Chapter Twenty Two
Dia
— Aris —
Aku tahu soal godaan itu sejak hari Kamis, di minggu Mas Mi Instan.
Mbak Tari yang memberitahuku. Bukan dengan sengaja.
Hari itu aku sedang mengganti lampu di ruang HR. Aku sudah mengatur dua puluh tiga AC ke dua puluh enam derajat, memberikan sebelas botol obat tetes mata, dan mengantar tiga rombongan ke warteg dalam empat hari. Aku bilang ke Mbak Tari, sambil berdiri di atas tangga, bahwa musim pancaroba tahun ini aneh sekali. Debunya banyak. Orang-orang gampang kedinginan.
Mbak Tari menatapku dari bawah tangga. Lama. Lalu dia menaruh biskuit kelapanya di meja dan berkata dengan suara pelan, seperti guru yang menjelaskan sesuatu ke murid yang sudah tiga kali tidak naik kelas.
”Ris. Itu bukan pancaroba. Mereka naksir kamu.”
Aku hampir jatuh dari tangga.
”Naksir, Mbak?”
”Naksir. Godain kamu. Flirting, istilahnya. Kedinginan itu kode. Kelilipan itu kode. Minta ditemenin makan itu kode. Mereka semua pengin kamu lihat mereka.”
Aku turun dari tangga pelan-pelan. Aku duduk di kursi tamu ruang HR.
”Semuanya, Mbak?”
”Semuanya.”
Aku diam lama.
Lalu Mbak Tari mengatakan sesuatu yang lain, lebih pelan lagi. Dia tidak menatapku waktu mengatakannya. Dia menatap jendela, seperti tidak yakin apakah boleh.
”Ris. Kamu tahu siapa yang pertama ngelakuin semua itu ke kamu, kan? Jauh sebelum iklan?”
Aku tidak menjawab.
Mbak Tari mengambil biskuit kelapanya lagi dan menggigitnya.
”Ya Allah, Ris,” katanya ke jendela. Lalu dia pergi.
Malam itu aku membuka buku tolong dan membalik halamannya ke belakang.
Jauh ke belakang. Buku yang kesebelas ini sudah terisi sampai halaman delapan puluh. Sepuluh buku sebelumnya sudah penuh, tersimpan di laci paling bawah lemari plastik tiga susun di kamar kos.
Aku berhenti di halaman-halaman dari tiga bulan lalu. Dua minggu pertama.
Kursi bunyi. (Hari pertama. Dia bilang pinggangnya pegal dan butuh sentuhan profesional.)
AC r. meeting kecil. (Dia bilang kedinginan. Dia mendekat ke tangga.)
Mata kelilipan? (Dia menatapku lima detik di lorong.)
Chat malam, mungkin ada yang rusak. (Dia bertanya aku suka cewek kayak gimana. Aku ketiduran.)
Makan sendiri, kasihan. (Dia bilang nggak enak makan sendiri. Aku bawa tujuh orang.)
Kerah saya (?). (Dia merapikan kerahku. Tangannya dingin.)
Aku membaca semuanya. Pelan-pelan. Seperti membaca surat yang dikirim ke alamat yang salah, dan baru sampai ke tanganku tiga bulan kemudian.
Kedinginan. Kelilipan. Makan sendirian. Sentuhan profesional.
Semuanya kode.
Dia yang pertama. Jauh sebelum dua puluh tiga orang dari lantai sembilan sampai lima belas. Jauh sebelum iklan. Di hari pertama, di depan dispenser, dia bilang galonnya berat ya, Mas, kayak perasaanku, dan aku jawab sembilan belas liter.
Lalu aku membalik ke halaman-halaman yang lebih baru, dan wajahku panas sampai ke telinga.
Pangkuan di gudang. Aku tidurnya nggak pakai baju tidur. Telapak tanganku di dadanya, di lampu merah Casablanca. Telapak tangannya di dadaku, di atas tangga. Kerah di tangga darurat, yang nodanya sampai sekarang belum hilang dan tetap kupakai.
Kalau kedinginan dan kelilipan itu kode, yang ini bukan kode lagi. Yang ini teriakan.
Dan aku menjawabnya dengan selimut tebal dan sabun batang.
Aku menutup buku itu.
Aku duduk di pinggir kasur busa di kamar kos tiga kali tiga meter, dan aku merasa seperti orang yang baru sadar dia sudah tiga bulan memakai sandal jepit tertukar kiri-kanan.
Lalu aku merasakan hal lain. Hal yang lebih aneh.
Aku senang.
Aku tidak tahu kenapa. Aku harusnya malu. Aku harusnya merasa bodoh. Tapi di dadaku ada sesuatu yang hangat, seperti teh jahe Bu Darsih, dan sesuatu itu berbisik terus, pelan, berulang-ulang:
Dia yang pertama. Dia yang pertama. Dia yang pertama.
Lalu aku ingat lift.
Malam itu, lampu darurat kuning, Pak Leo mendengkur di speaker. Dia mengangkat tiga jari.
Satu, jangan lebih dari tiga bulan. Dua, aku yang pergi duluan. Tiga, jangan pernah nangis karena cowok.
Dan aku ingat yang orang-orang ceritakan setelah itu. Pelan-pelan, sedikit-sedikit, dari Mbak Tari, dari Bu Darsih, dari Pak Darmo yang mendengar dari OB yang mendengar dari barista kafe seberang. Bahwa dia selalu begitu. Tiga bulan, lalu pergi. Bahwa dia memberikan kartu bergambar kaktus di hari terakhir. Bahwa ada banyak laki-laki di Jakarta yang menyimpan kartu kaktus.
Rasa hangat di dadaku berubah jadi dingin, seperti teh jahe yang ditinggal terlalu lama.
Dia main-main.
Itu yang dia lakukan. Itu aturannya. Dia sendiri yang bilang. Dia tidak pakai perasaan, dia pakai aturan.
Mungkin aku cuma satu lagi. Satu lagi laki-laki yang dia pilih karena kebetulan ada di depan dispenser di hari yang tepat. Mungkin kalau aku dulu menjawab godaannya dengan benar, tiga bulan kemudian aku juga akan dapat kartu kaktus.
Aku mengambil kalender meja dari toko bangunan di Tebet yang kudapat gratis tiap tahun. Aku membuka halaman-halaman sebelumnya. Aku menemukan tanggal hari galon itu, yang kutandai dengan pensil karena hari itu Bapak menelepon soal panen cabai.
Aku menghitung.
Lalu aku menghitung lagi.
Tiga bulan sudah lewat. Lebih. Hampir empat.
Dan dia belum pergi.
Dia malah memakai sepatu kets. Dia malah ikut ke IGD, ke klinik hewan, ke ruang genset. Dia malah antre empat puluh lima menit di bawah matahari untuk membelikanku rendang, dan aku membaginya ke tujuh orang, dan dia tersenyum, dan sekarang aku tahu senyum itu retak di ujung.
Aku tidak tahu apa artinya.
Aku belum tahu.
Aku menceritakan semua ini ke Pak Darmo malam berikutnya, di pos satpam, jam satu pagi, sambil masak mi.
Bukan semuanya. Aku tidak menyebut nama. Aku cuma bilang ada seseorang. Seseorang yang mungkin main-main, mungkin tidak. Seseorang yang aturannya tiga bulan tapi sudah hampir empat bulan dan belum pergi.
Pak Darmo mendengarkan sambil mengaduk mi. Komisaris tidur di jok motornya, empat anaknya tidur di kardus di bawah.
”Ris,” katanya akhirnya. “Kamu suka sama dia?”
Aku tidak menjawab langsung. Aku memikirkannya dengan sungguh-sungguh, karena Pak Darmo bertanya dengan sungguh-sungguh.
”Saya pengin nolong dia duluan, Pak,” kataku.
Pak Darmo berhenti mengaduk.
”Waktu di lobi, waktu motor Mas Kevin mogok. Dia minta AC-nya dicek, dan saya bilang antri. Habis itu saya nggak bisa tidur, Pak. Saya pengin nyoret urutannya. Saya pengin taruh nama dia di atas gerobak mi.” Aku menatap panci yang mengepul. “Saya nggak pernah pengin nyoret urutan, Pak. Sebelas buku. Nggak pernah.”
Pak Darmo diam lama. Lalu dia menuang mi ke dua mangkuk, memecahkan telur di masing-masing, dan memberikan satu padaku.
”Makan dulu, Ris,” katanya. “Jangan nunggu pagi.”
Kami makan dalam diam.
”Terus kenapa nggak kamu bilang?” tanya Pak Darmo setelah mangkuknya setengah kosong.
”Saya nggak tahu caranya, Pak.”
”Bilang aja. Saya suka kamu. Selesai.”
”Dia sudah sering dengar itu, Pak. Dari banyak orang. Orang-orang yang lebih ganteng, lebih kaya, lebih pinter ngomong.” Aku menatap mi di mangkukku. “Kalau saya bilang dengan cara saya, nanti dia kira saya bercanda. Atau dia kira saya cuma satu lagi. Nanti saya dapat kartu kaktus.”
”Terus?”
”Terus saya mau belajar, Pak,” kataku. “Belajar cara yang benar. Cara yang dia ngerti. Biar waktu saya bilang, dia tahu saya serius.”
Pak Darmo menatapku.
”Belajar ke siapa?”
Aku tidak menjawab.
Pak Darmo menatapku lebih lama. Lalu dia meletakkan mangkuknya, menutup wajah dengan kedua tangan, dan mengeluarkan suara yang terdengar seperti tawa dan erangan sekaligus.
”Ya Allah, Ris,” katanya dari balik tangan. “Ya Allah. Kamu mau belajar cara pedekate. Ke dia. Ke orangnya sendiri.”
”Dia yang paling ahli, Pak. Semua orang bilang begitu.”
”Dan dia nggak tahu itu dia.”
”Saya belum boleh bilang, Pak. Saya belum yakin dia main-main atau nggak.”
Pak Darmo menurunkan tangannya. Dia menatapku dengan wajah yang sangat serius, wajah yang dia pakai waktu memeluk aku di IGD.
”Ris,” katanya. “Itu ide paling bodoh yang pernah saya dengar.”
”Iya, Pak.”
”Dan juga paling romantis.”
”Iya, Pak.”
”Saya nggak akan bilang siapa-siapa.”
”Makasih, Pak.”
Sekarang sudah lima pelajaran.
Aku menulis semuanya di buku tolong. Bukan di halaman antrean. Di halaman belakang, yang selama ini kosong.
Halaman itu sebenarnya bukan kosong. Halaman itu sudah ada isinya sejak tiga bulan lalu. Aku tidak pernah menunjukkannya ke siapa pun. Aku tidak pernah mencoret satu baris pun di halaman itu.
Di atasnya ada nama. Di bawahnya ada daftar.
Bukan daftar permintaan tolong. Daftar utang.
Malam IGD — dia nyetir, nggak mikir.
Klinik Komisaris — dia bayar. “Logika keluarga.”
Rendang — dia antre 45 menit. Saya bagi ke 7 orang. (Maaf.)
Lalu, di bawahnya, sekarang ada lima baris baru.
Pel. 1 — tatapan 5 detik. Dia kedip duluan. Tiga kali.
Pel. 2 — 5 hal kecil. Saya nggak perlu mikir.
Pel. 3 — pujian. Dia bilang itu pujian terbaik. (Saya mau bilang lagi.)
Pel. 4 — taruh dia di atas. Bukan karena darurat. Karena dia orangnya.
Pel. 5 — rambut. Telinganya panas. Telinga saya juga.
Aku membaca baris kelima berkali-kali.
Di rooftop, waktu aku menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, aku merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Jantungku berlari. Tidak seperti di lift, waktu dia jatuh ke pelukanku dan jantungku tetap tenang seperti jam dinding. Di rooftop, jantungku berlari seperti motor yang businya baru dikeringkan.
Aku tidak tahu kapan berubahnya. Aku tidak tahu di bab mana dalam hidupku jam dinding itu rusak.
Mungkin di IGD, waktu dia menempelkan plester beruang.
Mungkin di ruang genset, waktu dia menghapus oli dari pipiku dengan sapu tangan putih.
Mungkin di klinik hewan, waktu drh. Laras menulis tanda & di kartu pasien dan dia diam-diam memotretnya dari balik tas. Dia kira aku tidak lihat. Aku lihat.
Atau mungkin dari hari pertama. Dari galonnya berat ya, Mas, kayak perasaanku. Dan aku cuma butuh empat bulan untuk mendengarnya.
Ada hal-hal kecil tentang dia yang kutulis di halaman belakang itu, terpisah dari daftar utang.
Bukan lima. Lebih banyak.
Wangi kue bolu Lebaran. (Vanila. Ibu beli di pasar Kuningan, botol kecil.)
Ketawa lewat hidung kalau beneran. Rapi kalau bohongan.
Takut gelap. Tapi jalan ke tengah ruangan yang paling terang.
Dulu lipstik merah. Sekarang nggak. Saya kangen merahnya, tapi yang sekarang juga bagus. (Jangan bilang.)
Nggak bisa masak. Tapi setrika jaket sendiri. Lipatannya mencong. Jangan dibetulin.
Mamanya sering sedih. Dia nggak suka dibahas. Tapi waktu disuruh telepon, dia telepon.
Kalau mikir, ngetuk dagu pakai pulpen.
Kalau capek, nggak flirting. Kalau nggak flirting, berarti capek. Kasih teh jahe.
Matanya agak sipit kalau senyum. Kalau senyumnya bukan buat orang lain, sipitnya beda.
Aku membaca daftar itu sampai habis. Lalu aku menutup buku tolong dan menaruhnya di saku kemeja yang kugantung di paku, supaya besok tidak lupa.
Di saku itu, buku tolong menempel di dada kemeja. Di tempat yang sama dengan tempatnya setiap hari.
Di tempat yang sama yang dia peluk di lift yang gelap.
Besok pelajaran enam.
Dia bilang pelajaran enam soal mendengarkan. Pelajaran tujuh soal kejutan kecil. Pelajaran delapan soal kencan pertama, dan dia bilang kencan pertama harus dilatih penuh, satu hari, dari pagi sampai malam.
Satu hari penuh. Dengan dia.
Aku tidak tahu apakah aku bisa melewati pelajaran delapan tanpa mengatakan sesuatu.
Tapi aku tidak boleh mengatakan apa-apa dulu. Belum. Ada pelajaran sepuluh, dan dia belum memberitahuku pelajaran sepuluh soal apa. Setiap kali aku bertanya, dia bilang nanti, Mas, itu yang terakhir, yang paling susah.
Aku mau tahu pelajaran sepuluh.
Aku mau lulus semuanya. Semuanya, sampai yang paling susah. Supaya waktu akhirnya aku berdiri di depannya dan mengatakannya, aku mengatakannya dengan cara yang dia tahu. Dengan bahasanya. Dengan semua yang dia ajarkan.
Supaya dia tidak bisa bilang aku main-main.
Supaya dia tidak memberiku kartu kaktus.
Aku mematikan lampu kamar kos.
Di gelap, aku memikirkan lipstik merah yang tidak dia pakai lagi, dan tawa yang lewat hidung, dan wangi kue bolu Lebaran.
Lalu aku memikirkan Ibu di telepon. Kamu mau nolong dia duluan, Ris?
Belum tahu, Bu.
Sekarang aku tahu.
Aku cuma belum tahu caranya bilang.
- 1 Galon Sembilan Belas Liter
- 2 Aris 5 – Sabrina 0
- 3 Ada yang Rusak, Mbak?
- 4 Empat Puluh Menit di Lift
- 5 Tender Rasa Nusa
- 6 Property of Lumio
- 7 Malam di IGD
- 8 Sabrina Belum Pernah Kalah
- 9 Asisten GA Sehari
- 10 Korban Senyum Sabrina
- 11 Listrik Padam Saat Pitching
- 12 Komisaris Masuk Klinik
- 13 Kencan Paling Membosankan
- 14 Telepon dari Kuningan
- 15 Motor Kevin
- 16 Syuting di Puncak
- 17 Mas Mi Instan
- 18 Tanpa Lipstik
- 19 Senjata Diletakkan
- 20 Ajari Aku
- 21 Kurikulum Sepuluh Pelajaran
- 22 Dia reading
- 23 Simulasi Kencan
- 24 Operasi Aliansi
- 25 Di Balik Pintu
- 26 Aturan Kedua
- 27 Pergi Duluan
- 28 Antrean Tanpa Sabrina
- 29 Kereta Malam ke Surabaya
- 30 Kamu Duluan
- 31 SOP Pacaran
- 32 Grup Dibubarkan
- 33 Engsel Pintu Mama
- 34 Kuningan yang Itu
- 35 Ciuman Pertama
- 36 Antrean yang Nggak Pernah Habis
- 37 Epilog: Property of Aris