Chapter Twenty Six
Aturan Kedua
— Sabrina —
Pak Leo mengumumkannya hari Kamis, jam sembilan pagi, di ruang meeting besar.
”Rasa Nusa mau luncurkan Rendang Pedas Level 5 di Surabaya,” katanya. “Di pabrik pertama mereka, di Rungkut. Peluncuran besar, sekalian aktivasi Jam Berapa Pun buat pekerja shift. Hendarto minta satu orang dari kita ditempatkan di sana. Dua bulan. Pegang semua dari lokasi.”
Dua puluh tiga kepala saling menoleh.
Dua bulan di Surabaya. Jauh dari keluarga, jauh dari bean bag di lantai delapan, jauh dari warteg Bu Darsih. Tidak ada yang mengangkat tangan. Reza pura-pura sibuk dengan laptopnya. Nadia menatap meja.
”Saya tahu ini berat,” lanjut Pak Leo. “Kalau nggak ada yang mau, saya tunjuk…”
”Saya.”
Semua kepala menoleh lagi. Ke arahku.
Aku tidak sadar tanganku sudah terangkat. Sama seperti malam IGD, waktu tanganku meraih kunci mobil. Sama seperti Rabu malam, waktu kakiku membawaku ke ruang GA. Tubuhku bergerak duluan, otakku menyusul belakangan.
Bedanya, malam-malam itu tubuhku bergerak menuju sesuatu.
Pagi ini tubuhku bergerak menjauh.
”Sabrina?” Pak Leo menatapku dengan mata berbinar. “Kamu yakin? Dua bulan, lho.”
”Yakin, Pak. Saya yang pegang akun ini dari awal. Saya yang paling ngerti.”
”Ya Tuhan, Sabrina, kamu selalu menyelamatkan saya.” Pak Leo menepuk dadanya. “Berangkat Senin. Tiket saya urus hari ini.”
Senin. Empat hari lagi.
Aku menurunkan tangan. Aku menatap meja. Di sebelahku, Nadia tidak bergerak sama sekali. Aku bisa merasakan matanya menembus pipiku seperti laser.
Di pojok ruangan, di dekat pintu, Mas Aris sedang memegang kabel HDMI cadangan. Dia dipanggil ke rapat karena proyektor utama berkedip lagi.
Aku tidak menoleh ke arahnya.
Tapi dari sudut mata, aku melihat kabel HDMI itu jatuh dari tangannya ke lantai karpet tanpa bunyi.
”Lo kabur,” kata Nadia.
Kami di toilet perempuan lantai tujuh. Nadia mengunci pintu luar. Dia bersandar ke wastafel dengan tangan terlipat di dada.
”Aku nggak kabur. Ini kerjaan.”
”Lo kabur, Sab. Lo selalu kabur. Hari ke-90 itu kabur. Kartu kaktus itu kabur. Tiga aturan lo itu kabur yang dikasih nama keren.”
Aku menatap cermin. Wajahku pucat lagi, padahal aku memakai lipstik nude. Lipstik itu sekarang tidak cukup.
”Aturan kedua,” kataku pelan. “Aku yang pergi duluan.”
”Dari siapa?”
”Dari…” Aku berhenti.
Dari siapa? Dari laki-laki yang belum pernah jadi milikku? Dari hubungan yang tidak pernah ada? Aku tidak pacaran dengannya. Aku cuma gurunya. Aku cuma perempuan yang mengajarinya cara mendekati orang lain. Tidak ada yang bisa kutinggalkan, karena tidak ada yang pernah kumiliki.
Tapi aturan kedua tetap bekerja. Aturan kedua tidak peduli soal status. Aturan kedua cuma peduli satu hal: jangan jadi orang di balik pintu.
”Dia bilang dia nggak pernah pergi dari antrean, Nad,” kataku ke cermin. “Rabu malam. Di rumah Mama. Dia tunjukin buku cokelatnya. Ratusan nama. Semua dicentang. Dia nggak pernah ninggalin siapa pun.”
Nadia diam.
”Itu artinya,” lanjutku, “kalau dia milih orang lain, dia bakal setia sama orang itu. Selamanya. Rapi. Pakai tanda centang. Dan aku bakal duduk di meja tujuh belas, nontonin dia nganterin galon ke mejanya tiap pagi. Lihat dia nyelipin rambut orang itu ke belakang telinga, persis kayak yang aku ajarin.” Suaraku tidak bergetar. Itu yang paling menakutkan. “Aku nggak bisa, Nad. Aku nggak bisa jadi Mama.”
Nadia menatapku lama. Lalu dia melepas lipatan tangannya.
”Sab. Lo yakin orang itu bukan lo?”
”Yakin.”
”Yosua bilang…”
”Yosua dokter gigi.”
Nadia menghela napas. Dia mendekat dan merapikan kerah kemejaku, yang tidak terlipat. Dia cuma butuh alasan untuk menyentuhku.
”Oke,” katanya. “Kalau lo yakin, pergi. Tapi gue mau lo janji satu hal.”
”Apa?”
”Pelajaran sepuluh. Lo kasih dia pelajaran sepuluh sebelum lo pergi. Lo udah janji ke dia. Lo jangan ninggalin dia di tengah antrean.”
Aku memberinya pelajaran sembilan. Bukan sepuluh.
Jumat sore, rooftop, kursi plastik merah dan biru. Matahari terbenam lagi di antara gedung-gedung Kuningan, oranye dan merah muda, persis seperti hari dia bilang ada yang saya suka.
Dia datang dengan termos hijau dan dua gelas plastik. Kopi tubruk dari warung terpal biru.
Dia tidak langsung duduk. Dia berdiri di depan kursi biru dan menatapku.
”Mbak ke Surabaya,” katanya.
”Iya.”
”Dua bulan.”
”Iya.”
”Senin.”
”Iya.”
Dia diam. Lalu dia duduk. Dia menuang kopi ke dua gelas, memberikan satu padaku, dan menggenggam gelasnya sendiri dengan dua tangan, seperti orang kedinginan.
”Kenapa nggak bilang ke saya, Mbak?”
Aku menatap gelasku. Ampas kopi mengendap di dasar.
”Itu kerjaan, Mas. Kenapa harus bilang?”
Dia tidak menjawab. Dia cuma menatap matahari.
Aku menarik napas. Aku membuka catatan di HP. Kurikulum Pedekate. Aku menggulir ke pelajaran sembilan, yang kutulis semalam jam dua pagi, dengan Magang tidur di atas keyboard laptop.
”Pelajaran sembilan,” kataku. “Tahu kapan harus mundur.”
Dia menoleh padaku.
”Kadang,” kataku, membaca dari layar, tidak menatapnya, “kamu udah ngelakuin semuanya dengan benar. Tatapan, hal kecil, pujian, kejutan, kencan. Semuanya sempurna. Tapi orangnya tetap nggak milih kamu. Bukan karena kamu salah. Karena dia memang udah milih yang lain, atau dia memang nggak bisa.”
Angin bertiup. Rambutku berantakan. Aku tidak merapikannya.
”Kalau itu terjadi,” lanjutku, “kamu mundur. Dengan baik. Kamu nggak maksa. Kamu nggak nunggu di depan pintunya. Kamu doain dia bahagia, terus kamu pergi.” Aku berhenti. “Itu pelajaran sembilan. Yang paling penting setelah semua yang lain.”
Hening lama.
”Mbak,” katanya pelan. “Itu pelajaran buat saya, atau buat Mbak?”
Aku mengangkat wajah.
Dia sedang menatapku. Wajahnya tidak polos. Wajahnya tidak serius seperti murid. Wajahnya seperti orang yang baru saja menemukan sesuatu yang rusak di tempat yang tidak dia sangka, dan dia tidak tahu harus mulai memperbaikinya dari mana.
Aku tidak menjawab.
”Pelajaran sepuluh?” tanyanya.
”Nggak ada pelajaran sepuluh.”
”Mbak bilang ada sepuluh.”
”Aku salah hitung.” Aku menutup HP. “Kamu udah lulus, Mas. Semuanya. Nilai sempurna. Kamu nggak butuh pelajaran sepuluh.”
”Mbak bilang pelajaran sepuluh yang paling susah.”
”Kamu nggak butuh.”
”Saya mau tahu, Mbak.”
”Mas.” Suaraku akhirnya bergetar. Sedikit. Sepuluh tahun latihan, dan di kursi plastik merah di atas rooftop, latihan itu retak di satu titik kecil. “Udah. Kamu udah siap. Bilang aja ke dia. Siapa pun dia. Kamu udah bisa.”
Dia menatapku lama. Lebih lama dari lima detik. Lebih lama dari sepuluh.
Lalu dia membuka buku cokelat. Dia menulis sesuatu. Dia menutupnya.
”Iya, Mbak,” katanya. “Makasih.”
Bayaran: Dia tidak menyebutkan makanan apa pun. Aku tidak menagih.
Jumat malam, jam delapan, Pak Hendarto menelepon.
Dia tidak pernah meneleponku langsung. Semua komunikasi lewat stafnya atau lewat Pak Leo. Tapi malam itu namanya muncul di layar HP-ku, dan suaranya terdengar sama datarnya seperti di ruang meeting.
”Bu Sabrina. Pak Leo bilang Ibu yang berangkat ke Surabaya.”
”Iya, Pak.”
”Bagus. Ibu yang paling mengerti kampanye ini.” Jeda. “Ibu berangkat sendiri?”
”Sendiri, Pak.”
”Orang GA Anda tidak ikut?”
Aku diam sebentar. “Nggak, Pak. Dia… dia di Jakarta.”
Pak Hendarto juga diam. Aku mendengar bunyi kacamata yang dilepas, lalu dipakai lagi.
”Sayang,” katanya.
Hanya itu. Lalu dia membahas jadwal, lokasi, dan nama-nama kepala shift di pabrik Rungkut, dengan suara yang kembali datar, seolah kata sayang itu tidak pernah diucapkan.
Sabtu siang, Mama menelepon. Jam sebelas. Jam senang.
”Sayaaang, Mama dengar dari Nadia kamu mau ke Surabaya dua bulan?”
”Iya, Ma. Kerjaan.”
”Dua bulan itu lama, Sayang. Kenapa nggak orang lain aja?”
”Aku yang paling ngerti akunnya, Ma.”
Mama diam. Lalu dia bertanya dengan suara yang berubah. Bukan suara panjang. Bukan suara pendek. Suara yang jarang kudengar, suara Mama yang sedang benar-benar mendengarkan.
”Sab. Kamu lari, ya?”
Aku berhenti melipat blus.
”Lari dari apa, Ma?”
”Mama nggak tahu dari apa. Tapi Mama tahu suara orang lari.” Mama tertawa kecil. Tidak bahagia, tidak sedih. “Mama juga dulu begitu, Sayang. Waktu Om Hans pertama kali bilang dia serius, Mama pergi ke Bali seminggu. Waktu Om Ferdi kasih kunci rumahnya, Mama pura-pura sibuk sebulan. Mama selalu lari duluan, terus heran kenapa semua orang akhirnya pergi.”
Aku duduk di pinggir kasur.
”Mama kira yang ninggalin Mama itu mereka,” kata Mama pelan. “Ternyata Mama yang nggak pernah berhenti.”
Aku tidak bisa menjawab.
”Tukang benerin pintu itu,” kata Mama tiba-tiba. “Mas Mi Instan. Dia telepon Mama kemarin.”
”Apa?”
”Nanya ukuran engsel pintu kamar Mama. Mau dia belikan yang baru.” Mama tertawa lagi, kali ini lebih ringan. “Mama bilang, kenapa repot-repot, panggil tukang aja. Dia bilang, sudah saya tulis, Bu, jadi harus saya selesaikan.”
Aku menutup mata.
”Sayang,” kata Mama. “Kalau kamu memang mau lari, lari aja. Tapi jangan lupa nengok ke belakang. Siapa tahu ada yang ngejar.”
Sabtu dan Minggu, aku berkemas.
Dua koper. Blus-blus untuk rapat klien. Sepatu kets dan satu pasang sepatu hak, untuk jaga-jaga. Laptop, charger, dokumen-dokumen Rasa Nusa.
Magang duduk di atas koper yang terbuka, menolak dipindahkan, seperti ibunya di jok motor Pak Darmo. Aku sudah menelepon Nadia untuk menitipkannya selama dua bulan. Nadia setuju dengan syarat Magang tidak boleh tidur di atas laptopnya.
Aku menatap jaket inventaris yang tergantung di kursi kamar.
PROPERTY OF LUMIO.
Lipatan lengan yang mencong. Wangi jeruk nipis dan sabun batang dan vanila, bercampur jadi satu, jadi wangi yang tidak bisa kusebut milik siapa.
Aku harusnya mengembalikannya. Dua kali aku harusnya mengembalikannya. Sekarang, sebelum aku pergi dua bulan, aku benar-benar harus mengembalikannya.
Aku melipatnya. Aku memasukkannya ke kantong kertas.
Lalu aku mengeluarkannya lagi, dan aku memasukkannya ke koper. Di bawah blus-blus untuk rapat klien. Di bawah semuanya, di dasar koper, tempat orang tidak akan melihat.
Aturan kedua. Aku yang pergi duluan.
Tidak ada aturan yang bilang aku tidak boleh membawa sesuatu.
Minggu malam, jam sebelas, aku membuka grup Korban Senyum Sabrina.
Aku tidak berniat mengirim apa-apa. Aku cuma membaca. Ada foto Kevin dan Ayu di kafe, memegang kue pandan yang dibentuk hati. Ada stiker kucing menangis bahagia dari Galih. Ada video Rendi mengangkat barbel dengan caption buat Kevin & Ayu.
Lalu satu pesan dari Yosua, dikirim satu jam lalu, khusus untukku.
Yosua: @Sabrina, saya dengar dari Kevin kamu ke Surabaya dua bulan.
Yosua: Saya tidak akan bertanya kenapa. Kami semua tahu kenapa.
Yosua: Saya cuma mau mencatat satu hal, sebagai orang yang pernah menerima kartu kaktus nomor sebelas.
Yosua: Kamu tidak pernah memberi kartu kaktus ke orang yang kamu sayangi.
Yosua: Kamu memberikannya ke orang yang tidak kamu sayangi, supaya mereka tidak sakit.
Yosua: Kali ini kamu tidak memberi kartu kaktus. Kamu yang pergi membawa sakitnya.
Yosua: Itu perbedaan yang menarik secara klinis.
Yosua: Selamat jalan, Sabrina. Jaga gigimu.
Aku menatap pesan itu sampai layar HP mati sendiri.
Lalu aku membuka laci meja rias dan mengeluarkan pak kartu kaktus. Pak isi dua puluh yang kubeli empat tahun lalu di Blok M. Sisanya tiga.
Aku menatap tiga kartu itu. Gambar kaktus kecil dalam pot terakota, dengan bunga merah muda di puncaknya.
Aku tidak memberikannya pada siapa pun. Aku tidak akan pernah memberikannya lagi.
Aku memasukkan tiga kartu itu ke tempat sampah.
Lalu, setelah menatapnya lama, aku mengambil satu kembali. Aku tidak tahu kenapa. Aku memasukkannya ke dompet, di sebelah surat dari Ibu, tiga sobekan kertas dari buku cokelat, post-it kuning bertuliskan bau kue bolu Lebaran, tiket bianglala merah muda, dan cetakan kartu pasien Komisaris dengan tanda &.
Dompetku sekarang terlalu penuh untuk ditutup.
Aku mengikatnya dengan karet gelang.
- 1 Galon Sembilan Belas Liter
- 2 Aris 5 – Sabrina 0
- 3 Ada yang Rusak, Mbak?
- 4 Empat Puluh Menit di Lift
- 5 Tender Rasa Nusa
- 6 Property of Lumio
- 7 Malam di IGD
- 8 Sabrina Belum Pernah Kalah
- 9 Asisten GA Sehari
- 10 Korban Senyum Sabrina
- 11 Listrik Padam Saat Pitching
- 12 Komisaris Masuk Klinik
- 13 Kencan Paling Membosankan
- 14 Telepon dari Kuningan
- 15 Motor Kevin
- 16 Syuting di Puncak
- 17 Mas Mi Instan
- 18 Tanpa Lipstik
- 19 Senjata Diletakkan
- 20 Ajari Aku
- 21 Kurikulum Sepuluh Pelajaran
- 22 Dia
- 23 Simulasi Kencan
- 24 Operasi Aliansi
- 25 Di Balik Pintu
- 26 Aturan Kedua reading
- 27 Pergi Duluan
- 28 Antrean Tanpa Sabrina
- 29 Kereta Malam ke Surabaya
- 30 Kamu Duluan
- 31 SOP Pacaran
- 32 Grup Dibubarkan
- 33 Engsel Pintu Mama
- 34 Kuningan yang Itu
- 35 Ciuman Pertama
- 36 Antrean yang Nggak Pernah Habis
- 37 Epilog: Property of Aris