Chapter Seven

Malam di IGD

— Sabrina —

Telepon itu datang jam sebelas lewat empat puluh, di malam ketiga minggu tender.

Aku sedang berdiri di depan pantry, menunggu air panas dari dispenser untuk teh ketiga malam itu. Mas Aris sedang berlutut di bawah wastafel, mengencangkan pipa yang bocor sejak sore. Kami tidak sengaja berada di ruangan yang sama. Setidaknya, itu versi yang akan kuceritakan ke Nadia besok.

Jaket inventaris masih tergantung di kursiku. Belum kukembalikan. Belum kucuci. Dia belum menanyakannya, dan aku belum mengungkitnya.

HP di saku celananya berdering. Nadanya default, bunyi dering paling standar yang pernah diciptakan manusia.

Dia mengeluarkan HP dengan tangan yang masih kotor kena air pipa, melihat layar, dan wajahnya berubah.

Aku belum pernah melihat wajahnya berubah seperti itu. Selama tiga minggu terakhir, wajahnya hanya punya beberapa mode: tenang, serius, bingung, dan tertawa pelan dengan mata hilang jadi garis. Wajah yang ini baru. Tegang, cepat, tajam.

”Halo, Teh. Iya. Iya, saya ke sana sekarang. Teteh siapkan obat semprotnya, sama kartu BPJS-nya. Dimasnya didudukkan, jangan dibaringkan. Iya, Teh. Sepuluh menit.”

Dia sudah berdiri sebelum telepon ditutup. Dia mengelap tangan ke celana, menyambar kunci motor dari saku, dan melangkah ke pintu.

”Mas, ada apa?”

”Anak Pak Darmo, Mbak. Asmanya kambuh. Pak Darmo lagi jaga di pos, ibunya sendirian di rumah, nggak bisa bawa motor.”

”Rumahnya di mana?”

”Menteng Dalam, Mbak. Masuk gang.”

Aku melihat ke jendela. Hujan. Bukan hujan jenis kedua seperti kemarin, tapi gerimis yang rapat dan dingin.

”Mas mau bawa anak asma naik motor? Di tengah hujan?”

Dia berhenti di pintu. Aku bisa melihat kepalanya bekerja. Rencana A gagal, rencana B belum ada.

Aku tidak berpikir. Itu yang aneh, kalau kuingat lagi sekarang. Aku Sabrina Maharani, orang yang selalu berpikir tiga langkah ke depan sebelum memutuskan sesuatu. Malam itu aku tidak berpikir sama sekali.

Aku sudah meraih kunci mobil dari tasku.

”Pakai mobilku,” kataku. “Aku yang nyetir. Mas tunjukin jalannya.”


Mobilku hatchback putih yang biasanya wangi pengharum vanilla bean. Malam itu, di kursi penumpang, Mas Aris duduk dengan lutut yang hampir menyentuh dashboard, memegang HP dan memandu jalan dengan suara pendek dan cepat.

”Kiri, Mbak. Lampu merah depan langsung kanan. Masuk jalur busway nggak apa-apa, sudah malam.”

”Itu melanggar.”

”Nanti saya yang bayar tilangnya, Mbak.”

Aku masuk jalur busway.

Dia menelepon istri Pak Darmo dua kali dalam perjalanan. Suaranya selalu sama, rendah dan tenang: Sebentar lagi, Teh. Dimasnya disuruh napas pelan. Tiup lilin, Teh, bilang ke Dimas, tiup lilin ulang tahun. Iya, begitu.

Lalu dia menelepon Pak Darmo di pos. Pak Darmo panik di seberang telepon, suaranya pecah, dan dia minta izin ke komandan regu untuk pulang.

”Bapak tetap di pos dulu, Pak,” kata Mas Aris. “Saya bawa Dimas ke RS Tebet, yang dekat. Bapak nyusul pas komandan sudah datang. Jangan ngebut, Pak. Hujan.”

Pak Darmo menangis. Aku mendengarnya dari speaker. Laki-laki lima puluh tahun dengan kumis tebal yang biasanya bercerita soal karburator sambil tertawa, sekarang menangis di telepon.

”Iya, Ris. Iya. Makasih, Ris.”

Aku menyetir sambil menatap jalan dan tidak berani menoleh ke sebelahku.


Gang itu terlalu sempit untuk mobil. Aku berhenti di mulut gang, dan Mas Aris sudah keluar sebelum mesin mati, berlari ke dalam gang tanpa payung.

Dua menit kemudian dia kembali. Seorang anak laki-laki kecil, mungkin enam atau tujuh tahun, digendong di depan dadanya, terbungkus selimut bergambar mobil balap. Di belakangnya seorang perempuan berdaster dengan kerudung yang dipakai terburu-buru, memegang tas kain dan obat semprot.

Mas Aris memasukkan anak itu ke kursi belakang dengan hati-hati, lalu duduk di sebelahnya. Istri Pak Darmo duduk di kursi depan, di sebelahku.

Napas anak itu terdengar dari kursiku. Bunyinya seperti peluit kecil yang rusak. Ngik. Ngik. Setiap tarikan napasnya seperti mendaki tangga yang terlalu tinggi.

Aku menyetir.

Dari kaca spion, aku melihat Mas Aris memangku Dimas, memegangi punggungnya supaya tetap tegak. Dia bicara pelan di telinga anak itu.

”Dimas, kamu ingat Komisaris? Kucing gendut di parkiran kantor Bapak?”

Anak itu mengangguk lemah.

”Tadi pagi Komisaris jatuh dari jok motor Bapak kamu. Tahu kenapa?”

Anak itu menggeleng.

”Soalnya dia ketiduran sambil menguap. Mulutnya kebuka lebar banget, terus badannya miring, terus gedebuk. Jatuh ke ember Pak Ujang.”

Napas ngik-ngik itu tersendat sebentar. Lalu ada bunyi kecil. Bunyi yang bukan peluit rusak.

Tawa. Tawa yang sangat lemah dan pendek, tapi tawa.

”Sekarang tiup lilin, Dimas,” kata Mas Aris. “Tiup pelan-pelan. Kayak tiup lilin umur tujuh. Satu lilin dulu.”

Fuuh.

”Bagus. Lilin kedua.”

Fuuh.

Aku menyetir sambil menggigit bibir. Aku tidak tahu kenapa mataku panas. Aku tidak menangis. Aturan ketiga. Aku tidak pernah menangis karena cowok, dan ini bukan karena cowok, ini karena anak kecil dan selimut mobil balap dan lilin ulang tahun. Itu beda kategori.


IGD rumah sakit di Tebet jam dua belas lewat sepuluh malam ternyata ramai.

Ada seorang bapak yang kakinya terkilir karena jatuh dari motor. Ada seorang ibu yang memegang perutnya. Ada dua anak muda yang salah satunya kepalanya diperban, dan yang satunya terus-menerus minta maaf ke perawat karena katanya ini salah dia.

Dimas langsung dibawa masuk ke ruang tindakan. Perawat memasangkan masker uap ke wajahnya. Istri Pak Darmo ikut masuk. Mas Aris mengurus pendaftaran di meja depan, menulis formulir, menyerahkan kartu BPJS, menjawab pertanyaan perawat dengan jawaban yang lengkap dan rapi. Riwayat alergi, obat terakhir, jam berapa mulai sesak.

Dia tahu semuanya. Dia tahu Dimas alergi debu dan bulu kucing. Dia tahu obat semprotnya diganti dua bulan lalu. Dia tahu Dimas terakhir kambuh minggu lalu.

Aku duduk di kursi plastik ruang tunggu dan memperhatikan.

Laki-laki itu sekarang memakai sandal jepit. Aku baru sadar. Sepatunya pasti tertinggal di gang, atau dia memang sudah melepasnya waktu memperbaiki pipa tadi. Kaos abu-abunya basah di bahu. Rambut cepaknya meneteskan air ke dahi. Di lengan kanannya ada bekas cakaran kecil yang masih merah, mungkin dari Dimas yang panik waktu digendong.

Di kantor, dia orang GA. Kemeja disetrika, buku cokelat di saku, antri ya, Mbak.

Di sini, di bawah lampu neon IGD yang terlalu putih, dia terlihat seperti orang lain. Atau mungkin terlihat seperti dirinya sendiri, dan yang di kantor itu cuma seragamnya.

Dia selesai mengurus formulir dan duduk di kursi sebelahku. Kursinya berderit. Dia mengembuskan napas panjang, pertama kalinya malam itu.

”Dimas nggak apa-apa, Mbak,” katanya. “Kata dokter cepat dibawanya. Diuap dua kali, nanti pulang.”

”Syukurlah.”

”Makasih, Mbak. Kalau naik motor tadi…” Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia menggeleng pelan.

”Mas,” kataku. “Kaki Mas.”

Dia menunduk dan melihat sandal jepitnya. Lalu dia tertawa kecil.

”Oh. Sepatunya di bawah wastafel pantry, Mbak. Tadi saya lepas, biar nggak basah kena air pipa.”

”Mas lari ke gang pakai sandal jepit.”

”Sandal jepit lebih cepat, Mbak.”

”Itu nggak ilmiah.”

”Bapak saya…”

”Bapak Mas belum pernah salah,” potongku. “Aku tahu.”

Dia tersenyum. Matanya menghilang jadi garis.

Aku membuka tas dan mengeluarkan sapu tangan. Sapu tangan katun putih dengan bordir huruf S kecil di pojok, hadiah Mama waktu ulang tahunku yang kesembilan belas. Aku tidak pernah memakainya. Aku selalu membawanya.

Aku menyerahkannya padanya. “Rambutnya. Netes.”

Dia menatap sapu tangan itu. “Nanti kotor, Mbak.”

”Ya udah, kotor.”

Dia menerimanya dan mengelap dahi dan rambutnya pelan-pelan, hati-hati, seperti takut sapu tangannya rusak. Lalu dia melipatnya rapi dan mengembalikannya.

”Pakai aja dulu,” kataku. “Lengan Mas juga. Itu cakaran.”

Dia melihat lengannya, seolah baru tahu ada cakaran di sana. “Oh. Ini Dimas tadi. Dia kaget.”

”Diobati.”

”Nanti, Mbak.”

”Sekarang.”

Aku berdiri, berjalan ke meja perawat, dan minta sedikit antiseptik dan plester. Perawatnya, seorang perempuan muda yang matanya merah karena jaga malam, menatap Mas Aris di kursi tunggu, lalu menatapku, lalu tersenyum kecil dan memberikan semuanya tanpa bertanya.

Aku kembali dan duduk. Aku mengambil lengannya.

Dia diam karena aku memintanya diam. Dia memang selalu melakukan apa yang diminta.

Aku mengusap cakaran itu dengan kapas antiseptik. Dia tidak meringis. Aku menempelkan plester bergambar beruang, satu-satunya plester yang diberikan perawat itu. Plester beruang cokelat dengan pita merah, di lengan laki-laki dua puluh tujuh tahun yang barusan menggendong anak asma menembus gerimis.

Dia menatap plester itu.

”Beruang,” katanya.

”Bonus,” kataku.

Dia tertawa. Tawa pelan, lewat hidung. Persis seperti caraku tertawa. Aku tidak tahu sejak kapan dia tertawa seperti itu. Atau mungkin aku tidak tahu sejak kapan aku memperhatikan.


Jam satu kurang lima belas, Pak Darmo datang.

Dia berlari masuk lewat pintu IGD dengan seragam satpam yang basah, kerahnya terlipat ke dalam, kumisnya meneteskan air. Matanya liar mencari-cari. Lalu dia melihat Mas Aris, dan dia berhenti.

”Ris.”

Mas Aris berdiri. “Dimas nggak apa-apa, Pak. Lagi diuap. Sebentar lagi pulang. Teteh di dalam.”

Pak Darmo tidak menjawab. Dia berjalan cepat, dan dia memeluk Mas Aris. Pelukan bapak-bapak. Keras, kaku, menepuk punggung tiga kali dengan telapak tangan yang lebar.

”Ris,” katanya ke bahu Mas Aris. Suaranya pecah lagi. “Ris. Saya utang sama kamu.”

”Nggak ada utang, Pak. Itu kan sudah di buku. Pakai bintang.”

Pak Darmo melepas pelukannya dan menatap Mas Aris dengan mata merah. Lalu dia menoleh, dan untuk pertama kalinya dia melihatku.

Dia melihatku duduk di kursi tunggu IGD jam satu pagi, dengan rambut berantakan, blus kantor yang kusut, dan sapu tangan putih di pangkuan.

Lalu dia melihat lengan Mas Aris. Plester beruang.

Lalu dia melihatku lagi.

”Mbak Sabrina,” katanya pelan. “Mbak yang nyetir?”

”Iya, Pak.”

Pak Darmo menatapku lama. Lalu dia menundukkan kepala dalam-dalam. Sangat dalam, seperti membungkuk di depan orang yang dihormati.

”Makasih, Mbak. Makasih banyak.”

Aku berdiri dan menggenggam tangannya. Tangannya dingin dan basah. “Nggak apa-apa, Pak. Sana, masuk. Dimas nunggu Bapak.”

Pak Darmo masuk ke ruang tindakan. Dari balik tirai, aku mendengar suara anak kecil yang serak tapi gembira: Bapak! Bapak! Komisaris jatuh ke ember!


Jam dua pagi, kami duduk di warung kopi di seberang rumah sakit.

Warungnya kecil, beratap terpal biru, dengan meja kayu panjang dan bangku tanpa sandaran. Dimas sudah dibawa pulang oleh Pak Darmo naik taksi online yang dipesan Mas Aris. Ibu warung, seorang nenek bersarung, menyeduhkan dua gelas kopi tubruk dan meletakkan sepiring pisang goreng yang tidak kami pesan.

”Biar anget,” katanya.

Kami minum kopi dalam diam. Gerimis sudah berhenti. Jalanan basah dan kosong. Di kejauhan, sebuah ambulans lewat tanpa sirene.

”Mbak,” katanya akhirnya.

”Hm?”

”Makasih tadi.”

”Aku cuma nyetir.”

”Bukan, Mbak.” Dia memutar gelas kopinya pelan di atas meja. “Tadi Mbak langsung ambil kunci mobil. Nggak mikir. Saya lihat.”

Aku menatap kopiku.

”Kebanyakan orang mikir dulu, Mbak. Itu wajar. Hujan, sudah malam, besok kerja, bukan urusan saya. Mbak tadi nggak mikir.” Dia tersenyum kecil. “Itu baik banget, Mbak.”

Itu kedua kalinya dia menyebutku baik. Pertama kali di lift, soal aturanku. Sekarang di sini.

Aku tidak terbiasa dengan kata itu. Orang menyebutku cantik, pintar, berbahaya, menyebalkan, ratu tega, playgirl. Tidak ada yang pernah menyebutku baik dengan suara setulus itu, seolah itu fakta yang dia temukan dan bukan pujian yang dia berikan.

”Aku nggak tahu kenapa aku nggak mikir,” kataku pelan. Itu jujur. Mungkin hal paling jujur yang pernah kukatakan pada laki-laki mana pun.

Dia mengangguk, seolah itu jawaban yang wajar.

Tangannya tergeletak di meja kayu, di samping gelas kopi. Aku meraihnya. Aku membalik telapaknya ke atas dan menelusuri kapalan di pangkal jari-jarinya dengan ibu jariku. Bekas obeng. Bekas galon. Bekas menggendong anak kecil menembus gerimis.

”Tanganmu kasar banget,” kataku.

”Maaf, Mbak.”

”Bukan protes.”

Aku tidak melepasnya. Dia tidak menariknya. Jari-jarinya diam di telapak tanganku, berat dan hangat, dan untuk satu menit penuh kami cuma duduk seperti itu di bawah atap terpal biru, sementara nenek pemilik warung pura-pura sibuk menggoreng pisang.

Lalu dia menarik tangannya pelan, untuk mengambil buku cokelat.

Dia mengeluarkan buku cokelat dari saku celananya. Sampulnya sedikit basah. Dia membukanya, menemukan halaman dengan tulisan Pak Darmo — Dimas asma dan tanda bintang di sampingnya, lalu menarik garis lurus melewatinya. Satu tarikan. Rapi.

Lalu, di baris bawahnya, dia menulis sesuatu. Aku tidak bisa membacanya dari tempatku. Tulisannya pendek. Satu baris.

Dia menutup buku itu dan memasukkannya lagi ke saku.

”Nulis apa, Mas?”

”Catatan, Mbak.”

”Catatan apa?”

Dia berpikir sebentar. “Utang, Mbak.”

”Utang ke siapa?”

Dia tidak menjawab. Dia mengambil pisang goreng dan mematahkannya jadi dua, lalu memberikan setengah yang lebih besar padaku.

Aku menerimanya. Aku tidak bertanya lagi.

Pisang goreng itu masih panas, manis, dan sedikit gosong di pinggirnya. Aku memakannya di bawah atap terpal biru, jam dua pagi, di sebelah laki-laki bersandal jepit dengan plester beruang di lengannya.

Dan di dadaku, sesuatu yang selama tiga minggu terakhir terus tersandung, malam itu tidak tersandung lagi.

Malam itu dia jatuh.

Pelan. Diam-diam. Seperti pisang goreng yang dimasukkan ke minyak panas.

Aku belum tahu itu namanya apa. Atau mungkin aku tahu, dan aku memutuskan pura-pura belum tahu, karena aku Sabrina Maharani dan aku belum pernah kalah, dan kalau aku tahu namanya, aku harus mengakui permainannya sudah berubah.