Chapter Nine

Asisten GA Sehari

— Sabrina —

Mas Aris menungguku di parkiran basement jam enam lima puluh pagi.

Dia berdiri di samping motor Pak Darmo, kemeja abu-abu disetrika tajam, buku cokelat di saku, dan di tangannya ada sesuatu yang tidak kuduga.

Buku catatan kedua. Lebih kecil, sampulnya biru muda, masih baru dengan plastik pembungkus yang belum dibuka.

”Pagi, Mbak,” katanya. “Pak Leo bilang Mbak mau observasi. Ini buat Mbak catat. Biar nggak lupa.”

Aku menerima buku itu. Di pojok kanan bawah sampulnya ada stiker harga dari toko alat tulis dekat kosnya. Rp 8.500.

Dia membeli buku untukku. Delapan ribu lima ratus rupiah. Kemarin sore, mungkin sambil pulang, mungkin sambil memikirkan apakah warna biru muda cocok untuk orang yang akan observasi.

Aku pernah menerima tas seharga dua belas juta dari mantan nomor sebelas. Tas itu sekarang di lemari, belum pernah kupakai.

Aku memeluk buku biru muda itu ke dada sebelum aku sadar sedang melakukannya.

”Makasih, Mas.”

”Sama-sama, Mbak.” Lalu matanya turun ke kakiku. Wajahnya berubah sedikit. Khawatir. “Mbak… pakai itu?”

Aku menunduk. Stiletto kulit warna nude, tujuh senti. Sepatu yang membuat kakiku terlihat paling panjang. Aku sengaja memilihnya. Kalau aku akan masuk ke dunianya, aku akan masuk dengan penampilan terbaik.

”Kenapa?”

”Nggak apa-apa, Mbak,” katanya pelan. Lalu dia membuka jok motornya, mengeluarkan sesuatu, dan memasukkannya ke kantong plastik yang dia jinjing. Aku tidak sempat melihat apa.

Dia membuka buku cokelatnya dan membaca halaman hari ini.

”Oke, Mbak. Hari ini ada sembilan.”


1. Galon lantai 7, 8, dan pantry tim kreatif.

Galon ternyata datang dari truk di loading dock belakang gedung, jam tujuh tepat. Enam galon untuk Lumio. Mas Aris memanggul dua sekaligus, satu di setiap bahu.

”Mbak nggak usah angkat,” katanya. “Mbak catat aja.”

”Aku mau coba.”

”Berat, Mbak.”

”Sembilan belas liter,” kataku. “Aku tahu.”

Dia tersenyum kecil.

Aku mencoba mengangkat satu galon. Aku berhasil mengangkatnya setinggi lutut selama empat detik, lalu galon itu jatuh kembali ke lantai dengan bunyi dug yang menggema di seluruh loading dock. Sopir truk galon menoleh. Pak Darmo di pos menoleh. Komisaris, yang sedang tidur di atas tumpukan kardus, membuka satu mata.

”Oke,” kataku. “Aku catat aja.”

Di buku biru muda, aku menulis catatan observasi pertamaku:

07.05 — Sopir truk galon sarapan nasi uduk bungkus sambil berdiri di samping truk. Tidak duduk. 4 menit. Habis.


2. Gudang lantai 7 — laporan ada suara cicit.

Gudang GA di ujung lantai tujuh ternyata jauh lebih besar dari yang kubayangkan. Lemari besi, tumpukan kursi rusak, kardus berisi dekorasi Natal tahun lalu, dan lantai dari pelat besi berlubang-lubang karena di bawahnya ada saluran kabel.

Lantai pelat besi berlubang-lubang.

Dan aku memakai stiletto tujuh senti.

Langkah keempat, hak kiriku masuk ke salah satu lubang dan tersangkut. Aku menarik kaki. Hak itu tidak mau keluar. Aku menarik lebih keras. Kakiku keluar dari sepatu, sepatunya tetap tertancap di lantai seperti pedang di batu dalam legenda.

Aku berdiri di satu kaki, berpegangan ke lemari besi, dengan stoking yang menyentuh lantai gudang yang berdebu.

Lalu, dari balik tumpukan kardus Natal, sesuatu yang kecil dan abu-abu berlari melintasi lantai.

Aku tidak berteriak. Aku tidak pernah berteriak.

Aku melompat.

Aku tidak tahu ke mana aku melompat. Otakku mati. Yang aku tahu, satu detik kemudian aku sudah berada di atas sesuatu yang tinggi dan hangat dan berbau sabun batang, dengan kedua lengan melingkar di leher seseorang dan kedua kaki terangkat dari lantai.

Mas Aris menggendongku.

Bukan karena dia mau. Karena aku melompat ke arahnya dan dia refleks menangkap. Satu lengannya di bawah lututku, satu lagi di punggungku. Wajahku di lehernya.

Tikus itu menghilang di balik lemari besi.

Gudang hening.

”Mbak,” katanya pelan. Suaranya terdengar sangat dekat dengan telingaku. “Itu tikus got, Mbak. Kecil. Sudah lari.”

”Aku tahu,” kataku ke lehernya.

”Mbak mau turun?”

”Belum.”

Dia tidak bertanya lagi. Dia berdiri di tengah gudang dengan aku di gendongannya, dan dia menunggu. Sabar. Seperti menunggu galon penuh diisi.

Aku menghitung dalam hati. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima.

Lima detik. Tatapan lima detik tidak mempan, mungkin pelukan lima detik akan berbeda.

Lalu aku mengangkat wajah dan melihat ekspresinya.

Dia sedang menatap ke arah lemari besi dengan mata menyipit serius. Dia tidak sedang memikirkanku. Dia sedang menghitung berapa lem tikus yang dia butuhkan.

”Oke,” kataku. “Turun.”

Dia menurunkanku pelan, memastikan kakiku yang bersepatu satu menapak di pelat besi yang tidak berlubang. Lalu dia berlutut di depanku.

Dia mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik yang dia bawa dari parkiran tadi.

Sandal jepit. Sandal jepit hitam karet, ukuran laki-laki, dengan tali biru.

”Cadangan, Mbak. Saya selalu simpan di jok.”

Dia meletakkan sandal itu di depan kaki kiriku yang hanya berbalut stoking. Lalu dia mendongak padaku, menunggu.

Aku memasukkan kakiku ke sandal itu. Kebesaran tiga nomor. Tumitku menggantung di belakang.

Dia mencabut stiletto-ku dari lubang lantai dengan satu tarikan dan memberikannya padaku. Lalu dia menunggu lagi. Aku mengerti. Aku melepas stiletto kanan dan memakai sandal kanan.

Aku berdiri di gudang GA dengan rok pensil, blus sutra, dan sandal jepit laki-laki tiga nomor kebesaran.

”Bagus, Mbak,” katanya serius. “Aman.”

Aku menulis di buku biru muda:

08.10 — Tidak ada catatan soal makan. Ada catatan soal tikus. Dan soal leher yang wangi sabun batang. Ini tidak relevan untuk tender. Coret.

Aku tidak mencoretnya.


3. Printer kreatif — tinta bocor.

Printer kreatif adalah mesin yang membenci manusia. Aku sudah tahu itu sejak hari pertamaku di Lumio. Hari ini aku mengetahuinya lebih dalam.

Mas Aris membuka penutup printer. Kartrid tinta hitam retak. Dia mengeluarkannya dengan hati-hati, memegangnya dengan dua jari, dan memberikannya padaku.

”Tolong pegang sebentar, Mbak. Hati-hati, jangan ditekan.”

Aku memegangnya dengan dua jari. Hati-hati. Aku tidak menekannya.

Kartrid itu menekan dirinya sendiri.

Pfft.

Semburan tinta hitam keluar dari retakan, menembak lurus ke blus sutraku. Blus sutra warna ivory. Yang aku beli khusus di Senayan untuk meeting klien.

Anak-anak kreatif di sekitar printer terdiam. Salah satu dari mereka mengambil foto, lalu menyembunyikan HP-nya waktu aku menoleh.

Mas Aris menatap blusku. Wajahnya pucat. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia terlihat panik.

”Mbak. Maaf, Mbak. Ya Allah. Maaf.”

”Bukan salah Mas.”

”Saya yang kasih kartridnya.”

”Kartridnya yang kurang ajar.”

Dia sudah setengah berlari ke gudang. Dua menit kemudian dia kembali membawa kaos. Kaos abu-abu, katun tebal, dengan logo Lumio kecil di dada kiri.

”Kaos inventaris, Mbak. Ukuran S. Satu-satunya yang S.”

Aku berganti di toilet. Kaos itu ternyata pas. Aku mengikat ujungnya di pinggang supaya terlihat sengaja. Rok pensil, kaos inventaris diikat, sandal jepit laki-laki, rambut yang mulai lepek.

Aku menatap cermin. Aku terlihat seperti model iklan yang salah lokasi syuting.

Aku juga terlihat, entah kenapa, lebih senang dari biasanya.


4. Mbak Tari — toples biskuit kelapa.

Kami sedang berjalan ke ruang HR ketika Mbak Tari mencegat di lorong. Matanya langsung membelalak melihat penampilanku.

”Sabrina! Ya ampun, kamu kenapa? Kenapa pakai kaos GA? Kenapa pakai sandal… itu sandal Aris, kan? Itu sandal Aris!”

”Observasi lapangan, Mbak.”

”Observasi apa sampai tukeran sandal?”

”Mbak Tari,” kata Mas Aris, mencoba mengalihkan. “Tadi WA, toplesnya macet lagi?”

”Oh iya! Sama sekalian, Aris, lampu meja saya kedip, terus kursi saya tinggi sebelah, terus…”

Mas Aris mengangguk dan membuka buku cokelat. Dia mencatat semuanya. Toples, lampu, kursi.

Lalu dia mendongak dan berkata pada Mbak Tari, dengan suara yang sangat sopan:

”Bisa, Mbak. Antri, ya. Sekarang saya lagi sama Mbak Sabrina.”

Aku berhenti berjalan.

Mbak Tari berhenti bicara.

Mas Aris tidak menyadari apa-apa. Dia menutup buku cokelatnya dan melanjutkan jalan ke ruang HR untuk mengecek AC, karena itu nomor lima.

Tapi aku masih berdiri di lorong.

Antri, ya. Sekarang saya lagi sama Mbak Sabrina.

Tiga minggu aku berdiri di luar antrean itu. Aku nomor empat setelah dispenser. Aku di belakang Ayu. Aku selalu jadi orang yang disuruh menunggu.

Hari ini, untuk pertama kalinya, aku berdiri di dalam. Di sebelahnya. Dan orang lain yang disuruh menunggu.

Aku tahu ini cuma karena hari ini aku asistennya. Ini cuma urutan tugas. Bukan apa-apa.

Tapi Mbak Tari menatapku dengan mata yang berbinar seperti wartawan infotainment yang baru menemukan berita utama, dan aku tahu, dalam satu jam, kalimat itu sudah beredar di grup Lumio Ceria.

Aku tidak keberatan.


5–7. AC ruang HR, lampu tangga darurat, kursi pijat Pak Leo.

Ini bagian yang membosankan, kata Mas Aris. Ternyata tidak.

Aku belajar bahwa AC ruang HR selalu mati jam sebelas karena Mbak Tari menyalakan pemanas air untuk teh di stopkontak yang sama. Aku belajar bahwa lampu tangga darurat lantai tujuh selalu kedip karena ada tikus yang suka menggigit kabelnya. Mungkin tikus yang sama. Aku belajar bahwa Pak Leo tidak mau kursi pijatnya diperbaiki karena bunyi krek-nya mengingatkannya pada kursi goyang almarhum ayahnya.

”Jangan bilang siapa-siapa, ya, Mbak,” bisik Mas Aris setelah kami keluar dari ruangan Pak Leo. “Itu rahasia beliau.”

”Mas tahu banyak rahasia orang, ya?”

Dia berpikir. “Saya tahu banyak barang rusak, Mbak. Barang rusak itu kadang ada ceritanya.”

Aku menulis kalimat itu di buku biru muda. Bukan untuk tender. Untuk diriku sendiri.


Jeda. Gudang GA. Jam 13.20.

Kursi di gudang GA memang cuma satu. Kursi rusak dari tumpukan kardus Natal yang dia perbaiki sendiri. Dia sedang duduk di sana, mencatat stok bohlam, sementara aku berdiri dengan kaki pegal dan sandal jepit kebesaran.

Aku tidak minta izin.

Aku duduk di pangkuannya. Menyamping, satu tangan melingkar di lehernya, rok pensilku tertarik sedikit ke atas lutut. Wajahku sejengkal dari wajahnya. Wangi sabun batang. Pulpen di tangannya berhenti di tengah kata bohlam.

”Kursinya cuma satu, Mas,” bisikku. “Aku di sini aja, ya.”

Dia tidak bergerak.

Satu detik. Dua. Tiga.

Aku bisa merasakan napasnya berhenti. Bukan melambat. Berhenti. Untuk pertama kalinya sejak galon sembilan belas liter, laki-laki ini lupa bernapas.

Lalu kedua tangannya bergerak. Besar, kapalan, hangat. Memegang pinggangku. Erat.

Jantungku melompat ke tenggorokan.

Dia berdiri sambil mengangkatku, dengan satu gerakan halus seperti memanggul galon, lalu mendudukkanku di atas meja gudang, di antara kardus bohlam dan gulungan lakban. Dia melepas pinggangku. Mundur selangkah.

”Kaki saya kesemutan, Mbak,” katanya ke dinding di belakangku. Tidak ke mataku. “Saya ambilkan kursi. Dari lantai tiga belas.”

Dia keluar.

Lantai tiga belas jaraknya dua menit naik lift barang.

Dia kembali sebelas menit kemudian, membawa kursi plastik biru. Rambut di dahinya basah. Bukan keringat. Air. Seperti orang yang baru membasuh muka di wastafel toilet. Berkali-kali.

Dia meletakkan kursi itu di depan meja, sejauh mungkin dari kursinya sendiri.

”Silakan, Mbak.”

Aku menatap telinganya. Merah sampai ke leher, sampai ke balik kerah kemeja abu-abu yang disetrika tajam.

Aku duduk di kursi biru dan tidak bilang apa-apa. Tapi di buku biru muda, di bawah catatan observasi, aku menulis skor yang belum pernah kutulis.

Aris 7 – Sabrina ½.

Dia lupa napas.

Malamnya, waktu kuceritakan, Nadia, yang dulu menolak memberi setengah poin, kali ini tidak menolak.


8. Bu Darsih — angkat galon warteg.

Jam dua siang, kami turun ke warteg Bu Darsih. Ini jam sepi. Jam makan siang sudah lewat, jam pulang kantor belum datang.

Tapi warteg tidak sepi.

Di meja panjang, ada Pak Darmo yang baru selesai jaga pagi. Ada Mas Ujang dari parkir. Ada dua OB yang shift-nya mulai jam satu. Ada tiga kurir paket yang istirahat di sela-sela pengiriman. Ada seorang cleaning service perempuan dari lantai sebelas yang makan sambil menelepon anaknya.

Dan di hampir setiap piring ada mi instan. Mi goreng atau mi rebus, dengan telur, dengan sayur, dengan nasi di sampingnya.

”Kenapa jam segini rame, Bu?” tanyaku sementara Mas Aris memasang galon baru di dispenser warteg.

”Ini jam makan orang yang nggak bisa makan jam dua belas, Neng,” kata Bu Darsih. “Jam dua belas mereka kerja. Jaga parkir lagi rame, OB lagi bersihin bekas rapat, kurir lagi ngejar paket. Mereka makan jam dua, jam tiga. Kadang jam empat.”

”Kenapa mi instan?”

”Murah, cepat, kenyang. Sama…” Bu Darsih berpikir sebentar. “Sama rasanya kayak di rumah, Neng. Semua orang di rumah pernah makan mi instan. Kalau lagi jauh dari rumah, makan mi instan itu kayak ditelepon ibu.”

Aku menatap meja panjang itu. Orang-orang yang makan di jam yang tidak ada di iklan mana pun. Bukan sendirian. Mereka makan bersama. Tapi bersama-sama di jam yang dunia lupakan.

Aku membuka buku biru muda dan menulis, cepat, dengan tangan yang sedikit gemetar:

14.10 — Bukan “makan sendirian”. “Makan di jam yang dunia lupa.” Jam dua siang, jam sebelas malam, jam tiga pagi. Orang-orang yang kerja waktu orang lain makan. Rasa Nusa = teman di jam yang terlupa. “Jam Berapa Pun, Ada Rasa Nusa”??? Diskusikan dengan tim.

Aku menatap tulisan itu. Jantungku berdebar, kali ini jelas karena alasan profesional. Ini insight. Ini yang tidak dimiliki Kencana Kreatif dan Arunika Partners dengan kantor tiga lantai dan penghargaan Cannes mereka. Mereka tidak pernah duduk di warteg jam dua siang dengan sandal jepit pinjaman.

Aku mendongak. Mas Aris sudah selesai memasang galon, dan sekarang dia duduk di ujung meja panjang dengan sepiring sayur bening dan tempe. Pak Darmo menepuk bahunya. Mas Ujang menyodorkan kerupuk. Kurir paket bercerita soal motornya.

Dia makan di jam yang dunia lupa. Setiap hari.

”Mas,” kataku sambil duduk di sebelahnya. “Makasih.”

”Buat apa, Mbak?”

”Buat… hari ini. Aku dapat ide buat tender.”

Dia tersenyum. Matanya hilang jadi garis. “Bagus, Mbak. Saya nggak ngapa-ngapain, tapi bagus.”

Kamu ngapa-ngapain, pikirku. Kamu ngapa-ngapain terus, setiap hari, dan nggak ada yang nyatet.

Bu Darsih meletakkan sepiring telur balado di depanku tanpa kupesan. Dia mengedipkan sebelah mata.

”Gratis, Neng,” katanya. “Ibu lagi senang.”


9. Komisaris — kasih makan sore.

Hari sudah sore waktu kami kembali ke parkiran. Komisaris menunggu di atas jok motor Pak Darmo dengan wajah bosnya.

Mas Aris memberiku bungkus makanan kucing. “Mbak yang kasih, coba.”

Aku berjongkok di depan Komisaris dengan rok pensil, kaos inventaris, dan sandal jepit. Aku menuangkan makanan ke wadah plastik kecil. Komisaris menatapku, menilai, lalu turun dari jok dengan gerakan lambat penuh wibawa dan mulai makan.

Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak kuduga. Setelah menghabiskan setengah makanannya, dia berjalan ke arahku, menggosokkan kepalanya yang besar ke betisku, dan berbaring di atas sandal jepit pinjaman.

Mas Aris menatap kucing itu. Lalu menatapku.

”Komisaris belum pernah begitu sama orang lain, Mbak,” katanya pelan. “Cuma sama saya.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku mengusap kepala kucing gendut itu, pelan-pelan, sementara matahari sore masuk lewat celah basement dan membuat bulunya yang oranye menyala seperti api kecil.


Waktu aku sudah duduk di mobil, dengan stiletto di kursi penumpang dan sandal jepit masih di kakiku karena dia bilang bawa aja, Mbak, besok dibalikin, dia mengetuk jendela.

Aku menurunkan kaca.

”Mbak capek?”

”Lumayan.”

”Besok jangan ikut lagi, ya, Mbak. Kasihan kakinya. Kerjaan GA itu berat.”

Aku menatapnya. Laki-laki yang hari ini menggendongku dari tikus, memberiku sandal jepit, memberiku kaos inventaris, dan membawaku ke warteg jam dua siang tempat aku menemukan ide terbaik untuk tender paling penting dalam karierku.

”Besok aku ikut lagi,” kataku.

Dia berkedip. “Kenapa, Mbak?”

”Observasinya belum selesai.”

”Oh.” Dia berpikir. “Kalau gitu besok pakai sepatu kets, Mbak. Biar nggak nyangkut.”

”Oke.”

”Sama jangan pakai baju putih. Printer kreatif masih marah.”

”Oke.”

Dia mengangguk puas, menepuk atap mobilku dua kali seperti sopir angkot menepuk pintu, dan berjalan kembali ke motornya.

Aku menyetir pulang dengan sandal jepit laki-laki tiga nomor kebesaran. Kaki kananku menginjak gas, dan setiap kali menginjak, sandal itu berbunyi plek pelan.

Plek. Plek. Plek.

Seperti bunyi batu yang akhirnya jatuh ke dalam sumur.