Chapter Twenty One
Undangan yang Tidak Kukirim
POV: Nadine
Setelah Rabu malam, rumah kami menjadi rumah yang sangat sopan.
Ibuku masih memasak. Masih menyiapkan sarapan setiap pagi, masih menanyakan apakah aku sudah makan, masih mengurus tukang tenda di telepon dengan suara yang terdengar normal bagi orang yang tidak mengenalnya. Tapi ia tidak bernyanyi dangdut di kamar mandi. Ia tidak mengirim stiker bunga ke grup keluarga. Dan setiap kali melewati meja dekat rak piring, tempat buku tamu bersampul batik itu biasa terbuka, ia tidak menoleh.
Ayahku pergi ke pasar hari Kamis. Sendiri. Ia pulang jam tujuh membawa belanjaan, meletakkannya di dapur, lalu masuk ke kamar tanpa menyeduh kopi.
Livia tidak turun untuk makan malam dua hari berturut-turut.
Tidak ada yang berteriak. Tidak ada yang membanting pintu. Semua orang terlalu sopan untuk itu. Dan kesopanan itu terasa seperti rumah yang pelan-pelan kehilangan panasnya, seperti oven yang sudah dimatikan.
Jumat pagi, di kantor, aku membuka dokumen yang sudah kutunda sejak Senin: Daftar Tamu Pesta 30 Tahun — FINAL.
Seratus empat puluh dua nama. Dua belas meja bundar. Meja satu untuk keluarga inti, di depan panggung kecil tempat orang tuaku akan memotong kue.
Dita menarik kursinya ke sebelahku tanpa diundang, seperti biasa. “Mbak, font kartu mejanya jadi yang mana? Aku udah bikin tiga opsi. Yang satu kayak undangan nikah, yang satu kayak menu kafe, yang satu kayak surat dari kelurahan.”
“Yang nggak kayak surat kelurahan.”
“Itu yang paling aku suka.”
“Dita.”
“Oke, oke. Yang menu kafe.” Ia melirik layarku, lalu diam. Dita tidak pernah diam. “Mbak. Kok nama mas kue dicoret?”
Aku menatap layar.
Meja satu. Hendra Prakoso. Ratih Prakoso. Nadine Prakoso. Livia Prakoso. Eyang Putri. Dan di bawahnya, satu nama dengan garis coret melintang yang kubuat Kamis malam jam satu dini hari dan belum kuhapus sepenuhnya: Erga Pratama.
“Bukan urusanmu,” kataku.
Dita menatapku lama, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ia tidak membantah. Ia hanya menarik kursinya kembali ke mejanya sendiri, pelan-pelan, seperti orang yang meninggalkan ruangan tempat seseorang sedang menangis.
Aku tidak sedang menangis. Aku sedang berpikir.
Aku sudah memikirkannya sejak Rabu malam, sejak beranda, sejak Erga berkata aku ngerti tanpa berbalik. Dan aku sampai pada kesimpulan yang, pada jam satu dini hari, terasa seperti satu-satunya hal baik yang masih bisa kulakukan.
Pesta itu acara nomor delapan. Acara terakhir dalam kontrak. Secara teknis, Erga masih terikat untuk datang. Tapi keluargaku sudah tahu semuanya sekarang. Kalau ia datang, ia datang sebagai apa? Pacar sewaan yang kontraknya sudah terbongkar, berdiri di meja satu di depan seratus empat puluh tamu yang tidak tahu apa-apa, di sebelah ibuku yang masih terluka dan ayahku yang belum bicara, sambil tersenyum?
Itu sama saja dengan memintanya pura-pura lagi. Pura-pura di depan orang yang sudah tahu ia pura-pura.
Dan ia sudah bilang kepadaku, di toko, dengan bibir yang masih asin: setelah acara nomor delapan, aku nggak akan pura-pura lagi. Aku tidak bisa memberinya jawaban. Aku tidak bisa memanggilnya pasanganku. Jadi setidaknya aku bisa melakukan ini: aku tidak akan memaksanya berdiri di sana dan berpura-pura untuk terakhir kalinya.
Aku menghapus garis coret itu. Aku menghapus namanya sepenuhnya.
Seratus empat puluh satu nama.
Aku mengirim dokumen itu ke percetakan.
Sore itu, aku mampir ke rumah sebelum ke toko Erga, untuk mengambil kotak kartu meja yang ditulis Livia hari Sabtu.
Ibuku sedang di dapur, menyiangi kacang panjang. Ia tidak menoleh ketika aku masuk.
“Bu,” kataku. “Erga nggak datang ke pesta.”
Tangannya berhenti.
“Aku yang nggak ngundang,” kataku, sebelum ia bisa bertanya. “Bukan dia yang nggak mau. Aku yang mutusin.”
Ibuku menatap kacang panjang di tangannya lama sekali. Lalu ia mengangguk. Sekali. Pelan. Persis seperti anggukan Erga di meja makan Rabu malam.
“Kuenya?” tanyanya. Suaranya sangat hati-hati.
“Aku belum tanya.”
Ibuku mengangguk lagi dan kembali menyiangi kacang panjang. Ia tidak berkata apa-apa lagi. Tapi aku melihat tangannya menyiangi kacang yang sama dua kali.
Kotak kartu meja ada di ruang tengah. Aku membukanya untuk memastikan semuanya lengkap. Kartu-kartu karton krem, dengan nama tamu ditulis tangan Livia yang rapi dan sedikit miring ke kanan.
Di bagian paling atas tumpukan, ada satu kartu yang tulisannya berbeda. Lebih besar. Lebih hati-hati. Dengan gambar kecil di pojoknya, gambar bebek, bebek yang kakinya dibuat bergaris-garis seperti sedang mengayuh.
Mas Erga — Meja 1.
Livia menulisnya hari Sabtu, sebelum ia menemukan kuitansi di mapku. Sebelum semuanya.
Aku memegang kartu itu lama sekali. Lalu aku tidak memasukkannya kembali ke kotak. Aku memasukkannya ke tasku sendiri. Aku tidak tahu kenapa.
Remah Pagi sepi jam lima sore. Nino di balik oven, yang sudah menyala lagi entah dengan uang dari mana. Uci sedang menata etalase.
“Pesanan atas nama siapa?” tanya Nino datar ketika aku masuk. Ia tidak tersenyum. Ia tidak jahil. Ia hanya menatapku seperti menatap pelanggan yang pernah membayar dengan uang palsu.
“Nino,” kata Erga dari balik meja kasir. “Udah.”
Nino kembali ke ovennya.
Erga tersenyum kepadaku. Senyum sopan. Senyum rumah kami seminggu terakhir. “Mau duduk?”
“Aku bawa daftar tamu,” kataku, mengangkat map biru. “Buat ngitung porsi kue. Kamu butuh jumlah pastinya, kan?”
“Iya.”
Aku membuka map itu di meja kasir. Hasil cetak dari percetakan, masih hangat, dengan font menu kafe. Dua belas halaman, satu halaman per meja. Aku mulai membaliknya untuknya, halaman demi halaman, sambil menyebutkan jumlah per meja, sambil mencari kalimat yang sudah kusiapkan sepanjang perjalanan ke sini. Kalimat yang jelas. Tanpa alasan samar. Aku tidak mau ia mendengarnya dari orang lain.
Tapi aku terlalu lambat.
Erga yang membalik halaman pertama. Meja satu. Aku melihat matanya bergerak turun, membaca, nama demi nama. Hendra. Ratih. Nadine. Livia. Eyang Putri.
Matanya berhenti di baris kosong di bawah nama Eyang.
Lalu ia membalik halaman lain. Halaman terakhir. Daftar abjad lengkap untuk meja penerima tamu. Aku tahu apa yang ia cari. Ia mencari huruf E.
Eyang Putri. Enok (Bu), pasar Kosambi. Eka Wijaya.
Bu Enok ada di sana. Penjual lapis legit di pasar, yang kenal aku sejak kecil. Ayahku yang mengundangnya. Mang Ujang juga ada, di huruf U. Ayahku mengundang mereka berdua dua minggu lalu, sebelum semuanya terbongkar.
Nama Erga tidak ada di mana pun.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap halaman itu, dengan jari di baris antara Enok dan Eka, tempat namanya seharusnya berada kalau dunia berjalan menurut abjad.
“Aku mau bilang sendiri,” kataku. Suaraku keluar lebih keras dari yang kuinginkan. “Aku ke sini buat bilang sendiri. Aku nggak ngundang kamu ke pesta.”
Ia mengangkat wajah.
“Bukan karena aku marah. Bukan karena keluargaku minta. Mereka nggak minta apa-apa.” Aku memaksa diriku melanjutkan dengan jelas, tanpa kabur ke kalimat samar, karena ia berhak mendapat kejelasan setidaknya untuk ini. “Aku nggak bisa bilang kamu pasanganku. Kamu udah dengar sendiri. Dan aku nggak mau kamu berdiri di meja satu di depan seratus empat puluh orang dan pura-pura jadi pacarku, di depan keluargaku yang udah tahu itu pura-pura. Kamu bilang kamu nggak mau pura-pura lagi. Jadi aku nggak akan minta kamu pura-pura. Sekali pun.”
Toko sunyi. Bahkan Uci berhenti menata etalase.
Erga menatapku lama. Lalu ia menutup map biru itu pelan-pelan, seolah menutup sesuatu yang bisa pecah.
“Aku ngerti maksudmu,” katanya. “Beneran. Aku ngerti kenapa kamu mikir ini baik.”
Aku mengembuskan napas yang kutahan.
“Aku cuma mau nanya satu hal,” katanya. “Satu aja. Dan kamu boleh nggak jawab.”
Aku menunggu.
“Kamu sebenarnya pengin aku ada di sana?”
Pertanyaan itu jatuh ke meja kasir seperti koin lima ratus yang terlepas dari menara.
Iya. Aku ingin ia ada di sana. Aku ingin ia di meja satu, di sebelahku, dengan cangkir hijau di tangannya, tertawa ketika Eyang menagih lapis pinggir. Aku ingin ia melihat ibuku memotong bika ambon yang naik penuh di depan seratus empat puluh orang. Aku ingin ia di foto keluarga, di baris kedua, di sebelah ayahku.
Tapi kalau aku menjawab iya, ia akan bertanya kenapa aku tidak mengundangnya. Dan jawabannya akan membawa kami kembali ke pertanyaan yang tidak bisa kujawab. Kalau aku menjawab tidak, aku berbohong kepadanya untuk pertama kalinya tanpa kontrak.
“Aku...” Aku membuka mulut. Menutupnya. “Aku nggak tahu, Erga. Aku nggak tahu gimana caranya pengin kamu ada di sana tanpa—”
Aku berhenti. Kalimat itu tidak punya ujung.
Erga mengangguk. Sekali. Anggukan yang sudah kukenal sekarang. Anggukan orang yang mendengar kabar yang sudah ia tahu akan datang.
“Oke,” katanya. “Aku nggak datang.”
Tidak ada kemarahan di suaranya. Tidak ada kekecewaan yang bisa kupegang dan kujadikan alasan untuk membela diri. Hanya penerimaan. Tenang, rapi, dan lengkap, seperti kotak kue yang sudah dilipat sempurna.
Aku lebih suka ia marah.
“Kuenya,” kataku, dengan suara yang tidak lagi terdengar seperti suaraku. “Kamu nggak harus bikin. Aku bisa cari toko lain. Ibu pasti ngerti.”
Erga membuka laci meja kasir. Ia mengeluarkan selembar kertas, pesanan dengan tulisan tangannya sendiri: Kue pesta 30 th keluarga Prakoso. 142 porsi + 1 tingkat utama. Bika ambon (bantu Ibu Ratih). Di bawahnya, dengan tinta berbeda, sudah dicoret dan dikoreksi: 141 porsi.
Ia sudah menghitungnya. Ia sudah tahu. Mungkin sejak Rabu malam.
“Aku udah janji ke Ibu,” katanya, memandangi kertas itu. “Kue pestanya aku yang bikin. Ibu udah bilang ke semua orang.”
Ia melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku celemek. Saku yang sama tempat ia menyimpan pulpen untuk menyalin resep bika ibuku.
“Aku tetap bikin kuenya, Nad,” katanya. “Kue itu bukan buat kamu.”
- 1 Pacar yang Datang Bersama Kotak Kue
- 2 Aturan Pertama: Jangan Jatuh Cinta
- 3 Kursi di Sebelah Nadine
- 4 Di Luar Jadwal
- 5 Kue Ulang Tahun yang Terlalu Jujur
- 6 Potongan yang Bentuknya Jelek
- 7 Resep yang Selalu Gagal
- 8 Hal yang Tidak Masuk Kontrak
- 9 Kencan yang Tidak Dihitung
- 10 Pertanyaan Sepupu yang Salah Alamat
- 11 Celemek Cadangan
- 12 Hari ketika Ibu Menyebut Rumah
- 13 Jawaban yang Ditunda
- 14 Delapan Pertanyaan untuk Livia
- 15 Jangan Janji untuk Semua Orang
- 16 Foto yang Harus Kita Simpan
- 17 Aku Suka Kamu Tanpa Jadwal
- 18 Bonus yang Tidak Bisa Kuterima
- 19 Resep yang Akhirnya Berhasil
- 20 Kebenaran di Meja yang Sama
- 21 Undangan yang Tidak Kukirim reading
- 22 Kue untuk Pesta yang Tidak Kuhadiri
- 23 Aku Pergi Dulu
- 24 Satu Cangkir Terlalu Banyak
- 25 Kue yang Jadi Saat Orangnya Tidak Ada
- 26 Celemek Tanpa Nama
- 27 Yang Dia Ingat Tentang Kita
- 28 Aku yang Membawanya Masuk
- 29 Kabar Pertama yang Tidak Bisa Kukirim
- 30 Hari Tanpa Peran
- 31 Nama yang Muncul Lagi
- 32 Kalau Kamu Mau Dengar
- 33 Kencan Pertama yang Kedua
- 34 Aku Tidak Perlu Membayar Tempatku
- 35 Tamu yang Boleh Menolak
- 36 Namaku Ada di Sini