Chapter Eighteen

Bonus yang Tidak Bisa Kuterima

POV: Erga

Oven kami kambuh hari Selasa.

Kali ini bukan elemennya. Panel kontrolnya. Angka di layar digital berkedip-kedip seperti orang yang lupa nomor teleponnya sendiri, lalu mati sama sekali di tengah loyang roti sobek. Teknisi yang sama datang, membuka tutup belakang, bersiul panjang, dan menyebut angka yang membuat Nino kembali duduk di lantai.

“Delapan juta,” kata Nino kepada langit-langit. “Oven ini lebih mahal dari pacarku.”

“Kamu nggak punya pacar.”

“Makanya.”

Aku tidak menyebutnya kepada Nadine. Aku sengaja. Sejak malam di toko, sejak kalimat setelah acara nomor delapan, aku berusaha keras tidak menjadikan masalahku sebagai masalahnya. Kami masih bertukar pesan setiap malam. Udah pulang? Udah. Kami masih tertawa di telepon. Tapi ada sesuatu yang berbeda di antara kami, seperti meja yang kakinya tidak sama panjang: masih bisa dipakai, tapi setiap kali disentuh, goyang sedikit.

Ternyata Livia yang memberitahunya. Livia melihat Instagram toko. Uci memposting foto oven mati dengan keterangan pasien kita kritis lagi, doakan.

Kamis sore, ponselku berbunyi.

Transfer masuk: Rp8.000.000 dari NADINE VALENCIA PRAKOSO. Berita: Bonus. Buat oven.

Aku menatap notifikasi itu di depan meja kasir. Lalu menatapnya lagi.

Delapan juta. Tanpa bertanya. Tanpa pesan pembuka. Tiga hari setelah aku berdiri di toko ini dan berkata aku sayang kamu, dan kamu nggak berutang apa-apa ke aku.

“Kenapa?” tanya Uci, yang melihat wajahku berubah. “Pesanan dibatalin?”

Aku tidak menjawab.


Nadine datang jam tujuh malam. Aku yang memintanya datang, dengan pesan satu kalimat: Bisa ke toko? Aku mau ngomong.

Ia masuk dengan wajah waspada, seperti orang yang dipanggil ke ruang rapat tanpa agenda. Ia tidak duduk di kursi pojok. Ia berdiri di depan meja kasir.

“Kamu marah,” katanya.

“Aku nggak marah.”

“Kamu pakai titik di akhir pesan. Kamu nggak pernah pakai titik.”

Aku mengeluarkan ponsel dan memutarnya ke arahnya. Notifikasi transfer masih di layar.

“Aku udah transfer balik,” kataku. “Tadi sore. Semuanya.”

Wajahnya berubah. “Kenapa?”

“Karena aku nggak bisa terima.”

“Itu buat oven, Erga. Bukan buat kamu. Buat tokomu. Buat Nino, buat Uci. Kalian nggak bisa jualan tanpa oven.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa?” Suaranya naik. Di balik oven, aku mendengar bunyi sendok takar jatuh. Nino dan Uci jelas sedang menguping, dan tidak berusaha menyembunyikannya. “Aku cuma mau bantu. Aku punya uangnya. Kamu butuh uangnya. Di mana masalahnya?”

Aku menarik napas. Aku sudah menyusun kalimat ini sepanjang sore, dan aku harus mengatakannya dengan benar. Tanpa menuduh. Karena aku tahu ia tidak berniat menyakitiku. Aku tahu itu seperti aku tahu bika ambon harus naik dari bawah.

“Tiga hari lalu,” kataku pelan, “aku bilang aku sayang kamu. Aku bilang semua yang kulakuin buat keluargamu itu karena aku mau. Bukan kerjaan. Bukan investasi.”

Ia terdiam.

“Terus tiga hari kemudian, ada delapan juta di rekeningku. Dengan tulisan bonus.” Aku meletakkan ponsel di meja. “Nad. Bonus itu buat kerja lembur. Buat kerja ekstra. Aku nggak kerja ekstra. Aku jatuh cinta.”

Hening yang panjang. Bahkan oven yang mati terasa lebih sunyi.

“Uang awal itu adil,” lanjutku. “Dua belas juta buat delapan acara. Kita sepakat. Aku tanda tangan. Itu kontrak. Tapi yang ini...” Aku menggeleng. “Kalau aku terima yang ini, aku nggak akan pernah tahu lagi mana yang kamu bayar dan mana yang kamu pilih. Dan kamu juga nggak akan tahu. Kita berdua bakal bingung selamanya, aku datang ke pasar itu karena kontrak atau karena bonus atau karena aku sayang bapakmu.”

Nadine membuka mulut. Menutupnya lagi.

“Kamu kira aku nyogok kamu?” bisiknya.

“Nggak.” Aku menjawab cepat, karena itu penting. “Aku nggak mikir begitu. Sama sekali nggak.”

“Terus kamu mikir apa?”

Aku menatapnya. Rambutnya digelung asal, kemejanya kusut, dan di bawah matanya ada bayangan gelap yang tidak ada minggu lalu. Ia juga tidak tidur. Aku tahu ia juga tidak tidur.

“Aku mikir kamu takut,” kataku. “Dan kalau kamu takut, kamu bikin semuanya jadi angka. Kamu nggak bisa ngasih aku jawaban. Jadi kamu ngasih aku sesuatu yang bisa kamu kasih. Sesuatu yang ada anggarannya.”

Wajahnya retak. Tidak ada kata yang lebih tepat. Wajah Nadine Valencia Prakoso yang selalu rapi, yang tidak pernah menawarkan sesuatu tanpa anggaran, retak di tengah, seperti kaca etalase kami di pojok kiri.

“Aku...” Ia duduk di kursi pojok akhirnya, seperti kakinya tidak kuat lagi. “Waktu Rian pergi, semua vendor minta ganti rugi. Katering. Gedung. Fotografer. Rian mau bayar setengahnya. Aku nggak mau. Aku bayar semuanya sendiri. Pakai tabungan tiga tahun.” Ia menatap tangannya. “Aku nggak tahu cara ngomongin perasaanku. Tapi aku tahu cara beresin sesuatu pakai uang. Itu satu-satunya hal yang bisa aku kontrol waktu itu.”

Aku duduk di lantai di depan kursinya, karena kursi lain terlalu jauh.

“Aku tahu,” kataku.

“Kamu nggak marah?”

“Aku sedih. Itu beda.” Aku mencoba tersenyum. “Aku juga punya cara yang sama, Nad. Cuma bentuknya lain. Kamu beresin pakai uang. Aku beresin pakai tangan. Nyuci loyang. Bikin bika. Ngangkat karung. Aku kira kalau aku cukup berguna, orang bakal pengin aku tetap ada.” Aku berhenti. “Dan aku takut. Aku takut kamu cuma sayang sama apa yang aku lakuin buat kamu. Terus pas kamu transfer itu, rasanya... rasanya kayak kamu setuju.”

Nadine menutup wajah dengan kedua tangan.

“Aku nggak setuju,” katanya dari balik jari-jarinya. “Aku nggak pernah setuju.”

“Aku tahu. Sekarang aku tahu.”

Kami diam lama. Di balik oven, Uci berbisik terlalu keras, “Delapan juta ditolak?! Mas Erga gila,” lalu terdengar bunyi Nino membekap mulutnya.

Nadine tertawa. Masih dengan tangan di wajah, masih dengan mata basah. Aku ikut tertawa. Tawa kami kecil dan capek, dan untuk sesaat meja yang kakinya tidak sama panjang itu berhenti bergoyang.

Tapi hanya untuk sesaat.

Karena kami berdua sudah mengerti luka masing-masing. Kami berdua tahu kenapa ia mentransfer uang itu dan kenapa aku mengembalikannya. Dan kami berdua tetap tidak tahu harus melakukan apa dengan pengertian itu. Mengerti tidak sama dengan memutuskan.

Ia pulang jam sembilan. Ia memelukku di pintu, erat, lama, tanpa berkata apa-apa. Di atas bahuku, aku merasakan napasnya yang ingin mengatakan sesuatu, lalu memutuskan tidak jadi.


Setelah Nadine pergi, Nino keluar dari balik oven dengan wajah tanpa jahil.

“Jadi ovennya gimana?”

“Nanti aku pikirin.”

Ia membuka laci meja kasir, laci tempat aku menyimpan amplop arisan dari keluarga Prakoso yang belum kusentuh sejak hari Minggu. Ia meletakkannya di depanku.

“Pakai ini.”

“Itu uang Ibu Ratih.”

“Itu uang yang Ibu Ratih kasih ke kamu karena dia mau,” kata Nino. “Kamu sendiri barusan bilang ada bedanya. Antara bayar dan milih.”

Aku menatap amplop itu. Di bagian depannya, dengan tulisan tangan Tante Wulan, tertulis namaku.

Nino benar lagi. Aku benci itu. Tapi aku tidak bisa. Belum. Uang ini diberikan oleh seseorang yang mengira tahun depan aku masih ada. Aku tidak bisa memakainya sebelum aku tahu apakah perkiraan itu benar.

Aku memasukkan amplop itu kembali ke laci.

Nino menghela napas panjang dan tidak berkata apa-apa lagi.

Jam sepuluh, ponselku berbunyi. Bukan Nadine.

Ibu Ratih:

Nak Erga!! Pesta Bapak Ibu tinggal sembilan hari lagi 🎉 Ibu mau bikin bika ambon buat pesta, yang PENUH. Bantuin ya? Terus kue pestanya kamu yang bikin ya, Ibu udah bilang ke semua orang 😊

Sabtu ini kita latihan terakhir. Datang pagi ya Nak.

Aku membaca pesan itu tiga kali. Ibu udah bilang ke semua orang.

Aku membalas: Iya, Bu. Sabtu pagi.

Lalu aku duduk di toko yang gelap, di depan oven yang mati, dan menyadari bahwa aku baru saja berjanji kepada satu orang lagi.