Chapter Thirty Four

Aku Tidak Perlu Membayar Tempatku

POV: Erga

Tempat yang kupilih berbintang dua koma delapan, dan aku tidak berbohong soal itu.

Angkringan di pinggir rel dekat Stasiun Lempuyangan. Tiga bangku kayu panjang, satu gerobak dengan teko-teko besar di atas arang, dan terpal biru yang bocor di dua tempat. Di sebelahnya, tidak sampai sepuluh meter, rel kereta. Setiap dua puluh menit, sebuah kereta lewat, dan seluruh angkringan bergetar, dan gelas-gelas kopi joss berdenting di atas papan kayu, dan semua pelanggan berhenti bicara karena tidak ada yang bisa mendengar apa pun.

Ulasan terburuknya berbunyi: Kopinya enak, tapi saya lupa nama saya sendiri tiap kali kereta lewat.

Nadine tiba jam empat sore hari Sabtu, dua minggu setelah warung burjo. Ia bilang ia akan naik kereta pagi dan tiba jam tiga. Ia tiba jam tiga lewat lima, mengirim pesan dari stasiun, udah sampai, lalu naik ojek ke penginapan, lalu menungguku di depan angkringan jam empat kurang dua puluh.

Aku tiba jam empat kurang sepuluh.

“Telat,” katanya.

“Kamu kebanyakan datang awal.”

Ia duduk di bangku kayu. Kereta pertama lewat saat itu juga. Bangku bergetar. Rambutnya tertiup angin dari gerbong. Ia memegang pinggir bangku dengan dua tangan dan menatap kereta itu lewat dengan mata terbelalak, sampai gerbong terakhir menghilang.

Lalu ia menoleh kepadaku.

“Kamu pilih ini karena Bapak,” katanya.

Aku tidak menjawab. Aku tidak perlu menjawab.

Ia menatap rel itu lama. “Aku ke pasar sama dia, minggu lalu. Dia cerita soal Kiaracondong lagi. Soal kereta uap. Dia cerita sambil senyum.” Ia menarik napas. “Nanti aku fotoin tempat ini buat dia.”

Lalu ia berhenti, dan menatapku. “Boleh, kan? Aku fotoin buat Bapak?”

Aku menyadari ia bertanya bukan karena butuh izin memotret angkringan. Ia bertanya karena ia tidak ingin menjadikan tempat ini jembatan ke rumahnya tanpa aku setuju. Ia tidak ingin menarik apa pun dariku ke Bandung tanpa bertanya.

“Boleh,” kataku. “Bilang ke Bapak, kopinya bukan robusta. Pasti dia protes.”


Dua minggu berikutnya, lalu dua minggu berikutnya lagi, Nadine datang ke Yogyakarta tiga kali.

Aku mengamatinya seperti mengamati adonan ragi tape. Bukan karena tidak percaya. Karena aku ingin tahu apakah yang terjadi di Kopi Mbah Karto dan di warung burjo bertahan setelah air mata kering. Apakah ini sesuatu yang hidup, atau hanya reuni emosional yang terasa besar karena enam bulan kosong di belakangnya.

Aku tidak menemukan hal-hal besar. Aku menemukan hal-hal kecil.

Ia menepati janji-janji kecil. Kalau ia bilang tiba jam tiga, ia tiba jam tiga lewat lima dan mengirim pesan. Kalau ia bilang pulang Minggu jam tiga, ia pulang Minggu jam tiga, walaupun aku melihatnya menatap jam tangan di peron dengan wajah yang ingin menunda.

Ia menghormati waktu kerjaku. Di kunjungan kedua, Bu Sekar memintaku datang ke toko hari Sabtu pagi karena ada pesanan roti untuk pernikahan. Aku memberi tahu Nadine dengan wajah bersalah, siap meminta maaf. Ia hanya mengangguk, lalu menghabiskan pagi itu sendirian di Taman Sari, dan mengirimiku foto lorong bawah tanah dengan keterangan di sini kayak dapurmu, nggak ada sinyal. Ia tidak menanyakan jam berapa aku selesai. Ia tidak mengirim pesan setiap jam. Ketika aku selesai jam dua, ia sudah menunggu di depan toko dengan dua bungkus nasi kucing, dan ia tidak berkata apa-apa tentang lima jam yang ia habiskan sendirian.

Dan ia memulai.

Itu yang paling mengejutkanku. Di Bandung, selama sepuluh minggu, ia tidak pernah mengirim pesan duluan. Aku menuliskannya di halaman daftar rasa: Nggak pernah kirim pesan duluan. Bukan karena nggak mau. Karena takut kelihatan nunggu.

Sekarang, setiap malam jam sembilan lewat, ponselku bergetar.

Nadine:

Udah pulang?

Pesan yang sama. Kata-kata yang sama. Kata-kata yang dulu kukirim setiap malam selama sepuluh minggu, sampai malam pesta.

Ia tidak pernah menjelaskan kenapa ia memakai kalimat itu. Aku tidak pernah bertanya. Tapi setiap malam, ketika aku membacanya di kamar kos dengan jendela menghadap tembok biru, aku merasakan sesuatu di dadaku yang pelan-pelan belajar untuk percaya.

Ia tidak takut kelihatan menunggu lagi.


Di kunjungan ketiga, masalah datang.

Minggu siang, di kamar kosku yang terlalu kecil untuk dua orang, dengan pintu terbuka supaya tetangga tidak berpikir macam-macam. Kami sedang menonton video Gilang yang mencoba membuat roti dengan bentuk candi Prambanan dan gagal dengan cara yang sangat spektakuler. Ponsel Nadine berdering.

Aku melihat wajahnya berubah ketika melihat nama di layar.

“Klien,” katanya. “Hotel butik di Dago. Proyek terbesar tahun ini.”

Ia mengangkatnya. Aku mendengar suara laki-laki di ujung sana, keras dan panik. Ubin yang salah. Tiga ratus meter persegi ubin teraso untuk lobi, dikirim dengan warna yang salah, sudah dipasang separuh oleh kontraktor di hari Minggu karena kontraktornya mengejar tenggat. Pembukaan hotel dua minggu lagi. Pemiliknya mengancam membatalkan kontrak.

Nadine berdiri. Ia berjalan ke jendela, berbalik, berjalan ke pintu, berbalik lagi. Tangannya yang bebas meremas ujung kemejanya.

Dan tubuhku bergerak.

Aku sudah berdiri sebelum memikirkannya. Aku sudah membuka ponselku untuk mencari jadwal kereta sore ke Bandung. Aku sudah memikirkan siapa yang bisa kutelepon, pemasok ubin di Bandung yang pernah jadi pelanggan Remah Pagi, teknisi yang kenal kontraktor. Aku sudah menyusun email untuk kliennya di kepalaku. Aku sudah siap menyetir, memesan, membereskan, menyelamatkan.

Aku sudah melakukan ini seumur hidupku. Aku sangat pandai dalam hal ini.

Nadine menutup telepon. Ia menatapku yang sedang berdiri dengan ponsel di tangan, dan aku melihatnya mengerti apa yang sedang kulakukan.

Aku menurunkan ponselku.

“Ada yang bisa aku bantu?” tanyaku. Hanya itu. Bukan aku bantu, ya. Bukan biar aku yang urus. Pertanyaan.

Ia menatapku lama. Aku melihat ia menimbangnya. Aku melihat bagian dari dirinya yang lelah, yang ingin menyerahkan semuanya kepadaku dan membiarkan aku membereskannya, seperti ia menyerahkan ibunya kepadaku di dapur, dan ayahnya di pasar, dan adiknya di meja makan.

“Temenin aja,” katanya. “Diem. Aku mau nyelesein sendiri.”

Aku duduk di tepi kasur.

Dua jam.

Aku duduk di sana selama dua jam, dan itu dua jam tersulit dalam hidupku, lebih sulit dari kereta Lodaya, lebih sulit dari menutup telepon malam pamit, lebih sulit dari empat belas percobaan ragi tape.

Nadine menelepon kontraktor. Menelepon pemasok ubin. Menelepon pemilik hotel. Ia membuka laptop di atas meja kecilku yang goyang, membuat tabel, menghitung ulang, menelepon lagi. Suaranya berubah-ubah: tegas kepada kontraktor, sabar kepada pemilik hotel, dan sangat, sangat manis kepada pemasok ubin, yang ternyata punya stok warna yang benar di gudang Cimahi dan bisa mengirimnya Senin pagi kalau Nadine bersedia menjadi rekomendasi di tiga proyek berikutnya.

Aku ingin menawarkan teh. Aku menawarkan satu kali.

“Mau teh?”

“Mau,” katanya tanpa menoleh dari laptop. “Tawar.”

Aku membuatkannya teh tawar. Aku meletakkannya di sebelah laptopnya. Ia meminumnya tanpa melihat. Itu satu-satunya hal yang kulakukan selama dua jam itu.

Jam empat sore, ia menutup telepon terakhir. Ia menutup laptop. Ia bersandar ke kursi plastik dan menatap langit-langit kamar kosku dengan napas panjang.

“Selesai,” katanya. “Ubin baru datang Senin. Kontraktor bongkar yang salah Selasa, pakai biaya mereka sendiri karena mereka yang pasang tanpa cek. Pemilik hotel nggak jadi batalin. Aku dapat tiga proyek rekomendasi dari pemasok ubin.” Ia menoleh kepadaku dan tersenyum. Senyum capek. Senyum menang. “Aku beresin sendiri.”

“Aku tahu,” kataku. “Aku lihat.”

Lalu ia berdiri, merapikan rambutnya dengan jari, dan mengambil tasnya.

“Ayo rayain,” katanya. “Aku traktir.”

Aku membuka mulut. Kebiasaan. Nggak usah, aku aja. Kalimat itu sudah di ujung lidahku.

Ia melihatnya. Ia menatapku dengan alis naik.

“Bukan bonus,” katanya. “Bukan bayaran. Bukan terima kasih karena kamu nemenin. Aku traktir karena aku lagi seneng, dan aku pengin makan enak sama orang yang aku suka. Itu aja.”

Aku menutup mulut. Aku mengangguk.

“Oke,” kataku.

Dan aku membiarkannya membayar.


Kami merayakan di angkringan pinggir rel. Karena ia yang memilih. Karena, katanya, kalau hari ini hari kemenangan, ia ingin merayakannya di tempat yang membuatnya lupa nama sendiri setiap dua puluh menit.

Ia memesan nasi kucing tiga bungkus, sate usus, sate telur puyuh, dan dua gelas kopi joss. Ia membayar semuanya dengan uang kertas dari dompetnya, di depan penjual angkringan, tanpa drama. Aku duduk di bangku kayu dan menerima nasi kucing dari tangannya, dan tidak menawarkan diri untuk membayar setengahnya, dan tidak mencuci gelas setelahnya.

Aku hanya duduk. Makan. Menerima.

Matahari tenggelam di belakang gerbong-gerbong yang diparkir di Lempuyangan. Langitnya jingga, lalu ungu, lalu biru gelap. Lampu-lampu angkringan menyala satu per satu.

Aku menatap tanganku yang memegang gelas kopi joss, gelas yang tidak kubeli, di tempat yang tidak kupilih, di hari yang tidak kuselamatkan, dan menyadari sesuatu.

Aku di sini tanpa membayar apa pun.

Tidak dengan uang. Tidak dengan kue. Tidak dengan tangan yang mencuci loyang, atau lelucon yang mencairkan suasana, atau kumis kertas, atau daftar empat puluh dua poin. Aku tidak menyelamatkan siapa pun hari ini. Aku tidak membereskan apa pun. Aku hanya duduk di tepi kasur selama dua jam dan membuat satu gelas teh tawar.

Dan ia tetap menginginkanku di sini. Ia tetap mentraktirku nasi kucing. Ia tetap tersenyum kepadaku dari seberang bangku dengan sisa arang di ujung jarinya.

Aku tidak perlu membayar tempatku.


Kereta lewat. Bangku bergetar. Gelas-gelas berdenting. Kami berhenti bicara karena tidak ada yang bisa mendengar apa pun.

Ketika gerbong terakhir menghilang dan suara kembali, aku meletakkan gelasku.

“Nad,” kataku. “Aku mau nanya sesuatu.”

Ia meletakkan gelasnya juga. Ia menatapku, dan aku melihat ia tahu. Aku melihat ia sudah tahu sejak aku meletakkan gelas itu.

“Boleh aku duluan?” tanyanya.

Aku mengerjap. “Duluan apa?”

“Ngomong.” Ia menarik napas. “Aku udah nyiapin ini sejak Kopi Mbah Karto. Bukan pakai slide. Bukan pakai catatan. Aku cuma nyimpen di sini.” Ia menyentuh dadanya sendiri. “Dan aku nggak mau nunggu kamu yang nanya duluan. Dulu kamu selalu yang duluan. Sekarang aku.”

Aku tidak bisa bicara. Aku hanya mengangguk.

Nadine menatapku lurus. Tidak ke gelas. Tidak ke rel. Tidak ke serbet. Kepadaku.

“Aku milih kamu,” katanya.

Tiga kata. Jelas. Tanpa mungkin. Tanpa kalau. Tanpa nanti.

“Bukan karena kamu pergi,” lanjutnya, suaranya stabil. “Bukan karena keluargaku kangen kamu. Bukan karena aku takut kehilangan kamu lagi. Aku udah kehilangan kamu enam bulan, dan aku masih hidup, dan aku masih kerja, dan aku masih bisa beresin ubin tiga ratus meter persegi sendiri.” Ia tersenyum kecil. “Aku milih kamu karena aku kenal kamu sekarang. Yang minum es teh tawar. Yang manggil kucing Pak RT. Yang nggak ambil alih waktu aku panik. Yang biarin aku bayar nasi kucing.”

Kereta lain terdengar di kejauhan. Belum dekat.

“Aku milih kamu jadi pasanganku, Erga,” katanya. “Kalau kamu masih mau. Dan kalau kamu belum mau, aku tetap milih kamu. Pilihanku nggak bergantung sama jawabanmu.”

Suara kereta semakin dekat.

Aku menatapnya. Aku sudah menyiapkan kalimatku sendiri. Kalimat yang kususun di dapur Tungku Selatan, di depan adonan yang ditinggal, di jalan pagi melewati penjual gudeg. Aku pengin jadi pasanganmu lagi. Kalimat sederhana. Dan ia sudah menjawabnya sebelum aku menanyakannya.

“Aku pengin jadi pasanganmu,” kataku. Suaraku serak. “Lagi. Bukan. Bukan lagi. Pertama kali. Yang beneran. Yang nggak ada kontraknya.”

Nadine tertawa, basah. “Pertama kali.”

“Pertama kali.”

Ia mengulurkan tangannya di atas bangku kayu, telapak menghadap ke atas, di antara gelas kopi joss dan bungkus nasi kucing yang sudah kosong. Persis seperti aku di bangku bubur, hampir sembilan bulan lalu.

“Boleh?” tanyanya.

“Boleh,” kataku.

Aku menaruh tanganku di atas tangannya. Ia menutup jarinya lebih dulu.

Kereta lewat. Bangku bergetar. Rambutnya tertiup angin dari gerbong. Aku tidak bisa mendengar apa pun. Aku tidak ingat namaku sendiri.

Aku menciumnya di tengah suara kereta.

Setelah bertanya, dengan mata, dan setelah ia mengangguk, dengan mata. Ciuman yang tidak terburu-buru, dengan tangannya di rahangku dan tanganku di tengkuknya, dengan rasa kopi joss dan arang dan sesuatu yang lebih manis dari semua gula yang pernah kuaduk. Gerbong demi gerbong lewat di sebelah kami, dan kami tidak berhenti sampai gerbong terakhir menghilang dan suara dunia kembali.

Ketika kami berhenti, penjual angkringan sedang menatap ke arah lain dengan sangat sengaja, dan seorang bapak di bangku sebelah bertepuk tangan pelan.

Nadine menyembunyikan wajahnya di bahuku dan tertawa.


Kami duduk lama setelah itu. Dua kereta lagi lewat. Kopi joss kami sudah dingin.

“Nad,” kataku akhirnya.

“Hm?”

“Aku belum tahu kapan balik ke Bandung.” Aku mengatakannya dengan jujur, karena kami sudah berjanji untuk jujur. “Bu Sekar minta aku perpanjang dua bulan. Buat ngajarin Gilang ragi tape sebelum aku pergi. Dan setelah itu aku belum tahu. Aku harus ngomong sama Nino soal toko. Aku harus mikir aku mau apa.”

Aku menunggu. Aku menunggu wajahnya berubah. Menunggu ia bertanya jadi kapan?, menunggu ia membuka ponsel untuk melihat kalender, menunggu ia menyusun rencana.

Nadine menatap rel kereta yang gelap.

“Aku nggak nanya malam ini,” katanya.

Aku menatapnya.

“Aku nggak nanya kapan. Aku nggak nanya malam ini, nggak nanya minggu depan.” Ia bersandar ke bahuku. “Kamu yang mutusin kapan kamu pulang. Kalau kamu pulang. Aku udah milih kamu. Itu nggak butuh tanggal.”

Aku menempelkan pipiku di puncak kepalanya. Bau sampo stroberi dan asap arang angkringan.

Kereta berikutnya terdengar di kejauhan, belum dekat. Kami duduk dan menunggunya lewat. Bersama. Tanpa terburu-buru.