Chapter Twenty Eight

Aku yang Membawanya Masuk

POV: Nadine

Aku tidak menyiapkan kalimat.

Itu bagian tersulit. Seminggu penuh, setiap kali tanganku bergerak ke catatan ponsel untuk menyusun versi pertama, versi kedua, versi ketiga, aku menaruh ponsel itu terbalik di meja. Aku tidak membuat slide. Aku tidak membuat poin-poin. Aku bahkan tidak memutuskan akan mulai dari mana.

Aku hanya tahu satu hal yang harus kukatakan, dan aku tahu tidak ada versi rapat dari hal itu.

Minggu malam, jam tujuh, kami berempat duduk di meja makan. Ibuku memasak sayur asem dan ikan goreng. Ayahku melipat korannya sebelum aku bicara, tidak setelah. Livia duduk di kursinya dengan tangan terlipat di dada.

Cangkir hijau yang utuh masih di meja. Kosong. Sudah dua minggu tidak ada yang memindahkannya.

Ponsel ibuku berbunyi sebelum aku sempat membuka mulut.

“Tih!” Suara Tante Wulan terdengar dari speaker bahkan tanpa mode speaker. “Setoran arisan bulan ini! Punya kamu sama si tukang kue! Kamu mau bayar dua lagi atau gimana?”

Ibuku menatap cangkir kosong itu.

“Udah Ibu bayar, Wul,” katanya. “Dua-duanya.”

“Tapi dia kan udah—”

“Udah Ibu bayar.”

Ibuku menutup telepon. Livia menatapnya dengan mulut sedikit terbuka. Ayahku mendengus lewat hidung. Aku tidak tahu apakah itu tawa atau bukan.

Lalu semua orang menatapku.


“Aku yang membawanya masuk,” kataku.

Suaraku tidak bergetar. Aku terkejut sendiri.

“Bukan Erga. Aku. Waktu Tante Wulan mau jodohin aku di tokonya, dia nolong aku. Satu kalimat. Dia bisa aja berhenti di situ. Aku yang nawarin uang. Aku yang bikin jadwal delapan acara. Aku yang bikin protokol, yang bikin cerita soal payung kuning, yang nyuruh dia bohong ke Ibu, ke Bapak, ke Liv, ke Eyang, ke tujuh puluh orang di arisan.”

Tidak ada yang memotong.

“Aku yang lihat Ibu masak ayam kampung dua ekor buat dia di minggu pertama, dan aku diem. Aku yang lihat Bapak ngeluarin cangkir itu, dan aku diem. Aku yang lihat Liv nyimpen nomornya kayak jimat, dan aku diem. Delapan minggu. Aku bisa ngomong kapan aja. Aku nggak ngomong, karena aku takut kalian kecewa. Dan karena...” Aku berhenti. Ini bagian yang paling sulit. “Karena aku suka lihat kalian bahagia. Aku suka rumah ini waktu dia ada. Aku nggak mau itu berhenti. Jadi aku biarin kalian sayang sama dia di atas kebohongan yang aku bikin sendiri.”

Ibuku menatap piringnya.

“Terus waktu dia bilang dia sayang aku,” lanjutku, “aku nggak jawab. Waktu dia nanya apa dia boleh tetap ketemu aku, aku nggak jawab. Waktu Ibu nanya di meja ini, kami pasangan atau bukan, aku bilang belum bisa. Waktu pesta, aku nggak ngundang dia. Aku pikir itu kebaikan. Aku pikir aku ngelindungin dia dari pura-pura. Tapi aku cuma ngelindungin diriku sendiri dari keharusan milih.”

Aku menarik napas.

“Dia pergi karena aku. Dia nggak salah apa-apa. Dia bohong karena aku minta. Dan semua yang dia lakuin di luar itu, bika, pasar, latihan wawancara, itu beneran. Itu dia. Aku nggak mau ada satu orang pun di rumah ini yang mikir dia jahat. Kalau ada yang harus disalahin, itu aku.”

Aku berhenti. Aku tidak menambahkan maafin aku. Aku sudah memutuskan itu sejak Selasa. Aku tidak berhak memintanya malam ini.

“Kalian nggak harus maafin aku,” kataku. “Malam ini, atau minggu depan, atau kapan pun. Aku cuma mau kalian tahu yang sebenarnya. Dari aku. Tanpa jadwal.”


Hening lama. Ibuku yang bicara duluan.

“Ibu sakit hati,” katanya.

Ia tidak berteriak. Ia mengatakannya dengan tenang, sambil memandangi sayur asem yang sudah mulai dingin.

“Sama kamu. Sama dia juga.” Ia mengangkat wajah. “Jangan kamu pikir Ibu nggak sakit hati sama dia, Din. Dia orang dewasa. Dia bisa bilang kapan aja. Dia duduk di dapur Ibu empat kali, ngaduk bika sama Ibu, dengerin Ibu cerita soal Ibu Sumi, dan dia nggak bilang. Kalian berdua nunda. Kalian berdua milih diem.” Suaranya bergetar. “Ibu nggak mau kamu nanggung semua sendiri biar dia kelihatan bersih. Itu nggak adil juga. Buat dia. Dia bukan anak kecil yang harus kamu belain.”

Aku menatap ibuku. Aku tidak menyangka itu.

“Tapi Ibu juga malu,” lanjutnya, lebih pelan. “Ibu yang paling cepat sayang. Ibu yang daftarin dia arisan. Ibu yang bilang pulang. Ibu yang nulis namanya pakai tinta hitam. Nggak ada yang nyuruh Ibu. Ibu sendiri.” Ia menyeka matanya. “Ibu nggak bisa nyalahin kalian buat semua yang Ibu rasain. Sebagian itu salah Ibu sendiri, karena hati Ibu gampang dibuka.”

“Itu bukan salah, Bu,” kataku.

“Terserah Ibu mau nyebutnya apa.”

Ayahku berdeham.

Semua orang menoleh. Ayahku meletakkan kedua tangannya di atas meja, di sebelah koran yang terlipat.

“Saya sayang dia,” katanya.

Ia tidak menambahkan apa pun untuk beberapa detik, seolah kalimat itu perlu waktu untuk diterima meja.

“Mau dia datang karena dibayar atau nggak,” lanjutnya. “Dia minum kopi dingin saya di hari pesta. Nggak ada yang bayar dia buat itu. Dia nanya saya pengin jadi apa. Nggak ada yang bayar dia buat itu juga.” Ia menatapku. “Awal hubungan kalian itu urusan kalian. Saya nggak peduli awalnya. Yang saya tahu, dia temen pasar saya. Itu nggak berubah.”

Ia mengambil cangkir gompalnya dan minum, seolah itu sudah menjadi pernyataan paling panjang yang akan ia buat tahun ini. Mungkin memang.

Tinggal Livia.

Livia tidak menatapku. Ia menatap cangkir hijau yang kosong.

“Aku kangen Mas Erga,” katanya.

Suaranya kecil. Lalu naik.

“Dan aku marah sama Kakak. Dua-duanya. Barengan.” Ia akhirnya menatapku, dan matanya berkaca-kaca tapi tajam. “Jangan suruh aku milih salah satu. Jangan bilang Liv, maafin Kakak ya, biar kita bisa kayak dulu. Aku nggak mau kayak dulu. Kayak dulu itu Kakak bikin jadwal buat ulang tahunku tapi nggak tahu aku suka apa.”

Aku merasakan kalimat itu masuk seperti pisau yang tidak diasah: pelan, dan karena itu lebih sakit.

“Kamu tahu nggak,” lanjut Livia, suaranya pecah, “hari pesta itu aku dapat email dari agensi yang Mas Erga latih aku buat wawancara. Ditolak. Tiga belas. Aku baca pas lagi motong-motong bika yang bantat.” Ia tertawa, tanpa bunyi. “Aku nggak bilang siapa-siapa. Semua orang lagi sibuk. Aku buka chat Mas Erga. Aku mau kasih tahu dia. Soalnya dia yang janji. Dia yang bilang aku bakal kasih tahu dia duluan.” Air matanya jatuh. “Terus aku inget dia nggak ada di pesta. Terus aku inget kenapa.”

Ibuku menutup mulut dengan tangan. Ayahku menunduk.

Aku tidak tahu. Tiga belas. Hari pesta. Aku berdiri di sudut tenda mengetik pesan panjang untuk Erga dan menghapusnya, dan tiga meter dari situ, adikku membaca penolakan ketiga belasnya sendirian di balik meja bika yang bantat.

Aku membuka mulut. Kalimat itu sudah ada di ujung lidahku, kalimat yang paling natural di dunia. Liv, maafin Kakak. Please. Kakak nggak tahu. Kakak janji nggak akan kayak gitu lagi.

Dan aku berhenti.

Karena aku melihat apa yang sedang kulakukan. Aku sedang meminta Livia menenangkanku. Aku sedang meminta adikku, yang baru saja menceritakan hari terburuknya, untuk mengurus rasa bersalahku. Untuk bilang nggak apa-apa, Kak, supaya aku bisa tidur malam ini.

Itu yang selalu kulakukan. Dengan Rian, aku yang menenangkan. Sekarang aku ingin ditenangkan. Dua-duanya sama saja: menjadikan perasaan orang lain alat untuk membereskan perasaanku sendiri.

Aku menutup mulut. Aku menarik napas.

“Oke,” kataku. “Kamu boleh marah. Selama yang kamu butuh. Kakak nggak akan minta kamu berhenti.”

Livia menatapku. Aku melihat keterkejutan di wajahnya, lalu sesuatu yang lain, sesuatu yang hampir seperti lega.

“Dan kamu boleh kangen dia,” lanjutku. “Kakak juga kangen dia. Kita boleh dua-duanya.”

Tidak ada yang memelukku. Tidak ada yang bilang nggak apa-apa. Ibuku masih sakit hati. Ayahku masih diam. Livia masih marah.

Tapi Livia mengambil sendok dan mulai makan sayur asem yang sudah dingin. Ibuku menuang teh untuk semua orang. Ayahku menggeser toples kerupuk ke tengah. Dan untuk pertama kalinya aku tidak berusaha membuat semua orang merasa lebih baik. Aku hanya duduk di sana, di dalam perasaan mereka, dan membiarkannya.

Rasanya seperti duduk di dalam hujan tanpa payung. Tidak nyaman. Tapi jujur.


Jam sembilan, ketika piring-piring sudah dicuci, ponsel Livia berbunyi di meja.

Bukan pesan. Email.

Livia membacanya. Wajahnya berubah beberapa kali dalam tiga detik: bingung, tidak percaya, takut, lalu sesuatu yang sangat mirip dengan harapan yang tidak berani ia akui.

“Kenapa, Liv?” tanya ibuku.

Livia memutar ponselnya ke arah kami.

Undangan Wawancara — Posisi Junior Copywriter. Sebuah agensi di Jalan Braga. Jadwal: Rabu, dua minggu lagi.

“Mereka lihat akun parodiku,” kata Livia pelan. “Katanya mereka lihat caption Remah Pagi juga.”

Lalu ia menatap cangkir hijau yang kosong di tengah meja.

Aku tahu apa yang sedang ia pikirkan. Aku memikirkan hal yang sama. Meja makan ini, di hari Sabtu minggu keenam. Kemeja ayahku yang kebesaran. Kacamata ibuku yang minusnya membuat dunia berputar. Kumis dari kertas cokelat yang ditempel dengan selotip. Pertanyaan kedelapan. Kamu siapa, kalau bukan adiknya Nadine?

Pak Bambang tidak ada di sini lagi.