Chapter Four

Di Luar Jadwal

POV: Erga

Aku memasang alarm jam empat pagi dan menamainya Bukan Acara Resmi.

Enam hari aku memikirkan undangan itu. Pasar Kosambi tidak ada di jadwal Nadine. Tidak ada honornya, tidak ada tante yang harus diyakinkan, tidak ada adik yang harus dikelabui. Kalau aku tidak datang, tidak ada satu pasal pun yang kulanggar.

Tapi kalimat terakhir Hendra di pagar terus terngiang. Makanya saya bilang kalau bisa. Aku ingin tahu orang macam apa yang mengundang pacar palsu putrinya ke pasar tanpa memaksanya datang.

Nino, yang masih tidur di sofa toko karena oven baru bisa diperbaiki minggu depan, membuka satu mata saat aku memakai jaket.

“Ke mana?”

“Pasar. Sama ayahnya Nadine.”

“Itu di kontrak?”

“Nggak.”

Ia menatapku lama, lalu menutup mata lagi. “Oh,” gumamnya. “Mulai.”


Aku tiba jam lima kurang lima. Hendra sudah berdiri di depan kios bumbu dengan jaket parasut, tas belanja anyaman, dan selembar kertas daftar belanja bertulisan tangan Ratih.

“Telat,” katanya.

“Om bilang jam lima. Sekarang jam lima kurang lima.”

“Kalau janji jam lima, datang jam lima kurang sepuluh.” Ia berbalik dan mulai berjalan. Aku mengikutinya.

Selama dua puluh menit pertama, kami hampir tidak bicara. Hendra menawar dengan cara yang belum pernah kulihat: ia tidak menyebut angka. Ia hanya menatap tumpukan cabai, lalu menatap penjualnya, lalu menatap cabai lagi, sampai si penjual menghela napas dan berkata, “Ya udah, Pak, dua puluh lima.” Aku mencatatnya dalam kepala. Teknik yang bagus untuk berhadapan dengan pemasok tepung.

Di lorong kue basah, seorang ibu bertubuh gempal melambai dari balik tampah berisi getuk dan lapis. “Pak Hendra! Tumben bawa temen. Siapa ini? Pacarnya Neng Nadine, ya?”

Aku menunggu Hendra mengiyakan. Itu jawaban paling mudah. Itu juga jawaban yang dibayar putrinya.

“Temen pasar,” kata Hendra.

Ia membeli enam potong lapis legit tanpa menawar, mengangguk, lalu berjalan lagi. Aku mengikutinya dengan perasaan aneh di perut, seperti tersandung anak tangga yang tidak kulihat. Temen pasar. Bukan pacar anaknya. Bukan pemeran. Sebutan kecil yang tidak ada hubungannya dengan Nadine sama sekali, dan justru karena itu terasa seperti sesuatu yang diberikan hanya kepadaku.

“Bu Enok kenal Nadine dari kecil,” kata Hendra tanpa menoleh. “Dulu Nadine nangis di sini tiap lihat ayam dipotong. Tiap Minggu. Tapi tiap Minggu tetap minta ikut.”

“Kenapa, Om?”

“Katanya, kalau nggak ikut, nanti Bapak pulangnya lama.”

Aku mengambil semua kantong belanja dari tangannya. Refleks. Di pasar Sumedang, sejak SMP aku sudah mengangkat karung terigu di toko bahan kue milik bapakku, dan tanganku selalu merasa lebih tenang kalau ada yang dibawa.

Hendra mengambil dua kantong kembali.

“Bawa satu,” katanya. “Kamu tamu, bukan kuli.”

“Saya lebih tenang kalau tangan saya ada kerjaannya, Om.”

Ia melirikku. “Itu masalahmu, bukan masalah tas.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku membawa satu kantong, dan sepanjang lorong ikan asin tanganku yang lain terasa kosong dengan cara yang aneh.


Di pojok pasar ada warung kopi tubruk dengan bangku kayu panjang dan termos-termos tua. Penjualnya, Mang Ujang, menyambut Hendra dengan anggukan yang menandakan dua puluh tahun berlangganan.

“Robusta dua,” kata Hendra.

“Saya arabika aja, Mang.”

Hendra menoleh pelan, seolah aku baru saja mengaku mendukung klub sepak bola saingan. “Arabika itu kopi orang yang kebanyakan ngomong.”

“Arabika itu kopi orang jujur yang ngomongnya halus, Om.”

“Jujur ya jujur. Nggak perlu halus.”

“Nanti orangnya kabur.”

“Kalau kabur gara-gara jujur, ya berarti memang harus kabur.”

Mang Ujang tertawa sampai termosnya bergoyang. “Baru kali ini Pak Hendra ngomong lebih dari sepuluh kata sebelum jam enam.”

Akhirnya aku minum robusta. Pahit, tebal, ampasnya menempel di gigi. Dan enak. Enak sekali.

“Kan,” kata Hendra, tanpa menoleh.

Kami duduk bersebelahan di bangku kayu, menatap truk sayur yang menurunkan muatan. Langit mulai berwarna abu-abu terang. Lalu, tanpa pembukaan, Hendra mulai bicara.

“Waktu umur tujuh tahun, Nadine bikin jadwal hari Minggu buat satu keluarga. Ditempel di kulkas. Jam tujuh sarapan. Jam delapan main. Jam sembilan Bapak nggak boleh baca koran.” Ia menyeruput kopinya. “Saya nurut. Tiga bulan.”

Aku tertawa. “Kedengarannya dia belum berubah.”

“Belum.” Ia diam sebentar. “Dia bikin jadwal kalau dia takut. Dari kecil begitu. Kalau semuanya ditulis, dia pikir nggak ada yang bisa pergi tiba-tiba.”

Tawaku berhenti.

Aku teringat dokumen Protokol Hubungan (Sementara). Nomor lima. Jadwal delapan acara yang ia kirim jam sembilan malam, rapi, bernomor, lengkap dengan catatan.

“Rian anak baik,” lanjut Hendra, seolah itu kalimat berikutnya yang wajar. “Nggak pernah ke pasar. Nggak apa-apa. Nggak semua orang suka bangun pagi.” Ia meletakkan gelasnya. “Waktu dia pergi, Nadine pulang ke rumah, bilang semuanya baik-baik aja, terus tidur di kamar lamanya tiga malam. Pintunya ditutup. Jadwal di kulkas itu dia copot sendiri. Umur dua puluh enam.”

Aku tidak berkata apa-apa. Kadang cara terbaik mendengarkan adalah tidak menjadikannya giliranmu bicara.

Hendra menoleh kepadaku. Untuk pertama kalinya, tatapannya bukan tatapan menimbang karung beras.

“Saya nggak tanya kamu serius atau nggak,” katanya. “Itu urusan kalian. Saya cuma mau bilang satu hal.” Ia berdiri dan mengambil kantong belanjanya. “Kalau nanti kamu nggak mau datang lagi, nggak apa-apa. Tapi bilang. Jangan hilang.”

Tenggorokanku terasa seperti menelan ampas kopi.

“Saya bakal bilang, Om,” kataku. “Kalau suatu hari saya pergi, saya bakal bilang.”

Ia mengangguk sekali, lalu berjalan. Aku mengikutinya, membawa satu kantong, dan untuk pertama kalinya aku tidak keberatan tanganku yang lain kosong.


Bapakku di Sumedang juga tidak pernah bilang bangga. Ia hanya menambahkan nasi ke piringku tanpa bertanya, dan aku tumbuh dengan mengira itu bahasa yang dipakai semua laki-laki. Sepanjang perjalanan pulang, di jok belakang motor tua Hendra, dengan kantong berisi ikan asin di pangkuan, aku menyadari sesuatu yang tidak ada dalam protokol mana pun.

Aku suka mengenal keluarga ini. Bukan sebagai pacar Nadine. Bukan sebagai pemeran. Hanya sebagai orang yang duduk di bangku kayu dan kalah debat soal kopi.

Itu, kurasa, lebih berbahaya daripada nomor lima.

Jam tujuh kami tiba di rumah. Ratih masih di kamar mandi, suaranya menyanyikan lagu dangdut lama dengan lirik yang separuh dikarang sendiri. Hendra menaruh belanjaan, membuka lemari atas, dan mengeluarkan dua cangkir blirik hijau, yang enamel berbintik putih itu. Salah satunya gompal sedikit di bibir.

Ia menyeduh robusta yang tadi ia beli, lalu meletakkan cangkir yang tidak gompal di depanku.

“Itu pasangannya,” katanya sambil menunjuk cangkir di tangannya sendiri. “Jarang keluar.”

Ia tidak menjelaskan kenapa jarang keluar. Ia tidak menjelaskan kenapa sekarang keluar. Ia hanya duduk, membuka koran, dan minum dari cangkir yang gompal.

Aku memegang cangkir itu dengan dua tangan. Hangatnya meresap ke telapak.

Lalu ponselku bergetar.

Nadine:

Itu masuk hitungan acara nggak?

Aku mendongak. Di ambang pintu dapur, Nadine berdiri dengan kantong laundry di satu tangan dan ponsel di tangan lain. Rambutnya masih basah, wajahnya tanpa riasan, dan ia pura-pura tidak sedang melihat ke arahku. Ia melihat cangkir hijau di tanganku. Lalu ia melihat ayahnya. Lalu ia melihatku lagi.

Aku tidak tahu jawabannya. Aku hanya tahu kopiku belum habis dan aku belum ingin pulang.

Jadi aku tidak membalas. Aku mengangkat cangkir hijau itu sedikit ke arahnya, seperti bersulang.

Nadine menatapku dua detik. Lalu ia berbalik ke ruang tengah, tapi sebelum hilang dari ambang pintu, aku melihat bahunya turun, seperti orang yang baru saja berhenti menahan sesuatu. Ponselku bergetar sekali lagi.

Nadine:

Jangan habisin lapisnya. Itu jatahku dari kecil.