Chapter Sixteen
Foto yang Harus Kita Simpan
POV: Nadine
Arisan keluarga besar Prakoso diadakan setahun sekali di rumah Eyang Putri di Cigadung, dan selalu dimulai dengan hal yang sama: tujuh puluh orang berebut parkir di gang yang cukup untuk dua puluh mobil.
Aku sudah menyusun strategi. Datang jam sepuluh, sebelum gelombang pertama tante-tante. Duduk di sudut dekat meja minuman, karena orang yang sedang menuang sirup jarang ditanya soal pernikahan. Perkenalkan Erga kepada Eyang Putri lebih dulu, karena kalau Eyang sudah menyetujui seseorang, tidak ada yang berani mengusiknya. Pulang sebelum sesi foto, karena sesi foto keluarga besar selalu menghasilkan pertanyaan.
Strategi itu gagal di menit ketujuh belas.
“Jadi ini,” kata Eyang Putri dari kursi rotannya yang megah di tengah pendopo, menatap Erga dari balik kacamata tebal, “tukang kue yang bikin Ratih nangis gara-gara bika ambon.”
“Bukan saya yang bikin nangis, Eyang. Bikanya.”
“Ratih bilang sarangnya naik separuh.”
“Minggu ini kami target tiga perempat, Eyang.”
Eyang Putri, delapan puluh satu tahun, mantan kepala sekolah yang pernah membuat seluruh angkatan ayahku takut pada bunyi sandal jepit, menatap Erga lama sekali. Lalu ia menyodorkan tangannya yang keriput.
“Salim,” katanya. “Terus ambilkan Eyang kue lapis. Yang pinggir.”
Erga menyalami tangannya, lalu menoleh kepadaku sebentar. Aku tahu arti tatapan itu. Yang pinggir. Aku menahan tawa sampai perutku sakit.
Masalah kedua datang pada pembacaan kocokan arisan.
Tante Wulan, yang setiap tahun mengangkat dirinya sendiri sebagai pembawa acara, berdiri di tengah pendopo dengan kaleng biskuit berisi gulungan kertas nama. Tujuh puluh orang bersorak. Anak-anak berlarian. Seorang om memutar dangdut dari pengeras suara portabel.
“Dan pemenang arisan bulan ini,” seru Tante Wulan, membuka gulungan kertas dengan dramatis, “adalah...”
Ia berhenti. Menyipitkan mata. Membaca lagi.
“Erga?”
Pendopo sunyi sejenak. Lalu meledak.
Erga, yang sedang membawakan piring lapis untuk Eyang Putri, berhenti di tengah jalan. “Saya?”
“Kamu ikut arisan?” Aku menoleh kepada ibuku, yang sedang pura-pura sangat sibuk menata kerupuk. “Bu. Ibu daftarin dia?”
“Biar ikut,” kata ibuku tanpa menoleh. “Masa semua keluarga ikut, dia nggak. Ibu yang bayar setorannya. Nggak apa-apa.”
“Bu, arisan ini setahun.”
“Iya. Dua belas bulan.”
Aku berdiri di sana dan merasa lantai pendopo miring sedikit.
Dua belas bulan. Kontrak kami sepuluh minggu. Ibuku sudah mendaftarkan Erga ke komitmen keluarga yang berjalan sampai tahun depan, dengan uangnya sendiri, tanpa bertanya kepadaku, karena di kepala ibuku tahun depan Erga masih ada di sini.
Erga menerima amplop arisan dari Tante Wulan dengan wajah orang yang baru memenangkan undian di acara yang tidak ia daftarkan. Tujuh puluh orang bertepuk tangan. Ia membungkuk ke segala arah seperti atlet olimpiade. Lalu ia berjalan ke ibuku dan menyodorkan amplop itu dengan kedua tangan.
“Bu, ini punya Ibu. Ibu yang setor.”
“Punyamu. Namamu yang keluar.”
“Bu—”
“Beliin oven yang nggak ngambek.” Ibuku mendorong amplop itu kembali ke dadanya. “Terus bikinin Ibu bika pakai oven itu.”
Erga berdiri memegang amplop itu, dan aku melihat sesuatu lewat di wajahnya, cepat sekali, seperti malam ibuku menyebut kata pulang.
Lalu ia tertawa, memasukkan amplop ke saku, dan kembali membawakan kue lapis untuk Eyang Putri. Yang pinggir.
Masalah ketiga adalah foto.
Mas Dimas, yang punya kamera mahal dan tidak punya bakat mengatur orang, berdiri di atas kursi plastik sambil berteriak-teriak. Tujuh puluh orang harus masuk ke dalam satu bingkai di depan pendopo. Eyang Putri di tengah. Anak-anak di depan, duduk bersila. Generasi ayahku di baris kedua. Generasi kami di belakang.
“Yang menantu sama calon menantu di pinggir, ya!” teriak Mas Dimas. “Biar gampang di-crop kalau—”
“Dimas!” bentak Kak Sari.
“—kalau fotonya kebesaran! Maksudku kebesaran!”
Semua orang tertawa. Aku tidak. Aku melihat Erga, tanpa bertanya, tanpa menunggu diperintah, berjalan ke ujung paling kanan barisan belakang. Ke dekat pintu gerbang. Tempat untuk orang yang bisa di-crop.
Ia berdiri di sana dengan tangan di saku, tersenyum ke kamera, seolah tempat itu memang tempatnya.
Dan ayahku berkata, “Erga.”
Tidak keras. Ayahku tidak pernah bicara keras. Tapi pendopo itu entah kenapa mendengarnya.
“Sini,” kata ayahku.
Ia menunjuk tempat kosong di sebelahnya. Baris kedua. Di tengah. Di sebelah kepala keluarga Prakoso.
Erga tidak bergerak. Ia menatap ayahku seperti tidak yakin kalimat itu ditujukan kepadanya.
“Cepetan,” kata ayahku. “Dimas pegal.”
“Aku nggak pegal, Om!” teriak Mas Dimas dari atas kursi. “Tapi iya, cepetan!”
Erga berjalan dari ujung barisan ke tengah. Pelan. Orang-orang bergeser memberinya jalan. Ia berdiri di sebelah ayahku, dan ayahku, tanpa menoleh, meletakkan tangannya di bahu Erga. Sekali. Lalu menurunkannya lagi.
Klik.
Aku berdiri di barisan belakang, dua orang dari mereka, dan tidak ingat apakah aku tersenyum di foto itu.
Setelah sesi foto, aku masuk ke ruang tengah Eyang untuk mencari tisu. Di rak kayu jati di dekat televisi, berjajar album foto keluarga besar dari tahun ke tahun, dengan tahun ditulis tangan Eyang di punggung setiap album.
Aku tidak berniat membukanya. Tanganku yang membuka.
Album dua tahun lalu. Halaman tengah. Foto arisan.
Aku ada di barisan belakang. Di sebelahku, dengan kemeja batik yang kupilihkan, dengan senyum yang membuat semua tante bersorak, berdiri Rian.
Tidak ada yang mencopot foto itu. Tidak ada yang memotongnya. Eyang tidak pernah membuang foto. Foto itu akan tetap di sana, di rak kayu jati, selama Eyang masih hidup dan mungkin lama setelahnya. Setiap tahun, seseorang akan membukanya, dan melihat wajah itu, dan bertanya, Eh, ini siapa ya? Dan seseorang harus menjawab.
Aku menutup album itu.
Foto hari ini akan dicetak minggu depan. Eyang akan memasukkannya ke album baru. Di tengah, di baris kedua, di sebelah ayahku, ada Erga. Dengan tangan ayahku di bahunya.
Aku bersandar ke rak dan menyadari sesuatu yang membuat perutku dingin.
Hubungan ini sudah nyata. Bukan untukku. Belum. Tapi untuk ibuku yang mendaftarkannya arisan dua belas bulan. Untuk ayahku yang memanggilnya dari ujung barisan. Untuk Eyang yang meminta lapis pinggir. Untuk tujuh puluh orang yang bertepuk tangan saat namanya keluar dari kaleng biskuit.
Dan aku, yang seharusnya melindungi mereka dari kehilangan berikutnya, justru sedang membangunnya dengan tanganku sendiri. Setiap minggu aku menunda jawaban, setiap minggu itu juga ibuku menambahkan satu hal tentang Erga ke dalam hidupnya. Ketakutanku tidak sedang melindungi siapa pun.
Ketakutanku sedang menyiapkan luka yang lebih besar.
Termasuk untuk Erga. Terutama untuk Erga.
Kami pamit jam empat sore. Di mobil, aku tidak menyalakan mesin.
“Nadine?”
“Jalan-jalan, yuk,” kataku. “Sebentar. Aku belum mau pulang.”
Kami parkir di dekat Taman Lansia. Matahari sudah condong, dan cahayanya menembus pohon-pohon tinggi dengan warna jingga yang membuat semuanya terlihat seperti foto lama. Orang-orang berlari sore. Seorang penjual cilok mendorong gerobaknya pelan.
Aku menggandeng tangannya begitu turun dari mobil. Aku tidak bertanya. Aku lupa bertanya. Ia tidak protes.
Kami berjalan mengelilingi taman satu kali. Dua kali. Aku tidak bicara. Ia juga tidak. Aku hanya menggenggam tangannya dan merasakan bekas luka bakar kecil di pergelangannya di bawah ibu jariku.
Di putaran ketiga, aku sadar aku menggandengnya bukan karena ingin berjalan. Aku menggandengnya karena aku takut, kalau kulepaskan, ia akan pergi ke ujung barisan lagi. Ke dekat pintu. Ke tempat yang bisa di-crop.
Kami berhenti di bawah pohon besar di dekat kolam. Erga menatap air, lalu menatapku.
“Nad,” katanya. Suaranya berbeda. Tidak ada lelucon di dalamnya. Tidak ada Pak Bambang. Tidak ada kumis kertas.
“Ada yang perlu aku bilang,” katanya. “Malam ini.”
- 1 Pacar yang Datang Bersama Kotak Kue
- 2 Aturan Pertama: Jangan Jatuh Cinta
- 3 Kursi di Sebelah Nadine
- 4 Di Luar Jadwal
- 5 Kue Ulang Tahun yang Terlalu Jujur
- 6 Potongan yang Bentuknya Jelek
- 7 Resep yang Selalu Gagal
- 8 Hal yang Tidak Masuk Kontrak
- 9 Kencan yang Tidak Dihitung
- 10 Pertanyaan Sepupu yang Salah Alamat
- 11 Celemek Cadangan
- 12 Hari ketika Ibu Menyebut Rumah
- 13 Jawaban yang Ditunda
- 14 Delapan Pertanyaan untuk Livia
- 15 Jangan Janji untuk Semua Orang
- 16 Foto yang Harus Kita Simpan reading
- 17 Aku Suka Kamu Tanpa Jadwal
- 18 Bonus yang Tidak Bisa Kuterima
- 19 Resep yang Akhirnya Berhasil
- 20 Kebenaran di Meja yang Sama
- 21 Undangan yang Tidak Kukirim
- 22 Kue untuk Pesta yang Tidak Kuhadiri
- 23 Aku Pergi Dulu
- 24 Satu Cangkir Terlalu Banyak
- 25 Kue yang Jadi Saat Orangnya Tidak Ada
- 26 Celemek Tanpa Nama
- 27 Yang Dia Ingat Tentang Kita
- 28 Aku yang Membawanya Masuk
- 29 Kabar Pertama yang Tidak Bisa Kukirim
- 30 Hari Tanpa Peran
- 31 Nama yang Muncul Lagi
- 32 Kalau Kamu Mau Dengar
- 33 Kencan Pertama yang Kedua
- 34 Aku Tidak Perlu Membayar Tempatku
- 35 Tamu yang Boleh Menolak
- 36 Namaku Ada di Sini