Chapter Thirty Five
Tamu yang Boleh Menolak
POV: Nadine
Ulang tahun ibuku yang kelima puluh lima jatuh pada hari Minggu, lima minggu setelah angkringan di pinggir rel.
Ibuku tidak pernah merayakan ulang tahunnya dengan besar. Tidak ada tenda, tidak ada daftar tamu cetak, tidak ada kartu meja dengan font menu kafe. Hanya makan siang di rumah. Keluarga inti, ditambah Eyang, ditambah Tante Wulan yang tidak pernah diundang tapi selalu datang. Nasi kuning, ayam goreng, dan satu kue yang biasanya dibeli di toko roti dekat pasar.
Tahun ini, dua minggu sebelumnya, ibuku berdiri di depan kalender dinding dan menatap kotak hari Minggu itu lama sekali.
“Din,” katanya. “Ibu mau telepon Erga. Ibu mau minta dia datang.”
Aku tahu apa yang akan terjadi kalau ibuku yang menelepon. Aku bisa membayangkannya dengan sangat jelas. Ibuku akan berkata Nak, Ibu ulang tahun, Ibu kangen, datang ya, dengan suara yang bergetar di kata kangen. Dan Erga akan datang. Tentu saja ia akan datang. Ia tidak pernah bisa menolak ibuku. Ia akan naik kereta dari Yogyakarta, meninggalkan apa pun yang sedang ia kerjakan, karena ibuku memintanya dengan suara bergetar.
Dan ia akan datang karena dibutuhkan. Bukan karena ia mau.
“Bu,” kataku. “Boleh aku yang ngundang?”
Ibuku menoleh.
“Atas namaku,” kataku. “Bukan atas nama Ibu, bukan atas nama Bapak, bukan atas nama Liv. Aku yang ngundang dia. Dan aku mau dia tahu dia boleh nolak.”
Ibuku menatapku lama. Aku melihatnya menimbang sesuatu. Aku melihat bagian dari dirinya yang ingin menelepon Erga sekarang juga, dan bagian lain yang, entah kapan dalam delapan bulan terakhir, belajar sesuatu tentang menahan diri.
“Kalau dia nolak?” tanyanya pelan.
“Ya udah. Kita tetap makan nasi kuning.”
“Kalau dia nolak, Ibu sedih.”
“Ibu boleh sedih,” kataku. “Tapi Ibu nggak boleh bilang ke dia kalau Ibu sedih. Biar dia milih karena dia mau, bukan karena takut Ibu sedih.”
Ibuku menatapku. Lalu, pelan-pelan, ia tersenyum. Senyum yang sedikit sedih dan sedikit bangga.
“Kamu udah kayak dia,” katanya.
Aku menulis undangannya di meja makan malam itu, dengan ayahku membaca koran di seberangku dan Livia pura-pura tidak mengintip dari tangga.
Aku menulisnya satu kali. Aku tidak membuat versi kedua.
Aku:
Erga.
Minggu tanggal 14 ulang tahun Ibu yang ke-55. Makan siang di rumah. Kecil. Cuma keluarga, Eyang, sama Tante Wulan yang pasti datang walaupun nggak diundang.
Aku yang ngundang kamu. Bukan Ibu, bukan Bapak, bukan Liv. Aku. Aku pengin kamu datang sebagai pasanganku.
Tapi kamu boleh nolak. Beneran boleh. Kalau kamu ada kerjaan, kalau kamu capek, kalau kamu belum siap ke rumah itu, atau kalau kamu nggak mau aja tanpa alasan, kamu boleh bilang nggak. Aku udah bilang ke semua orang di rumah: nggak ada yang boleh maksa kamu, dan nggak ada yang boleh bikin kamu merasa bersalah kalau kamu nggak datang.
Mereka bakal kangen. Itu beda sama sedih karena kamu. Kangen itu urusan mereka, bukan tanggung jawabmu.
Kabarin aja kapan kamu udah mutusin. Nggak buru-buru.
Aku menekan kirim. Aku meletakkan ponsel terbalik di atas meja.
Ayahku menurunkan koran lima senti. “Udah?”
“Udah.”
Ia menaikkan korannya lagi. Tapi aku melihat, sebelum kertas itu menutup wajahnya, sudut bibirnya bergerak sedikit.
Erga membalas keesokan harinya, jam tujuh malam. Aku sedang di dapur membantu ibuku menggoreng tempe.
Erga:
Aku udah mikir.
Sabtu tanggal 13 itu hari ujian terakhir Gilang. Dia harus bikin roti ragi tape sendiri, tanpa aku di dapur, di depan Bu Sekar. Aku janji ke dia aku bakal ada sampai dia selesai, walaupun aku nggak boleh bantu.
Abis itu aku naik kereta sore. Sampai Bandung malam. Minggu siang aku datang.
Aku datang karena aku mau, Nad. Bukan karena diundang doang. Makasih udah bilang aku boleh nolak. Itu yang bikin aku bisa bilang iya.
Aku membacanya berdiri di depan kompor dengan spatula di tangan. Tempe di wajan mulai gosong. Ibuku mengambil spatula dari tanganku tanpa berkata apa-apa dan membalik tempe itu.
Lalu ia menatap layar ponselku dari samping. Ia tidak bertanya. Ia hanya membaca wajahku.
Ia meletakkan spatula, berjalan ke meja dekat rak piring, dan membuka buku tamu bersampul batik.
Halaman baru. Ia menulis dengan tinta hitam, dalam satu tarikan, sekaligus.
Ulang tahun Ibu 55 — Bapak, Ibu, Nadine, Livia, Eyang, Wulan (pasti), Erga.
Aku menatapnya menulis nama itu.
“Ibu belum nulis dari kemarin,” kata ibuku, menutup pulpen. “Ibu mau nulis. Tangan Ibu udah gatal dari kemarin. Tapi Ibu tahan.” Ia menepuk buku itu pelan. “Ibu nggak mau nulis nama orang yang belum milih datang.”
Minggu siang, jam sebelas lewat lima belas, aku mendengar suara motor ojek berhenti di depan pagar.
Aku tidak lari ke pintu. Aku ingin. Kakiku sudah setengah berdiri dari kursi. Tapi aku duduk kembali, karena aku ingin ia masuk ke rumah ini dengan langkahnya sendiri, bukan ditarik.
Bunyi pagar. Langkah di teras. Ketukan di pintu. Tiga kali.
Ibuku yang membuka pintu. Ia berdiri di sana dengan daster batik baru, jepit bunga baru, dan celemek bergambar ayam yang lama. Ia menatap Erga. Aku melihat punggungnya menegang. Aku melihat tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
Ia tidak memeluknya. Ia tidak berkata Nak, Ibu kangen. Ia menahan semua itu, dan aku tahu betapa sulitnya bagi ibuku untuk menahannya.
“Masuk, Nak,” katanya. Hanya itu. Suaranya bergetar sedikit di kata Nak.
Erga masuk.
Tangannya kosong. Tidak ada kotak kue. Tidak ada wadah plastik. Tidak ada kotak kaleng Remah Pagi. Ia hanya memakai kemeja batik yang kukenal, kemeja yang sama dengan yang ia pakai di arisan, yang sudah lebih longgar di bahu karena ia lebih banyak berjalan sekarang.
Ia berdiri di ruang tengah dan menatap sekeliling. Televisi. Toples kerupuk. Kalender dinding. Rak piring dengan buku tamu bersampul batik yang masih terbuka.
Lalu ia menatap meja makan.
Ayahku duduk di kursinya. Koran di tangan. Cangkir gompal di depannya.
Ayahku tidak berdiri. Ia tidak berpidato. Ia tidak berkata selamat datang atau kamu ke mana aja atau saya kangen. Ayahku tidak pernah berkata apa pun yang tidak perlu.
Ia hanya meletakkan korannya, berdiri, berjalan ke lemari atas, dan mengeluarkan cangkir blirik hijau yang utuh.
Selama delapan bulan, cangkir itu berpindah-pindah: disimpan di balik toples gula, dikeluarkan ibuku, dibiarkan kosong di tengah meja, diketuk dengan gelas-gelas untuk bersulang. Hari ini, ayahku mengambilnya dari rak, membawanya ke kompor, menuang robusta dari panci kecil yang sudah ia siapkan entah sejak kapan, dan meletakkannya di atas tatakan.
Di meja. Di tempatnya. Di sebelah kursiku.
Uapnya naik.
Ayahku kembali duduk dan membuka korannya.
Erga berdiri di sana, menatap cangkir itu. Aku melihat tenggorokannya bergerak. Aku melihat tangannya di sisi tubuhnya bergerak sedikit, lalu diam.
“Duduk,” kata ayahku dari balik koran. “Kopinya dingin nanti.”
Erga duduk. Ia memegang cangkir itu dengan dua tangan, seperti di hari Sabtu minggu kedua, setelah pasar, setelah kalah debat soal arabika. Ia menunduk menatap kopinya.
Ayahku menurunkan korannya lima senti.
“Robusta,” kata ayahku. “Bukan kopi joss. Nadine bilang kamu minum kopi pakai arang di Yogya.”
Erga tertawa. Tawa pelan, basah, lewat hidung. Persis seperti ayahku.
Ibuku tidak menunggu lama untuk memamerkan.
Ia membawa loyang dari dapur dan meletakkannya di depan Erga dengan kedua tangan, seperti menyerahkan piala. Bika ambon. Tapi warnanya berbeda. Lebih gelap, cokelat keemasan dengan semburat cokelat tua di tengahnya. Dan baunya bukan hanya pandan.
“Ibu bikin versi baru,” katanya, dengan wajah yang berusaha keras terlihat santai dan gagal total. “Pakai kopi robusta sedikit di santannya. Buat Bapak. Pandannya tetap diikat. Ibu tetap nyanyi.”
Ia memotongnya sendiri. Tangannya tidak gemetar. Ia membalik irisan pertama.
Penuh. Sarangnya naik dari dasar sampai puncak, berwarna seperti madu yang dicampur kopi.
Erga menatap irisan itu. Lalu menatap ibuku.
“Ibu bikin sendiri?”
“Sendiri,” kata ibuku, bangga. “Tiga kali gagal. Yang keempat jadi. Tapi masih ada yang kurang, Nak. Kopinya kadang bikin bagian atasnya agak padat.” Ia menyodorkan garpu. “Kamu cicip. Terus kasih tahu Ibu kurangnya apa. Nanti kita sempurnain bareng.”
Nanti kita sempurnain bareng. Bukan tolong benerin. Bukan Ibu nggak bisa tanpa kamu. Bareng. Seperti dua orang yang sama-sama tahu caranya, yang ingin membuat sesuatu yang baru bersama, bukan satu orang yang menyelamatkan yang lain.
Erga menyicip. Mengunyah pelan. Menutup mata, seperti Bu Sekar.
“Delapan,” katanya. “Santannya dikurangin sedikit, Bu. Kopinya bikin adonan lebih berat. Terus diamnya tambah setengah jam.”
“Delapan!” seru ibuku, lalu menoleh kepadaku. “Din, dia kasih delapan!”
“Aku dengar, Bu.”
Livia turun dari tangga saat itu, dengan kaus kantor agensi dan kartu identitas karyawan yang masih tergantung di lehernya, walaupun hari ini hari Minggu dan ia tidak ke kantor.
Ia berhenti di anak tangga terakhir dan menatap Erga.
Lalu ia berjalan ke meja, berdiri di depannya, mengangkat kartu identitas di lehernya ke depan wajah Erga, dan berkata dengan suara resmi yang dibuat-buat:
“Mas Erga. Laporan. Saya, Livia Prakoso, dinyatakan diterima sebagai Junior Copywriter di Agensi Braga. Mulai bekerja tiga bulan yang lalu. Kampanye pertama saya dipasang di billboard di Jalan Pasteur.” Suaranya mulai bergetar. “Janji Mas. Aku yang kasih tahu duluan.”
“Mas udah tahu, Liv,” kata Erga pelan. “Nino bilang.”
“Aku tahu Mas udah tahu.” Livia menurunkan kartunya. Matanya basah, tapi ia tersenyum lebar. “Tapi janjinya aku yang kasih tahu duluan. Langsung. Jadi ini resminya.”
Erga berdiri. Ia menatap Livia. Ia tidak memeluknya. Ia bertanya dengan mata. Livia mengangguk. Lalu Erga memeluk Livia, sebentar, erat, dan Livia menangis di bahunya sambil tertawa, persis seperti di depan kue kopi susu dengan surat penerimaan dari gula.
“Selamat, Liv,” katanya. “Pertanyaan kedelapan. Kamu jawab sendiri.”
Tante Wulan datang jam dua belas lewat, tanpa diundang, dengan rendang dan tas besar.
Ia berhenti di ambang ruang makan. Ia menatap Erga. Ia menatapku. Ia menatap cangkir hijau di depan Erga. Lalu ia menatapku lagi dengan mata menyipit.
“Lho. Si tukang kue.” Ia meletakkan rendang di meja. “Jadi sekarang ini apa? Masih yang dibayar itu, atau—”
“Wul,” tegur ibuku.
“Aku cuma nanya, Tih!”
Semua orang menatapku. Ibuku. Ayahku dari balik koran. Livia. Eyang di kursinya. Dan Erga, di sebelahku, yang tidak menatapku, yang menatap cangkir hijaunya, persis seperti Rabu malam delapan bulan lalu, ketika aku berkata aku belum bisa bilang begitu.
Aku melihat bahunya. Aku melihatnya diam. Aku tahu ia sedang menahan napas, walaupun ia sudah tahu jawabannya, walaupun aku sudah mengatakannya di angkringan pinggir rel. Ada luka yang tidak sembuh hanya karena sudah dijelaskan. Luka itu sembuh karena diulang, dengan jawaban yang berbeda, di tempat yang sama.
“Pacarku, Tante,” kataku. “Beneran. Yang aku pilih.”
Tante Wulan menatapku. Lalu ia menatap Erga. “Kok nggak bilang dari dulu?”
“Dulu aku belum berani.”
Tante Wulan terdiam. Lalu ia mengibaskan tangannya, tertawa, dan duduk di kursi kosong. “Ya udah. Yang penting sekarang berani. Tih, rendangnya panasin.”
Di sebelahku, Erga mengembuskan napas. Pelan. Panjang. Seperti orang yang meletakkan sesuatu yang sangat berat, yang sudah ia bawa selama delapan bulan.
Di bawah meja, tangannya mencari tanganku. Ia tidak bertanya. Ia tidak perlu bertanya. Aku sudah membuka telapak tanganku untuknya.
Setelah makan, setelah Eyang menagih lapis pinggir dan Erga mengambilkannya, setelah Tante Wulan memaksa semua orang menyanyi Selamat Ulang Tahun dua kali karena kali pertama nadanya salah, aku masuk ke dapur untuk mengambil piring kecil.
Aku membuka kulkas. Lalu aku melihatnya.
Di pintu kulkas, di tempat yang sama persis dengan jadwal hari Minggu yang kubuat waktu umur tujuh tahun, di tempat yang bekas lemnya tidak pernah kubersihkan, ada selembar kertas baru. Ditempel dengan selotip. Kertas buku tulis bergaris, dengan judul yang ditulis tangan ibuku:
Daftar Rasa — Keluarga Prakoso. Buat kue-kue berikutnya.
Di bawahnya, nama-nama. Dengan tulisan tangan yang berbeda-beda. Setiap orang menulis bagiannya sendiri.
BAPAK — ROBUSTA. TANPA GULA. Tulisan ayahku, huruf kapital semua.
Ibu — bika ambon. Pandan diikat. Sambil nyanyi. Tulisan ibuku, miring ke kanan.
Livia — kopi susu + remah mendoan. JANGAN PROTES. Tulisan Livia, dengan gambar bebek di pojoknya.
Nadine — brownies. Yang tengah. Tulisan ibuku. Lalu di bawahnya, tulisan Livia: Tapi sekarang dia makan yang pinggir juga. Aku lihat.
Eyang — lapis legit pinggir. Tulisan ibuku, ditambah coretan pensil tipis yang pasti dari Eyang: YANG PINGGIR.
Dan di baris paling bawah:
Erga —
Kali ini tidak kosong.
Ada tiga tulisan tangan di sebelah namanya. Tiga orang yang menulis bagian mereka masing-masing, dengan tinta yang berbeda.
Tulisan ayahku, huruf kapital: KOPI TUBRUK ROBUSTA. TANPA GULA. DIA BILANG YANG JUJUR.
Tulisan Livia: es teh TAWAR (katanya. aneh. tapi ok).
Dan tulisan ibuku, miring ke kanan, di baris terakhir, dengan tinta yang sedikit luntur seperti pernah terkena air:
Apa aja yang dimasak orang yang nungguin dia datang.
Aku berdiri di depan kulkas yang terbuka, dengan udara dingin menerpa wajahku, dan tidak bisa bergerak.
Kalimat itu. Kalimat yang Erga ucapkan di bangku bubur, di pagi pertama, dengan tangannya masih di bawah tanganku. Ibuku nanya, kamu suka makan apa. Dan ia menjawab. Dan aku menyampaikannya kepada ibuku di telepon dengan kata-kata yang lebih sederhana.
Ibuku mengingatnya. Sembilan bulan. Ia mengingatnya.
Di halaman daftar rasa yang Erga tinggalkan di saku celemek, baris di bawah namanya kosong. Ia tidak pernah tahu harus menulis apa tentang dirinya sendiri. Ia tidak pernah berpikir bahwa itu perlu.
Di pintu kulkas ini, keluargaku menuliskannya untuknya.
- 1 Pacar yang Datang Bersama Kotak Kue
- 2 Aturan Pertama: Jangan Jatuh Cinta
- 3 Kursi di Sebelah Nadine
- 4 Di Luar Jadwal
- 5 Kue Ulang Tahun yang Terlalu Jujur
- 6 Potongan yang Bentuknya Jelek
- 7 Resep yang Selalu Gagal
- 8 Hal yang Tidak Masuk Kontrak
- 9 Kencan yang Tidak Dihitung
- 10 Pertanyaan Sepupu yang Salah Alamat
- 11 Celemek Cadangan
- 12 Hari ketika Ibu Menyebut Rumah
- 13 Jawaban yang Ditunda
- 14 Delapan Pertanyaan untuk Livia
- 15 Jangan Janji untuk Semua Orang
- 16 Foto yang Harus Kita Simpan
- 17 Aku Suka Kamu Tanpa Jadwal
- 18 Bonus yang Tidak Bisa Kuterima
- 19 Resep yang Akhirnya Berhasil
- 20 Kebenaran di Meja yang Sama
- 21 Undangan yang Tidak Kukirim
- 22 Kue untuk Pesta yang Tidak Kuhadiri
- 23 Aku Pergi Dulu
- 24 Satu Cangkir Terlalu Banyak
- 25 Kue yang Jadi Saat Orangnya Tidak Ada
- 26 Celemek Tanpa Nama
- 27 Yang Dia Ingat Tentang Kita
- 28 Aku yang Membawanya Masuk
- 29 Kabar Pertama yang Tidak Bisa Kukirim
- 30 Hari Tanpa Peran
- 31 Nama yang Muncul Lagi
- 32 Kalau Kamu Mau Dengar
- 33 Kencan Pertama yang Kedua
- 34 Aku Tidak Perlu Membayar Tempatku
- 35 Tamu yang Boleh Menolak reading
- 36 Namaku Ada di Sini