Chapter Thirty One
Nama yang Muncul Lagi
POV: Nadine
Livia yang menemukannya.
Tentu saja Livia. Di bulan keenam, adikku sudah menjadi copywriter junior dengan tiga klien, dan salah satunya adalah jaringan kafe yang ingin meluncurkan menu roti tradisional. Ia menghabiskan dua minggu menggulir akun-akun toko roti di seluruh Jawa untuk riset. Ratusan akun. Ribuan foto roti.
Rabu malam, di meja makan, ia berhenti mengunyah di tengah suapan dan menatap ponselnya.
Lalu ia meletakkan ponsel itu di tengah meja, di sebelah cangkir hijau yang sudah enam bulan kosong, dan memutarnya supaya kami semua bisa melihat.
Poster. Latar cokelat hangat, huruf-huruf gaya lama, foto roti-roti yang bentuknya tidak kukenal. Pasar Roti Lawas — Tungku Selatan, Yogyakarta. Sabtu, dua minggu lagi. Dan di bawahnya, di bagian yang lebih kecil, foto seorang laki-laki dengan celemek cokelat, sedang mengangkat sepotong roti ke arah kamera, tersenyum dengan cara yang membuat tanganku berhenti di udara.
Menu utama: Roti Ragi Tape, oleh Erga Pratama.
Tidak ada yang bicara.
Ia terlihat berbeda. Pipinya memang lebih berisi, persis seperti yang Uci bilang. Rambutnya lebih pendek. Kulitnya lebih gelap, seperti orang yang sering berjalan di bawah matahari. Tapi senyumnya sama. Senyum yang sama dengan bangku bubur. Senyum orang yang baru ingat punya kupon.
Ayahku mengambil ponsel itu dan memperbesar fotonya dengan jempolnya yang lambat. Ia menatapnya lama.
“Gendutan,” katanya.
Ibuku menutup mulut dengan tangan. Ia tertawa, lalu menangis, lalu tertawa lagi.
Livia menatapku.
Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya menatap nama itu, dicetak dengan huruf yang rapi di bawah foto, di tempat yang bisa dilihat siapa pun.
Ia tidak bersembunyi lagi.
Yogyakarta.
Aku pernah menulis nama kota itu di kolom kemungkinan di tabel yang kuhapus di depan Nino. Aku memberinya nilai rendah. Aku tidak ingat kenapa.
Malam itu aku tidak tidur. Tapi untuk alasan yang berbeda dari enam bulan lalu.
Enam bulan lalu, aku tidak tidur karena ingin mencarinya. Malam ini, aku tidak tidur karena sudah tahu di mana ia, dan tidak tahu apakah aku boleh menggunakan pengetahuan itu.
Ia bilang: jangan cari aku dulu. Kalau suatu hari aku siap bicara, aku yang kabarin.
Ia belum mengabariku. Ia hanya memasang namanya di poster. Poster bukan pesan. Poster bukan undangan. Poster adalah sesuatu yang ia buat untuk semua orang, bukan untukku.
Kalau aku datang ke Pasar Roti Lawas, aku menerobos batasnya. Aku menjadi perempuan yang muncul tiba-tiba di tengah acara terpenting dalam pekerjaannya, dengan wajah memohon, di depan wartawan dan tamu dari luar kota, membuatnya harus memilih antara bersikap sopan atau pergi. Aku menjadi Tante Wulan di depan kasir tokonya.
Tapi kalau aku diam, aku tidak tahu kapan ia akan siap. Mungkin tidak pernah. Dan aku tidak akan pernah bisa mengatakan apa yang harus kukatakan. Bukan untuk memintanya pulang. Untuk mengakui.
Aku bangun jam tiga pagi dan membuka laptop.
Versi pertama panjangnya tiga halaman.
Aku menulisnya dalam satu jam, tanpa berhenti. Tentang enam bulan terakhir. Tentang cangkir hijau yang dikeluarkan dan disimpan lagi. Tentang ibuku di depan bika yang naik penuh, dengan ponsel di tangan. Tentang Livia yang menghapus pesan huruf demi huruf. Tentang tabel yang kuhapus. Tentang malam-malam aku tidak tidur, tentang aku menangis di toilet kantor, tentang betapa hancurnya aku.
Aku membacanya ulang saat subuh.
Setiap paragrafnya tentang aku. Tentang betapa aku menderita. Tentang betapa aku menyesal. Tentang betapa aku sudah berubah. Kalau ia membacanya, ia akan merasa harus menghiburku. Ia akan merasa harus berkata nggak apa-apa, Nad. Ia akan kembali menjadi orang yang merawat perasaanku, persis hal yang ia pergi untuk berhenti lakukan.
Aku menghapusnya.
Versi kedua lebih pendek. Satu halaman. Isinya tentang keluargaku. Ibuku yang merindukannya. Ayahku yang mengetukkan gelas ke cangkir kosong. Livia yang diterima kerja. Eyang yang bersulang untuk temen pasar Bapak.
Aku membacanya ulang saat matahari terbit.
Aku sedang memakai kerinduan keluargaku sebagai alasan. Aku sedang menyodorkan cangkir kosong itu kepadanya seperti tagihan. Lihat, semua orang kangen kamu. Pulanglah. Aku sedang melakukan hal yang Erga sendiri minta kepada keluargaku untuk tidak dilakukan: menjadikan rasa bersalah dan kerinduan sebagai tali untuk menariknya pulang.
Aku menghapusnya juga.
Versi ketiga. Setengah halaman. Aku mencoba menulis permintaan maaf yang spesifik. Bukan maaf untuk semuanya. Maaf untuk hal-hal yang benar-benar kulakukan. Menerima cintanya tanpa memberi jawaban. Mengirim uang setelah ia mengaku. Tidak memberinya tempat di pesta. Aku menulisnya dengan jujur, dan aku membacanya, dan aku tahu ini benar.
Tapi ini bukan untuk dikirim lewat pesan. Ini harus dikatakan. Dengan wajah. Dengan suara yang bisa pecah. Kalau aku mengirimnya lewat pesan, aku bersembunyi di balik layar lagi, seperti aku bersembunyi di balik jadwal dan protokol dan kuitansi.
Aku menyimpan versi ketiga di catatan ponselku. Untukku sendiri. Untuk diingat.
Lalu aku menulis versi keempat.
Aku mengirimnya jam tujuh pagi, Kamis, sebelum berangkat kerja. Sebelum aku sempat membuat versi kelima.
Aku:
Erga. Aku lihat poster Pasar Roti Lawas. Selamat. Kamu kelihatan bahagia.
Aku nggak akan datang ke acara itu. Itu acaramu.
Tapi kalau kamu bersedia, aku pengin bicara. Sekali. Ada hal yang harus aku bilang ke kamu langsung, bukan lewat pesan. Bukan buat minta kamu pulang. Aku janji.
Kamu boleh nggak jawab. Kamu boleh bilang nggak. Aku akan terima dua-duanya.
Lima kalimat. Aku membacanya sekali. Aku menekan kirim.
Bercentang satu.
Aku memasukkan ponsel ke tas dan menyetir ke kantor.
Pesan itu tetap bercentang satu selama sehari penuh.
Aku tidak tahu apakah ia mematikan notifikasiku. Aku tidak tahu apakah ia memblokirku. Aku tidak memeriksanya. Aku berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku tidak akan memeriksanya lebih dari tiga kali sehari, dan aku menepatinya dengan kedisiplinan yang membuat Dita bertanya apakah aku sedang puasa sesuatu.
“Puasa HP,” kataku.
“Mbak? Mbak yang balas email klien jam dua pagi?”
“Mulai hari ini.”
Dita menatapku lama, lalu diam-diam meletakkan cokelat di mejaku.
Jumat malam, centang itu berubah menjadi dua. Abu-abu. Terkirim, tapi belum dibaca.
Sabtu, masih abu-abu.
Minggu pagi, aku duduk di dapur bersama ibuku, membantu mengulek sambal. Bukan sambal terasi. Sambal tomat. Ibuku tidak pernah memasak sambal terasi lagi sejak Rian, dan aku baru sadar itu bulan lalu, dari halaman daftar rasa.
Ponselku bergetar di meja. Aku tidak melihatnya. Ibuku melihatnya.
“Din,” katanya pelan.
Aku menoleh. Centangnya biru.
Dibaca. Minggu pagi, jam delapan lewat dua belas.
Tidak ada balasan.
Aku kembali mengulek. Tanganku gemetar. Ibuku tidak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan tangannya di bahuku, sebentar, lalu kembali menggoreng tempe.
Aku tidak mengirim pesan kedua. Tidak halo?. Tidak kamu udah baca?. Tidak apa-apa.
Senin, tidak ada balasan. Selasa, tidak ada balasan. Aku menyelesaikan proyek kantor pengacara di Jalan Riau. Klien akhirnya memilih warna dinding lobi yang sama dengan pilihan pertama mereka empat bulan lalu. Dita menambahkan satu baris terakhir di grafik Evolusi Keraguan Manusia: Kembali ke awal. Seperti biasa.
Rabu malam, jam sepuluh lewat, ponselku bergetar di atas kasur.
Erga:
Maaf lama. Aku butuh beberapa hari buat mikir.
Sabtu, seminggu setelah acara. Jam empat sore. Ada warung kopi kecil di Prawirotaman, namanya Kopi Mbah Karto. Aku kirim lokasinya.
Aku mau dengar.
Aku membaca pesan itu duduk di tempat tidur, di kamar lamaku, di bawah bintang-bintang plastik yang tinggal separuh menyala.
Aku tidak menangis. Aku kira aku akan menangis. Aku hanya duduk sangat diam, seperti ia di meja makan Rabu malam enam bulan lalu, dengan ponsel di tangan dan hati yang bergerak terlalu cepat untuk diikuti.
Aku mau dengar.
Bukan aku kangen. Bukan aku mau kamu datang. Bukan janji apa pun. Hanya kesediaan untuk mendengar. Dan itu lebih dari yang pantas kuterima.
Aku:
Aku datang. Makasih, Erga.
Kamis, aku membeli tiket kereta. Lodaya, dari Stasiun Bandung, jam enam pagi. Aku tidak tahu itu kereta yang sama yang ia naiki enam bulan lalu. Aku baru tahu belakangan, dari Nino, dan saat itu aku sudah tidak bisa berkata apa-apa.
Jumat malam, aku memberi tahu keluargaku.
Aku tidak meminta mereka ikut. Aku tidak meminta ibuku menitipkan bika. Aku tidak meminta ayahku menulis pesan. Aku tidak menjadikannya misi keluarga untuk membawa Erga pulang.
“Aku ke Yogya Sabtu depan,” kataku di meja makan. “Ketemu Erga. Dia yang setuju. Aku mau minta maaf. Itu aja.”
Ibuku langsung berdiri. “Ibu bikinin bika, ya. Buat dia. Yang penuh—”
“Nggak, Bu.”
Ibuku berhenti.
“Aku nggak bawa apa-apa,” kataku. “Nggak bawa kue. Nggak bawa pesan. Nggak bawa kalian.” Aku menatap cangkir hijau di tengah meja. “Dia pernah bilang, dia pengin sekali-kali datang ke suatu tempat tanpa bawa apa-apa, terus tetap disuruh duduk. Aku mau datang ke dia kayak gitu. Tanpa bawa apa-apa. Terus terserah dia mau nyuruh aku duduk atau nggak.”
Ibuku menatapku lama. Lalu ia duduk kembali dan mengangguk.
Ayahku berdeham.
“Bilang dia—” Ia berhenti. Menatap cangkir gompalnya. Lalu menggeleng pelan. “Nggak. Nggak usah bilang apa-apa dari Bapak.”
“Kenapa, Pak?”
“Karena itu urusan kalian.” Ia membuka koran. “Kalau dia mau dengar dari Bapak, dia tahu jalan ke pasar.”
Livia tidak berkata apa-apa. Ia hanya meraih tanganku di bawah meja dan meremasnya sekali. Keras. Lalu melepaskannya.
Malam itu, aku membuka lemari kamarku untuk memilih baju.
Tujuh baju di atas tempat tidur. Seperti malam sebelum martabak di Dipatiukur. Tapi kali ini tidak ada Livia yang menonton sambil makan keripik. Tidak ada lipstik kondangan. Aku memilih kemeja biasa dan celana panjang. Baju yang akan kupakai ke kantor di hari biasa.
Aku menatap cermin.
Selama sepuluh minggu, aku datang kepadanya dengan peran. Pacar sewaan. Manajer proyek. Anak yang harus dilindungi dari tante-tante. Perempuan yang butuh waktu. Setiap kali aku menemuinya, ada sesuatu yang berdiri di antara kami dan melindungiku: kontrak, jadwal, protokol, penonton.
Sabtu depan, di warung kopi kecil di Prawirotaman, tidak akan ada apa pun.
Tidak ada kontrak. Tidak ada keluarga yang harus diyakinkan. Tidak ada tante di depan kasir. Tidak ada payung kuning.
Untuk pertama kalinya, aku akan datang kepadanya tanpa peran yang melindungiku.
Hanya aku.
- 1 Pacar yang Datang Bersama Kotak Kue
- 2 Aturan Pertama: Jangan Jatuh Cinta
- 3 Kursi di Sebelah Nadine
- 4 Di Luar Jadwal
- 5 Kue Ulang Tahun yang Terlalu Jujur
- 6 Potongan yang Bentuknya Jelek
- 7 Resep yang Selalu Gagal
- 8 Hal yang Tidak Masuk Kontrak
- 9 Kencan yang Tidak Dihitung
- 10 Pertanyaan Sepupu yang Salah Alamat
- 11 Celemek Cadangan
- 12 Hari ketika Ibu Menyebut Rumah
- 13 Jawaban yang Ditunda
- 14 Delapan Pertanyaan untuk Livia
- 15 Jangan Janji untuk Semua Orang
- 16 Foto yang Harus Kita Simpan
- 17 Aku Suka Kamu Tanpa Jadwal
- 18 Bonus yang Tidak Bisa Kuterima
- 19 Resep yang Akhirnya Berhasil
- 20 Kebenaran di Meja yang Sama
- 21 Undangan yang Tidak Kukirim
- 22 Kue untuk Pesta yang Tidak Kuhadiri
- 23 Aku Pergi Dulu
- 24 Satu Cangkir Terlalu Banyak
- 25 Kue yang Jadi Saat Orangnya Tidak Ada
- 26 Celemek Tanpa Nama
- 27 Yang Dia Ingat Tentang Kita
- 28 Aku yang Membawanya Masuk
- 29 Kabar Pertama yang Tidak Bisa Kukirim
- 30 Hari Tanpa Peran
- 31 Nama yang Muncul Lagi reading
- 32 Kalau Kamu Mau Dengar
- 33 Kencan Pertama yang Kedua
- 34 Aku Tidak Perlu Membayar Tempatku
- 35 Tamu yang Boleh Menolak
- 36 Namaku Ada di Sini