Chapter Seven

Resep yang Selalu Gagal

POV: Erga

Rencanaku sederhana: antar bolu, terima uang, pamit sebelum jam sepuluh.

Tante Wulan baru datang jam dua belas. Nadine sendiri bilang acara hari ini cuma makan siang, dan tugasku sebagai pacar resmi baru mulai jam sebelas. Tapi alasanku ingin cepat pulang sebenarnya bukan jadwal. Setiap kali aku datang ke rumah itu, rumah itu menambahkan satu hal tentang aku. Nama bertinta biru di buku tamu. Cangkir hijau yang jarang keluar. Nomor di ponsel Livia. Aku mulai merasa seperti adonan yang dibiarkan terlalu lama di tempat hangat: mengembang pelan-pelan, tanpa izin.

Jadi aku berniat datang, menyerahkan kotak, dan pergi.

Ratih membuka pintu dengan celemek, lengan penuh tepung, dan wajah orang yang baru kalah perang.

“Nak Erga,” katanya, dan suaranya sudah cukup menjelaskan. “Lima menit aja.”


Dapur itu seperti lokasi bencana. Di meja berjajar tiga loyang bika ambon yang gagal, padat, pucat, dan rata, seperti batu nisan kecil. Mangkuk-mangkuk kotor menumpuk di wastafel. Kertas resep Ibu Sumi sudah dilepas dari pintu lemari dan diletakkan di tengah meja, diganjal toples gula supaya tidak terbang.

“Dari subuh,” kata Ratih. “Tiga kali. Nggak ada satu lubang pun.”

Aku membaca kertas itu. Santan, telur, gula, sagu, daun jeruk, serai, dan ragi. Takarannya ditulis dengan tulisan tangan yang miring dan rapi. Tapi hanya itu. Tidak ada cara. Tidak ada suhu. Tidak ada berapa lama adonan harus didiamkan.

“Caranya mana, Bu?”

“Nggak ada.” Ratih duduk di kursi dan mengelap tangan di celemek. “Ibu saya nggak pernah nulis caranya. Tiap saya tanya, dia bilang, Nanti kamu lihat aja, Tih. Tiap Minggu dia bikin, dan saya lebih sering main di luar. Saya kira masih banyak Minggu.”

Ia tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.

“Beliau meninggal waktu Nadine umur tiga. Mendadak. Jantung. Saya baru sadar belum sempat lihat apa-apa.” Ia menepuk kertas resep itu pelan, seperti menepuk tangan orang. “Dua puluh tahun saya bikin tiap ulang tahun pernikahan. Kayak ngobrol sama dia. Tapi dia nggak pernah jawab. Bantat terus.”

Aku berdiri di tengah dapur itu dan tahu rencanaku pulang jam sepuluh sudah mati.

Aku melepas jaket.

“Ovennya Ibu setel berapa?”

“Seratus delapan puluh. Atas bawah.”

“Bika ambon maunya panas dari bawah aja, Bu. Pelan. Sarangnya naik dari bawah, kayak gelembung di air mendidih. Kalau dari atas juga panas, permukaannya keburu kering dan gelembungnya kekunci.” Aku membuka tutup mangkuk adonan. “Terus adonannya didiamkan berapa lama?”

“Setengah jam.”

“Kurang. Minimal dua jam. Di tempat hangat. Raginya harus capek dulu kerja.” Aku mencium adonan itu. “Dan jangan buka pintu oven buat ngintip.”

Ratih menatapku dengan mata menyipit. “Saya buka tiap lima menit.”

“Itu dia masalahnya, Bu. Kuenya malu.”

Ratih tertawa, tawa pertamanya pagi itu. Lalu ia berdiri, mengambil mangkuk bersih, dan menyodorkan celemek bergambar ayam kepadaku tanpa bertanya.

“Kita bikin baru,” katanya. “Kamu yang ngaduk. Saya yang lihat.”

Aku memandang celemek itu. Nanti kamu lihat aja, Tih.

“Kita lihat bareng, Bu,” kataku.


Nadine datang jam setengah sebelas dan berhenti di ambang pintu dapur.

“Kalian ngaduk atau ngubur mayat?”

Tepung ada di mana-mana. Di pipi Ratih, di rambutku, di lantai, di ekor kucing tetangga yang entah bagaimana sudah masuk dan duduk di kursi makan dengan wajah menghakimi. Adonan baru sudah didiamkan di dekat kompor, ditutup serbet, dan Ratih memantaunya seperti memantau bayi tidur.

“Jangan berisik,” bisik Ratih. “Raginya lagi kerja.”

Nadine menatapku. Aku mengangkat bahu. “Raginya lagi kerja.”

Ia duduk di ujung meja dan menjadikan dirinya juri, yang dalam praktiknya berarti mengomentari semua hal. Caraku memeras santan terlalu dramatis. Caraku menakar gula tidak presisi. Caraku memotong serai seperti orang yang punya dendam pribadi dengan serai.

“Kamu tahu nggak,” kataku sambil mengelap tangan, “juri biasanya nggak makan gula pasir langsung dari toples.”

Ia berhenti dengan jari di mulut toples gula. Lalu ia menjentikkan sedikit tepung ke arahku. Tepat ke hidung.

Ratih berbalik, melihat hidungku yang putih, dan tertawa sampai harus duduk.

Nadine tidak tertawa sekeras ibunya. Tapi ia menatap ibunya tertawa, dan aku melihat sesuatu di wajahnya. Sesuatu yang lembut dan sedikit sakit, seperti orang yang baru menyadari betapa lama ia tidak melihat pemandangan itu.


Tante Wulan datang jam sebelas lewat seperempat. Empat puluh lima menit lebih awal. Tanpa mengetuk.

“Tih! Aku bawa rendang, sekalian aku mau lihat—” Ia berhenti di ambang dapur dan menatapku: celemek ayam, tepung di hidung, tangan memegang serai. “Lho. Pacarnya udah dipekerjakan?”

“Lagi bantuin bika, Tante,” kataku.

“Bika Ibu Sumi?” Tante Wulan menoleh ke Ratih dengan alis naik tinggi. “Yang dua puluh tahun kamu nggak pernah biarin orang lain pegang?”

Ratih tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sambil memperbaiki serbet di atas adonan.

Tante Wulan menarik kursi dan duduk, tas besarnya di pangkuan, posisi siap menginterogasi. “Jadi, Nak Erga. Kapan ngelamar? Nadine udah dua puluh tujuh, lho. Jangan kelamaan, nanti kayak yang—”

Aku melihat Nadine membeku. Tangannya mencari serbet di meja. Tidak ada serbet di dekatnya. Jarinya meremas ujung taplak.

Aku sudah membuka mulut untuk membuat lelucon soal ragi. Tapi Ratih lebih dulu bicara.

“Wul,” katanya, lembut tapi tanpa ruang untuk dibantah. “Jangan. Biarin mereka.”

Tante Wulan terdiam. Lalu ia mengibaskan tangan, tertawa, dan mengalihkan pembicaraan ke rendangnya. Tapi aku melihat jari Nadine melepaskan taplak. Pelan-pelan. Satu per satu.

Saat Ratih pergi menyiapkan piring, Tante Wulan mencondongkan badan kepadaku dan berbisik cukup keras untuk didengar seluruh dapur, “Ratih udah kayak punya menantu. Kamu hati-hati. Dia kalau sayang sama orang, susah berhentinya.”

Di meja dekat rak piring, Ratih membuka buku tamu bersampul batik dan menulis sesuatu. Aku sempat membacanya dari tempatku berdiri.

Makan siang Wulan — Bapak, Ibu, Nadine, Livia, Wulan, Nak Erga (bantu bika).


Bika itu keluar dari oven jam satu siang, setelah kami makan rendang dan setelah Ratih empat kali berdiri untuk mengintip lalu ditarik duduk lagi oleh Nadine.

Kue itu tidak sempurna. Permukaannya masih agak padat. Bagian atasnya bantat. Tapi ketika Ratih memotongnya dan membuka irisan pertama, ada sesuatu di bagian bawah.

Lubang-lubang kecil. Tiga, empat, lima. Tipis, memanjang, seperti akar.

Ratih menatap irisan itu lama sekali.

“Masih bantat,” kata Tante Wulan dengan mulut penuh.

“Ada lubangnya,” kata Ratih. Suaranya bergetar. “Wul. Ada lubangnya.”

Ia menyentuh sarang kecil itu dengan ujung jari, seperti menyentuh sesuatu yang bisa pecah. Matanya basah, dan ia tertawa, dan air matanya jatuh ke celemek, dan ia tidak menyekanya.

“Dua puluh tahun,” katanya. “Baru kali ini dia jawab.”

Aku tidak berkata apa-apa. Tenggorokanku tidak mengizinkan.

Lalu Ratih menoleh kepadaku. Bukan kepada Nadine. Kepadaku.

“Minggu depan lagi, ya, Nak?” katanya. “Kita cari sampai naik semua.”

Ia tidak berkata Nadine, ajak pacarmu. Ia tidak berkata kalau kalian nggak sibuk. Ia bertanya langsung kepadaku, seperti bertanya kepada orang yang punya hubungan sendiri dengannya.

Dan aku sadar, di dapur yang penuh tepung itu, bahwa aku tidak lagi datang ke rumah ini hanya lewat Nadine. Ada pintu lain. Pintu yang menuju Ratih. Pintu yang menuju Hendra dan bangku kayu di pasar. Pintu yang menuju Livia dan surat penerimaan dari gula.

Artinya, kalau suatu hari aku harus keluar, aku harus keluar lewat banyak pintu sekaligus.

“Iya, Bu,” kataku. “Minggu depan.”


Nadine mengantarku sampai motor. Matahari sudah condong. Kucing tetangga mengikuti kami sampai pagar, masih dengan wajah menghakimi.

Ia berdiri dengan tangan terlipat, menatap aspal.

“Erga.”

“Hm?”

“Minggu depan itu bukan acara,” katanya. “Nggak masuk hitungan. Nggak ada di kontrak.”

“Aku tahu.”

Ia mengangkat wajah. Ada sisa tepung di alisnya, dan aku tidak memberitahunya.

“Kamu beneran mau balik?”