Chapter Twenty Five

Kue yang Jadi Saat Orangnya Tidak Ada

POV: Nadine

Kartu itu tidak berisi resep Ibu Sumi.

Kartu itu berisi resep ibuku.

Aku duduk di sebelah ibuku di meja makan, membacanya bersama-sama. Takarannya sama dengan kertas kuning bernoda minyak yang ditempel di pintu lemari. Tapi di bawah takaran itu ada sesuatu yang tidak pernah ada di kertas Ibu Sumi: caranya. Ditulis dengan huruf kecil yang rapi, nomor demi nomor, persis seperti yang dilakukan ibuku di hari Sabtu itu.

1. Ikat dua lembar pandan jadi simpul sebelum masuk santan. (Sambil nyanyi. Lagu apa aja. Ibu Sumi dulu nyanyi.)

2. Adonan diam tiga jam. Tempat hangat, dekat kompor. Ditutup serbet. JANGAN DIINTIP.

3. Api kecil. Dari bawah aja. Pintu oven jangan dibuka, walaupun penasaran. Ibu pasti penasaran. Tahan.

4. Kalau mau motong, pegang pisaunya pelan. Nggak usah gemetar. Kuenya nggak lari.

Ibuku membaca nomor empat dan tertawa. Tawa kecil yang pecah jadi isak di tengah jalan. Ia menutup mulut dengan punggung tangan.

“Dia nulis cara Ibu,” katanya. “Bukan cara dia. Cara Ibu.”

Aku tidak bisa menjawab. Aku ingat hari itu. Aku ingat Erga mengambil pulpen dari saku celemek dan menulis pelan-pelan sambil menonton ibuku mengikat pandan. Aku mengira ia mencatat untuk dirinya sendiri. Ia mencatat untuk ibuku. Supaya ibuku punya sesuatu yang tidak pernah diberikan Ibu Sumi.

Supaya ibuku bisa melakukannya sendiri.


Bika di hari pesta bantat.

Aku belum menceritakannya karena tidak ada yang mau membicarakannya. Ibuku membuatnya bersama Livia pada Sabtu pagi, di tengah kekacauan tukang tenda dan katering dan Eyang yang datang terlalu awal. Mereka lupa mengikat pandan. Adonan hanya didiamkan satu jam karena waktunya tidak cukup. Ibuku membuka pintu oven dua kali karena ada tamu yang bertanya. Bika itu keluar padat dan pucat, dan ibuku memotongnya kecil-kecil dan menyajikannya di sudut meja, di belakang kue tiga tingkat dari Remah Pagi, dan tidak ada yang berkomentar.

Tapi aku melihat ibuku menatap potongan-potongan bantat itu sepanjang malam, dengan cara yang sama seperti ia menatap tiga batu nisan kecil di dapur pada hari pertama Erga menyentuh resep itu.

Minggu kedua setelah Erga pergi, pada hari Minggu, ibuku berkata kepadaku, “Din. Temenin Ibu.”

Ia sudah mengeluarkan semua bahan. Santan, telur, gula, sagu, ragi, daun jeruk, serai. Dua lembar daun pandan di sebelah mangkuk. Kartu tulisan Erga ditempel di pintu lemari dengan selotip baru, di sebelah kertas kuning Ibu Sumi.

“Ibu mau bikin,” katanya. “Sendiri. Kamu cuma nemenin.”

Aku mengerti apa yang ia minta. Ia tidak memintaku menggantikan Erga di dapur ini. Aku tidak bisa, dan ia tahu aku tidak bisa, dan ia tidak menginginkannya. Ia memintaku duduk di tempatku yang biasa, di ujung meja, dan menjadi juri.

Aku duduk. Aku tidak menyentuh apa pun.

Ibuku mengikat dua lembar pandan menjadi simpul. Lalu ia berhenti dengan simpul itu di tangannya dan menatap kartu di pintu lemari. Sambil nyanyi.

Ia mulai bernyanyi. Pelan. Lagu dangdut lama yang biasa ia nyanyikan di kamar mandi, dengan lirik yang separuh ia karang sendiri. Suaranya bergetar di bait pertama. Di bait kedua ia sudah lebih kuat. Di bait ketiga, ketika ia memasukkan simpul pandan itu ke dalam santan, ia bernyanyi dengan suara penuh, keras, sumbang, dan air matanya jatuh ke dalam panci.

Aku tidak berkata apa-apa. Aku tidak berkomentar tentang caranya mengaduk yang seperti orang mengayuh perahu, karena tidak ada yang tertawa kalau aku berkomentar. Aku hanya duduk dan mendengarkan ibuku bernyanyi untuk ibunya sendiri.

Adonan didiamkan tiga jam. Ibuku duduk di sebelahku, dan setiap kali tangannya bergerak ke arah serbet penutup, aku yang berdeham.

Ia menatapku dan tersenyum. Ia tahu dari mana aku belajar itu.


Bika itu keluar dari oven jam dua siang.

Ibuku memotongnya sendiri. Ia memegang pisaunya pelan. Tangannya tidak gemetar. Aku melihatnya menarik napas sebelum memotong, seperti membaca nomor empat di kartu itu dalam kepalanya. Kuenya nggak lari.

Irisan pertama. Ia mengangkatnya. Membaliknya.

Penuh.

Sarang dari dasar sampai puncak. Rapat, memanjang, berongga, kuning keemasan. Lebih rapat daripada yang di hari Sabtu persiapan pesta. Lebih sempurna.

Ibuku menatap irisan itu. Aku menunggu jeritan kemenangannya, jeritan yang kudengar di dapur ini tiga minggu lalu, ketika semua orang berpelukan dan ayahku bertepuk tangan dua kali.

Jeritan itu tidak datang.

Yang datang adalah sesuatu yang lebih pelan dan jauh lebih buruk.

Tangan ibuku bergerak sendiri. Otomatis. Tangan kanannya meletakkan irisan bika di piring, lalu merogoh saku daster, mengeluarkan ponsel, membuka kamera. Ia memotret irisan itu. Satu kali, dari atas. Lalu ia membuka aplikasi pesan, menggulir cepat, jarinya tahu persis ke mana harus pergi, dan berhenti di satu nama.

Nak Erga.

Layar percakapan terbuka. Pesan terakhir di sana adalah pesan ibuku sendiri dari hari pesta: Nak Erga, bikanya Ibu bikin sendiri aja ya. Sama Livia. Kamu fokus kuenya. Dan balasan Erga: Iya, Bu.

Lalu pesan pamitnya. Om Hendra, saya bilang. Saya nggak hilang.

Tidak ada apa-apa setelah itu.

Jempol ibuku melayang di atas tombol lampiran. Foto bika yang naik penuh sudah siap di galeri, siap dikirim, siap ditambahi tiga tanda seru dan stiker bunga, siap diberi keterangan NAK!!! PENUH!!!

Jempol itu tidak bergerak.

Aku melihat wajah ibuku ketika ia ingat. Ingat bahwa di ujung sana tidak ada yang akan membalas Selamat, Bu. Ingat bahwa Erga meminta waktu. Ingat bahwa satu-satunya orang di dunia yang akan mengerti betapa besar arti sarang-sarang kecil ini, orang yang menemaninya melihat, sedang berada di tempat yang tidak ia ketahui.

Ia menatap layar kosong itu. Kursor berkedip di kolom ketik.

“Ibu lupa,” katanya. Suaranya kecil sekali. “Ibu mau kasih tahu dia.”

Aku berdiri dari kursi juri. Aku memeluk ibuku dari belakang, dengan daguku di bahunya, dan kami menangis bersama di depan bika yang naik penuh. Bukan menangis sopan. Bukan menangis yang ditahan supaya tidak ada yang dengar. Menangis yang jelek, keras, sampai ibuku harus berpegangan pada pinggir meja dan aku harus berpegangan pada ibuku.

Aku tidak pernah menangis bersama ibuku. Tidak ketika Rian pergi. Tidak ketika Ibu Sumi meninggal, karena aku baru tiga tahun dan tidak ingat. Tidak pernah.

Kami menangis lama. Lalu ibuku menyeka mata dengan ujung celemek dan menarik napas panjang.

“Duduk,” katanya. “Kita makan.”

Aku kira ia akan membungkusnya. Menyimpannya. Membuangnya karena terlalu menyakitkan untuk dilihat. Tapi ibuku menarik dua kursi, meletakkan loyang bika di tengah meja, dan mengambil dua garpu.

Kami duduk dan memakannya. Langsung dari loyang. Pelan-pelan, dengan mata yang masih basah. Rasanya manis dan harum pandan dan sedikit asin, mungkin karena air mata ibuku yang jatuh ke santan tadi pagi.

“Enak,” kataku, dengan mulut penuh.

“Enak,” kata ibuku.

Kami menghabiskan seperempat loyang. Tidak ada yang dibuang.


Ketika aku mencuci garpu, ibuku mengambil kartu tulisan Erga dari pintu lemari untuk dirapikan selotipnya. Ia membaliknya.

Ada tulisan di balik kartu itu. Aku tidak pernah melihatnya. Ibuku juga belum.

Tulisannya lebih kecil. Lebih miring. Seperti ditulis terburu-buru, atau ditulis oleh orang yang tidak yakin boleh menuliskannya.

Bu, kalau suatu hari Ibu bikin sendiri dan naiknya penuh, itu bukan karena saya. Ibu udah lihat caranya. Ibu Sumi pasti bangga. — E.

Ibuku membacanya dengan suara keras. Lalu ia meletakkan kartu itu di dadanya dan menutup mata.

Aku berdiri di depan wastafel dengan air mengalir di tanganku, dan akhirnya mengerti sesuatu yang sudah terjadi di depan mataku selama sepuluh minggu.

Erga tidak pernah mencoba menjadi orang yang membuat bika ibuku naik. Ia mencoba membuat ibuku percaya bahwa ibuku bisa melakukannya sendiri. Ia tidak memberi ibuku bantuan. Ia memberi ibuku keberanian. Dan keberanian itu tetap tinggal di dapur ini, bahkan setelah orangnya pergi.

Ia menulis kalimat itu di hari Sabtu persiapan pesta. Hari ketika ia tersenyum seperti orang yang sudah tahu harus melepaskan.

Ia sudah tahu. Mungkin sebelum aku sendiri tahu apa yang akan kulakukan.


Malam itu, ponselku bergetar. Nomor yang tidak kusimpan sebagai kontak, tapi kukenal. Aku sudah melihatnya di Instagram Remah Pagi sebagai nomor pemesanan.

Remah Pagi:

Mbak Nadine, ini Nino.

Ada barang Mbak di toko. Titipan Erga. Dia bilang kasih ke Mbak kalau Mbak datang. Kalau nggak datang, disimpan.

Nggak buru-buru.