Chapter Thirteen

Kencan Paling Membosankan

— Sabrina —

Bastian Wirawan sempurna.

Aku menyadarinya di menit kelima, waktu dia menarik kursiku di restoran rooftop di SCBD dan menunggu sampai aku duduk dengan nyaman sebelum dia duduk. Aku menyadarinya lagi di menit kesepuluh, waktu dia memesan wine tanpa melihat daftar harga dan bertanya dulu apakah aku lebih suka merah atau putih. Di menit kelima belas, waktu dia bercerita soal pekerjaannya di bank investasi dengan cara yang tidak membosankan, dan soal kucingnya yang bernama Mochi dengan cara yang menggemaskan.

Tinggi. Bahunya lebar di balik kemeja biru muda yang jatuh pas. Senyumnya rapi. Dia wangi kayu cendana dan uang. Dia tertawa di saat yang tepat. Dia bertanya soal pekerjaanku dan benar-benar mendengarkan jawabannya.

Lima tahun lalu, aku akan memilihnya dalam tiga detik. Aku akan memberinya tiga bulan terbaik dalam hidupnya dan kartu kaktus di hari ke-90.

Malam ini, di menit kedua puluh, aku sudah mengecek HP enam kali.


Semuanya dimulai dari telepon Mama jam tujuh pagi.

”Sayaaang.”

Mama selalu memanjangkan huruf terakhir kalau sedang senang. Sayaaang. Cantiiik. Anak Mama yang paling pinteeer. Kalau sedang sedih, Mama memendekkan semua kata. Sab. Nggak. Udah.

Pagi ini Mama sedang senang.

”Kamu kosong nanti malam, kan? Mama udah atur makan malam buat kamu sama anaknya Tante Rosa. Bastian. Inget nggak? Yang dulu waktu kecil kamu dorong ke kolam renang?”

”Ma, aku sibuk.”

”Sibuk apa? Kerjaan kamu udah menang tender, kan? Mama lihat di LinkedIn kamu. Sekarang waktunya kamu santai. Bastian itu ganteng banget sekarang, Sayang. Kerja di bank investasi. Punya apartemen di Senopati. Kucingnya lucu.”

”Ma…”

”Kamu udah lama nggak cerita soal cowok ke Mama. Biasanya tiap tiga bulan ganti. Ini udah berapa lama? Mama khawatir, Sayang. Kamu nggak sakit, kan?”

Aku tertawa, tapi tawaku tersangkut di tengah.

Tiap tiga bulan ganti.

Aku mengambil kalender meja di samping laptop. Kalender kecil dari bank, yang setiap tahun kudapat gratis dan setiap tahun kupakai untuk menandai tanggal-tanggal penting. Ulang tahun Nadia. Tenggat proposal. Hari ke-90.

Aku membuka halaman bulan lalu. Ada tanda bintang merah kecil di satu tanggal. Hari pertama aku melihat laki-laki memanggul galon sembilan belas liter dan menjawab godaanku dengan angka.

Aku menghitung.

Lalu aku menghitung lagi, karena aku tidak percaya hasil yang pertama.

Hari ini hari ke-90.

Dan aku tidak tahu.

Aku tidak menghitung. Untuk pertama kalinya sejak SMA, aku tidak menghitung. Hari-hari lewat begitu saja di antara tender dan lembur dan warteg dan ruang genset dan klinik hewan, dan aku lupa. Aku lupa ada hitungan.

Suatu hari nanti, kamu bakal ketemu orang yang bikin kamu lupa ngitung hari.

Kevin. Kafe. Hari ke-90 yang lain.

Aku menutup kalender itu cepat-cepat, seperti menutup laci yang isinya membuatku takut.

”Sayang? Halo?”

”Iya, Ma,” kataku. Suaraku keluar lebih tegas dari yang kurencanakan. “Aku mau. Jam berapa?”

Aku harus membuktikan sesuatu. Ke Mama. Ke Nadia. Ke diriku sendiri.

Aturan pertama belum patah. Aku masih Sabrina Maharani. Aku masih bisa duduk di depan laki-laki sempurna, memasang senyum miring, dan membuatnya jatuh dalam satu malam.

Aku cuma perlu kencan dengan orang lain.


Menit ke-23.

Bastian bercerita soal liburannya ke Kyoto musim semi lalu. Bunga sakura, kuil kayu, kereta cepat yang tidak pernah terlambat satu detik pun.

HP-ku bergetar di pangkuan. Aku melirik ke bawah.

Aris GA Lumio: Mbak, Komisaris sudah makan malam. Anaknya juga sudah nyusu semua. Yang belang tiga paling rakus. Saya kasih nama Direktur.

Aku menahan senyum.

Komisaris melahirkan dua minggu lalu, jam satu dini hari, di kardus berisi handuk bersih di gudang GA. Mas Aris meneleponku jam setengah satu dengan suara panik, dan aku menyetir ke kantor dengan piyama dan cardigan. Kami berjongkok di depan kardus selama tiga jam, berbisik seperti orang di perpustakaan, sementara Komisaris melahirkan empat anak kucing kecil yang basah dan buta.

Aku menangis waktu anak keempat lahir. Diam-diam. Aku bilang ke Mas Aris itu karena debu gudang.

Dia memberiku obat tetes mata.

”…dan di Kyoto itu ada satu kafe kecil di pinggir sungai,” kata Bastian. “Kopinya biasa, tapi pemandangannya…”

”Oh ya? Bagus banget pasti,” kataku, mengangkat wajah. Senyum. Mata menyipit. Senjata kupasang dengan sempurna.

Bastian tersenyum balik. Dia tidak menyadari apa-apa.

Di bawah meja, aku mengetik cepat: Direktur?? Yang lain namanya apa?


Menit ke-31.

Makanan pembuka datang. Carpaccio daging sapi dengan minyak zaitun dan keju parut yang diiris tipis seperti kertas.

Aris GA Lumio: Yang hitam Manajer. Yang putih Staf. Yang paling kecil, oranye kayak ibunya, Magang. Soalnya paling kecil dan paling sering ketinggalan pas rebutan susu.

Aku tersedak carpaccio.

Bastian menyodorkan gelas air dengan wajah khawatir. “Kamu nggak apa-apa?”

”Nggak apa-apa,” kataku sambil batuk. “Keju. Keju parutnya… tajam.”

Dia mengangguk penuh pengertian. “Keju parmigiano memang begitu. Umurnya dua puluh empat bulan.”

Aku mengangguk. Aku tidak mendengar apa yang dia katakan setelah itu. Aku sedang membayangkan seekor anak kucing oranye bernama Magang yang ketinggalan rebutan susu.


Menit ke-47.

Restoran rooftop ini terkenal dengan lampu gantungnya. Puluhan bola kaca kecil yang menggantung di atas meja-meja, berisi bohlam kuning yang berkelip seperti kunang-kunang. Sangat romantis. Sangat mahal.

Salah satu bola kaca di atas meja kami berkedip lebih sering dari yang lain. Kedip. Kedip. Kedip-kedip. Diam. Kedip.

Aku menatapnya. Lalu, sebelum aku bisa menghentikan diriku sendiri, aku memotretnya.

Ini rusak nggak, Mas? Kirim.

Balasannya masuk dalam satu menit.

Aris GA Lumio: Kalau kedipnya nggak teratur, kemungkinan fitting-nya longgar, Mbak. Bukan bohlamnya. Bisa juga kabelnya kena panas terus memuai. Kalau di kantor, saya kencangkan pakai obeng kecil. Tapi itu di restoran, Mbak, jangan dipegang ya. Panas.

Lalu satu lagi:

Mbak lagi di restoran? Makan malam yang bagus, Mbak. Semoga enak.

Aku menatap pesan terakhir itu.

Semoga enak. Tidak bertanya aku di mana. Tidak bertanya aku dengan siapa. Tidak cemburu. Tidak penasaran. Dia hanya berharap makananku enak, dengan ketulusan yang sama seperti dia berharap kursi di kantor baru seseorang bagus.

Rasanya seperti jatuh ke kolam air dingin.

Aku sedang di kencan dengan laki-laki sempurna untuk membuktikan bahwa aku tidak peduli pada Mas Aris. Dan Mas Aris sendiri tidak peduli aku sedang di kencan.

”Sabrina?”

Aku mendongak. Bastian sedang menatapku. Senyumnya masih ada, tapi matanya sudah berbeda.

”Maaf,” kataku. “Urusan kantor.”

”Lampunya?” Dia menunjuk bola kaca yang berkedip.

Aku tidak menjawab.


Menit ke-62.

Hidangan utama. Bastian memesan steak, aku memesan ikan salmon yang tidak kumakan.

Aku sudah meletakkan HP terbalik di meja. Aku memutuskan untuk fokus. Aku memasang senyum miring yang sempurna, mencondongkan badan sedikit ke depan, memainkan ujung rambut. Semua senjata.

Bastian bereaksi persis seperti yang seharusnya. Matanya melembut. Suaranya sedikit menurun. Dia mulai bercerita soal hal-hal yang lebih pribadi. Ayahnya yang keras, ibunya yang sabar, mimpinya membuka kafe kecil seperti yang di Kyoto.

Semuanya berjalan sesuai rencana.

Dan aku bosan.

Aku bosan setengah mati.

Bukan karena Bastian membosankan. Bastian menarik, sopan, dan lucu. Dia laki-laki yang di dunia mana pun akan disebut tangkapan besar. Aku bosan karena aku tahu persis apa yang akan dia katakan sebelum dia mengatakannya. Aku tahu persis di menit keberapa dia akan menyentuh tanganku di atas meja. Aku tahu persis dia akan mengantarku ke mobil dan bertanya apakah kami bisa bertemu lagi. Aku tahu persis dia akan mengirim good morning besok jam tujuh pagi.

Semuanya bisa ditebak.

Tidak ada yang menjawab Berat, Mbak. Sembilan belas liter.

Tidak ada yang menghitung oksigen di lift.

Tidak ada yang menunggu lima menit di ruang genset.

Tidak ada yang menamai anak kucing Magang.

HP di meja bergetar. Terbalik, tapi aku merasakan getarannya di kayu meja, seperti seseorang mengetuk pintu.

Tanganku membaliknya sebelum otakku sempat melarang.

Aris GA Lumio: [foto]

Foto kardus di gudang GA. Komisaris berbaring miring dengan empat anak kucing menempel di perutnya. Di pojok foto, sedikit buram, sepasang tangan kapalan sedang menyelipkan handuk kecil di bawah anak kucing oranye yang paling kecil.

Magang sudah dapat giliran, Mbak. Saya pegangin dia biar nggak ketinggalan lagi.

Aku tertawa.

Keras. Di tengah restoran rooftop paling mahal di SCBD, dengan lampu kunang-kunang dan piano di pojok dan pasangan-pasangan yang berbisik. Tawaku keluar lewat hidung, berantakan, sampai aku harus menunduk dan menutup mulut dengan serbet.

Meja-meja di sekitar menoleh.

Aku tidak peduli.

Waktu tawaku akhirnya reda, aku mengangkat wajah dan melihat Bastian.

Dia tidak marah. Dia tersenyum. Tapi senyumnya sekarang senyum orang yang baru saja mengerti sesuatu.

”Itu bukan urusan kantor, ya?” katanya pelan.

Aku membuka mulut untuk berbohong. Senjata paling dasar. Aku sudah melakukannya ratusan kali.

Kebohongannya tidak keluar.

”Bukan,” kataku.

Bastian mengangguk. Dia meletakkan pisau dan garpunya dengan rapi di atas piring, membentuk huruf V terbalik. Tanda sopan bahwa makannya sudah selesai.

”Boleh aku bilang sesuatu?”

”Boleh.”

”Aku udah nemenin banyak orang makan malam,” katanya. “Kerjaanku banyak dinner klien. Aku jago baca orang. Dan selama satu jam ini, kamu senyum ke aku dengan sempurna.” Dia mengangkat gelas wine-nya, memutar isinya pelan. “Tapi kamu cuma ketawa kayak tadi sekali. Ke HP-mu.”

Aku tidak bisa menjawab.

”Siapa pun dia,” kata Bastian, dan dia tersenyum lagi, kali ini senyum yang benar-benar baik, “kuharap dia tahu.”

”Dia nggak tahu,” kataku. Dan begitu kalimat itu keluar, aku sadar betapa benarnya. “Dia nggak tahu apa-apa.”

Bastian tertawa pelan. “Kalau gitu dia orang paling beruntung yang paling bego yang pernah aku dengar.”

Dia membayar tagihan. Dia mengantarku ke lift. Dia tidak bertanya apakah kami bisa bertemu lagi.

Di depan pintu lift, dia cuma bilang: “Salam buat Tante Lidya. Bilang aja aku yang membosankan.”

Pintu lift menutup.


Jam sebelas malam, aku duduk di restoran sushi dua puluh empat jam di Senopati, di depan Nadia yang masih memakai piyama di balik trench coat.

”Lo nelepon gue jam sepuluh malem,” katanya, “nangis, terus nyuruh gue dateng ke sini.”

”Aku nggak nangis.”

”Suara lo nangis.”

”Aturan ketiga. Aku nggak pernah nangis karena cowok.”

”Oke, terus lo nangis karena apa?”

Aku menatap sushi salmon di depanku. “Karena anak kucing namanya Magang.”

Nadia menatapku lama. Lalu dia mengulurkan tangan, mengambil HP-ku di meja, dan membuka galeri. Foto pertama: kardus di gudang GA, Komisaris dan empat anaknya, dan sepasang tangan kapalan.

Dia menatap foto itu. Lalu dia mengembalikan HP-ku dan memanggil pelayan.

”Mas,” katanya. “Tambah salmon sashimi, dua porsi. Unagi, satu. Sama dessert yang paling mahal.”

”Nad, itu mahal.”

”Gue yang bayar.”

Aku berkedip. “Kenapa?”

Nadia mengeluarkan HP-nya sendiri dan membuka kalender. Dia memutarnya ke arahku. Ada satu tanggal yang dilingkari merah. Hari ini. Di bawahnya, tulisan Nadia sendiri: Hari ke-90. Sushi.

”Taruhan kita,” katanya pelan. “Gue bilang lo bakal nyerah sebelum tiga bulan. Hari ke-90, lo bakal pergi kayak biasa.”

Aku menatap tanggal yang dilingkari merah itu.

”Udah lewat jam sebelas, Sab,” kata Nadia. “Satu jam lagi hari ke-91. Lo nggak pergi. Lo malah kabur dari kencan sama bankir ganteng buat ketawa sama foto anak kucing.”

Dia mengangkat cangkir teh hijaunya, seperti mengangkat gelas untuk bersulang.

”Gue kalah. Aturan pertama lo patah.”

Aku tidak mengangkat cangkirku.

Aku cuma duduk di sana, di restoran sushi jam sebelas malam, dengan eyeliner yang sedikit luntur dan gaun kencan yang sekarang terasa terlalu mewah. Dan aku memikirkan semua kartu kaktus yang pernah kuberikan. Dua puluh kartu dalam satu pak. Aku baru sadar, tidak tahu kenapa, bahwa sisanya tinggal tiga.

Sisanya tidak akan terpakai.

HP-ku bergetar sekali lagi.

Aris GA Lumio: Mbak sudah pulang? Jangan lupa matikan lampu, Mbak. Selamat malam.

Aku membaca pesan itu.

Lalu aku membalas, untuk pertama kalinya sejak hari ke-6, dengan sesuatu yang bukan senjata.

Belum, Mas. Masih makan sama Nadia. Makasih udah nemenin aku malam ini.

Centang dua. Biru.

Aris GA Lumio: Saya nggak nemenin, Mbak. Saya di gudang.

Aku tertawa sampai Nadia harus menepuk-nepuk punggungku.

Kamu nemenin, pikirku. Kamu nemenin dari tadi. Kamu cuma nggak tahu.