Chapter Six
Potongan yang Bentuknya Jelek
POV: Erga
Oven kami sedang dalam masa pemulihan. Teknisi sudah mengganti semua elemennya dengan uang muka honor dari Nadine, dan sejak Senin mesin tua itu menyala lagi, tapi suhunya naik-turun seperti orang yang baru sembuh dari demam. Kami memanggang sambil berdiri di depannya dan memantau termometer tiap lima menit, seperti keluarga pasien di ruang tunggu.
Jam enam sore, lonceng pintu berbunyi. Nadine masuk membawa kotak kaleng Remah Pagi.
“Aku balikin,” katanya, lalu meletakkannya di meja kasir dengan gaya orang menyerahkan dokumen penting.
Aku menatap kotak itu. Lalu menatapnya.
“Kotak ini harganya dua puluh ribu,” kataku. “Bensin kamu dari kantor ke sini lebih mahal.”
“Aku orangnya bertanggung jawab.”
“Kamu bisa kirim pakai ojek.”
“Ojek nggak bisa dipercaya bawa barang berharga.”
“Kotak kue, Nadine.”
“Barang berharga,” ulangnya, dan duduk di kursi pojok dekat jendela seolah urusannya belum selesai.
Uci, yang sedang merapikan etalase, menatapku dengan alis naik sampai hampir menyentuh poni. Nino, dari balik oven, tidak menoleh tapi aku bisa mendengar senyumnya.
Urusan kotak sudah selesai sejak ia meletakkannya di meja. Tapi Nadine tidak pergi. Ia membuka ponsel, menutupnya, membuka lagi, lalu melihat ke etalase.
“Masih ada kue?”
“Brownies sisa. Tinggal satu loyang.”
“Aku mau yang tengah.”
“Nggak ada yang tengah.”
“Loyang itu masih utuh. Aku bisa lihat dari sini.”
“Yang tengah buat dipajang besok.”
“Aku pelanggan.”
“Kamu pengembali kotak.”
Ia menyipitkan mata. Aku mengambil pisau, memotong bagian pinggir loyang yang paling tidak beraturan, yang sudutnya gosong sedikit karena suhu oven kami sedang labil, dan menaruhnya di piring kecil di depannya.
Ia menatap potongan itu seperti aku baru saja menyajikan sepatu bekas.
“Ini jelek.”
“Pinggir itu yang paling lama kena panas,” kataku. “Paling garing, paling legit. Yang tengah enak buat dipajang. Yang pinggir enak buat yang tahu.”
“Kamu cuma ngeles biar yang tengah bisa dijual.”
“Itu juga.”
Ia menggigit dengan wajah protes. Lalu mengunyah. Lalu wajahnya berubah, meski ia berusaha keras menahannya.
“Gimana?”
“Biasa aja,” katanya, lalu menggigit lagi.
Aku kembali ke balik meja, pura-pura tidak senang.
Ia menghabiskan brownies itu sambil memperhatikan toko kami dengan tatapan yang berbeda dari tatapan pelanggan. Aku tahu tatapan itu. Tatapan orang yang pekerjaannya membuat ruangan terasa benar.
“Lampumu salah,” katanya.
“Lampu kami nyala.”
“Nyala, tapi salah. Kuning di etalase bikin kuenya kelihatan kayak kemarin. Harusnya lebih netral. Dan kursi ini,” ia mengetuk sandaran kursi yang ia duduki, “harusnya menghadap jendela, bukan menghadap kasir. Orang yang makan sendirian nggak suka ditonton kasir.”
“Kamu lagi makan sendirian.”
“Makanya aku tahu.”
Ia berdiri, memutar kursi itu sembilan puluh derajat sampai menghadap jendela, lalu duduk lagi dengan puas. Dari posisi baru itu, lampu jalan jatuh di separuh wajahnya dan etalase kami terpantul samar di kaca. Aku harus mengakui, kursi itu memang terlihat lebih benar di situ. Seperti ia sudah lama seharusnya menghadap ke sana dan tidak ada yang pernah repot memutarnya.
Nino, tanpa menoleh dari oven, berkata, “Besok kursinya jangan dibalikin, Ga.”
Aku tidak membalikkannya.
Jam delapan, Nino mencopot celemek. “Aku pulang duluan. Ibu kos minta ovennya dibalikin, dan aku mau ngembaliinnya sebelum dia sadar ada gores di pintunya.” Ia melemparkan kunci cadangan ke arahku, lalu berhenti di pintu. “Kunci jangan lupa, Pak Pacar.”
Uci ikut pulang sambil menyenggol lenganku terlalu keras.
Lalu tinggal kami berdua, dan dengung oven yang sedang didinginkan.
Aku mulai menutup kasir. Nadine masih di kursi pojok. Piring brownies-nya sudah kosong, bahkan remahnya ia jumput pakai ujung jari. Aku tidak berkomentar. Aku mencatatnya dalam kepala.
“Aku bantu,” katanya, menarik kursi ke dekat meja kasir.
“Kamu manajer proyek. Ngitung receh bukan levelmu.”
“Justru itu. Aku butuh variasi.”
Ia menghitung koin lima ratusan dengan serius. Dua kali ia salah hitung, dan dua kali ia menyalahkan koinnya. Aku tertawa sampai harus bersandar ke rak. Ia melemparku dengan uang kertas dua ribu yang kusut, dan uang itu melayang pelan lalu jatuh di lantai, dan kami berdua menatapnya jatuh seolah itu adegan paling lucu di dunia.
Tidak ada tante di sini. Tidak ada meja makan keluarga, tidak ada foto yang harus diambil, tidak ada jadwal nomor tiga. Tidak ada yang membayar siapa pun untuk duduk di sini.
Dan ia tetap duduk di sini.
“Keluargamu di mana?” tanyanya tiba-tiba, sambil menumpuk koin seratusan jadi menara kecil.
“Sumedang. Bapak punya toko bahan kue di pasar. Ibu bantu di sana. Adikku dua, dua-duanya cewek, dua-duanya lebih pintar dari aku.”
“Kamu yang sulung.”
“Ketahuan ya?”
“Kamu nyuci loyang di rumah orang.” Ia tidak menatapku. “Itu tanda-tanda.”
Aku tertawa, tapi ia tidak ikut. Aku mengembalikan uang dua ribu ke laci.
“Dari SMP aku udah jagain toko kalau Bapak sakit,” kataku, karena suasana tiba-tiba terlalu sunyi untuk dibiarkan. “Orang pasar bilang, Erga mah bisa diandalkan. Sampai sekarang, tiap aku pulang, tetangga masih bilang begitu. Kayak itu nama tengahku.”
Aku mengatakannya dengan nada bercanda. Aku selalu mengatakannya dengan nada bercanda.
Nadine berhenti menumpuk koin. Menara kecil itu goyah sedikit di bawah jarinya.
“Kalau kamu yang capek,” tanyanya, “siapa yang bisa diandalkan?”
Aku membuka mulut untuk menjawab Nino, atau kopi robusta ayahmu, atau lelucon apa pun. Tapi ia menatapku, dan tatapannya tidak memberi ruang untuk lelucon. Tatapannya sama seperti ketika ia membaca protokol: teliti, serius, tidak mau dilewati.
“Nino,” kataku akhirnya. “Dia belum tahu.”
Ia tidak tertawa. Aku sudah tahu ia tidak akan tertawa.
Ia hanya mendorong menara koin itu ke arahku dan berkata, “Seratus dua puluh ribu. Receh. Udah kuhitung tiga kali. Yang ini bisa kamu andalkan.”
Aku menatap tumpukan koin itu lebih lama daripada yang perlu. Ada sesuatu di dadaku yang tidak kukenal namanya, dan aku memutuskan tidak mencari tahu malam itu.
Jam setengah sepuluh, aku mematikan lampu etalase. Nadine berdiri di pintu, kunci mobil di tangan, tapi tidak keluar.
“Erga.”
“Hm?”
“Sabtu, ibuku pesan kue buat makan siang sama Tante Wulan. Bika ambon dia gagal lagi, jadi dia pesan bolu. Katanya mau pesan ke kamu.” Ia berhenti. Jarinya memainkan gantungan kunci. “Bisa kamu yang nganter?”
“Bisa aja dikirim ojek.”
“Iya. Bisa.” Ia menunduk menatap sepatunya, yang kali ini tanpa hak. “Tapi aku pengin kamu yang nganter.”
Aku belum pernah mendengarnya meminta sesuatu dengan suara sekecil itu. Nadine yang menawar harga pacar palsu tanpa berkedip, yang menyusun protokol jam dua pagi, yang menyebut kotak kue sebagai barang berharga, berdiri di pintu tokoku dan terdengar malu.
“Aku yang nganter,” kataku.
Ia mengangguk sekali, cepat, lalu pergi sebelum aku sempat melihat wajahnya dengan jelas.
Aku mengunci pintu dan berdiri sebentar di depan etalase yang gelap. Kursi pojok itu masih menghadap jendela. Di mejanya tertinggal piring kecil yang sudah bersih dan satu koin lima ratus yang terlepas dari menara Nadine.
Aku tidak mengembalikan koin itu ke laci. Aku menyelipkannya di saku celemek, tanpa alasan yang bisa kujelaskan kepada Nino kalau ia bertanya.
Malamnya, di halaman belakang buku catatanku, di bawah nama Nadine, aku menambahkan satu baris.
Suka bagian tengah brownies. Tapi makan pinggirnya sampai habis kalau aku yang kasih.
Aku menatap kalimat itu lama. Lalu aku mencoret kalau aku yang kasih, karena itu terdengar seperti harapan. Lalu aku menulisnya lagi di bawahnya.
- 1 Pacar yang Datang Bersama Kotak Kue
- 2 Aturan Pertama: Jangan Jatuh Cinta
- 3 Kursi di Sebelah Nadine
- 4 Di Luar Jadwal
- 5 Kue Ulang Tahun yang Terlalu Jujur
- 6 Potongan yang Bentuknya Jelek reading
- 7 Resep yang Selalu Gagal
- 8 Hal yang Tidak Masuk Kontrak
- 9 Kencan yang Tidak Dihitung
- 10 Pertanyaan Sepupu yang Salah Alamat
- 11 Celemek Cadangan
- 12 Hari ketika Ibu Menyebut Rumah
- 13 Jawaban yang Ditunda
- 14 Delapan Pertanyaan untuk Livia
- 15 Jangan Janji untuk Semua Orang
- 16 Foto yang Harus Kita Simpan
- 17 Aku Suka Kamu Tanpa Jadwal
- 18 Bonus yang Tidak Bisa Kuterima
- 19 Resep yang Akhirnya Berhasil
- 20 Kebenaran di Meja yang Sama
- 21 Undangan yang Tidak Kukirim
- 22 Kue untuk Pesta yang Tidak Kuhadiri
- 23 Aku Pergi Dulu
- 24 Satu Cangkir Terlalu Banyak
- 25 Kue yang Jadi Saat Orangnya Tidak Ada
- 26 Celemek Tanpa Nama
- 27 Yang Dia Ingat Tentang Kita
- 28 Aku yang Membawanya Masuk
- 29 Kabar Pertama yang Tidak Bisa Kukirim
- 30 Hari Tanpa Peran
- 31 Nama yang Muncul Lagi
- 32 Kalau Kamu Mau Dengar
- 33 Kencan Pertama yang Kedua
- 34 Aku Tidak Perlu Membayar Tempatku
- 35 Tamu yang Boleh Menolak
- 36 Namaku Ada di Sini