Chapter Twenty Nine

Kabar Pertama yang Tidak Bisa Kukirim

POV: Nadine

“Aku nggak bisa jadi Pak Bambang,” kataku.

Livia duduk di seberangku di meja makan, dengan kertas berisi daftar pertanyaan wawancara yang ia unduh dari internet. Hari Sabtu, bulan ketiga. Wawancaranya Rabu depan.

“Aku nggak minta Kakak jadi Pak Bambang,” katanya. “Nggak ada yang bisa jadi Pak Bambang.”

“Terus kamu mau aku jadi apa?”

Livia menatapku lama. Lalu ia tersenyum, dan senyumnya sangat menyebalkan, dan aku langsung tahu aku akan menyesal bertanya.

“Jadi Kakak aja,” katanya. “Tapi versi paling parah.”


Seminggu sebelumnya, aku hampir melakukan kesalahan yang sama lagi.

Aku sudah membuka laptop. Aku sudah membuat folder bernama Persiapan Wawancara Livia. Di dalamnya ada tiga dokumen: jadwal latihan tiga sesi, daftar pertanyaan yang dikelompokkan berdasarkan kategori, dan presentasi berisi dua belas slide tentang agensi di Jalan Braga itu, lengkap dengan portofolio klien mereka dan analisis gaya komunikasinya.

Aku menatap slide nomor satu. Strategi Lolos Wawancara: Pendekatan Terstruktur.

Lalu aku ingat apa yang dikatakan Livia di meja makan dua bulan lalu. Kakak nanti bikin jadwal latihan tiga sesi pakai slide. Aku butuh yang galak, bukan yang presentasi.

Aku menutup laptop. Aku tidak menghapus folder itu. Tapi aku menutupnya.

Lalu aku mengetuk pintu kamar Livia dan bertanya sesuatu yang belum pernah kutanyakan sebelum menyusun rencana apa pun untuknya.

“Kamu butuh apa?”

Ia menatapku seperti aku baru saja bicara dalam bahasa asing.


Jadi kami menemukan cara kami sendiri.

Livia meminjam blazer abu-abu milikku dan memakaikannya kepadaku. Ia menggelung rambutku dengan penggaris. Ia meletakkan laptopku yang tertutup di depanku, dan tiga gelas kopi sachet kosong di sebelahnya, sebagai properti.

“Kakak jadi manajer proyek yang lagi wawancara aku,” katanya. “Dan Kakak harus bikin jadwal di setiap jawaban.”

“Itu konyol.”

“Itu Kakak.”

Aku membuka mulut untuk membantah. Lalu aku melihat tiga gelas kopi sachet kosong itu, dan penggaris di rambutku, dan aku tidak bisa membantah.

“Pertanyaan pertama,” kataku dengan suara paling rapat yang bisa kukeluarkan. “Ceritakan tentang diri Anda. Dalam tiga poin. Dengan tenggat waktu dua menit. Mulai dari sekarang.”

Livia tertawa sampai harus memegangi meja.

“Poin satu,” katanya, menahan tawa. “Saya bebek.”

“Itu bukan poin. Itu hewan.”

“Itu poin yang sangat terstruktur, Bu.”

Kami berlatih dua jam. Aku menjadi versi terburuk dari diriku sendiri: menanyakan tenggat waktu untuk setiap jawaban, meminta Livia merangkum pengalamannya dalam format tabel, menyela di tengah kalimat untuk bertanya apa indikator keberhasilannya? Livia menjawab semuanya dengan jawaban yang makin lama makin absurd, dan makin lama makin terdengar seperti dirinya sendiri.

Di tengah latihan, aku menyadari sesuatu. Livia menjawab setiap pertanyaanku dengan cara yang ia pelajari dari Erga. Ia tidak menghafal jawaban YouTube. Ia bercerita. Ia menyebut slogan kopi ayahku. Ia menyebut akun parodinya. Ia menyebut caption-caption Remah Pagi. Ia tidak menyebut namaku sekali pun.

Pertanyaan kedelapan dari Erga masih hidup di kepalanya. Kamu siapa, kalau bukan adiknya Nadine?

Aku tidak mencoba menggantikan pertanyaan itu. Aku tidak bisa. Pertanyaan itu bukan milikku untuk ditanyakan. Tapi aku bisa menjadi seseorang yang tidak menghalangi jawabannya.

Di akhir latihan, Livia melepas penggaris dari rambutku dan berkata, “Kakak ternyata lucu kalau lagi nyebelin.”

Itu pujian terbaik yang pernah ia berikan kepadaku.


Rabu, jam sembilan pagi, aku mengantarnya sampai depan gedung agensi di Jalan Braga. Aku tidak masuk. Aku tidak menunggu di lobi. Aku tidak mengirim pesan semangat setiap sepuluh menit.

Aku kembali ke kantor dan menunggu. Seperti orang normal. Seperti kakak.

Ia menelepon jam tiga sore.

“Kak.”

Aku sedang di tengah rapat klien. Aku keluar tanpa minta izin. Dita menatapku dengan alis naik.

“Kak, aku diterima.”

Aku bersandar ke dinding lorong kantor dan menutup mata.

“Mereka bilang langsung. Di akhir wawancara. Katanya mereka udah mutusin dari minggu lalu, dari portofolioku, wawancara cuma buat mastiin aku bukan orang aneh.” Ia tertawa, lalu menangis, lalu tertawa lagi. “Aku jawab pertanyaan binatang pakai bebek, Kak. Direkturnya ketawa. Terus dia bilang, itu jawaban paling jujur tahun ini.

Aku tidak bisa bicara. Aku hanya bisa mendengar adikku tertawa di telepon, dan tawa itu sama dengan tawa di halaman belakang saat ulang tahunnya, di depan kue kopi susu dengan surat penerimaan dari gula. Tawa yang keluar dari perut.

“Selamat, Liv,” kataku akhirnya. Suaraku serak. “Selamat.”

“Kakak, aku harus kasih tahu—”

Ia berhenti.

Aku mendengarnya berhenti. Hening di ujung telepon, tiba-tiba, di tengah kalimat.

“Liv?”

“Nggak,” katanya. Suaranya berubah. “Nanti aku telepon lagi.”

Ia menutup telepon.


Aku menemukannya di rumah jam enam sore. Ia duduk di tangga, di anak tangga ketiga dari bawah, dengan ponsel di tangan dan blazer abu-abuku masih di bahunya.

Aku duduk di sebelahnya. Aku melihat layar ponselnya.

Mas Erga (HRD Semesta).

Layar percakapan terbuka. Pesan terakhir di sana adalah pesan Erga dari malam pamit, yang diteruskan ibuku kepada kami semua: Liv, janji Mas masih berlaku. Tapi Mas minta waktu dulu, ya. Nanti Mas yang kabarin.

Di kolom ketik, sudah ada kalimat yang Livia tulis. Belum terkirim.

MAS ERGA AKU DITERIMA!!!!! Pakai bebek!!!!! Direkturnya ketawa!!!!! Pertanyaan kedelapan Mas

Kalimat itu berhenti di sana. Kursor berkedip setelah kata Mas.

“Dia yang janji,” kata Livia pelan. Ia tidak menatapku. “Aku bakal kasih tahu dia duluan. Aku udah janji. Dia udah janji.”

“Aku tahu.”

“Aku udah ngetik ini dari jam tiga.” Jempolnya melayang di atas tombol kirim. “Tiga jam, Kak. Aku ngetik, hapus, ngetik lagi.”

Aku menatap jempol adikku, dan aku merasakan dorongan yang sangat kuat. Dorongan untuk berkata kirim aja, Liv. Dia pasti seneng. Dia nggak akan marah. Ini kabar bahagia, bukan kabar yang bikin dia nunggu. Aku bisa membayangkan wajah Erga saat membaca pesan itu. Aku bisa membayangkan ia tersenyum dengan cara yang membuat dadaku sakit.

Dan aku juga bisa membayangkan, di belakang senyum itu, ia menatap ponselnya dan menunggu pesan berikutnya. Dari rumah ini. Dari aku. Menunggu, lagi. Persis hal yang ia pergi untuk berhenti lakukan.

Aku ingin menyuruh Livia mengirimnya karena aku yang ingin Erga membacanya. Karena aku ingin ada sesuatu dari rumah ini yang sampai kepadanya. Karena itu satu-satunya cara aku bisa menyentuhnya tanpa melanggar permintaannya secara langsung.

Aku mengatupkan mulut.

“Kalau kamu kirim,” kataku pelan, “dia nggak akan marah. Aku yakin. Tapi dia minta waktu, Liv.”

“Aku tahu,” kata Livia. Ia masih menatap layar. “Makanya aku nggak kirim.”

Ia menghapus kalimat itu. Pelan-pelan. Satu per satu huruf, dengan tombol hapus, bukan dengan memilih semua. Seperti menghapus sesuatu yang ingin ia ingat bentuknya. Mas. Kedelapan. Pertanyaan. Ketawa. Direkturnya. Sampai kolom itu kosong.

Lalu ia keluar dari percakapan itu, membuka grup keluarga, dan mengetik.

Livia:

AKU DITERIMA!!!!!! 🦆🦆🦆

Aku duduk di anak tangga di sebelahnya dan menyadari, dengan sesuatu yang lebih dalam dari malu, bahwa adikku mengerti batas Erga sebelum aku mengerti. Ia mencintainya, ia merindukannya, ia punya janji yang sah dari Erga sendiri, dan ia tetap memilih tidak mengirim. Karena cinta bukan alasan untuk mengabaikan permintaan orang yang kita cintai.

Aku mengetahuinya dari buku. Livia mengetahuinya dari hati.


Malam itu, ibuku memasak semua yang Livia suka. Mendoan. Banyak mendoan. Kopi susu gula aren dalam teko besar. Ayahku pulang membawa lapis legit dari Bu Enok, yang pinggir, karena Eyang sedang menginap.

Eyang Putri, delapan puluh satu tahun, duduk di ujung meja dan menatap Livia lama, lalu berkata, “Copywriter itu apa?”

“Penulis iklan, Eyang.”

“Oh. Tukang ngibul yang dibayar.”

“Eyang!”

“Eyang bercanda.” Ia menyodorkan tangannya yang keriput. “Salim. Selamat. Eyang bangga.”

Kami makan. Kami tertawa. Livia bercerita tentang direktur yang tertawa karena bebek, dan ayahku mendengus lewat hidung tiga kali, rekor baru. Ibuku mencelupkan mendoan ke kopi susu untuk pertama kalinya dalam hidupnya dan membuat wajah seperti baru menelan obat, dan Livia tertawa sampai menangis.

Cangkir hijau itu masih di tengah meja. Kosong.

Di tengah makan, ibuku berhenti. Ia menatap cangkir itu. Semua orang melihatnya menatap cangkir itu. Meja menjadi sunyi sejenak.

“Kurang satu,” kata ibuku pelan.

Tidak ada yang menjawab. Tidak ada yang berkata udah, Bu. Tidak ada yang berkata nanti juga dia pulang.

Ayahku mengambil cangkir gompalnya, mengangkatnya sedikit, dan mengetukkannya pelan ke bibir cangkir hijau yang kosong. Ting. Bunyi kecil. Seperti bersulang dengan seseorang yang tidak ada.

Lalu ia minum.

Livia mengangkat gelas kopi susunya. Ting. Ibuku mengangkat gelas tehnya. Ting. Aku mengangkat gelasku, dan mengetukkannya ke cangkir hijau itu, dan aku tidak bisa melihat apa pun dengan jelas karena mataku basah.

Kami merayakan Livia. Dan kami mengakui bahwa satu orang tidak ada. Dua-duanya. Barengan. Tanpa ada yang memaksa salah satunya berhenti.

Eyang Putri menatap kami semua dengan kacamata tebalnya, bingung, lalu ikut mengangkat gelas tehnya dan mengetukkannya ke cangkir hijau itu juga.

“Ini buat siapa?” tanyanya.

“Buat temen pasar Bapak,” kata ayahku.


Sabtu berikutnya, Livia memesan kue ke Remah Pagi. Lewat nomor pemesanan toko, bukan nomor pribadi siapa pun. Kue kopi susu gula aren, dengan remah mendoan karamel di antara lapisannya. Untuk merayakan hari pertamanya bekerja.

Aku mengantarnya mengambil kue itu. Nino yang melayani di meja kasir. Ia menyerahkan kotak kaleng Remah Pagi kepada Livia, lalu menatapnya lama.

“Dapat kerja?” tanyanya.

“Copywriter. Agensi di Braga.”

Nino tersenyum. Ia diam sebentar, seperti menimbang sesuatu. Lalu ia bertanya dengan suara pelan, hati-hati, seperti orang yang meminta izin untuk menyeberang jalan.

“Boleh aku kabarin dia?”

Livia menatap kotak kue di tangannya. Aku melihat bahunya naik, lalu turun.

“Boleh,” katanya. “Tapi jangan bilang aku yang nyuruh. Aku nggak nyuruh.”

“Aku tahu,” kata Nino. “Kamu nggak nyuruh.”