Chapter Five
Tender Rasa Nusa
— Sabrina —
Gosip di Lumio Agency bergerak lebih cepat daripada lift B.
Jam delapan pagi, aku belum sempat menaruh tas ketika Mbak Tari sudah berdiri di samping mejaku dengan biskuit kelapa di tangan dan mata yang berbinar seperti wartawan infotainment.
”Sabrina,” bisiknya. “Empat puluh menit.”
”Pagi, Mbak Tari.”
”Empat puluh menit, berdua, gelap.” Dia menggigit biskuit. “Pak Darmo bilang waktu pintunya kebuka, muka kamu merah.”
”Lampunya kuning, Mbak. Kuning bikin semua orang kelihatan merah.”
”Pak Darmo pakai senter putih.”
Aku duduk, menyalakan laptop, dan menatap layar dengan konsentrasi seorang ahli bedah. Mbak Tari menunggu. Aku tidak memberinya apa-apa. Akhirnya dia menyerah dan pergi, tapi aku tahu dalam satu jam, versi yang jauh lebih dramatis sudah beredar di grup WhatsApp Lumio Ceria. Mungkin di versi itu kami terjebak tiga jam. Mungkin di versi itu ada adegan napas buatan.
Aku memejamkan mata sebentar. Jangan pikirkan napas buatan.
”Sab.” Nadia menggeser kursinya mendekat. “Gue udah denger dari tiga orang. Versi yang paling seru, Mas Aris gendong lo keluar dari lift kayak di film India.”
”Aku manjat sendiri.”
”Tapi ada yang dipeluk?”
Aku diam.
Nadia menyipitkan mata. “Ada yang dipeluk.”
”Liftnya guncang. Itu kecelakaan fisika.”
”Terus dia ngapain?”
”Dia nanya kepalaku kebentur atau nggak.”
Nadia menunggu kelanjutannya. Seperti aku menunggu kelanjutan dari sembilan belas liter dua minggu lalu.
”Terus udah,” kataku. “Dia balik duduk. Jaga jarak satu lengan. Kayak nggak terjadi apa-apa.”
Nadia bersandar ke kursinya, menatap langit-langit, dan mengembuskan napas panjang.
”Gue mulai kasihan sama lo,” katanya.
”Aku nggak butuh dikasihani.”
”Bukan kasihan karena lo kalah. Kasihan karena lo kelihatannya nggak keberatan kalah.”
Sebelum aku sempat membalas, pintu ruang Pak Leo terbuka dengan bunyi yang terlalu keras untuk jam delapan pagi.
Pak Leo Santoso berdiri di ambang pintu dengan celana linen baru berwarna khaki, kemeja hitam, dan wajah orang yang semalam baru saja bertemu kematian di lift A lalu memutuskan hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan rapat biasa.
”Semua,” katanya. “Ruang meeting besar. Lima menit. Bawa otak.”
Lima menit kemudian, dua puluh tiga orang memenuhi ruang meeting besar. Tim akun, tim kreatif, tim media, tim strategi. Pak Leo berdiri di depan layar dengan clicker di tangan.
Di layar muncul logo. Huruf merah tebal di atas latar kuning, dengan gambar mangkuk mengepul.
RASA NUSA.
Semua orang di ruangan mengenal logo itu. Mi instan nomor dua di Indonesia. Nomor satu terlalu jauh untuk dikejar, tapi nomor dua punya pabrik di lima kota, iklan di setiap stasiun TV, dan anggaran pemasaran yang bisa menghidupi Lumio selama tiga tahun.
”Rasa Nusa,” kata Pak Leo, “membuka tender untuk kampanye nasional tahun depan. Satu tahun penuh. TV, digital, activation, peluncuran varian baru. Tiga agensi diundang. Kita salah satunya.”
Ruangan berdengung.
”Dua agensi lainnya,” lanjut Pak Leo, “adalah Kencana Kreatif dan Arunika Partners.”
Dengungannya berubah jadi erangan. Kencana Kreatif punya kantor tiga lantai dan pernah menang penghargaan di Cannes. Arunika Partners didukung jaringan agensi internasional dan punya tim yang lebih besar dari seluruh karyawan Lumio digabung.
”Kita yang paling kecil,” kata Pak Leo. Dia meletakkan clicker, berjalan ke ujung meja, dan menatap kami satu per satu. Untuk sekali ini, tidak ada drama di wajahnya. Hanya kelelahan dan sesuatu yang mirip takut. “Saya akan jujur. Tahun ini Lumio kehilangan dua klien besar. Kalau kita tidak menang tender ini, saya harus melepas lantai delapan.”
Hening.
Lantai delapan. Bean bag, papan ide, dapur kecil tempat anak-anak kreatif membuat mi rebus jam dua pagi. Separuh nyawa kantor ini.
”Pitching dalam tiga minggu,” kata Pak Leo. “Kick-off dengan tim Rasa Nusa jam sepuluh hari ini. Di sini. Brand manager mereka datang langsung.”
Lalu dia menoleh ke arahku.
”Sabrina. Kamu pimpin.”
Dua puluh dua kepala menoleh padaku.
Aku sudah memimpin pitching sebelumnya. Klien skincare, klien perbankan kecil, klien properti di Bekasi. Tapi belum pernah yang sebesar ini. Belum pernah yang menentukan apakah besok anak-anak kreatif masih punya tempat untuk tidur siang.
Aku berdiri. Aku merapikan blazer.
”Siap, Pak.”
Suaraku tidak bergetar. Aku sudah berlatih sejak umur sembilan untuk membuat suaraku tidak bergetar.
Ada satu hal lagi yang Pak Leo umumkan sebelum rapat bubar.
”Oh, dan ini Ayu. Anak magang baru. Mulai hari ini di tim akun. Sabrina, kamu mentornya.”
Dari kursi paling pojok, seorang perempuan muda berdiri dengan gugup. Rambutnya dikuncir kuda, kemejanya kebesaran sedikit di bahu, dan dia memeluk notebook bergambar kucing seperti tameng.
”S-selamat pagi. Saya Ayu Lestari. Dari Jogja. Semester tujuh. Saya… saya senang di sini.”
Dia membungkuk sedikit terlalu dalam. Kuncirnya jatuh ke depan wajahnya.
Beberapa orang tertawa pelan, tapi ramah. Ayu tersenyum malu dan duduk lagi, menutupi wajah dengan notebook kucingnya.
Aku memperhatikan dia sebentar. Polos. Matanya besar dan jujur. Wajah tanpa riasan berlebihan, hanya bedak tipis dan lip balm bening.
Wajah yang tidak membawa senjata.
Jam sembilan empat puluh lima, ruang meeting besar sudah siap. Air mineral di setiap kursi, slide presentasi pembuka di layar, kopi dan kue dari toko roti di lantai dasar. Aku mengecek semuanya dua kali. Ayu mengikutiku ke mana-mana dengan notebook kucingnya, mencatat semua yang kulakukan, termasuk saat aku membetulkan posisi botol air supaya labelnya menghadap ke depan.
”Kenapa labelnya harus ke depan, Mbak?” tanyanya.
”Karena klien suka merasa diperhatikan sampai hal terkecil.”
Dia mencatat itu dengan serius. Label botol menghadap depan = klien merasa diperhatikan.
Jam sembilan lima puluh lima, aku menyalakan proyektor untuk tes terakhir.
Proyektor tidak menyala.
Aku menekan tombol power lagi. Lampu indikatornya berkedip merah. Sekali, dua kali. Lalu mati.
Aku menekan lagi. Merah. Mati.
”Mbak?” Ayu menatapku. “Itu… nggak apa-apa?”
”Nggak apa-apa,” kataku, sambil menekan tombol power untuk keempat kalinya dengan sedikit lebih keras dari yang diperlukan.
Lima menit lagi tamu datang. Seluruh presentasi pembuka ada di proyektor itu. Brand manager Rasa Nusa, yang menurut gosip industri adalah orang paling kaku di dunia periklanan, akan masuk ke ruangan dan melihat layar putih kosong.
Aku mengambil HP.
Jariku sudah menemukan nama itu sebelum aku sempat memikirkannya. Aris GA Lumio.
Mas, proyektor r. meeting besar mati. Tamu datang 5 menit lagi. Tolong.
Centang dua. Langsung biru.
Otw, Mbak.
Dua menit kemudian, pintu ruang meeting terbuka. Mas Aris masuk dengan proyektor cadangan di satu tangan, gulungan kabel HDMI di bahu, dan kotak perkakas di tangan yang lain. Napasnya agak cepat. Dia pasti lari dari gudang di lantai tujuh ujung.
Dia tidak bertanya apa-apa. Dia meletakkan proyektor cadangan di meja, mencabut kabel dari proyektor yang mati, menyambungkannya ke yang baru, menyalakan, mengatur fokus, dan meluruskan posisinya supaya gambar jatuh tepat di tengah layar.
Empat puluh detik.
Logo Rasa Nusa muncul di layar, tajam dan terang.
”Proyektor yang lama lampunya habis, Mbak,” katanya sambil menggulung kabel bekas. “Nanti saya ganti. Yang ini aman sampai rapat selesai.”
Aku menatap layar. Lalu menatapnya.
Pintu ruang meeting terbuka lagi.
Pak Hendarto, brand manager Rasa Nusa, ternyata jauh lebih kaku dari gosip.
Umurnya mungkin lima puluhan. Kemejanya putih bersih, dikancingkan sampai leher, tanpa dasi. Kacamatanya berbingkai tipis. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, seperti layar laptop yang sedang sleep mode. Dia datang bersama dua stafnya yang lebih muda, yang berjalan setengah langkah di belakangnya seperti ajudan.
Dia menyalami Pak Leo. Menyalami aku. Menyalami Nadia. Lalu matanya jatuh ke Mas Aris, yang sedang menggulung kabel di pojok ruangan.
”Itu siapa?” tanya Pak Hendarto.
”Oh, itu Aris, Pak. GA kami,” jawab Pak Leo.
Pak Hendarto menatap Mas Aris beberapa detik. Lalu menatap proyektor cadangan yang masih hangat. Lalu menatap proyektor lama yang tergeletak di meja samping dengan kabel tercabut.
Dia tidak berkata apa-apa. Tapi dia mengangguk sekali, kecil sekali, ke arah Mas Aris.
Mas Aris mengangguk balik, sopan, lalu keluar dengan kotak perkakasnya.
Rapat dimulai.
Aku sudah melakukan ini ratusan kali. Berdiri di depan layar, membaca ruangan, menyesuaikan nada. Tapi kali ini aku harus membaca orang yang wajahnya tidak bisa dibaca.
Jadi aku berhenti mencoba membacanya. Aku hanya bicara.
Aku bicara soal Rasa Nusa yang selama sepuluh tahun dipasarkan sebagai mi instan “untuk keluarga”, padahal datanya menunjukkan pembeli terbesarnya adalah anak kos, pekerja lembur, dan orang-orang yang makan sendiri jam sebelas malam. Aku bicara soal semangkuk mi di kamar kos sempit yang tidak pernah ada di iklan mana pun. Aku bicara soal betapa mi instan bukan makanan pesta. Dia adalah makanan orang yang sedang berjuang sendirian.
”Kita tidak perlu menjual kehangatan keluarga besar,” kataku. “Kita perlu bilang ke orang-orang yang makan sendirian bahwa mereka tidak sendirian.”
Aku tidak tahu dari mana kalimat itu datang. Aku tidak menulisnya di slide. Aku hanya teringat warteg Bu Darsih, meja panjang dengan delapan orang, dan seorang laki-laki yang bilang makan sendiri memang nggak enak, Mbak.
Ruangan sunyi.
Pak Hendarto melepas kacamatanya, mengelapnya dengan sapu tangan, lalu memakainya lagi. Kata stafnya kemudian, itu kebiasaannya kalau sedang tertarik.
”Menarik,” katanya. Satu kata. Datar. Tapi stafnya saling lirik dengan wajah kaget, seperti baru melihat atasan mereka tersenyum lebar.
Rapat selesai empat puluh menit kemudian. Pak Hendarto memberikan brief resmi, data riset konsumen, dan tiga kardus sampel produk varian baru yang belum diluncurkan. Rasa Nusa Rendang Pedas Level 5. Bungkusnya merah menyala dengan gambar cabai yang tampak marah.
Sebelum pulang, dia berhenti di pintu dan berkata pada Pak Leo, “Orang GA Anda. Cepat.”
Lalu dia pergi.
Pak Leo menatap pintu yang menutup, lalu menatapku, lalu memelukku dengan kedua tangan sambil melompat kecil.
”Dia bilang menarik! Hendarto bilang menarik! Lima tahun saya dengar soal orang itu, belum pernah ada yang bikin dia bilang menarik!”
”Pak, sesak.”
”Kamu jenius, Sabrina! Kamu dan kalimat makan sendirian itu! Kamu jenius!”
Di belakang Pak Leo, Nadia mengacungkan dua jempol. Ayu bertepuk tangan kecil sambil memeluk notebook kucing.
Aku tersenyum. Tapi mataku mencari ke arah pintu.
Aku menemukannya di gudang GA di ujung lantai tujuh, sedang membongkar proyektor yang mati dengan obeng kecil.
”Mas Aris.”
Dia mendongak. “Mbak. Rapatnya lancar?”
”Lancar.” Aku bersandar di kusen pintu, melipat tangan di dada, dan memasang senyum miring. Senjata kembali ke tempatnya. Kemarin di lift aku lupa memakainya. Hari ini aku tidak akan lupa. “Mas tahu nggak, Mas tuh pahlawanku hari ini.”
Dia berpikir sebentar.
”Proyektornya yang pahlawan, Mbak. Saya cuma bawa.”
”Mas yang lari dari gudang.”
”Gudangnya dekat, Mbak.”
”Empat puluh detik, Mas. Aku hitung.”
”Kabelnya yang cepat, Mbak. HDMI sekarang bagus-bagus.”
Aku menyerah, tertawa, dan menggeleng.
Lalu aku mengulurkan sesuatu yang dari tadi kusembunyikan di balik punggung. Sebungkus Rasa Nusa Rendang Pedas Level 5, varian rahasia yang belum diluncurkan ke publik.
”Buat Mas. Sampel klien. Belum dijual di mana-mana. Mas yang pertama nyobain.”
Mas Aris menerima bungkus mi itu dengan dua tangan, seperti menerima sesuatu yang berharga. Dia membaca tulisan di bungkusnya dengan teliti. Level 5. Gambar cabai yang marah.
”Makasih, Mbak,” katanya. “Saya simpan, ya.”
”Kok disimpan? Dimakan, Mas.”
”Buat kalau ada yang lembur, Mbak. Biasanya ada yang lembur terus lapar, warung sudah tutup.” Dia membuka laci meja gudang, dan aku melihat isinya: dua bungkus roti, tiga sachet kopi, satu botol obat maag, plester, dan sekarang sebungkus Rasa Nusa Rendang Pedas Level 5. Laci darurat untuk orang lain.
Aku menatap laci itu, dan sesuatu di dadaku tersandung lagi. Persis seperti di hari kerah kemeja.
”Mas Aris!”
Suara itu datang dari belakangku. Ayu, setengah berlari di lorong dengan notebook kucing di dada dan wajah panik.
”Mas Aris, maaf, saya Ayu, anak magang baru. Saya mau nanya, toilet perempuan di mana, ya? Terus saya belum dapat ID card, terus laptop saya nggak bisa konek wifi, terus kursi saya rendah banget, saya kayak duduk di lantai, terus…”
”Pelan-pelan, Mbak Ayu,” kata Mas Aris lembut. Dia meletakkan obeng, mengambil buku cokelat dari saku, dan membuka halaman baru. “Satu-satu, ya. Toilet di ujung lorong kanan, pintu kedua. ID card saya urus ke HR siang ini. Wifi saya bantu sekarang. Kursi saya naikkan sekarang juga.”
Dia menulis semuanya. Satu, dua, tiga, empat.
Lalu dia menoleh padaku, karena tadi aku belum selesai bicara.
”Mbak Sabrina ada perlu lagi?”
Sebenarnya aku punya. Aku mau minta dia mengecek AC mejaku lagi. Bukan karena AC-nya rusak. Karena aku mau dia mampir ke mejaku setelah rapat sukses, supaya aku bisa melihat dia tersenyum waktu aku cerita Pak Hendarto bilang orang GA Anda cepat.
Tapi Ayu berdiri di sana dengan mata besar yang panik dan kursi yang terlalu rendah.
”AC mejaku,” kataku. “Agak dingin.”
Mas Aris mengangguk dan menulis.
”Bisa, Mbak. Antri, ya. Mbak Ayu duluan, soalnya hari pertama. Kasihan.”
Lalu dia berjalan pergi bersama Ayu, menjelaskan letak pantry dan dispenser dan warteg Bu Darsih, sementara Ayu mencatat semuanya di notebook kucing dan mengangguk-angguk dengan wajah lega.
Wajah lega. Seperti orang yang habis minum air dingin di siang hari.
Aku berdiri sendirian di depan gudang GA.
Antri.
Aku sudah diantrekan sejak hari pertama. Aku nomor empat setelah dispenser. Aku nomor sekian setelah printer. Aku sudah biasa. Itu lelucon. Itu bagian dari permainan.
Tapi barusan, untuk pertama kalinya, aku diantrekan di belakang orang.
Di belakang perempuan.
Dan rasanya ternyata tidak lucu.
Malam itu Pak Leo mengirim pesan ke grup tim tender.
Tiga minggu. Kita lawan dua raksasa. Kalau kalah, lantai 8 dijual. Tapi hari ini Hendarto bilang MENARIK. Kita bisa. Saya percaya. Tidur yang cukup. Jangan pakai lift B.
Aku membaca pesan itu di kasur, lalu membuka grup lain. Bukan grup. Satu chat pribadi yang belum kubuka sejak tadi siang.
Aris GA Lumio.
Pesan terakhirnya jam lima sore: AC meja 17 sudah saya setel ulang, Mbak. Maaf tadi lama. Selamat ya Mbak, Pak Leo cerita rapatnya bagus. Mbak hebat.
Mbak hebat.
Dua kata. Tanpa emoji. Tanpa tanda seru.
Aku membaca dua kata itu lima kali. Lalu aku mematikan HP, menaruhnya di dada, dan menatap langit-langit kamar yang gelap.
Dalam tiga minggu, aku harus mengalahkan dua agensi raksasa.
Dalam tiga minggu, aku harus membuat laki-laki itu melihatku.
Aku tidak yakin mana yang lebih sulit.
- 1 Galon Sembilan Belas Liter
- 2 Aris 5 – Sabrina 0
- 3 Ada yang Rusak, Mbak?
- 4 Empat Puluh Menit di Lift
- 5 Tender Rasa Nusa reading
- 6 Property of Lumio
- 7 Malam di IGD
- 8 Sabrina Belum Pernah Kalah
- 9 Asisten GA Sehari
- 10 Korban Senyum Sabrina
- 11 Listrik Padam Saat Pitching
- 12 Komisaris Masuk Klinik
- 13 Kencan Paling Membosankan
- 14 Telepon dari Kuningan
- 15 Motor Kevin
- 16 Syuting di Puncak
- 17 Mas Mi Instan
- 18 Tanpa Lipstik
- 19 Senjata Diletakkan
- 20 Ajari Aku
- 21 Kurikulum Sepuluh Pelajaran
- 22 Dia
- 23 Simulasi Kencan
- 24 Operasi Aliansi
- 25 Di Balik Pintu
- 26 Aturan Kedua
- 27 Pergi Duluan
- 28 Antrean Tanpa Sabrina
- 29 Kereta Malam ke Surabaya
- 30 Kamu Duluan
- 31 SOP Pacaran
- 32 Grup Dibubarkan
- 33 Engsel Pintu Mama
- 34 Kuningan yang Itu
- 35 Ciuman Pertama
- 36 Antrean yang Nggak Pernah Habis
- 37 Epilog: Property of Aris