin.”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
“Kamis kemarin,” lanjut ayahku, pelan, “saya ke Mang Ujang. Pesan dua robusta. Kebiasaan. Terus saya ingat.” Ia menyeruput kopinya. “Mang Ujang bilang, hari pesta dia datang. Pagi-pagi. Minum gelas yang saya tinggal. Dingin.”
Aku tidak tahu itu. Aku tidak tahu apa pun. Aku tidak tahu ia ke pasar di hari pesta. Aku tidak tahu ia meminum kopi dingin ayahku. Aku tidak tahu, karena aku tidak mengundangnya, dan karena malam itu aku menghapus pesan panjang yang kuketik di sudut tenda.
Suara langkah di tangga. Livia turun dengan rambut kusut dan mata bengkak. Ia berhenti di ambang pintu dapur, melihat ayahku, melihatku, lalu melihat lemari atas yang pintunya tertutup rapat.
Ibuku menyusul di belakangnya, dengan daster batik dan jepit bunga.
Untuk pertama kalinya sejak Rabu malam sepuluh hari lalu, kami berempat ada di meja makan yang sama.
“Aku mau bilang sesuatu,” kataku. Semua orang menoleh. Aku melihat ketegangan di bahu Livia, seperti ia menunggu pengakuan lain.
“Kita boleh kangen dia,” kataku. “Aku nggak akan minta kalian lupa. Aku nggak akan bilang dia bukan siapa-siapa. Dia siapa-siapa. Buat Ibu. Buat Bapak. Buat Liv.” Suaraku pecah. Aku membiarkannya. “Dia pergi gara-gara aku. Bukan gara-gara kalian. Kalian boleh kangen dia sebanyak yang kalian mau. Kalian nggak perlu nyimpen apa pun di rak atas buat aku.”
Ibuku menatapku lama. Lalu ia berjalan ke lemari, membukanya, menjinjit, dan mengambil cangkir hijau yang utuh dari balik toples gula.
Ia tidak mengisinya. Ia hanya meletakkannya di meja. Di tempat yang biasa. Kosong.
Tidak ada yang berkata apa-apa. Tapi Livia duduk. Dan ayahku menggeser toples kerupuk ke tengah. Dan ibuku menuang teh.
Cangkir itu berdiri di sana, kosong, di tengah kami. Tidak ada yang memindahkannya.
Siang itu, ibuku membersihkan meja dekat rak piring untuk pertama kalinya sejak pesta. Buku tamu bersampul batik ia angkat untuk dilap bagian bawahnya.
Sebuah kartu kecil terjatuh ke lantai.
Aku mengenalinya sebelum ibuku memungutnya. Kartu yang kulihat di hari Sabtu persiapan pesta, terselip di bawah buku tamu. Aku mengira Erga lupa membawanya.
Ibuku membaliknya. Ia membaca judulnya, dan tangannya mulai gemetar.
Tulisan tangan Erga. Rapi. Pelan-pelan. Seperti orang yang menyalin sesuatu yang penting.
Bika Ibu Ratih.
- 1 Pacar yang Datang Bersama Kotak Kue
- 2 Aturan Pertama: Jangan Jatuh Cinta
- 3 Kursi di Sebelah Nadine
- 4 Di Luar Jadwal
- 5 Kue Ulang Tahun yang Terlalu Jujur
- 6 Potongan yang Bentuknya Jelek
- 7 Resep yang Selalu Gagal
- 8 Hal yang Tidak Masuk Kontrak
- 9 Kencan yang Tidak Dihitung
- 10 Pertanyaan Sepupu yang Salah Alamat
- 11 Celemek Cadangan
- 12 Hari ketika Ibu Menyebut Rumah
- 13 Jawaban yang Ditunda
- 14 Delapan Pertanyaan untuk Livia
- 15 Jangan Janji untuk Semua Orang
- 16 Foto yang Harus Kita Simpan
- 17 Aku Suka Kamu Tanpa Jadwal
- 18 Bonus yang Tidak Bisa Kuterima
- 19 Resep yang Akhirnya Berhasil
- 20 Kebenaran di Meja yang Sama
- 21 Undangan yang Tidak Kukirim
- 22 Kue untuk Pesta yang Tidak Kuhadiri
- 23 Aku Pergi Dulu
- 24 Satu Cangkir Terlalu Banyak reading
- 25 Kue yang Jadi Saat Orangnya Tidak Ada
- 26 Celemek Tanpa Nama
- 27 Yang Dia Ingat Tentang Kita
- 28 Aku yang Membawanya Masuk
- 29 Kabar Pertama yang Tidak Bisa Kukirim
- 30 Hari Tanpa Peran
- 31 Nama yang Muncul Lagi
- 32 Kalau Kamu Mau Dengar
- 33 Kencan Pertama yang Kedua
- 34 Aku Tidak Perlu Membayar Tempatku
- 35 Tamu yang Boleh Menolak
- 36 Namaku Ada di Sini