Chapter Thirty

Hari Tanpa Peran

POV: Erga

Roti ragi tape gagal untuk keempat belas kalinya pada hari Selasa, bulan keempat, jam lima pagi.

Aku tahu karena aku menghitungnya di papan tulis kecil di dinding dapur Tungku Selatan, dengan kapur, seperti narapidana menghitung hari. Empat belas garis. Mbak Tari, pembuat pastri yang sudah sebelas tahun bekerja di sini dan punya lidah setajam pisau roti, menambahkan catatan di bawahnya dengan tulisan tangan yang jauh lebih rapi dari punyaku: Rekor dunia. Selamat.

“Kamu tahu masalahmu apa?” tanyanya, sambil mengintip adonan yang bantat di tanganku.

“Raginya.”

“Masalahmu itu kamu.”

Aku menatapnya.

“Kamu ngerawat adonan kayak ngerawat orang sakit,” katanya. “Diliatin terus. Dielus terus. Dikasih suhu yang pas terus. Adonan ragi tape itu kayak orang Jogja, Mas. Dia nggak suka ditungguin. Tinggal aja. Pergi. Nanti dia naik sendiri.”

Gilang, pembuat roti termuda di toko, umur dua puluh satu, yang memanggil semua orang Suhu, tertawa dari balik meja giling sampai tepungnya beterbangan.

Aku menatap adonan di tanganku. Lalu aku meletakkannya di baskom, menutupnya dengan kain, dan, untuk pertama kalinya dalam empat belas percobaan, berjalan keluar dapur tanpa menoleh ke belakang.


Aku tidak menghabiskan empat bulan di Yogyakarta untuk merindukan.

Maksudku, aku merindukan. Tapi aku juga melakukan banyak hal lain, dan hal-hal lain itu ternyata cukup banyak untuk mengisi hari.

Aku punya kamar kos di belakang toko, di gang sempit di Prawirotaman, dengan jendela yang menghadap tembok tetangga yang dicat biru. Aku bangun jam empat setiap pagi, bukan karena harus, tapi karena tubuhku sudah terbiasa sejak pasar Kosambi. Aku berjalan kaki dari kos ke toko melewati jalan yang masih gelap, melewati penjual gudeg yang baru membuka gerobak, dan setiap pagi ia menawariku gudeg dan setiap pagi aku menolak, sampai minggu ketiga ia berhenti menawari dan hanya melambaikan tangan.

Aku punya rutinitas yang bukan milik siapa pun kecuali aku.

Bu Sekar Anindita, pemilik Tungku Selatan, adalah perempuan lima puluhan dengan rambut pendek beruban dan kebiasaan mencicipi setiap roti dengan mata tertutup, lalu memberi nilai seperti juri lomba. Enam koma lima. Tujuh. Lima, Mas, ini roti atau batu bata? Ia tidak pernah memuji kecuali pujiannya benar, dan karena itu setiap pujiannya terasa seperti medali.

Pak Harno, tukang roti sepuh yang sudah bekerja di dapur-dapur Yogyakarta sejak sebelum aku lahir, mengajariku cara membaca ragi tape dari baunya. Aku bertanya kepadanya setiap hari. Pertanyaan yang sama, dengan cara berbeda. Ia tidak pernah bosan menjawab.

Di minggu kedua, aku sadar aku sedang melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan: bertanya. Meminta tolong. Mengaku tidak tahu. Di Bandung, aku adalah orang yang ditanya. Di sini, aku orang baru dengan empat belas garis kapur di dinding.

Anehnya, itu tidak terasa seperti kalah.

Hari Jumat, Mbak Tari mengundang semua orang makan malam di rumahnya. Ia memasak brongkos dan tempe bacem. Aku datang membawa roti, karena kebiasaan. Mbak Tari menerimanya di pintu, meletakkannya di meja samping tanpa membukanya, lalu menunjuk kursi.

“Duduk,” katanya.

“Aku bantu cuci—”

“Kamu tamu. Duduk.”

Aku berdiri di ruang tamunya dengan tangan kosong, merasa seperti anak kecil yang tidak tahu harus melakukan apa. Gilang menarik lenganku dan mendudukkanku di kursi.

Aku duduk. Aku makan brongkos. Aku tidak mencuci satu piring pun. Mbak Tari mengisi piringku dua kali tanpa bertanya, seperti bapakku di Sumedang.

Aku pulang malam itu dengan perut kenyang dan perasaan asing yang butuh waktu lama untuk kukenali.

Aku datang ke suatu tempat, dan aku tetap disuruh duduk. Tanpa harus melakukan apa pun untuk pantas.


Ponselku tidak lagi menjadi benda yang kupantau setiap jam.

Di minggu pertama, aku memeriksanya setiap sepuluh menit. Di minggu kedua, setiap jam. Di bulan kedua, aku sadar aku pernah lupa di mana menaruhnya selama setengah hari. Aku menemukannya di saku celemek, tertimbun tepung, dan layarnya penuh pesan dari grup toko dan ibuku dan Nino.

Tidak ada dari Nadine.

Sejak Aku ngerti. Aku tetap minta maaf., ia tidak mengirim apa pun. Tidak ada pesan panjang di tengah malam. Tidak ada aku kangen. Tidak ada foto bika, tidak ada tanya kabar lewat Nino, tidak ada apa-apa.

Nino bercerita bahwa di bulan pertama Nadine sempat datang ke toko dan bertanya sekali, dan Nino tidak menjawab. Lalu Nino bercerita bahwa Nadine menghapus sesuatu di laptopnya di depannya, dan berkata ia tidak akan bertanya lagi. Lalu Nadine memilih brownies pinggir.

Ia menepatinya.

Aku tidak tahu harus merasa apa tentang itu di awal. Sebagian dari diriku, bagian yang sudah diam sejak malam pesta, sempat bangun dan bertanya: apa dia nggak peduli? Tapi bagian itu kembali tidur dengan cepat. Karena aku tahu ia peduli. Aku tahu dari caranya diam. Nadine yang bisa menyusun protokol jam dua pagi, yang bisa menawar harga pacar palsu tanpa berkedip, yang terbiasa mengendalikan segalanya, memilih untuk tidak mengendalikan apa pun tentang aku.

Itu mungkin hal tersulit yang pernah ia lakukan.

Dan aku mencintainya karena itu. Masih. Dengan cara yang lebih tenang dari sebelumnya, seperti adonan yang akhirnya dibiarkan sendiri.


Nino menelepon hari Sabtu di bulan ketiga.

“Livia keterima kerja,” katanya, tanpa salam.

Aku sedang di pasar Beringharjo membeli singkong untuk ragi tape. Aku berhenti di tengah lorong dan seorang ibu yang membawa bakul menabrak punggungku.

“Copywriter. Agensi di Braga. Dia pesan kue di toko buat hari pertamanya. Kopi susu, remah mendoan.” Nino berhenti. “Katanya dia jawab pertanyaan binatang pakai bebek. Direkturnya ketawa.”

Aku tertawa. Di tengah pasar Beringharjo, dengan kantong singkong di tangan, aku tertawa sampai ibu yang membawa bakul menatapku seperti orang yang perlu diperiksa. Lalu tawaku berubah, dan aku harus berbalik menghadap tumpukan karung beras supaya tidak ada yang melihat wajahku.

Bebek. Kakinya mengayuh seperti orang gila.

“Dia nggak nyuruh aku ngabarin kamu, lho,” kata Nino. “Aku yang nanya boleh apa nggak. Dia bilang boleh, tapi jangan bilang dia yang nyuruh.”

“Aku tahu,” kataku. Suaraku serak. “Dia nggak nyuruh.”

Aku menutup telepon dan berdiri lama di depan karung beras.

Lalu aku membuka percakapanku dengan Livia. Livia (Bebek). Aku mengganti namanya di minggu ketiga di Bandung, setelah latihan wawancara, dan tidak pernah mengubahnya lagi. Percakapan itu berhenti di minggu kedelapan, di pesan terakhir Livia sebelum semuanya terbongkar: foto kertas jawaban wawancaranya yang penuh coretan, dengan tiga stiker bebek.

Aku mengetik. Liv, selamat. Mas bangga. Pakai bebek! Aku menatap kalimat itu.

Aku ingin mengirimnya. Aku berjanji kepadanya. Dan ia pasti akan membalas dengan tujuh tanda seru dan tiga emoji bebek, dan kami akan mengobrol, dan ia akan bercerita soal direkturnya, dan aku akan bertanya soal hari pertamanya.

Dan ia akan bercerita soal rumah itu. Soal ibunya. Soal ayahnya. Soal cangkir di meja. Soal kakaknya.

Dan aku belum siap mendengarnya.

Aku menghapus kalimat itu. Aku membuka percakapan dengan Nino lagi.

Aku:

No, tolong bilang ke Livia: selamat. Mas bangga banget. Pertanyaan kedelapan udah dia jawab sendiri, jauh lebih bagus dari yang Mas bisa ajarin.

Bilang juga, janji Mas masih berlaku. Nanti Mas yang kabarin duluan. Belum sekarang.

Nino membalas dengan satu jempol. Aku tahu itu artinya oke, dan aku ngerti, dan jangan lupa makan.


Hari Selasa itu, ketika aku kembali ke dapur setelah meninggalkan adonan ragi tape tanpa menoleh selama tiga jam, adonan itu sudah naik.

Tidak sempurna. Tapi naik. Lebih tinggi dari empat belas percobaan sebelumnya. Aku memanggangnya. Bu Sekar mencicipinya dengan mata tertutup.

“Tujuh setengah,” katanya. Lalu ia membuka mata. “Kamu ninggalin dia, ya?”

“Iya, Bu.”

“Bagus. Beberapa hal memang harus ditinggal dulu biar bisa jadi.”

Aku tidak tahu apakah ia sedang membicarakan roti.

Malam itu, di kamar kos dengan jendela yang menghadap tembok biru, aku membuka buku catatan kecil yang kubawa dari Bandung. Halaman belakangnya sudah kosong, sejak aku merobek halaman daftar rasa dan menyelipkannya ke saku celemek hijau lumut. Aku mulai halaman baru.

Mbak Tari — brongkos. Galak ke semua orang, tapi ngisi piring dua kali.

Gilang — manggil semua orang Suhu. Pengin punya toko roti sendiri di Klaten.

Pak Harno — ragi tape dari bau. Nggak pernah bosan ditanya.

Bu Sekar — nilai roti pakai mata tertutup.

Lalu, di baris paling bawah, aku menulis namaku sendiri. Erga —

Aku menatap tanda pisah itu lama. Aku pernah menulis baris yang sama di halaman lama, di minggu ketujuh, dan tidak pernah bisa melanjutkannya. Aku tidak tahu harus menulis apa tentang diriku. Aku tidak pernah memperhatikan apa yang kusuka. Aku hanya memperhatikan apa yang disukai orang lain.

Kali ini, aku mencoba.

Erga — suka jalan pagi sebelum toko buka, waktu jalan masih gelap. Suka kopi tubruk robusta, ternyata. Suka ngelihat adonan naik tanpa ditungguin. Suka duduk di rumah orang tanpa bawa apa-apa. Masih sayang dia. Tapi bisa hidup tanpa harus berguna buat dia.

Aku membaca baris itu dua kali. Lalu aku menutup buku.

Aku masih mencintainya. Itu tidak hilang. Mungkin tidak akan pernah hilang. Tapi aku sekarang tahu sesuatu yang empat bulan lalu tidak kuketahui: aku tetap ada ketika aku tidak sedang membantu siapa pun. Aku tetap disuruh duduk. Aku tetap punya baris di bawah namaku sendiri.


Pagi berikutnya, Bu Sekar mengumpulkan semua orang di dapur sebelum toko buka.

“Dua bulan lagi,” katanya, “Tungku Selatan bikin Pasar Roti Lawas. Acara besar. Pameran roti-roti lama yang kita hidupkan lagi. Ada wartawan, ada tamu dari luar kota, ada pengumuman di Instagram dan koran lokal.” Ia menatapku. “Roti ragi tape kamu jadi menu utama. Nama kamu di poster. Foto kamu juga.”

Semua orang menoleh kepadaku. Gilang bertepuk tangan. Mbak Tari mengangkat alis seolah berkata tuh kan, ditinggal dulu.

Aku berdiri di tengah dapur dan merasakan sesuatu yang dingin naik dari perutku.

Nama di poster. Foto di Instagram. Pengumuman publik.

Selama empat bulan, hanya Nino yang tahu di mana aku. Kalau namaku muncul di poster, siapa pun bisa tahu. Keluarga Prakoso bisa tahu. Livia, yang sekarang copywriter dan pasti mengikuti ratusan akun toko roti, pasti akan tahu.

Nadine akan tahu.

Aku bisa menolak. Aku bisa meminta Bu Sekar tidak mencantumkan namaku. Aku bisa tetap bersembunyi di dapur ini dengan tembok biru dan empat belas garis kapur.

“Mas?” tanya Bu Sekar. “Mau atau nggak?”

Aku menatap roti ragi tape di atas meja. Roti yang akhirnya naik karena aku berhenti menungguinya.

Aku tidak pergi dari Bandung untuk bersembunyi. Aku pergi untuk berhenti menunggu. Itu beda.

“Mau, Bu,” kataku. “Pakai nama saya.”