Chapter Fourteen

Telepon dari Kuningan

— Sabrina —

”Mbak Sabrina,” bisik Ayu. “Boleh saya nanya soal cowok?”

Aku mengangkat kepala dari laptop.

Ayu berdiri di samping mejaku, memeluk notebook kucingnya. Notebook yang sama yang dua bulan lalu “ketinggalan” di kafe Kevin. Pipinya merah. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada yang mendengar.

Di meja sebelah, Nadia berhenti mengetik. Telinganya berubah jadi antena.

”Boleh,” kataku. “Duduk.”

Ayu menarik kursi dan duduk di ujungnya, punggung tegak, seperti murid yang dipanggil ke ruang guru.

”Mbak kan… Mbak kan ahli,” katanya. “Semua orang di kantor bilang Mbak ahli. Mbak Tari bilang Mbak pernah bikin manajer bank batalin rapat direksi.”

”Itu dilebih-lebihkan.” Itu tidak dilebih-lebihkan.

”Jadi saya mau nanya.” Ayu menelan ludah. “Gimana caranya bikin cowok sadar kalau kita suka sama dia?”

Aku membuka mulut untuk menjawab.

Lalu aku menutupnya lagi.

Nadia di meja sebelah menutup mulutnya dengan tangan. Bahunya mulai bergetar.

Gimana caranya bikin cowok sadar kalau kita suka sama dia. Aku sudah tiga bulan mencoba menjawab pertanyaan itu. Aku sudah memakai semua senjata yang kumiliki. Aku sudah membuat catatan strategi, skor, evaluasi. Dan jawabannya, sejauh ini, adalah: aku tidak tahu.

”Cowoknya siapa?” tanyaku, mengulur waktu.

Wajah Ayu berubah dari merah jadi ungu. “M-Mas Kevin.”

Aku sudah tahu. Seluruh grup Korban Senyum Sabrina sudah tahu. Kevin sudah mengirim tiga belas pesan ke grup itu soal “anak magang yang makan dua kue”. Tapi aku pura-pura terkejut, karena itu sopan.

”Oh. Kevin.”

”Mbak kenal?” Ayu menatapku dengan mata besar. “Mas Kevin bilang kalian… kalian pernah…”

”Pernah,” kataku. “Tiga bulan. Udah selesai. Dia orang baik, Yu. Baik banget.”

”Iya, Mbak.” Ayu tersenyum kecil, malu. “Dia baik banget.”

Aku menatap senyum itu. Polos, tulus, tanpa senjata. Senyum yang dulu tidak pernah kumiliki.

”Gini,” kataku pelan. “Kamu jangan pakai trik. Jangan pakai tatapan lima detik, jangan pura-pura kedinginan, jangan chat jam sebelas malam.”

Nadia tersedak kopinya.

”Terus pakai apa, Mbak?”

Aku berpikir. Aku memikirkan semua yang kulakukan selama tiga bulan terakhir. Lalu aku memikirkan semua yang terjadi waktu aku tidak sedang memakai senjata. Lift. Hujan. IGD. Ruang genset. Klinik hewan.

”Kamu dateng aja,” kataku. “Ke kafenya. Pesan kopi. Ngobrol. Kalau dia cerita, dengerin. Kalau ada yang bisa kamu bantu, bantu. Nggak usah mikir dia bakal sadar atau nggak.” Aku berhenti. “Kadang, yang bikin orang jatuh itu bukan pas kita lagi berusaha. Tapi pas kita lupa lagi berusaha.”

Ayu menatapku lama, lalu menulis semuanya di notebook kucingnya. Cepat, rapi, digarisbawahi.

”Makasih, Mbak,” katanya. “Mbak memang ahli.”

Dia pergi dengan langkah ringan.

Nadia menggeser kursinya mendekat.

”Lo barusan ngasih saran yang bertolak belakang sama semua yang lo lakuin tiga bulan ini,” katanya.

”Aku tahu.”

”Dan saran itu bagus.”

”Aku tahu, Nadia.”


Jam dua siang, aku pergi ke lorong lantai delapan untuk mengambil storyboard syuting dari tim kreatif.

Syuting iklan Rasa Nusa dijadwalkan dua minggu lagi di Puncak. Semua orang sibuk. Tim kreatif sibuk, tim produksi sibuk, dan Mas Aris sibuk dua kali lipat karena sekarang dia resmi “dipinjam” klien sebagai koordinator logistik lokasi.

Dia sedang berdiri di puncak tangga lipat di tengah lorong, kedua tangan terangkat ke langit-langit, memegangi panel lampu yang setengah terlepas. Obeng di mulut. Kabel menjuntai dari plafon.

HP di saku kemejanya berdering.

Bukan dering default. Kali ini nada panggilan video, bunyi yang lebih panjang dan lebih bersemangat.

Dia menunduk ke arahku dari atas tangga, obeng masih di mulut.

”Mmh, Mbbak.”

”Apa?”

Dia mengeluarkan obeng dari mulut dengan satu tangan, sementara tangan lain masih menahan panel lampu. “Mbak, tolong ambil HP saya. Di saku. Bilang saya lagi di atas, nanti saya telepon balik.”

Aku menatap saku kemejanya. Di dadanya. Di atas tangga.

Aku naik dua anak tangga. Wajahku sejajar dengan dadanya. Aku tidak langsung mengambil HP itu. Telapak tanganku mendarat di dada kanannya dulu, rata, pelan, lalu merayap ke kiri seperti orang meraba dinding dalam gelap.

”Sakunya yang mana, Mas?” bisikku. “Aku cari pelan-pelan, ya.”

”Kiri, Mbak.” Suaranya sedikit lebih tinggi dari biasa. “Yang Mbak pegang itu… itu bukan saku.”

Di bawah telapak tanganku, ada sesuatu yang berdetak. Tidak seperti jam dinding di lift. Sedikit lebih cepat. Sedikit.

Aku mengambil HP dari saku kirinya. Dia tidak bisa ke mana-mana, karena kedua tangannya sedang menahan panel lampu di plafon. Aku baru sadar itu. Aku baru sadar betapa tidak adilnya situasi ini untuknya.

Empat jam setelah menasihati Ayu untuk tidak memakai trik, aku tidak menyesal sama sekali.

Aku melihat layar.

Ibu 📞 Panggilan video

Ibu. Ibu yang menelepon jam lima lewat tiga menit setiap pagi. Ibu yang bilang kalau suatu hari ada orang yang pengin kamu tolong duluan.

Jariku menekan tombol hijau sebelum aku sempat berpikir.

Layar menyala.

Wajah seorang perempuan muncul. Lima puluhan, kerudung cokelat muda, kacamata bertengger di atas kepala. Pipinya bulat, matanya kecil dan ramah. Di belakangnya ada dinding rumah bercat hijau muda, kalender dari toko bangunan, dan jendela yang memperlihatkan pohon pisang.

”Ris, kamu sudah… “

Dia berhenti. Matanya membesar.

Dia menatapku.

Aku menatapnya.

”Assalamualaikum, Bu,” kataku. Suaraku keluar otomatis, sopan, seperti waktu kecil Mama menyuruhku menyapa tamu.

”Waalaikumsalam,” jawab Ibu, pelan. Lalu dia menarik kacamata dari atas kepala, memakainya, dan mendekatkan wajah ke layar sampai yang terlihat hanya mata dan hidungnya. “Ini siapa?”

”Saya Sabrina, Bu. Rekan kantor Mas Aris.”

”Rekan kantor.”

”Iya, Bu. Mas Arisnya lagi di atas tangga, benerin lampu. Tangannya penuh. Katanya nanti telepon balik.”

Ibu menjauhkan wajah dari layar. Dia menatapku dari atas sampai bawah. Lalu dia menoleh ke belakang, ke arah dalam rumah, dan berteriak dengan suara yang membuat speaker HP pecah.

”TIH! RATIH! SINI! CEPETAN!”

”Bu,” kataku. “Bu, nggak usah…”

Terdengar langkah kaki. Lalu wajah kedua muncul di sebelah Ibu. Perempuan tiga puluhan, kerudung hitam, wajah tegas, alis tebal, persis seperti Mas Aris versi perempuan dan versi galak. Di gendongannya ada balita yang sedang mengunyah biskuit.

”Apa sih, Bu? Raka lagi mau tidur…”

Dia melihatku. Dia berhenti bicara.

”Siapa ini?”

”Rekan kantor Aris,” kata Ibu.

”Rekan kantor,” ulang perempuan itu. Mbak Ratih. Nadanya sama persis seperti nenek di Jalan Casablanca. “Rekan kantor angkat HP Aris.”

”Arisnya lagi di atas tangga, Mbak,” aku menjelaskan lagi. “Tangannya penuh.”

Aku memutar kamera ke atas untuk membuktikan. Di layar, Mas Aris terlihat dari bawah, berdiri di puncak tangga lipat, kedua tangan di plafon, obeng di mulut lagi, kemeja abu-abunya naik sedikit sampai memperlihatkan ikat pinggang.

”ARIS!” teriak Ibu dan Mbak Ratih bersamaan.

Mas Aris menunduk, kaget, dan obengnya jatuh. Aku menangkapnya dengan satu tangan. Refleks yang tidak pernah kumiliki sebelum aku mulai bergaul dengan orang GA.

”Iya, Bu?” katanya dari atas tangga.

”Kamu kok nggak bilang-bilang?”

”Bilang apa, Bu?”

”Ini! Neng geulis ini!”

Mas Aris berkedip. Dia menatap HP di tanganku, lalu menatapku, lalu kembali ke panel lampu. “Itu Mbak Sabrina, Bu. Rekan kantor.”

”Rekan kantor kok kamu kasih HP-mu?”

Mas Aris terdiam sebentar. Lalu dia menjawab dengan suara yang tenang dan polos dan sangat serius.

”Soalnya saya percaya, Bu.”

Hening.

Di layar, Ibu dan Mbak Ratih saling pandang. Balita di gendongan Mbak Ratih berhenti mengunyah biskuit.

Di lorong lantai delapan, aku berdiri memegang HP dan obeng, dan rasanya seperti seseorang baru saja menyalakan semua lampu di dadaku tanpa permisi.

Soalnya saya percaya.


Ibu tidak mau menutup telepon.

Lima belas menit kemudian, Mas Aris masih di atas tangga dengan panel lampu yang ternyata lebih rumit dari dugaan, dan aku duduk di kursi lorong, mengobrol dengan Ibu dan Mbak Ratih lewat panggilan video.

Aku tahu ini salah. Ini HP orang. Ini ibu orang. Aku harusnya bilang permisi, Bu dan mengembalikan HP-nya.

Tapi Ibu terus bertanya, dan aku terus menjawab, dan entah kenapa aku tidak mau berhenti.

”Neng orang mana?”

”Jakarta, Bu. Lahir di sini.”

”Orang tuanya?”

”Mama di Pondok Indah, Bu. Papa…” Aku berhenti sebentar. “Papa sudah lama nggak ada.”

Ibu diam sebentar. Wajahnya melembut. Dia tidak bertanya lebih lanjut. Dia cuma bilang, “Oh. Iya, Neng.”

Lalu dia bertanya hal lain, seolah sengaja membelokkan jalan. “Neng bisa masak?”

”Nggak bisa, Bu,” jawabku jujur. “Paling mi instan.”

Mbak Ratih tertawa keras di belakang. “Sama kayak Aris! Dulu Aris masak nasi aja gosong!”

”Nggak gosong, Mbak,” kata Mas Aris dari atas tangga. “Kerak.”

”KERAK SEPANCI ITU GOSONG, RIS.”

Aku tertawa. Lewat hidung, berantakan. Ibu di layar tersenyum melihatku tertawa, senyum yang membuat matanya hilang jadi garis.

Matanya hilang jadi garis.

Aku tahu dari mana Mas Aris mendapatkan senyum itu.

”Neng,” kata Ibu, dan suaranya jadi lebih pelan. “Si Aris di sana baik-baik saja?”

”Baik, Bu. Baik banget.”

”Makannya teratur?”

”Teratur, Bu. Sayur bening, tempe, kerupuk. Tiap hari.”

Ibu menghela napas. Napas yang terdengar seperti angin di pohon bambu. “Dari kecil itu terus. Dikasih rendang nggak mau, maunya sayur bening. Katanya rendang buat tamu.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku cuma bilang: “Nanti saya ajak dia makan rendang, Bu.”

Ibu menatapku lama lewat layar.

”Iya, Neng,” katanya akhirnya. “Ajak, ya.”

Lalu, tiba-tiba, dengan semangat yang kembali penuh: “Neng, nanti Lebaran ke Kuningan, ya! Ibu masakin rendang, opor, sambal goreng ati! Ratih bikin kue nastar! Bapak petikin cabai dari kebun!”

”Bu…”

”Ibu tunggu, ya, Neng! Ajak si Aris pulang! Dia tiap Lebaran pulangnya sendirian terus, kasihan!”

”BU,” kata Mas Aris dari atas tangga. Untuk pertama kalinya, suaranya sedikit lebih keras dari biasa. “Mbak Sabrina sibuk.”

”Sibuk apa? Lebaran itu libur!”


Akhirnya panel lampu terpasang. Mas Aris turun dari tangga, mengelap tangan ke celana, dan mengulurkan tangan ke arahku.

Aku menyerahkan HP-nya.

Dia mengambilnya dan berjalan beberapa langkah menjauh, ke ujung lorong, dekat jendela. Sopan. Memberi jarak, supaya percakapannya dengan Ibu tidak terdengar.

Tapi dia lupa satu hal. Panggilan video itu masih memakai speaker. Dan lorong lantai delapan sangat sunyi di jam dua siang, karena semua anak kreatif sedang di ruang meeting membahas storyboard.

Aku mendengar semuanya.

”Iya, Bu. Iya. Nanti saya telepon lagi.”

”Ris.” Suara Ibu, pelan. Tidak berteriak lagi. “Ibu mau nanya satu.”

”Iya, Bu.”

”Neng Sabrina itu…”

Hening sebentar.

”Kamu mau nolong dia duluan, Ris?”

Aku membeku di kursi lorong.

Di ujung lorong, punggung Mas Aris tegak. Dia tidak bergerak. Dia tidak langsung menjawab.

Tiga bulan aku mengenalnya. Tiga bulan, dan setiap pertanyaan yang diajukan padanya, dia jawab dalam dua detik. Berat, Mbak. Sembilan belas liter. Saya hitung oksigen dulu. Belum, Mbak. Belum pernah. Jawaban-jawaban yang lurus dan jujur dan tidak pernah ragu.

Kali ini dia diam lima detik.

Lima detik.

Tatapan lima detik tidak pernah mempan padanya. Tapi pertanyaan ini membuatnya diam lima detik.

”Belum tahu, Bu,” katanya akhirnya. Pelan sekali.

Bukan belum. Bukan nggak.

Belum tahu.

”Ya sudah,” kata Ibu. Suaranya terdengar seperti tersenyum. “Nanti juga tahu. Makan, ya, Ris.”

”Iya, Bu. Assalamualaikum.”

Dia menutup telepon. Dia berdiri di depan jendela sebentar, menatap langit Kuningan yang mendung, punggungnya masih tegak.

Lalu dia berbalik, dan aku buru-buru menunduk ke storyboard di pangkuanku, pura-pura sedang membaca. Pura-pura tidak mendengar apa-apa.

”Mbak,” katanya sambil berjalan mendekat. “Maaf soal Ibu saya. Beliau memang suka begitu.”

”Nggak apa-apa,” kataku ke storyboard. “Ibu kamu lucu.”

”Iya, Mbak.”

Dia melipat tangga, mengambil kotak perkakas, dan berdiri sebentar di depanku.

”Mbak,” katanya.

Aku mengangkat wajah.

Dia menatapku. Bukan dengan wajah serius yang biasa. Bukan dengan wajah polos. Wajah yang lain. Wajah orang yang sedang mencari sesuatu di buku petunjuk dan tidak menemukannya.

”Nggak jadi, Mbak,” katanya akhirnya. “Saya ke gudang dulu.”

Dia pergi.

Aku duduk di lorong dengan storyboard di pangkuan. Halaman pertama storyboard itu, aku baru sadar, terbalik. Aku membacanya terbalik sejak tadi.

Belum tahu.

Dua kata. Tanpa emoji. Tanpa tanda seru.

Aku memeluk storyboard itu ke dada, persis seperti aku pernah memeluk buku cokelat di lift yang gelap.


Tiga hari kemudian, sebuah kardus datang ke meja resepsionis Lumio Agency.

Kardus bekas mi instan, dibungkus lakban cokelat dan tali rafia, dengan alamat yang ditulis tangan pakai spidol hitam besar: UNTUK NENG SABRINA, KANTOR SI ARIS, LANTAI 7.

Isinya: dua toples dodol Garut, satu kantong besar rengginang mentah, satu botol sambal cabai rawit dengan label kertas CABE KEBUN BAPAK, PEDES PISAN, HATI-HATI, dan secarik kertas bergaris yang dilipat empat.

Aku membuka kertas itu di mejaku.

Tulisan tangannya miring dan besar, seperti tulisan orang yang lebih sering memegang cangkul daripada pulpen.

Neng Sabrina,
Ini oleh-oleh dari Kuningan. Rengginangnya digoreng dulu ya Neng, minyaknya yang banyak.
Titip Aris. Dia suka lupa makan kalau lagi nolong orang.
Lebaran jangan lupa. Ibu tunggu.
— Ibunya Aris

Aku melipat kertas itu lagi. Pelan-pelan. Rapi, mengikuti lipatan aslinya.

Lalu aku memasukkannya ke dompet, di balik cetakan foto kartu pasien Komisaris yang bertuliskan Pemilik: Aris & Sabrina. Cetakan yang diam-diam kubuat di mesin foto minimarket, seukuran KTP, dua minggu lalu.

Nadia melihatku melakukannya. Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma mengambil sepotong dodol dari toples, mengunyahnya pelan, dan menatap langit-langit kantor seperti orang yang sedang berdoa.