Chapter Twenty Two

Kue untuk Pesta yang Tidak Kuhadiri

POV: Erga

Aku ke Pasar Kosambi jam lima kurang sepuluh pagi, hari Sabtu, hari pesta.

Bukan untuk bertemu siapa pun. Aku butuh santan segar, daun pandan, dan gula aren dari penjual yang sama yang selalu dipilih Hendra, karena kue yang akan kubuat harus terasa seperti rumah itu, dan rumah itu berbelanja di sini.

Lorong ikan asin masih gelap. Bu Enok sedang menata tampah lapis legit. Ia melihatku, tersenyum, lalu senyumnya berubah canggung, seperti orang yang baru ingat sesuatu yang tidak enak.

“Nanti malam ke pesta, Jang?” tanyanya.

“Nggak, Bu. Saya bikin kuenya aja.”

Ia mengangguk pelan. Tidak bertanya lagi. Ia hanya memasukkan dua potong lapis pinggir ke kantong plastik dan menyodorkannya kepadaku tanpa menyebut harga.

Aku berjalan ke pojok pasar untuk membeli pandan. Warung Mang Ujang sudah buka. Termos-termos tua berjajar. Bangku kayu panjang kosong.

Hampir kosong.

Di ujung bangku, ada dua gelas kopi tubruk. Satu sudah habis, tinggal ampas. Satu lagi masih penuh. Dingin. Tidak tersentuh.

“Pak Hendra baru pulang,” kata Mang Ujang, tanpa kutanya. Ia mengambil gelas yang kosong dan menatap yang penuh. “Tadi jam setengah lima udah di sini. Pesan dua robusta kayak biasa. Nunggu sampai jam lima kurang seperempat. Terus pulang. Yang satu nggak diminum.”

Aku berdiri di depan bangku itu dan tidak bisa bergerak.

“Kalian berantem?” tanya Mang Ujang.

“Nggak, Mang.”

“Terus?”

Aku tidak punya jawaban yang bisa dijelaskan di warung kopi jam lima pagi. Jadi aku hanya membayar gelas yang penuh itu, meminumnya dingin, sampai ampasnya menempel di gigi, dan pulang ke toko.

Kopinya pahit. Jujur. Seperti kata Hendra.


Aku sudah merencanakan kue itu sejak Kamis malam, sejak Nadine menutup map biru dan aku menutup buku pesanan.

Tiga tingkat. Setiap lapisan untuk satu orang. Aku tidak menulis nama mereka di kue. Aku menulisnya di tempat lain.

Pagi itu aku merobek halaman paling belakang dari buku catatan pesananku, halaman yang sudah penuh sejak minggu ketiga, dan menempelnya dengan selotip di dinding di atas meja kerja, supaya bisa kubaca sambil bekerja.

Om Hendra — kopi hitam tanpa gula. Ketawanya lewat hidung.

Lapisan dasar: bolu kopi robusta, pahit, tanpa gula tambahan di adonannya. Manisnya hanya dari krim tipis di antara lapisan, supaya yang tidak suka manis masih bisa menikmatinya. Aku memakai kopi yang tadi pagi kubeli di warung Mang Ujang.

Ibu Ratih — bahagia kalau piring kosong. Bika ambon Ibu Sumi.

Lapisan kedua: pandan dan santan, dengan gula aren dimasak sampai hampir karamel. Aku mengikat dua lembar daun pandan jadi simpul sebelum memasukkannya ke santan. Sambil mengikatnya, aku mencoba bernyanyi, karena Ibu Sumi dulu bernyanyi, walaupun tidak ada yang ingat lagunya. Aku bernyanyi lagu dangdut yang biasa Ratih nyanyikan di kamar mandi, dengan lirik yang separuh kukarang sendiri.

Nino berdiri di ambang pintu gudang dan tidak berkata apa-apa.

Livia — teliti. Suka mendoan. Lebih takut sama masa depan daripada yang dia tunjukin.

Lapisan ketiga: kopi susu gula aren, dengan remah kerupuk mendoan karamel di antara krimnya. Tersembunyi. Hanya akan ketahuan kalau digigit.

Nadine — bolu pandan keju. Nggak suka ditanya soal “yang kemarin”. Kalau takut, dia megang serbet. Suka bagian tengah brownies. Tapi makan pinggirnya sampai habis kalau aku yang kasih.

Di tengah-tengah tingkat paling atas, di jantung kue, aku memotong lubang bundar dan mengisinya dengan brownies. Bukan pinggirnya. Bagian tengah loyang, yang paling lembut, yang paling legit, yang selalu ingin ia makan dan selalu kutolak karena harus dipajang. Siapa pun yang memotong bagian tengah kue itu akan menemukannya.

Kali ini, yang tengah untuknya.

Aku tidak tahu apakah ia akan mengerti. Aku tidak membuatnya supaya ia mengerti. Aku membuatnya karena aku tahu apa yang ia suka, dan aku tidak bisa berhenti tahu hanya karena namaku tidak ada di daftar tamu.


Jam sebelas siang, ponselku bergetar.

Ibu Ratih:

Nak Erga, bikanya Ibu bikin sendiri aja ya. Sama Livia. Kamu fokus kuenya. Kamu pasti capek.

Makasih ya Nak.

Aku membaca pesan itu lama. Tidak ada emoji. Tidak ada tiga tanda seru. Ratih yang selalu mengirim stiker bunga setiap pagi menulis kepadaku dengan titik di akhir kalimat.

Ia tidak marah. Aku tahu ia tidak marah. Ia sedang melakukan hal yang sama dengan yang Nadine lakukan: memberiku jarak karena mengira itu kebaikan.

Aku membalas: Iya, Bu. Semoga bikanya naik penuh. Api kecil dari bawah, jangan dibuka pintunya.

Lalu aku menghapus kalimat kedua sebelum mengirimnya. Ia sudah tahu caranya. Ia sudah melihatnya. Ia tidak butuh aku mengingatkannya lagi.

Aku hanya mengirim: Iya, Bu.


Kue itu selesai jam empat sore. Tiga tingkat, dilapisi krim putih gading, dengan hiasan sederhana berupa daun pandan kecil dari fondant, satu-satunya fondant di seluruh kue, dan angka 30 dari cokelat di puncaknya.

Aku menulis kartu kecil untuk ditempel di kotaknya. Aku menulis dan menghapus empat kali. Akhirnya aku hanya menulis:

Selamat 30 tahun, Bapak dan Ibu. Semoga masih banyak Minggu. — Remah Pagi.

Tanpa namaku.

Nino mengangkat kotak kue itu dengan hati-hati ke mobil boks pinjaman. Ia berdiri di pintu toko dengan kunci di tangan, menatapku.

“Kamu yakin nggak mau ikut nganter? Sampai pagar aja?”

“Yakin.”

“Ga.”

“Kue itu bukan cara buat maksa masuk, No.” Aku melepas celemek. “Kalau aku nganter sendiri, aku berdiri di pagar, terus Ibu lihat aku, terus Ibu nyuruh aku masuk karena kasihan. Terus aku duduk di pesta yang namaku nggak ada di daftarnya.” Aku menggantung celemekku di balik pintu. “Aku nggak mau masuk karena kasihan.”

Nino menatapku lama. Lalu ia mengangguk dan pergi.

Aku tinggal sendiri di toko yang tutup lebih awal.


Jam delapan malam, sesuai jadwal yang Nadine kirim di malam pertama, jadwal yang masih ada di ponselku, di halaman belakang rumah keluarga Prakoso sedang berlangsung acara potong kue.

Aku tahu karena aku hafal rundown-nya. 19.00 Tamu datang. 19.30 Sambutan Eyang. 20.00 Potong kue. 20.15 Foto keluarga. Aku menghafalnya bukan karena sengaja. Aku menghafalnya karena selama sepuluh minggu, jadwal itu adalah satu-satunya hal yang pasti tentang kami.

Jam delapan lewat tujuh belas, ponselku bergetar.

Nadine:

Semua orang suka kuenya. Ibu nangis waktu nyicip lapisan pandan. Bapak ambil dua potong. Livia nemu mendoannya dan teriak di depan semua tamu.

Aku dapat yang tengah.

Aku membaca pesan itu satu kali. Dua kali. Pada kali ketiga, huruf-hurufnya mulai kabur, dan aku harus mengusap mataku dengan punggung tangan yang masih berbau pandan.

Aku dapat yang tengah.

Ia mengerti.

Tiga titik muncul di layar. Ia sedang mengetik lagi. Aku menunggu. Tiga titik itu hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Muncul. Bertahan lama, cukup lama untuk sebuah paragraf. Aku memegang ponsel dengan dua tangan seperti memegang cangkir hijau itu.

Lalu tiga titik itu hilang. Dan tidak muncul lagi.

Aku menunggu sepuluh menit. Dua puluh. Tidak ada pesan berikutnya.

Aku tahu apa yang terjadi di rumah itu. Ia berdiri di sudut tenda dengan ponsel di tangan, mengetik sesuatu yang panjang dan jujur, lalu menghapusnya. Mungkin karena ibunya memanggil untuk foto keluarga. Mungkin karena ia takut. Mungkin karena ia tidak tahu harus mengetik apa setelah aku dapat yang tengah tanpa kembali ke pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.

Aku tidak menyalahkannya. Aku hanya berhenti menunggu.

Aku menyadarinya dengan jelas, sendirian di toko yang gelap, dengan ponsel yang layarnya pelan-pelan meredup: aku sudah berhenti menunggu. Bagian dari diriku yang selama tiga minggu berharap ia akan tiba-tiba mengirim pesan datang ke sini, sekarang, kamu pasanganku, bagian yang diam-diam menyetrika kemeja batik di lemari untuk berjaga-jaga, bagian itu sudah diam.

Tidak mati. Hanya diam. Seperti oven setelah dimatikan: masih hangat di dalam, tapi tidak akan memanggang apa pun lagi malam ini.

Aku membalas pesannya dengan sopan. Aku memastikan kalimatnya tidak membuka pintu yang sama lagi.

Aku:

Syukurlah. Selamat buat Bapak dan Ibu. Semoga pestanya lancar sampai akhir.

Terkirim. Dibaca. Tidak ada balasan.


Lalu aku membuka email.

Email itu sudah ada di kotak masukku selama lima minggu. Dari Bu Sekar Anindita, pemilik Tungku Selatan, toko roti di Yogyakarta yang pernah menjadi juri di lomba roti tradisional yang kuikuti tiga tahun lalu. Ia sedang membuka cabang baru dan mencari pembuat roti untuk program enam bulan: mengembangkan roti dari bahan lokal, ragi alami, resep lama yang hampir hilang. Tempat tinggal disediakan. Gaji cukup. Mulai secepatnya.

Aku membacanya lima minggu lalu, di minggu yang sama ketika aku menggantung celemek hijau lumut di gudang. Aku menandainya nanti. Lalu aku melupakannya dengan sengaja.

Batas konfirmasinya besok pagi.

Aku membaca email itu sekali lagi. Lalu aku membalasnya.

Bu Sekar, saya terima. Saya bisa berangkat Senin pagi. Terima kasih sudah menunggu.

Aku menekan kirim sebelum sempat membuat versi kedua.

Aku tidak merasa lega. Aku tidak merasa menang. Aku hanya merasa seperti seseorang yang akhirnya menjemput nanti, karena nanti tidak pernah datang sendiri.


Jam delapan lewat tiga puluh, aku masuk ke gudang.

Di dinding dekat rak tepung, deretan gantungan celemek. Punyaku, dengan koin lima ratus di sakunya. Punya Nino. Punya Uci. Dan di gantungan keempat, celemek kanvas hijau lumut, tanpa nama, dengan noda cokelat di dada dan tepung di lutut yang tidak pernah kucuci karena aku tidak mau.

Di halaman belakang rumah itu, di bawah tenda yang diukur Hendra dengan meteran kain, mungkin mereka sedang berfoto. Ayahnya di tengah, ibunya di sebelah, Eyang di kursi rotan, Livia menyeka sisa krim kopi susu di sudut bibirnya. Nadine di barisan belakang. Tidak ada yang berdiri di ujung dekat pintu. Tidak ada yang perlu di-crop.

Aku melepas celemek hijau itu dari gantungannya.

Aku mencabut halaman daftar rasa dari dinding di atas meja kerja, melipatnya dua kali, dan menyelipkannya ke saku depan celemek itu. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena halaman itu tidak punya tempat lain. Mungkin karena di sana tempatnya.

Lalu aku melipat celemek itu dengan rapi, seperti melipat kotak kue yang sempurna, dan memasukkannya ke kantong plastik.

Di luar, sebuah angkot lewat dengan musik dangdut keras. Lagu yang sama yang biasa Ratih nyanyikan di kamar mandi.

Aku berdiri di gudang dengan celemek terlipat di tangan dan membiarkan lagu itu lewat sampai habis.