Chapter Thirty One

SOP Pacaran

— Sabrina —

STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP)
PACARAN
Disusun oleh: Aris Nugraha (GA)
Untuk: Sabrina Maharani (Account)
Versi: 1.0 (draf, boleh direvisi oleh pihak kedua)


Aku menemukan dokumen itu di meja warung rawon dekat pabrik Rungkut, jam tujuh malam, enam jam setelah gudang penyimpanan.

Dia menulisnya di buku cokelat. Bukan di halaman antrean, bukan di halaman belakang. Di halaman baru, di tengah buku, dengan judul yang digarisbawahi dua kali. Waktu aku kembali dari wastafel warung, buku itu sudah tergeletak terbuka di depan piringku, dan dia duduk di seberang dengan wajah tegang seperti murid yang menyerahkan tugas akhir.

”Apa ini?”

”SOP, Mbak.”

”SOP?”

”Iya. Saya nggak pernah pacaran. Saya nggak tahu caranya. Jadi saya bikin prosedur.” Dia menggaruk tengkuk. “Di GA, semua yang baru harus ada SOP-nya, Mbak. Biar nggak salah.”

Aku menatap judulnya. SOP Pacaran. Versi 1.0.

Lalu aku mulai membaca.


BAB I. JADWAL KOMUNIKASI

1.1 Telepon pagi: jam 05.03. (Mengikuti standar Ibu. Tiga menit setelah subuh.)
1.2 Isi telepon pagi: sudah bangun? sudah makan? (Pertanyaan “sudah ada calon?” dihapus karena sudah tidak relevan.)
1.3 Chat malam: jam 21.00. Isi: jangan lupa matikan lampu.
1.4 Kalau pihak kedua chat jam 23.00 dengan isi “belum tidur?”, pihak pertama WAJIB membalas dan TIDAK BOLEH bertanya “ada yang rusak?”.

Aku tertawa. Lewat hidung. Pelayan warung menoleh.

”Poin satu empat,” kataku. “Kamu nulis itu sendiri?”

”Iya, Mbak.” Wajahnya merah. “Saya sudah baca ulang chat hari keenam. Saya malu.”


BAB II. ANTREAN

2.1 Pihak kedua TIDAK PERNAH masuk antrean.
2.2 Kalau pihak kedua minta tolong, langsung dikerjakan. Pengecualian: (a) Dimas asma, (b) Komisaris melahirkan lagi, (c) kebakaran.
2.3 Pihak pertama dilarang mengucapkan kalimat “Antri, ya” kepada pihak kedua.
2.4 Kalau tidak sengaja terucap, pihak pertama wajib membelikan oat latte gula setengah sebagai sanksi.

Aku menatap poin dua tiga lama sekali.

”Kalau aku sengaja bikin kamu ngomong antri,” kataku, “biar dapat oat latte?”

Dia berpikir serius.

”Itu celah, Mbak,” katanya. “Nanti saya revisi.”


BAB III. MAKANAN

3.1 Pihak pertama boleh makan rendang. Bukan cuma tamu.
3.2 Pihak pertama TIDAK BOLEH membagi makanan pemberian pihak kedua kepada lebih dari satu orang. (Lihat insiden rendang, halaman 42.)
3.3 Pengecualian 3.2: Pak Darmo, kalau belum makan. Maksimal satu suap.
3.4 Pihak kedua makan babat duluan, kikil terakhir. Jangan diganggu.


BAB IV. SENTUHAN FISIK

Bab empat kosong.

Hanya ada judulnya. Di bawahnya, tulisan kecil dalam kurung:

(Belum tahu. Nanti dibahas bersama. Saya tidak mau salah.)

Aku mengangkat wajah.

Dia sedang menatap mangkuk rawonnya dengan sangat serius, seolah kuah hitamnya menyimpan rahasia alam semesta. Telinganya merah. Merah sekali. Lebih merah dari bungkus Rasa Nusa Level 5 yang sekarang tergeletak di samping piringku, karena aku tidak mau melepasnya sejak gudang.

”Bab empat kosong,” kataku.

”Iya, Mbak.”

”Kenapa?”

”Saya nggak tahu harus nulis apa.” Dia masih menatap rawon. “Tadi di gudang itu, peluk, itu saya nggak rencanain. Itu kejadian aja. Saya nggak tahu boleh atau nggak.”

Aku menatapnya. Laki-laki dua puluh tujuh tahun yang menggendongku dari tikus, menahan bahuku di lift, mengusap saus dari sudut bibirku di pasar malam, dan menyelipkan rambutku ke belakang telinga di rooftop. Semuanya dengan alasan. Semuanya bisa disangkal.

Sekarang tidak ada alasan lagi. Dan dia tidak tahu harus bagaimana.

”Boleh,” kataku.

Dia mengangkat wajah.

”Boleh,” ulangku. “Semuanya boleh. Isi aja bab empatnya pelan-pelan. Nanti kita revisi bareng.”

Dia menatapku lama. Lalu dia mengambil pulpen dan menulis di bawah judul Bab IV, kecil-kecil:

4.1 Boleh. (Kata pihak kedua.)

Lalu dia menutup buku itu cepat-cepat, dan menyuap rawon terlalu banyak, dan tersedak.


BAB V. KETENTUAN PENUTUP

Aku membacanya keesokan harinya, Minggu pagi, di bangku Taman Bungkul.

Dia harus pulang ke Jakarta Minggu sore. Kereta jam empat dari Pasar Turi. Senin dia harus kerja, karena papan tulis di depan ruang GA cuma bilang libur Sabtu dan Minggu, dan Pak Darmo tidak bisa jaga pos sekaligus mengurus printer kreatif.

Aku masih di Surabaya tujuh minggu lagi. Aktivasi Jam Berapa Pun di tiga pabrik, dua kampus, dan lima rumah sakit.

Tujuh minggu.

Kami duduk di bangku taman di bawah pohon trembesi, di antara orang-orang yang lari pagi dan ibu-ibu yang senam. Dia memakai kemeja abu-abu cadangan dari tasnya. Aku memakai kaos dan celana jins, dan rambutku diikat ke belakang dengan karet gelang biasa.

5.1 SOP ini berlaku sejak hari Sabtu, pukul 10.23 WIB, di gudang penyimpanan pabrik Rasa Nusa Rungkut.
5.2 SOP ini tidak memiliki tanggal kedaluwarsa.
5.3 Tidak ada hari ke-90.
5.4 Tidak ada kartu kaktus.
5.5 Kalau pihak kedua ingin pergi duluan, silakan. Pihak pertama akan menyusul. (Lihat: logika keluarga.)

Aku menatap poin lima lima.

Dia tidak menulisnya sebagai ancaman. Dia tidak menulisnya sebagai janji besar. Dia menulisnya seperti menulis prosedur ganti galon. Datar. Teknis. Pasti.

Kalau kamu pergi, aku nyusul. Itu saja.

Aku menutup buku cokelat itu dan memberikannya kembali padanya.

”Disetujui,” kataku. “Versi satu titik nol.”

Dia tersenyum lega. Matanya hilang jadi garis.


Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak ada di SOP mana pun.

Kami sedang berjalan ke parkiran taman. Matahari jam sembilan pagi Surabaya sudah terik, tiga puluh dua derajat, dan aku berkeringat di balik kaos.

Dia berhenti di bawah pohon. Dia menatapku dengan wajah serius.

”Mbak,” katanya. “Aku kedinginan.”

Aku berhenti berjalan.

Aku menatapnya. Keringat di dahinya. Matahari di atas kepala. Termometer digital di gerbang taman yang menunjukkan 32°C.

”Kamu apa?”

”Kedinginan,” ulangnya, dengan wajah yang sangat serius dan telinga yang sangat merah. “Peluk dong. Biar hangat.”

Satu detik.

Dua detik.

Lalu aku tertawa. Aku tertawa sampai harus membungkuk, sampai harus memegang lututku sendiri, sampai seorang bapak yang lari pagi berhenti dan menatap kami dengan khawatir. Tawaku keluar lewat hidung, lewat mulut, lewat mata yang berair.

Itu senjataku. Senjata nomor satu di hari kedua. Mas, aku kedinginan. Yang dia jawab dengan menyetel AC ke dua puluh enam derajat dan mencatat cek freon.

Dia memakainya sekarang. Di bawah matahari Surabaya, tiga puluh dua derajat. Harfiah, kaku, salah tempat, dan sempurna.

”Salah, ya, Mbak?” tanyanya cemas. “Pelajaran berapa itu? Saya lupa.”

”Itu bukan pelajaran,” kataku, masih tertawa. “Itu senjata. Senjataku. Hari kedua.”

”Oh.” Dia berpikir. “Nggak mempan, ya?”

Aku berhenti tertawa.

Aku menatapnya. Laki-laki dengan kemeja abu-abu cadangan dan keringat di dahi, berdiri di bawah pohon trembesi, menunggu jawabanku dengan wajah cemas, seolah dia baru saja menekan tombol yang salah di panel AC.

Aku melangkah ke depannya.

Aku memeluknya.

Di tengah Taman Bungkul, jam sembilan pagi, tiga puluh dua derajat, di depan bapak yang lari pagi dan ibu-ibu yang senam.

”Mempan,” bisikku ke kemejanya. “Mempan banget.”

Lengannya melingkar di punggungku. Ragu-ragu dulu. Lalu erat.

”Mbak,” katanya di atas kepalaku. “Mbak berkeringat.”

”Kamu juga.”

”Ini bukan kedinginan.”

”Aku tahu, Mas.”


LAMPIRAN A. INSIDEN STASIUN PASAR TURI
Dicatat oleh pihak kedua, untuk dokumentasi.

Jam tiga lewat lima puluh lima sore. Peron dua. Kereta ke Jakarta sudah menunggu, pintunya terbuka, kondektur berdiri di depan gerbong dengan peluit di leher.

Dia berdiri di depan pintu gerbong delapan dengan tas selempang di bahu. Dia mau naik. Dia tidak naik.

”Tujuh minggu, Mbak,” katanya.

”Tujuh minggu.”

”Jam lima lewat tiga, aku telepon.”

”Iya.”

”Jam sembilan malam, aku chat.”

”Iya.”

”Jangan lupa makan.”

”Iya, Mas.”

”Jangan lupa matiin lampu.”

”Iya, Mas.” Aku menatapnya. “Kamu masih pakai aku.”

Dia berkedip. “Hm?”

”Dari kemarin. Kamu ngomong aku. Bukan saya.”

Dia diam. Wajahnya berubah merah lagi. Dia sepertinya baru sadar.

”Boleh, Mbak?”

”Boleh.”

”Mbak juga… boleh nggak saya, aku, manggil Mbak tanpa Mbak?”

Aku tertawa. “Boleh.”

Dia membuka mulut. Menutupnya. Membuka lagi. Seperti mencoba sebuah kata yang belum pernah dia ucapkan, kata yang terlalu berat, sembilan belas liter.

”Sabrina,” katanya.

Peluit kondektur berbunyi.

Aku tidak berpikir. Aku tidak pernah berpikir lagi akhir-akhir ini, dan aku mulai menyukainya.

Aku berjinjit. Aku mencium pipinya. Pipi kiri, yang dulu belepotan oli di ruang genset, yang dulu disapu bedak oleh Mbak Cici di Puncak.

Sebentar. Ringan. Satu detik.

Lalu aku mundur.

Dia membeku.

Dia berdiri di depan pintu gerbong delapan dengan tas selempang di bahu, wajah lurus ke depan, mata menatap sesuatu yang tidak ada di udara. Tangannya terkulai di sisi tubuh. Dia tidak bergerak. Dia tidak bernapas, sepertinya.

Lima detik.

Sepuluh detik.

”Mas,” kataku.

Tidak ada jawaban.

Kondektur meniup peluit lagi. “Mas! Naik atau nggak?”

Dua puluh detik.

”Mas Aris.”

Tiga puluh detik.

Kereta mulai berbunyi. Pintu-pintu gerbong mulai menutup satu per satu, dari ujung ke ujung.

”ARIS!”

Empat puluh detik.

Dia berkedip. Dia menatapku. Dia menatap kereta. Dia menatap pintu gerbong delapan yang sudah mulai bergerak menutup.

”Oh,” katanya.

Dia melompat masuk tepat sebelum pintu menutup.

Dari balik kaca pintu gerbong, waktu kereta mulai bergerak, aku melihatnya berdiri dengan tangan menempel di kaca. Wajahnya masih kosong. Lalu, pelan-pelan, wajah itu berubah. Matanya hilang jadi garis. Dia tersenyum lebar, paling lebar yang pernah kulihat, dan pipinya merah sampai ke telinga.

Dia mengangkat tangan dan menyentuh pipi kirinya, di tempat aku menciumnya.

Kereta menjauh. Gerbong delapan mengecil. Lalu hilang di tikungan rel.

Aku berdiri di peron dua dengan bungkus Rasa Nusa Level 5 di tangan, dan aku membuka catatan baru di HP.

Insiden Stasiun Pasar Turi. Durasi membeku: 40 detik. Hampir ketinggalan kereta.

Skor: Sabrina 1 – Aris 0.

Lalu aku menghapus skor itu, karena kami tidak sedang bertanding lagi, dan aku menulis satu kalimat lain di bawahnya.

Senjataku nggak mempan. Dan aku nggak butuh senjata lagi.


Jam sembilan malam tepat, HP-ku bergetar di kamar hotel dekat Juanda.

Aris: Sudah di Cirebon. Kereta lewat Cirebon, Ibu dulu di sini waktu Bapak nyusul pakai sepeda.

Aris: Jangan lupa matiin lampu.

Satu menit kemudian:

Aris: Pipiku masih panas. Ini normal?

Aku memeluk bantal hotel dan tertawa sampai Magang, kalau dia ada di sini, pasti akan protes.

Aku: Normal. Kata SOP, Bab IV, poin 4.1.

Aris: Boleh. (Kata pihak kedua.)

Aris: Oke. Saya, aku, catat.

Aku mematikan lampu.